Menulis, antara bakat dan pilihan hidup


Dulu, Saya beberapa kali diajak oleh orang-orang tertentu untuk bergabung dengan bisnis Multi Level Marketing (MLM). Pernah saya tergoda, terjun beberapa bulan di dunia yang satu itu. Akhirnya, saya tewas dengan mengenaskan, karena memang saya merasa tak punya bakat sama sekali. Karena itu, saya sering jengkel luar biasa ketika ada pebisnis yang masih ngotot merayu saya dengan ucapan, “Untuk terjun ke bisnis, bakat itu tidak perlu, kok. Saya aja dulunya tak punya bakat sama sekali. Tapi saya bisa sukses seperti sekarang ini.”

Tragisnya, di dunia penulisan pun saya seringkali mendengar seorang penulis senior yang bicara seperti itu. “Untuk jadi penulis hebat, bakat itu tak terlalu penting, kok. Bla… bla.. bla…” Lebih tragis lagi, ternyata saya sangat setuju dengan pendapat itu!

Setelah berpikir lebih dalam, saya menyesali diri sendiri, merasa sangat bodoh. Kenapa saya bersikap amat diskriminatif? Saya setuju dengan pendapat mengenai tidak pentingnya bakat di dunia penulisan, tapi saya sangat tidak setuju dengan hal yang sama di dunia bisnis. Apakah saya sudah menjadi semacam ibu tiri yang pilih-pilih kasih?

Oke, saya akhirnya menyerah, mencoba mencari argumen yang lebih kuat dan masuk akal. Kenapa saya merasa tidak punya bakat di bidang bisnis, dan saya sama sekali tidak tergerak untuk terjun ke sana?

Setelah berpikir lebih dalam lagi, saya menemukan sebuah jawaban yang agaknya cukup valid, mungkin bisa membungkam mulut si pebisnis yang tak pernah henti merayu saya.

“Ini adalah sebuah pilihan hidup!”

Ya, benar. Semuanya berpulang pada pilihan hidup.

Jika mau dan punya motivasi yang kuat, saya yang tidak punya bakat bisnis sama sekali ini, suatu saat nanti mungkin bisa menjadi seorang pengusaha sukses yang kaya raya. Saya mungkin bisa menjadi seorang raja MLM yang bisa membeli Kepulauan Seribu, bahkan pulau Bali. Jika punya motivasi yang sangat kuat, saya akan berjuang keras agar bisa sukses di dunia MLM yang amat membahagiakan dari segi materi.

Tapi yang terjadi selama ini; saya tak punya semangat sama sekali. Ketika dulu saya terjun ke dunia MLM, saya menjadi orang yang sangat malas. Malas mencari downline, malas mencari pembeli. Ketika bertemu dengan seorang calon pembeli/downline yang sangat potensial pun, saya bersikap ogah-ogahan. Saya bukan tipe manusia agresif yang melihat sosok seorang manusia sebagai ladang duit yang amat menggiurkan. Saya pikir, enggak penting-penting amat gitu lho, mencari uang dengan cara seperti itu.

Dan itulah alasan utama kegagalan saya di bidang bisnis, khususnya MLM. Saya pernah menceritakan hal ini pada seorang teman yang juga mencoba merayu saya untuk menekuni bisnis MLM yang ia ikuti. Anehnya, dia malah menyalahkan MLM saya terdahulu. Padahal saya tahu, sayalah yang salah. Saya pikir, teman ini mungkin hanya mencoba menjelek-jelekkan perusahaan saingannya, itu saja.

* * *

Saya kira, dunia penulisan pun seperti itu. Kalau kamu punya bakat yang luar biasa di bidang penulisan, maka kamu punya potensi yang sangat luar biasa pula untuk menjadi seorang penulis handal. Bakat yang baik akan membuat seorang calon penulis lebih mudah dalam menyerap teori-teori penulisan. Proses belajar yang dilaluinya akan lebih cepat dan sederhana ketimbang mereka yang tidak punya bakat sama sekali.

