Ini Dia, Para Inspirator Saya!


Terus terang, keputusan saya untuk keluar dari status sebagai pekerja kantoran , antara lain dipengaruhi oleh beberapa orang, yang saya sebut sebagai inspirator. Merekalah – antara lain- yang membuat saya begitu menggebu-gebu untuk segera mewujudkan keinginan menjadi “manusia bebas”.

Mereka adalah (maaf jika ada nama yang terlupa):

1. Onno W Purbo
Sejak beberapa tahun lalu, Pakar TI kita yang satu ini telah memutuskan untuk menjadi full time writer . Saya berpikir, “Jika Pak Onno bisa, kenapa saya tidak?”

2. Sony Set
Saya pertama kali mengenalnya ketika beberapa tahun lalu Komunitas Layar Kata mengadakan Kopi Darat di Jakarta, sekaligus diskusi film “Eliana Eliana”. Di sana kami berbincang.

Dia menceritakan dirinya yang telah meninggalkan status sebagai manajer TI di sebuah perusahaan, demi mengejar karir sebagai penulis skenario profesional. Hm, MANAJER adalah posisi yang sangat strategis dan sangat mapan. Tapi Sony Set berani meninggalkan itu. Sedangkan saya? Di kantor saya hanya kuli, staf level terendah. Seharusnya saya lebih berani dari dia!

3. Valentino Dinsi lewat bukunya “Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian”
Terus terang, saya belum selesai membaca buku ini. Tapi membaca judulnya saja, saya sudah sangat terinspirasi.

4. Subhan Afifi
Dia adalah sahabat saya, kini menjadi dosen di salah satu universitas swasta di Yogyakarta. Selain mengajar, dia juga berbisnis dan sukses berat. Dia pernah berkata seperti ini pada saya, “Coba dihitung-hitung berapa jumlah uang yang kita keluarkan untuk kuliah. Lalu kita bandingkan dengan gaji sebagai pekerja kantoran. Ternyata jumlahnya sangat tidak sebanding. Dari segi materi, jumlah penghasilan kita sebagai pekerja kantoran sangat tidak cukup untuk menutupi seluruh biaya kuliah kita dulu.”

Hm… saya memang tidak pernah menghitung secara pasti. Tapi fakta berbicara bahwa tak ada karyawan atau pegawai negeri yang bisa jadi kaya raya, kecuali (menurut buku Valentino Dinsi) jika mereka:

1. mendapat warisan
2. menikah dengan orang kaya
3. menang undian
4. punya bisnis sampingan
5. korupsi

Tambahan dari saya:
6. meminta bantuan jin

Hm lagi… berapa gaji Anda saat ini? Katakanlah Rp 5 juta perbulan. Ini adalah jumlah yang cukup besar, sebab gaji saya di CBN dulu masih jauh di bawah itu.

Tahukah Anda berapa harga Anda dalam sejam? Untuk gaji Rp 5 juta perbulan, tenaga Anda dihargai Rp 30 ribu perjam! Ini masih menurut hitung-hitungan di buku Valentino Dinsi, lho….

Sekadar perbandingan, saya pernah menjadi pembicara dalam acara pelatihan pengelolaan website di tiga kota, dan honor saya perjam adalah Rp 400 ribu! Bahkan, saya pernah mendapat bayaran sebesar satu kali gaji saya dari sebuah pelatihan penulisan yang diadakan oleh Bank Indonesia.

Lagi-lagi hm… masihkah Anda bangga terhadap gaji Rp 5 juta bahkan 10 juta perbulan?

Terima kasih banyak Subhan, sahabatku. Ucapan kamu dulu itu memang benar banget!

Saya juga makin yakin dengan bunyi salah satu hadits:
“Sembilan dari sepuluh pintu rezeki adalah dari berdagang.”

5. Dudun Parwanto
Dia ini sahabat saya juga. Dulu dia menjadi wartawan, lalu memutuskan untuk membentuk perusahaan sendiri yang bergerak di bidang jasa penulisan. Dia banyak mengajari saya tentang strategi berwirausaha. Setiap kali ngobrol dengannya, keinginan saya untuk segera berwirausaha pun langsung menggebu-gebu lagi.

Dudun adalah salah seorang sahabat yang sering saya curhati mengenai kebosanan saya terhadap pekerjaan kantor. Dan dia selalu menyarankan, “Kamu memang harus keluar dari sana, tapi tidak sekarang. Coba kumpulkan dulu modal yang banyak, sebagai bekal berwirausaha.”

6. Dani Sumarsono
Dia adalah direktur utama CBN, kantor saya dulu. Mungkin dia merasa menyesal ketika mengetahui bahwa salah satu ucapan dia yang bertujuan agar semua orang betah menjadi karyawan di perusahaannya, justru berakibat sebaliknya: Saya ingin segera keluar dari sana!

Pada sebuah pertemuan akbar dengan seluruh karyawan beberapa bulan lalu, Pak Dani yang orangnya sangat religius ini berkata, “Kemapanan adalah sesuatu yang sangat berbahaya.” Dia mengasumsikan bahwa posisi kami di CBN saat ini adalah posisi yang sangat mapan. Karena itu, dia mengajak semua karyawan untuk tidak merasa keenakan. Kemapanan akan membuat kita manja dan lupa diri.

Berbekal konsep ini, Pak Dani mengajak kami untuk meningkatkan prestasi, bekerja sebaik mungkin, agar di masa mendatang kami dapat memiliki karir yang jauh lebih baik.

