Ternyata Nasib Muslim Pattani Sangat Mengejutkan. Ini Faktanya!


muslim pattani thailand

Inilah penampakan warga muslim di Pattani Thailand, saat menghadiri acara peletakan batu pertama Pattani ASEAN Mall. Yang berceramah di depan (lihat panah merah) adalah Dr. Ismail Lutfi Capakiya, seorang ulama ternama di Pattani.

Benarkah ada pembantaian terhadap umat Islam di Pattani, Thailand? Benarkah kondisi di sana tidak aman, banyak bom, banyak peluru nyasar? Berikut adalah kesaksian saya, JONRU, yang datang langsung ke sana, melihat dengan mata kepala sendiri. Selamat membaca!

* * *

Ya, rasanya seperti mimpi. Karena tiba-tiba saja di awal Januari 2017, diriku berada di Pattani, sebuah kawasan di Selatan Thailand yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Sebuah kawasan yang selama ini tak pernah saya pedulikan, karena Pattani memang tidak sepopuler Gaza, Aleppo, atau Rohingya.

Di Gaza, Aleppo dan Rohingya, hampir setiap hari kita mendengar berita mengenai umat Islam yang dibantai dengan sangat sadis. Sebab mereka minoritas. Di mana-mana, Islam ketika jadi minoritas memang selalu tidak beruntung nasibnya. Contoh paling sederhana adalah Perancis. Di sana memang tidak ada pembantaian terhadap umat Islam. Namun para muslimah di sana tidak boleh mengenakan jilbab, dilarang mengikuti ajaran agama, yakni menutup aurat.

Adapun di negara-negara di mana Islam mayoritas, justru umat nonmuslim bisa hidup aman, damai, bebas menjalankan ibadah agama mereka. Sebab Islam adalah agama yang cinta damai dan penuh toleransi.

Muslim Pattani adalah minoritas di tengah jutaan rakyat Thailand yang nonmuslim. Apakah situasi di sana sama seperti Gaza, Aleppo, dan Rohingya?

muslim pattani thailand

Sebuah kafetaria yang saya temukan dalam perjalanan dari bandara Hatyai menuju Patani, berlokasi di area sebuah pombensin. Semua pedagang yang jualan di sana muslim, dan pengunjungnya pun muslim. Tulisan aksara Thailand memenuhi spanduk-spanduk toko, namun di tengah-tengahnya ada poster “label halal” (lihat tanda panah). Bahkan di etalase kaca terlihat kaligrafi Arab bertuliskan Bismillahirrahmanirrahim.

Saya pernah menulis status di Fan Page Jonru, bertanya kepada teman-teman, bagaimana persepsi mereka tentang Pattani. Hasilnya: Sekitar 99 persen “responden” menjawab bahwa rakyat Pattani dibantai oleh pemerintah setempat, sering ada kerusuhan, bom ada di mana-mana. Pokoknya sangat seram, sangat tidak aman.

Dan seorang sahabat saya bernama Imam Nur Azis menjadi wasilah dari keberangkatan saya ke Pattani, yang membuat saya akhirnya bisa melihat dengan mata kepala sendiri, “seseram” apakah situasi di kawasan tersebut.

muslim pattani thailand

Saya dan sahabat saya Pak Imam Nur Azis berpose di depan Universitas Fatoni, Pattani Thailand, awal Januari 2017 lalu.

Jadi ceritanya, Pak Imam sudah sejak tahun 2005 lalu bermitra bisnis dengan seorang warga Pattani bernama Narong Hassanee. Walau warga Thailand, namun Pak Narong ini fasih berbahasa Indonesia, karena beliau dulu kuliah S1 di UGM Yogyakarta, dan S2 di UI Depok.

Dan secara tak terduga, ternyata Pak Narong sudah menjadi teman saya di Facebook sejak Mei 2010. Namun saya sama sekali tidak ngeh, bahkan kami tidak pernah berkomunikasi apapun, bahkan sudah lupa kenapa dulu kami bisa berteman di Facebook.

Nah, tahun 2015 lalu, Pak Imam bercerita pada saya bahwa dirinya punya proyek bisnis di Pattani, dan memperkenalkan Pak Narong kepada saya. Lalu kami pun aktif berkomunikasi di sebuah group WhatsApp.

Pak Narong bahkan sempat melontarkan ide untuk mengundang saya ke Pattani, mengisi pelatihan penulisan di sana. Namun hingga hari ini belum terealisir.

Sahabat saya Pak Imam pun terus sibuk dengan urusan bisnisnya. Dia sempat bercerita tentang proyek Pattani ASEAN Mall, tapi saya belum terlalu antusias untuk menyimaknya.