Tapi, jangan sedih dulu, wahai penulis yang tak berbakat! Saya belum selesai bicara. Pembicaraan kita berikutnya adalah: ternyata bakat saja tidak cukup. Kamu punya bakat yang sangat luar biasa, itu sangat bagus. Perlu disyukuri. Tapi apa arti itu semua jika kamu tidak punya motivasi dan keinginan yang kuat? Kamu tak akan pernah menjadi seorang penulis.

Saya punya sekitar 10 atau 15 orang teman yang bertipe seperti itu. Bakat menulis mereka sangat bagus. Tapi ketika saya mengkompori mereka untuk menekuni dunia penulisan secara lebih serius, mereka menjawab dengan santai, “Saya menulis untuk iseng-iseng aja, kok!”

“Belum pernah kepikiran untuk mengirim naskah kamu ke majalah atau penerbit?”

“Buat apa? Apakah itu penting bagi hidup saya?”

* * *

Maka, di sinilah para penulis yang tak berbakat bisa menghibur diri. Silahkan, anda bisa tersenyum lebar sekarang. Sebuah kemenangan besar menanti anda. Kuncinya hanyalah kalimat klise berikut: Ternyata bakat saja tidak cukup. Banyak orang yang bilang bahwa peran bakat bagi? keberhasilan seorang penulis hanya sekitar 10 persen, atau bahkan 1 persen. Kita tak perlu berdebat soal jumlah persennya. Itu tidak penting, saudara-saudara sekalian! Sebab ini bukan rumus kimia.

Yang penting untuk kita percayai: di mana ada kemauan, di situ ada jalan. I believe I can fly. Jika aku percaya bahwa aku bisa terbang, maka aku bisa terbang.

Mungkin peribahasa ini terlalu mengada-ada. Tapi intinya adalah: KEINGINAN dan MOTIVASI yang kuat merupakan FAKTOR PENENTU TERBESAR dalam meraih sukses di bidang apapun. Di bidang bisnis? Ya. Di bidang penulisan? Ya juga. Saya yang tidak berbakat sama sekali di bidang bisnis, akan bisa jadi pengusaha sukses dan kaya raya, jika saya memang punya motivasi dan keinginan yang sangat tinggi. Dan kamu yang merasa tidak punya bakat menulis sama sekali, suatu hari nanti mungkin bisa mengalahkan popularitas Agatha Christie atau Stephen King. Who knows?

Tapi, seperti yang saya sebutkan di atas, ini semua memang kembali ke masalah pilihan hidup. Seorang teman saya pernah berkata, “Saya merasa rugi jika menghabiskan waktu hanya untuk mengetik di depan komputer dan mengarang cerita yang tidak nyata. Mending benerin genteng atau ngisi bak mandi.”

Apakah saya marah mendengar ucapan seperti itu? Insya Allah tidak, karena saya tahu ini menyangkut pilihan hidup. Terus terang, saya pun akan mengucapkan kalimat yang lebih kurang sama untuk dunia bisnis. “Saya merasa rugi jika menghabiskan waktu hanya untuk mengumpulkan downline dan merayu orang-orang untuk bergabung dengan bisnis saya.” Ini bukan pilihan hidup saya. Saya lebih suka mencari uang dengan cara menjual tulisan-tulisan saya. Saya merasa bahagia, karena lewat tulisanlah saya tidak hanya mendapat uang, tapi memiliki kesempatan yang sangat besar untuk menularkan pemikiran-pemikiran saya kepada orang lain.

Tapi tentu saja, saya harus menghargai orang lain yang menjadikan MLM dan sejenisnya sebagai pilihan hidup mereka. Toh, setiap orang pasti berbeda, bukan?

* * *

Jadi, bagi kamu yang ingin jadi penulis dan merasa tak punya bakat, saya kira inilah resep yang cukup jitu: Jadikan menulis sebagai bagian dari pilihan hidup kamu. Jangan perlakukan ia sebagai hobi semata, yang ditekuni di kala senggang saja, lalu ditinggalkan jika kesibukan tugas kantor atau pekerjaan di toko menyita banyak waktu kamu.

