Mereka membuatku berhenti mengeluh


mengeluh Aslinya, saya termasuk tipe manusia yang doyan mengeluh. Jika bertemu dengan seorang teman, saya akan mulai bercerita tentang pekerjaan yang membosankan, suasana rumah yang tidak menyenangkan, dan seterusnya. Saya merasa kebiasaan seperti ini wajar-wajar saja, untuk melampiaskan uneg-uneg, atau sekadar menginformasikan isi hati saya secara blak-blakan.

Tapi saya mungkin patut bersyukur karena sebagian besar lawan bicara saya justru termasuk tipe manusia yang tidak suka mendengar keluhan. Pernah dulu, saya bertemu dengan dua orang teman lama. Kami pun ngobrol dengan akrab, bercerita tentang banyak hal.

Lantas ketika tiba giliran saya untuk bercerita tentang pekerjaan, saya pun mulai mengeluh lagi. Hal-hal negatif atau serba minus tentang kantor saya pun meluncur dari mulut saya dengan lancar.

Tapi tiba-tiba, ketika cerita saya belum selesai, kedua orang teman tersebut langsung berkata, “Oh ya, sepertinya kami harus pergi, nih. Ada urusan lain. Sampai nanti, ya. Bye!”

Firasat saya mengatakan, mereka tidak senang mendengan “omelan” saya.

Hm, mungkin saya terlalu perasa, terlalu berburuk sangka terhadap isi hati orang lain. Tapi kejadian seperti ini bukan hanya satu kali. Sudah berulang kali saya menghadapi respons yang lebih kurang sama.

Ada di antara mereka yang langsung pergi, ada yang tiba-tiba mengalihkan bahan pembicaraan, ada juga yang diam seribu bahasa, tidak merespons sedikit pun ucapan saya.

Pengalaman-pengalaman seperti itu secara perlahan membuat saya sadar bahwa kebiasaan mengeluh bukanlah sesuatu yang baik. Mungkin saya sudah mendapat citra negatif dari banyak orang. Jika benar demikian, huh… betapa memalukan!

Lantas, sejak tahun 1991, saya rajin mengikuti ceramah-ceramah Aa Gym yang terkenal dengan konsep Manajemen Qolbu-nya. Dari ceramah-ceramah itulah, saya banyak belajar tentang cara mengendalikan hati dan perasaan, tentang cara membersihkan hati kita dari kebiasaan-kebiasaan yang buruk.

Alhamdulillah… secara perlahan saya mulai bisa meninggalkan kebiasaan mengeluh tersebut. Bahkan kini, saya seringkali jengkel jika mendengar orang mengeluh.

Saya merasa perlu berterima kasih kepada para teman dan sahabat yang dulu sering menjadi “tong sampah” keluhan-keluhan saya. Sikap mereka yang “antipati” (antara lain) telah membuat saya merasa perlu berubah menjadi orang yang lebih baik.

Tentu saja, saya juga perlu berterima kasih pada Aa Gym. Beliau pernah berkata dalam sebuah ceramahnya: Keluhan yang sebesar apapun tak akan bisa menyelesaikan masalah. Justru, kita akan capek sendiri karenanya.

Jadi, buat apa kita mengeluh?

Jakarta, 1 November 2006

Jonru

foto dari gettyimages.com

Iklan

3 responses to “Mereka membuatku berhenti mengeluh

  1. memang mengeluh itu tidak baik ya. thanks udah mengingatkan.

    Suka

  2. Alhamdulillah ada da’i yang seperti Aa Gym ya…saya juga banyak balajar dari ceramahnya…mulai dari bagaimana mengurangi keluhan, bersyukur dengan apa yang Allah beri, bersabar, ikhlas…and so on and so on…untuk menjaga semuanya ada baiknya setiap hari mendengar ceramahnya lewat mqfm setiap subuh langsung dari bandung…atau pro2 fm jakarta atau lewat internet juga bisa seperti saya sekarang kan lagi di Jepang, alhamdulillah masih bisa terus mendengar ceramahnya lewat qommunityradio.de (jerman)…eh eh koq malah pasang iklan …sorry ya…

    Suka

  3. ya enggak apa2 pasang iklan demi kebaikan bersama

    thanks ya 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s