Lantas suatu hari di awal Januari 2017, tiba-tiba Pak Imam menghubungi saya. Katanya, “Saya mau ngajak Mas Jonru ke Pattani, agar bisa melihat sendiri situasi di sana. Sehari kita di sana. Setelah itu kita ada acara lain di Kuala Lumpur. Bisakah?”

Ya Allah! Saya sungguh terperanjat! Saya sudah punya paspor sejak tahun 2015 lalu, namun baru dipakai sekali, yakni ketika dulu diajak jalan-jalan ke Singapura oleh seorang teman, di bulan Ramadhan, itu pun hanya setengah hari.

muslim pattani thailand

Inilah salah satu foto selfie saya ketika untuk pertama kalinya tiba di Thailand, tepatnya di bandara Hatyai, tanggal 9 Januari 2017 lalu.

Kini, saya diajak pergi ke Pattani dan Kuala Lumpur, empat hari berada di luar negeri? Hm.. rasanya sangat amazing, benar-benar tak menduga, seperti sebuah keajaiban. Maka langsung saya iyakan.

Sekadar info: Kami berangkat dari Jakarta ke bandara Hatyai dekat Pattani, transit di Kuala Lumpur, tanggal 9 Januari 2017. Esoknya malam hari, kami menempuh jalur darat dari Pattani ke Kota Bahru (Malaysia), dan melanjutkan perjalanan ke Kuala Lumpur. Di Malaysia, saya dan Pak Imam punya agenda bisnis dan dakwah juga ke Kolej Uniti, dan beberapa perusahaan lain yang masuk dalam group Uniti. Tanggal 12 Januari malam hari, kami pulang ke Jakarta.

Bersambung ke halaman 2 >>

Halaman: 1 | 2 | 3

Iklan

Jokowi dan Ahok adalah OBAT bagi Indonesia


jokowi ahok indonesia

Ada satu argumen konyol dari para jokowers dan ahokers yang sering mereka lontarkan:

“Jokowi sudah jadi presiden. Ahok sudah jadi gubernur. Itu artinya mereka adalah pemimpin yang diridhoi oleh Allah. Jadi kalau ente melawan Jokowi dan Ahok, itu artinya ente melawan takdir Allah.”

Hm… argumen yang terkesan sangat bijak dan sangat agamis. Tapi benarkah itu?

Mari kita analisis bersama. Baca lebih lanjut

Gejala-gejala Kejatuhan Jokowi-Ahok Mulai Terlihat. Ini Penyebabnya


 

Jokowi Ahok

Beberapa bulan lalu, saya sempat diskusi dengan sejumlah teman di Jakarta, mengenai Ahok dan Jokowi. Kesimpulan kami: Mereka ini sangat kuat. Dari segi logika manusia tak mungkin dikalahkan. Sebab mereka dibeking oleh investor raksasa yang kekuatan mereka sangatlah besar.

Investor raksasa?

Ya. Teman-teman tentu masih ingat posting saya di Fan Page JONRU beberapa waktu lalu, mengenai investor tersebut. Silahkan dibaca di sini. Baca lebih lanjut

Dua Era Islamophobia


islamophobia - nathan lean

Islamophobia merupakan fenomena global yang sangat memprihatinkan. Karena itu, kali ini saya akan membahasnya di blog ini. Namun karena saya bukan ahli sejarah, bukan ahli agama, maka saya bahas berdasarkan pengalaman pribadi saja.

Ketika usia saya masih ABG, sekitar tahun 1980-an, istilah Islamophobia sudah sangat familiar di Indonesia. Saat itu, sebagian besar umat muslim – TERMASUK SAYA – memang mengidap penyakit yang satu ini. Namun Islamophobia yang dulu jauh berbeda dengan yang sekarang. Baca lebih lanjut

Perjuangan dalam Mendapatkan Nama @jonru di Telegram Messenger


Telegram Messenger

Saya boleh dikatakan telat dalam menggunakan aplikasi Telegram Messenger. Kalau tak salah sih, saya mulai pakai aplikasi ini sekitar bulan April 2014.

Jadi ketika saya menginstal aplikasinya di handphone dan mendaftar, ternyata username unik saya – @jonru – telah diambil oleh orang lain. Saya pun terpaksa pakai username lain.

Awalnya, saya cuek saja terhadap fakta bahwa username @jonru telah diambil oleh orang lain. Terlebih karena saya perhatikan, akun tersebut berbulan-bulan tidak pernah aktif, mungkin sudah tidak dipakai oleh pemiliknya.

Masalah baru muncul saat saya membuat Channel Resmi di Telegram dan diberi nama @infojonru. Saat memposting artikel di channel tersebut, saya sering menulis kredit “Oleh: @jonru” di bagian atas artikel. Ini sepertinya mengakibatkan banyak orang yang mengklik dan masuk ke username @jonru tersebut, lantas mengira itu punya saya. Baca lebih lanjut