Ketika peluncuran buku Antologi cerpen FLP Hongkong, Helvy Tiana Rosa berkata pada para penulis di sana yang semuanya berprofesi sebagai pembantu rumah tangga, “Mulai sekarang jika ada orang yang bertanya apa pekerjaan kalian, jawablah ‘profesi kami penulis dan hobi kami membantu orang lain’.”

Saya kira, inilah sikap yang seharusnya diambil oleh penulis – baik yang berbakat maupun tidak – jika mereka ingin terjun dan sukses di dunia penulisan. Katakan pada diri kamu sendiri, “Saya adalah penulis. Hidup saya untuk menulis. Menulis adalah bagian dari gaya hidup saya.”

Pesan saya untuk para penulis yang berbakat, “Apa kamu tidak merasa rugi karena menyia-nyiakan pemberian Tuhan yang sangat berharga?”

Pesan saya untuk penulis yang tidak berbakat, “Ayolah. Kamu bisa mengalahkan para penulis yang berbakat itu, karena mereka sama sekali tidak punya niat untuk bersaing dengan kamu.”

Maaf bila tidak berkenan.

Senayan, 12 Desember 2005

Jonru
(bersyukur karena merasa punya bakat menulis sejak kecil dan punya keinginan yang kuat untuk jadi penulis)

Tulisan ini sudah dimuat juga di sini 🙂

Iklan

43 responses to “Menulis, antara bakat dan pilihan hidup

  1. bedanya penulis berbakat , tak perlu banyak belajar dan mencari karena hampir di setiap goresan penanya adalah harga.

    penulis tidak berbakat atau tidak memiliki bakat menjadi penulis bisa saja menjdai penulis besar tapi tentu dengan perjuangan “lebih” daripada penulis berbakat.

    mau jadi penulis berbakat atau tidak berbakat , itu bukan pilihan hidup. Kita tak bisa memilih.

    Yang pasti tekuni dan yakini, karena keyakinan bisa meruntuhkan apa saja. ( Kenji Endoh , 20th Century Boys- Urasawa Naoki , Kodansha Published (c) 2004 )

    Suka

  2. hehehe… mas Jonru anti MLM, sama seperti saya. Tapi mas Jonru, menurut pengalaman saya, motivasi saja tidak cukup untuk menjadi apa yang kita pilih dalam hidup. Perlu satu KEYWORD lagi yang selama ini sebenarnya sudah mas Jonru lakukan, yaitu : KOMUNITAS. Ya, dengan adanya komunitas, bakat, kemauan, dan motivasi,bisa terus diupgrade!

    kalau soal motivator dan MLM saya pernah nulis pengalaman seperti di sini : http://lingkaran.wordpress.com/2006/07/08/super-trainer-dan-tukang-santet/

    Suka

  3. buat kus:
    betul banget
    jangan pernah menyerah ya…
    motivasi adalah yang utama untuk meraih sukses!

    Suka

  4. buat MT:
    sebenarnya saya tidak anti MLM
    setelah saya pelajari, sebenarnya konsep MLM itu bagus

    cuma, citra MLM jadi buruk gara2 banyak anggota MLM yang berusaha dengan cara-cara yang tidak simpati.

    tapi kenapa saya tidak mau ikut MLM? Alasannya ya karena itu tadi. Saya merasa itu bukan pilihan hidup saya. Dan saya kira “bukan pilihan hidup” tidak sama dengan “anti” bukan?

    Suka

  5. ane suka semua tulisan ini, Mlm itu ngebingungin.

    Suka

  6. Mlm emang bikin eneg, diteror terus gw….
    Munlis didepan komputer emang enak, meskipun hasilnya kadang bikin eneg…

    Suka

  7. saya ndak percaya bakat, kita bisa menjadi apa saja yang kita pilih.

