Tulisanku = Nasehat Untukku


Saya pernah mengajak beberapa teman untuk berdakwah lewat mailing list, blog, forum diskusi di internet, dan sebagainya. Tapi mereka menolak dengan alasan, “Malu ah, belum pantas. Ilmu agama saya masih sedikit.” Terus terang, jawaban ini membuat saya geleng-geleng kepala. Sepertinya ada dua kesalahpahaman di sini.

Kesalahpahaman pertama: mungkin teman tersebut menganggap bahwa dakwah itu harus seperti seorang ustaz. Harus menyampaikan pesan-pesan agama lewat kutipan ayat, istilah-istilah agama yang berbahasa Arab, dan seterusnya. Pokoknya harus seperti khutbah jumat atau ceramah-ceramah pada acara kuliah shubuh di televisi.

Kesalahahpahaman kedua: mungkin si teman ini lupa pada salah satu hadits Rasulullah SAW, “Sampaikanlah walau hanya satu ayat.”

* * *

Sepengetahuan saya, pengertian dakwah itu sangat luas. Ketika saya mengajak keponakan saya untuk rajin menabung di celengan, itu juga sebenarnya dakwah. Ketika saya berkata pada seorang teman, “Yuk, kita membiasakan diri hidup disiplin,” itu juga berdakwah. Bahkan, Insya Allah tulisan ini pun termasuk produk dakwah.

Adapun mengenai ilmu agama, seseorang itu tak perlu menjadi orang yang sangat pintar ilmu agamanya. Dalam Islam, setiap muslim adalah juru dakwah. Hadits yang berbunyi “Sampaikanlah walau hanya satu ayat” menyiratkan bahwa pesan yang kita sampaikan itu tidak harus yang bertema besar dan berat. Tidak harus banyak-banyak. Yang penting, apa yang kita dakwahkan itu sudah kita praktekkan terhadap diri sendiri. Artinya, sebelum mendakwahi orang lain, kita harus mendakwahi diri kita sendiri terlebih dahulu.

Misalnya nih, si A adalah orang yang sangat bejat dan penuh maksiat. Tapi dia punya satu kelebihan: Selalu menjaga kebersihan dan kerapian rumahnya. Ini tentu nilai yang sangat positif, bukan? Maka, si A ini boleh mendakwahi orang lain tentang pentingnya hidup bersih dan rapi. Adapun mengenai maksiat yang masih ia lakukan, si A tentu punya tanggung jawab untuk memperbaiki diri.

Tapi memang, idealnya kita semua harus berusaha agar menjadi muslim yang baik. Ups.. jangan salah sangka. Saya bukan mengajari kamu untuk bermaksiat ria. Astaghfirullah… tentu saja tidak. Yang di atas itu hanya contoh, yach….

* * *

Dengan konsep seperti di atas, Insya Allah saya selama ini merasa pede aja ketika harus berdakwah lewat tulisan. Saya sadar, saya memang masih banyak kekurangan. Dosa dan maksiat yang saya lakukan masih bejibun. Tapi saya mencoba menyebarluaskan nilai-nilai kebenaran – lewat tulisan – sepanjang kemampuan saya. Saya tidak memaksakan diri, bahwa saya harus seperti Izzatul Jannah, penulis asal Jawa Tengah yang sangat heroik dalam menyuarakan jihad Islam lewat tulisan-tulisannya. Saya merasa belum sanggup seperti itu, karena kapasitas saya masih jauh di bawah beliau.

Berdasarkan pengalaman, saya juga sering merasakan bahwa tanpa sadar, tulisan-tulisan saya telah menjadi tausiyah (nasehat) tersendiri bagi diri sendiri. Contohnya ketika saya menulis artikel tentang penolakan terhadap hal-hal yang berbau maksiat. Setelah selesai menulis, saya tertegun, merasa terharu dan malu. Saya bertanya pada diri sendiri, “Apakah selama ini saya tak pernah tergoda pada hal-hal yang berbau maksiat? Benarkah iman saya demikian kuat terhadap semua godaan?”

Harus diakui, saya belum sepenuhnya bebas dari godaan-godaan itu. Tapi setiap kali tergoda, saya langsung ingat pada tulisan saya. Saya berujar di dalam hati, “Jika saya berbuat maksiat, betapa malunya karena saya sendiri telah membuat tulisan yang isinya berupa perlawanan terhadap maksiat. Saya harus berbuat sesuai dengan yang saya tulis. Jika tidak, maka saya munafik!”

Dengan pikiran seperti itu, alhamdulilllah… saya merasa ada perbaikan dalam diri saya. Saya jadi sadar, bahwa inilah salah satu kekuatan dari tulisan-tulisan yang kita niatkan sebagai lahan berdakwah. Lewat tulisan, Insya Allah kita bisa memperbaiki diri. Sebab tulisan-tulisan kita secara tidak langsung merupakan tausiyah bagi diri kita sendiri.

Jadi, bagi kamu yang masih ragu untuk berdakwah lewat tulisan dengan alasan, “Ilmu agama saya masih sedikit,” atau “Saya belum jadi orang yang sangat baik,” saya kira sekaranglah saatnya kamu bertindak. Mulailah menulis. Insya Allah, kamu akan menemukan diri kamu sendiri berada di jalan yang diridhoi oleh Allah SWT.

Jakarta, 2006

jonru

Tulisan ini sudah dimuat di majalah SAKSI dan dipublikasikan di Multiply saya.

Iklan

One response to “Tulisanku = Nasehat Untukku

  1. Salam

    saya begitu terkesan dengan tulisan ini.
    memang benar apa yang diperkatakan.
    kita seharusnya menggunakan bidang penulisan ini untuk berdakwah.

    saya juga sudah mula menulis untuk memberi didikan dank dakwah pada masyarakat.

    Tips Elak Maksiat

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s