Masalah Logika di dalam Cerita Fiksi


Sesuai namanya, cerita fiksi memang berisi cerita yang tidak nyata alias fiktif. Ia hanya khayalan atau imajinasi belaka. Walau ada cerita fiksi yang diangkat dari kisah nyata, tapi unsur fiksi tetap dominan, karena si kisah nyata hanya berfungsi sebagai ide cerita. Selanjutnya, ide ini tentu perlu diolah lagi menjadi sebuah cerita fiksi yang baik.

Karena fiktif, tentu wajar jika banyak unsur di dalam cerita fiksi yang tidak sesuai logika. Ya, namanya juga fiktif!

Dalam acara peluncuran buku Kupu-kupu dan Tambuli beberapa bulan lalu, sastrawan Jamal D Rahman mengomentari cerpen karya Nur Hadi yang bercerita tentang seorang anak kecil yang mengejar kupu-kupu. Setelah tertangkap, ia berubah menjadi kupu-kupu. Ia lalu pulang ke rumah, dan melihat dirinya sendiri di dalam kamar.

Menurut Jamal D Rahman, cerita ini bersifat fantasi, tapi bisa diterima oleh akal. “Masuk akal, kok,” ujarnya.

Namun, hal yang tidak masuk akal di dalam cerita tersebut – menurut Jamal D Rahman – adalah ketika suasana jalan raya jadi berantakan dan kacau balau ketika si anak kecil berlari-lari di tengah jalan. “Apa sih susahnya menyingkirkan seorang anak kecil dari jalan raya? Kenapa jalan raya jadi berantakan hanya gara-gara ulah anak kecil? Ini tidak masuk akal,” ujarnya.

Nah, hal yang sebenarnya “lebih membumi” justru dianggap tidak masuk akal, sementara hal yang bersifat fantasi justru dianggap masuk akal. Aneh, bukan? Mungkin ini adalah salah satu “misteri” di dunia sastra 🙂

* * *

Saya rasa, menjabarkan “hal-hal apa saja di dalam karya fiksi yang tidak boleh bertentangan dengan logika” bukanlah pekerjaan mudah. Sebab, masalah logika di dalam cerita fiksi sebenarnya sangat relatif, tergantung yang sedang kita buat.

Tapi berdasarkan pengalaman saya selama ini, keharusan adanya rasionalitas pada karya fiksi sebenarnya lebih banyak berlaku pada karya-karya yang bersifat drama dan serius, yang mengangkat kisah dari kehidupan sehari-hari. Jadi untuk karya-karya seperti komedi, dongeng, fantasi (seperti Harry Potter), dan sebagainya, logika tidaklah terlalu penting. Memang, logika tetap diperlukan, tapi hal itu sangat tergantung pada konteksnya.

Karena itu, ketika membahas masalah rasionalitas/logika, maka mau tidak mau kita harus membatasi diri pada cerita-cerita fiksi yang bersifat drama tadi. Untuk jenis cerita fiksi lainnya (komedi, misteri, fantasi, dan sebagainya), logika tetap diperlukan, tapi cenderung jauh lebih fleksibel.

Berikut adalah beberapa aspek yang harus diperhatikan kadar logika/rasionalitasnya.

1. Logika dari segi pengetahuan umum, atau pengetahuan di bidang tertentu

Contoh: Beberapa tahun lalu, saya pernah membaca sebuah cerpen. Di dalamnya ada cerita tentang seorang tukang pos yang mengantar surat KILAT KHUSUS dengan mengendarai SEPEDA. Nah, ini adalah contoh yang tidak logis. Coba kita tanyakan pada kantor pos terdekat. Mereka akan menjawab, “Surat kilat khusus biasanya diantar dengan motor. Yang diantar dengan sepeda adalah surat dengan perangko biasa.”

2. Logika dari segi psikologis

Contoh: Ada seorang gadis remaja berusia 17 tahun yang sangat menikmati dunianya. Ia sama sekali belum berpikir untuk menikah, karena ia merasa masih terlalu muda. Hubungannya dengan kedua orang tuanya pun tidak terlalu dekat. Lalu suatu ketika, ibunya menyuruh dia menikah dengan seorang kakek-kakek berusia 70 tahun. Dengan serta merta tanpa ba bi bu, si remaja langsung mengiyakan. Tak ada penolakan sedikit pun.

Nah, benar-benar aneh, bukan? Apakah tak ada konfilik bathin sedikit pun dari si gadis? Kenapa ia mau menuruti begitu saja perintah ibunya, padahal hubungan dia dengan kedua orang tuanya tidak terlalu dekat?

3. Logika dari segi konsistensi

Misalnya: di bagian awal disebutkan bahwa si Ali suka baju warna merah. Tapi di bagian tengah disebutkan, si Ali mentertawakan temannya yang pakai baju warna merah.

4. Logika yang berhubungan dengan karakter tokoh

Misalnya: Kita menceritakan tentang tokoh Budi yang penyabar. Tapi di dalam ceritanya, kita sering menggambarkan adegan si Budi yang marah dan ngamuk-ngamuk. Tentu sangat lucu, kan? (*) Penjelasan lebih detil dapat dibaca di sini.

Memang, kondisi seperti ini bisa saja terjadi, tapi seharusnya ada “hubungan sebab akibat” di balik keanehan itu. Dan sebagai penulis yang baik, kita harus membuat penjelasan yang memadai mengenai hal ini di dalam cerita kita, agar pembaca tidak bertanya-tanya.