    Suka

  8. Alhamdulillah…..makasih

    Suka

  9. Slam kenal utk semua.Terus terang mas , saya orang yang baru di dunia tulis menulis tetapi ingin melihat apakah ada bakat atau gak, Jadi why not terjun aja. Terutama dalam rangka mengisi content web.Sebelumnya saya hanya nulis utk tugas sekolahan aja.
    Saya cukup takjub dengan apa yang dilakukan mas disini.
    Tulisan anda memberikan semangat bagi para penulis baru seperti saya dan memberikan prespektif bagi penulis yang telah lama berkecimpung.
    Tentang MLM, menurut saya itu sebuah sistem yang telah ada mekanismenya sendiri sehingga orang yang terlibat atau dilibatkan akan bertindak sesuai yang telah digariskan/sistem/biz model tsb, dan bagi orang tertentu lain bisa salah presepsi.Jadi menurut saya positif thinking aja dan jangan sampai merusak hub baik dengan teman kita tersebut. Saya sering ditawari , lalu saya ajak diskusi aja, terutama sistem motivasinya dan akhirnya menolak secara halus. Hubungan kita semakin baik sebagai teman.

    Suka

  10. Untuk menjadi penulis butuh satu hal lagi dalam kaitannya dalam kegiatan menulis, satu hal ini penting karena tak akan bisa dilakukan oleh sembarang orang. Menulislah dengan hati, tuangkan apa yang ada dalam benark hati kita penuh cinta dan keikhlasan karena tak ada suatu karya yang baik dilahirkan atas dasar terpaksa atau kerja rodi tanpa hati yang ikhlas.

    Suka

  11. Ping-balik: Kiat agar Punya Banyak Ide dan Produktif Menulis

  12. Ping-balik: Jonru on the Web » Kiat agar Punya Banyak Ide dan Produktif Menulis

  13. Saya baca “beberapa kesalahan blogger pemula”, akibatnya berhenti deh belajar nulis, untungnya saya baca artikel ini. Coba lagi deh belajar nulis, minimal untuk mengingatkan diri sendiri aja, makasih ya…..artikel2nya yang selalu “inspiring”

    Suka

  14. salam kenal.menurutku, bakat itu penting, tapi kemauan lebih penting. bener banget mz Jonru, yang nggak berbakat nggak usah takut sama yang berbakat, karena walaupun mereka adalah pesaing, tapi kalau mereka nggak berminat, ya sama saja.
    Semangat buat semua penulis muda yang mungkin masih di tahap iseng menulis…

    Suka

  15. Saya setuju sekali dengan tulisan mas Jonru ini..
    saya pribadi tidak membenci bisnis mlm, tetapi saya benar2 tidak mau menempuh jalan itu.. Walaupun saya tahu bahwa banyak sekali orang di dunia tsb yang berhasil menjadi kaya raya..
    Mereka berhasil karena mereka memang bekerja keras dan memiliki motivasi yang kuat..dan itu memang jalan hidup yg mereka pilih..
    Tidak seperti saya yang tidak memiliki ketertarikan di dunia tersebut..
    Saya merasa jika saya mengajak teman saya bergabung di bisnis mlm, mungkin saya telah membebani teman saya itu..
    Karena saya sendiri sangat merasa terbebani saat diajak bergabung mlm.. Apalagi oleh teman sendiri..
    Menurut saya, dan ini adalah pilihan hidup saya, lebih baik menjalani hidup ini seperti apa yang kita inginkan.. Harta bukan segalanya, hidup aman bersama orang yg dicintai dan bisa mengerjakan hal-hal yang kita sukai (seperti menulis, menggambar, bermain, dll) menurut saya itu sudah cukup.. Yang penting kita menjadi orang yg baik dan tidak menyusahkan orang lain..

    Suka

  16. Ping-balik: Bisnis Online vs Penghasilan Online | Jonru on the Web

  17. karena saya suka menulis artikel yang relatif jauh lbh pendek drpd buku, apa tulisan anda yg di atas jg berlaku untuk penulisan artikel?thx b4

    Desy…
    Tulisan di atas berlaku bagi semua penulis, tanpa kecuali

    Bahkan tulisan di atas bisa berlaku bagi siapa saja, tak peduli apapun profesinya, karena ini bisa menyangkut pilihan hidup secara umum.

    Salam sukses ya…

    Jonru

    Suka

  18. Assalamu’alaikum
    Saya orang yang tertarik ingin belajar menulis, tapi merasa gak bisa menulis. Saya juga blogger pemula…merasa seringkali buntu dan tak bisa memulai kata2 apa yang pantas untuk ditulis di blog saya jadinya…saya sering dihinggapi rasa malas menulis blog…bahkan seringkali khawatir tulisan saya gak bagus atau kurang menarik dan mersa gak berbakat nulis. Tapi saya pingin sekali bisa menulis! Untuk itu saya coba googlink cari situs pemandu, eh akhirnya menemukan situs nya mas jonru dan belajarmenulis.com ini, wah saya jadi semangat untuk banyak belajar jadinya, mudah2an dengan gabung disini saya jadi bisa menulis dengan baik. Terimakasih

    Waalaikumsalam…
    Amiin…
    Saya doakan semoga sukses jadi penulis hebat ya….

    Jonru

    Suka

  19. Ping-balik: Bagaimana Mendatangkan Banyak Inspirasi? | BelajarMenulis.com

  20. saya pengen banget bisa nulis entah itu di terima atau tidak tapi berharap di terima terus saya pengen ngebuktiin bahwa dengan kebiasaan aya mengoleksi banyak buku bisa melahirkan sesuatu yang beda.

    adakah trik jitu menulis yang tidak membosankan trus adakah ada sarat kusus jadi penulis ?

    Suka

  21. Memang apa salahnya jadi penulis sekaligus pelaku bisnis MLM? Bukankah malah bisa lebih untung? Siapa tahu dengan mengenal dunia MLM, dan mengenal mitra-mitra suksesnya,kita bisa membuat buku atau cerita seputar mereka, iya kan?

    Suka

  22. Ping-balik: Anang Dedi on The Blog » Blog Archive » Eehhh…..enaknya kalo pintar menulis

  23. Saya setuju sekali dengan mas Jonru, memang hal yang terpenting ketika akan melakukan satu aktivitas adalah motivasi. Kita perlu punya motivasi, agar aktivitas kita tidak hanya sekedar menjadi rutinitas semata, tapi kita selalu terdorong untuk menjadi lebih baik. Membaca tulisan2 Mas Jonru, saya menjadi sangat tertarik untuk menekuni dunia tulis menulis. Itu merupakan impian saya yang belum kunjung terwujud.

    Suka

  24. Salam Kenal Mas Jonru. bagaimana kabar anda, semoga sehat2 selalu.

    sy salah satu yg menyukai tulisan anda, dan telah mengikuti kursus 9 mgg programm anda, namun maaf sy blm bisa lnjut ke tahap selanjutnya. “krn seseuatu hal tentunya”. insyaAllah di lain waktu, krn sy merasa masih perlu menimbah ilmu dari yang lebih pengalaman, salah satunya Anda.

    terkait dengan tulisan anda saya pernah menulis tentang Blogging For Spirit. dan salah satu pesan yg saya sampaikan di situ mengenai hungungan antara menulis dan ngeblog.jadi menulis itu sgt bermanfaat dan menurut saya menyenangkan dan menantang.

    salam!

    Suka

  25. Salam cinta tulis!

    Menutut Jonru (dan Anda para komentator), apakah penting; apa itu (status) latar belakang seseorang untuk menjadi seorang penulis?
    Karena saya hanya seorang pengangguran dengan hanya sanggup menempuh pendidikan formal sampai SLTA saja.

    Apakah status saya yang “rendahan” itu tidak membuat penerbit enggan “menyentuh” naskah saya?
    Karena selama ini yang saya dapati, penulis-penulis, dalam biografi atau biodata mereka, adalah orang-orang dengan riwayat hidup (terutama dalam hal pendidikan) yang hebat-hebat.

    Saya mengakui adanya hasrat menggebu-gebu dalam diri saya untuk menulis, menulis, dan menulis.
    Tapi gairah itu menjadi naik turun, bergelombang tak menentu, ketika saya sadar diri (mengingat); akan kemungkinan naskah saya yang entah-entahan untuk sampai dapat diapresiasi oleh umum (diterbitkan)–membuat saya merasa pesimis dan berkecil hati.

    Tapi saya masih tetap menulis secara rutin. Meskipun tak dibarengi harapan muluk-muluk untuk sampai menjadi karya yang pantas terpajang di toko-toko buku.