5. Logika yang berhubungan dengan setting cerita

Misalnya: Dalam sebuah cerita, dikisahkan tentang seorang tokoh yang jalan-jalan di tengah kota Jakarta yang sedang musim salju. Nah, dari mana ceritanya, di jakarta kok bisa ada musim salju?

Ini adalah salah satu contoh yang ekstrim. Dalam penulisan cerita, mungkin kita bisa melakukan kesalahan seperti ini, walau dalam porsi yang sangat kecil.

6. Logika dari segi hubungan sebab akibat

Misalnya: Ada orang yang tidak pernah bergaul, tidak melakukan apapun, tapi tiba-tiba menjadi presiden. Tentu tidak masuk akal, bukan? Jadi, kita harus membuat cerita yang mengandung unsur “sebab akibat” yang jelas. Ketika kita menceritakan tokoh yang diangkat jadi presiden, tentu kita harus menceritakan juga mengenai hal-hal apa saja, atau cerita masa lalunya, yang menyebabkan dia akhirnya diangkat jadi presiden.

7. Logika dari segi kewajaran cerita

Contoh: Ada dua orang sahabat – si A dan B – yang sudah seperti saudara. Mereka satu sekolah dan satu kelas. Suatu hari, si A mematahkan pensil si B. Pensil itu sebenarnya biasa-biasa saja, si B pun tidak terlalu suka pada pensil itu. Tapi gara-gara kejadian ini, si B marah besar pada si A. Ia mengatakan hubungan persahabatan mereka lebih baik diakhiri saja. Mereka pun musuhan selamanya, hingga akhir hayat.

Wah, sebuah cerita yang sangat mengada-ada, bukan? Hanya gara-gara masalah sepele, hubungan persaudaraan menjadi berantakan. Ini tentu sangat tidak logis.

Di dalam menulis cerita, tentu kita bebas menulis konflik atau masalah apa saja. Tapi buatlah konflik atau masalah yang wajar dan masih bisa diterima secara logika.

* * *

Nah, itulah sedikit “teori” dari saya. Tapi tentu saja, semuanya ini sangat relatif. Tergantung konteksnya.

Semoga bermanfaat!

Jonru

Catatan: Tulisan ini sudah direvisi tanggal 14 November 2006 pukul 07.30 WIB. Ada penambahan poin ke-7 seperti terlihat di atas.

Iklan

7 responses to “Masalah Logika di dalam Cerita Fiksi

  1. makasih mas, jadi ngerti deh. iay juga ya! ok lah ! saya mau berusaha untuk menulis cerita. insya allah saya bisa mewujudkan impian saya sebagai penulis.. amin

    Suka

  2. amiin… semoga sukses ya…

    Suka

  3. Mengapa kadang saat ide membanjir tak akan ada kata LOGIKA. Soalnya jarang2 sih ide begitu deras.Tapi, aku akan berusaha menyediakan waktu untuk editing logika.
    Kadang… editing terlihat begitu kejam bagai pembunuhan karakter??????

    Suka

  4. banyak ide tp memulainya itu lho darimana dulu ya ? walau bukan fiktif, skripsi bisa dijadikan acuan awal belajar menyusun kalimat yang baik. pembuktiannya aku coba saat skripsi dengan waktu yang tak terlalu lama aku dengan mudah bisa menyusun kalimat, tp setelah sampai ke tangan dosen, kalimatku terlalu panjang lebar dan melompat – lompat. aduh, dimengerti oleh aku sendiri, tak berarti dimengerti orang lain. ternyata menulis tidak mudah ya ?

    Suka

  5. Ping-balik: Setting Cerita Haruskah Nyata? | BelajarMenulis.com

  6. untuk cerita yang realis, logika tadi sangat mempengaruhi isi cerita. menurut saya cerpen yang realis lebih mengedepankan unsur sebab-akibat dari konflik yang dijalin. namun untuk cerpen yang surealis bahkan absurd justru logika sering dipinggirkan. logika menjadi jungkir balik, bahkan memaksa kita untuk berhenti sejenak memaknai pesan dari logika yang babak belur tadi.

    hayo mau nulis yang mana cerpen yang realis atau yang absurd?

    Suka

  7. Mas…
    aduh aku seneng banget impianku jadi kenyataan, ketemu di dunia maya sama orang2 yang berkompeten seperti mas.
    Wah, ga kebayang deh, rasa syukur saya sama Tuhan…
    Tapi mas…
    Ada yang aneh dari pengalaman saya belajar menulis, dimuai dari keterpaksaan setiap mengerjakan semua tugas2 kuliah sampe skripsi, tadinya saya ga pernah yakin akan karya tulisan saya…
    Tapi kalo kepepet tiba2 tulisan saya itu kok seperti cemerlang gitu mas…, dan orang dengan mudah bisa mencerna dan memberikan penilaian.
    Semenjak itu saya mulai tau keanehan diri saya dalam menulis.. he he
    Kalo kepepet, baru ok inspirasinya kalo ga, kaya ngarang gitu, alias bukan nulis…
    Dan kalo udah gitu kerasa banget tulisan saya yg ngarang itu ga ada isinya alias ga hidup…
    Tolong evaluasinya mas…
    Terima kasih ya mas

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s