    Terimakasih pada Jonru atas tema yang sesuai dengan perasaan saya.
    Juga pada komentator-komentator sebelum saya atas “pengakuan-pengakuan” Anda sekalian (yang akhirnya sanggup dan berhasil memancing saya untuk ikut berterusterang dengan unek-unek saya).
    Pula kepada komentator-komentator setelah saya (terutama bagi Anda yang berkenan memberi feedback untuk saya).

    Mohon ma’af yang sebesar-besarnya (tulisan saya telah memakan banyak tempat dan membuat Anda kelelahan membacanya).

    Syahdu selalu teruntuk para pecinta tulisan.

    Suka

  26. salam kenal..

    saya dulu selesai kuliah karena saya menulis
    menulis dan terus menulis
    ada honor saat itu yang membantu selesainya skripsi saya,KKN, dan wisuda..
    terima kasih ya Allah..

    waktu SMA saya diledek kawan yang kakaknya seorang penulis. Saya terus berkarya, saat ini sudah menulis dua buku. Sementara teman yang meledek itu tak satupun saya jumpai karyanya hingga saat ini.
    Jadi, memang perlu terus memperkaya diri dan terus berlatih

    salam

    Suka

  27. Saya sangat suka membaca. Dan buku- buku yang saya baca terkadang membuat saya takjub dan salut pada pengarangnya. Saya bermimpi suatu saat nanti saya juga akan punya buku yang dahsyat. Banyak ide di kepala saya tapi rasanya susah sekali mengungkapkanya dalam kata- kata yang indah untuk di baca. Sekarang saya akan berusaha untuk mewujudkan impian saya. Terima kasih motivasinya ….

    Suka

  28. Wah menarik sekali artikel Jonru. Menulis sebagai pilihan hidup? Sulit juga ya mengingat peluang untuk menghasilkan uang dari menulis tidaklah mudah. Saya mengirim sebuah naskah buku ke penerbit dan perlu antre beberapa bulan tanpa ada kepastian. Artinya bisa saja setelah menanti sekian lama, naskah saya ditolak. Hal ini juga berlaku ketika aku mengirim tulisan ke majalah atau koran. Nasib karya-karyaku sungguh tidak ada kepastian. Rasanya hanya untuk orang-orang tertentu, menulis itu bisa menjadi pilihan hidup. Salah satunya ya Jonru! Soal bakat, saya lebih bingung lagi. Saya sampai menulis banyak artikel dan dua naskah buku belum tahu apakah saya berbakat menulis atau tidak. Meski sulit mengatakan bahwa menulis sebagai pilihan hidup, saya tetap bisa mengatakan menulis sebagai bagian dari hidupku.

    Suka

  29. mas jon saya sangat senang membaca tuisan-tulisan sampean tentang penulisan, bahkan sekarang saya dikatakan oleh temen-temen sesama guru “lagi gila internet”. namun aku biarkan. saya sukan menulis dan ingin ikut SMO tapi saat ini aku masih terbentur masalah biaya. maklum aku guru swasta yang gajinya pas-pasan. mohon jalan keluar. suwun

    Suka

  30. Itu dia kata-kata yang tepat untuk menjawab mereka. 🙂
    Mantab, Bos!
    selama ini teman saya juga rajin sekali mengompori saya untuk menekuni MLM yang telah kami ikuti. padahal, saya ikut itu biar terdaftar jadi member sehingga kalo beli produk-x bisa murah. tentang bisnisnya, sudah saya paksa tapi sulit!
    untuk yang satu ini saya berani mengatakan sulit, dan sekarang saya tahu jawaban yang tepat.

    karena itu bukanlah Pilihan Hidup Saya.
    B)

    karena pilihan hidup saya adalah jadi Penulis.
    (biarpun sementara ini masih jadi penulis untuk diri sendiri) 🙂
    BANSAI!!!

    Suka

  31. ah bang Jonru bisa aja… tapi bagus kata-kata bang Jonru menyalakan semangat saya untuk menggali kuburan “mimpi” saya sebagai seorang penulis yang sudah lama terkubur bermeter-meter di atas permukaan laut

    Suka

  32. tanya nih:
    jadi penulis yang baik dan benar yang kaya apa yah, apa harus mengikuti fenomena (cerpen) atau kah gimana, dulu waktu SD pelajaran MENGARANG paling aku suka, berlanjut sampe SMU, nilainya bagus waktu itu…
    tetapi penah menulis hanya sekali dimuat, karena sekali mengirim, dibayar loh (tapi dikit) kisah nyata bergenre horor, so sekarang malah mandeg..
    bagaimanakah cara untuk membangkitkannya kembali pekerjaan menulis tersebut ?

    Suka

  33. @Arsyak16: penulis yang baik = penulis yang jadi dirinya sendiri dan tulisan2nya bermanfaat 🙂

    Suka

  34. Tambahan:
    Cara untuk kembali bangkit menulis, ya mulai lagilah menulis. Hanya itu satu2nya cara 🙂

    Suka

  35. Sebuah bakat yang bagus tidak akan dapat berkembang tanpa menyadari kelebihan dan kekurangan dirinya dan bakat yang paling buruk dapat berkembang menjadi lebih baik saat ia menyadari kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya
    ” diambil dari film kartun slam dunk” hehehe

    Suka

  36. Sungguh kawanku jonru, belum selesai membaca saja sudah cukup menarik hati saya untuk terjun dalam dunia tulis-menulis, tapi pertanyaan saya “apakah anda memerlukan refrensi yang banyak dalam menulis satu artikel?”

    Suka

  37. @gobil: Seorang penulis memang harus rajin membaca. Setiap kali selesai membaca, biasanya ilmu, data, informasi dst dari buku tersebut akan tersimpan di memori otak kita. Sebagian di antaranya akan OTOMATIS TERTUANG bila kita menulis. Sementara sebagian lainnya, kita perlu mencari referensi lain. Jadi, tidak selamanya harus menulis dengan ditemani banyak referensi buku. Dan memang seorang penulis harus banyak membaca. Salam sukses ya!

    Suka

  38. menulis,menulis dan menulis. Maka ketika orang lain memberikan tanggapan atas tulisan kita, saya merasa telah menjadi seorang penulis (walau sebatas dibaca teman dekat). Hal tsb memacu diri untuk menjadikan penulis sebagai bagian dari hidup (kalau tidakmau disebut sebagai pilihan hidup)

    Suka

  39. iya.. brulah saya sadar, slama ini di pkiran saya slalu di penuhi dgn kata “bakat” buat apa sih saya melakukan hal yang tdk sesuai bkat saya?, iya ini memang fakta, setiap orang pasti memiliki bkat’ny tersendiri… stelah saya bca artikel pak jonru bru saya bnar-benar sadar bhwa stiap orang tdk akan cukup cuma hanya dgn ada’ny bkat. ttpi yg pling berperan penting adlah semangt berjuang’ny thank’s pak jonru.. ats motivasi’ny

    Suka

  40. Ping-balik: Ide yang di Kepala Berbeda dengan Hasil Tulisannya | PenulisLepas.com

  41. Terima kasih atas pencerahannya, tulisannya menarik juga. Saya akan coba

    Suka

  42. Ping-balik: Penulis Harus Berpendidikan Tinggi? | PenulisLepas.com

  43. Semangat….semangat…….semangat……,,,itulah yang terpenting dalam menjalankan segala sesuatu, termasuk menulis. dengan semangat kita akan menemukan satu per satu unsur yang diperlukan dalam suatu bidang. Bakat, keyword, dan sebagainya,, semuanya akan ketemu jika kita tetap konsisten dalam semangat, tidak hanya 1 bidang, namun berbagai bidang. Tergantung masing-masing individu pintar-pintar mengatur jadwal kesehariannya. Karena saya suka dg filsafat, maka landasan dalam menulis saya pun mengopi dari bapak filsafat, Rene Descartes,”Saya menulis, maka saya hidup”. Bukan hanya uang, namun proses utk mendapatkan sebuah ilmu yang bermanfaat.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s