Hm, ternyata saya mempersepsikan ucapan dia ini dengan cara berbeda. Saya setuju dengan ucapannya itu, tapi di dalam hati saya berkata, “Saya selama ini sudah sangat mapan di CBN. Ini tentu sangat berbahaya. Karena itulah, saya harus segera menyelamatkan diri. Saya harus segera keluar dari tempat yang sangat mapan ini. Saya akan memilih sebuah kehidupan baru yang sangat tidak mapan. Sebab ketidakmapanan ternyata jauh lebih aman.”

Thanks a lot, Pak Dani. You are a very great person!

7. Taufik Sasongko
Sejak dulu, saya seringkali mendapat tawaran kerjasama bisnis dari banyak orang. Tapi tak ada yang berhasil. Bahkan, banyak di antaranya yang omdo alias omongan doang. Tapi Pak Taufik ini beda banget. Tanpa banyak omong, dia sudah sering melibatkan saya dalam proyek-proyek bisnisnya. Yang paling menonjol adalah kerjasama kami dalam mengelola Majalah Optimis .

Sebenarnya Pak Taufik hanya pengusaha kecil. Ia mengelola usaha desain grafis dan percetakan yang sudah berjalan selama lebih kurang dua tahun. Ia dan keluarganya masih ngontrak di rumah petak yang sangat kecil. Tapi Pak Taufik adalah orang yang sangat kreatif, percaya diri, ulet dan profesional dalam berbisnis. Sejak bermitra dengannya, saya merasa makin mantap untuk segera berwirausaha.

8. Mas Alwin
Pertemuan dan keakraban kami boleh dibilang berlangsung sangat singkat. Tapi dalam waktu sesingkat itu, saya merasa sangat cocok bersahabat dan berbisnis dengannya. Usaha yang ia kelola, Zabit Mobile Book, bagi saya merupakan sebuah bisnis yang sangat prospektif. Dan saya bersyukur karena saya akhirnya diberi kesempatan untuk bergabung dengannya.

9. Rini Nurul Badariah
Dia adalah sahabat yang saya kenal via internet sejak tahun 2000 lalu. Kami sudah sangat akrab dan saling percaya, tapi anehnya belum pernah ketemu sekalipun. Keuletan dan keberhasilan Rini sebagai seorang penulis lepas membuat saya sangat terinspirasi dan ingin segera mengikuti jejaknya.

10. Mr. X
Maaf, saya tak bisa menyebutkan namanya karena alasan “perlindungan privasi”. Yang jelas, Mr. X ini adalah seorang penulis yang cukup terkenal, dan beberapa bukunya sempat menjadi best seller. Bahkan, salah satu bukunya telah menjadi trend setter bagi buku-buku nonfiksi untuk remaja.

Beberapa waktu lalu, saya menelepon beliau dan kami berbincang cukup lama. Ada satu ucapan dia yang membuat saya tertegun, “Saya sekarang lagi tak punya pekerjaan, Mas. Untuk penghasilan, saat ini saya hanya mengandalkan royalti tulisan-tulisan saya.”

Hm… di satu sisi saya merasa prihatin mendengar cerita ini. Tapi di sisi lain saya berkata di dalam hati, “Hm… berarti memang benar! Menjadi penulis itu bisa hidup! Kita bisa hidup hanya dengan mengandalkan royalti naskah! Jadi buat apa saya takut kekurangan rezeki? Saya adalah penulis, dan ini adalah lahan rezeki yang sangat subur.”

* * *

Kini, saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada sepuluh orang di atas. Mereka adalah orang-orang yang sangat hebat.


Cilangkap, 11 April 2007

Jonru

Keterangan:

(*) Maaf, bukan bermaksud matre. Sejujurnya, saya paling muak kalo segala sesuatunya dihitung dengan uang. Ulasan saya di atas hanya sebatas gambaran perhitungan materi. Tak lebih dan tak kurang.

Iklan

4 responses to “Ini Dia, Para Inspirator Saya!

  1. editor, ti, akuntansi, menulis, cabut kerja, … kok mirip ya, berjodoh kali ya 🙂
    Salam kenal !

    Suka

  2. Syukur alhamdulillah saya akhirnya bisa mendapati orang-orang bersemangat ini. Meskipun hanya lewat internet. Saat ini saya masih terpaksa harus menjadi pekerja meskipun hati ini sudah membara ingin segera mengikuti jejak para pemberani seperti Pak Jonru. Tapi saya jadi minder kalau pa Jonru berani terjun dengan segudang (IT akunta, pembicara dsb…) kemampuan kalau saya terjun bebas berbekal apa yaa…?

    Suka

  3. zen: salam kenal juga
    memang mirip ya?

    yadi:
    harus optimis dong
    yang penting kuatkan motivasi untuk segera berhenti bekerja, lalu bekali diri agar nanti siap jadi orang bebas

    semoga sukses ya…

    Jonru

    Suka

  4. Ass..Ban Jon..lama tak jumpa.. Tak sengaja mampir ke blog ini. Iseng-iseng ngetik nama sendiri di Yahoo, ternyata ada juga yang nyebut2 nama saya,he.he. Saya nggak nyangka bang Jon, mencatat dengan cermat apa yang saya pernah katakan, lha wong..saya juga lupa kapan ngomongnya.he.he. Satu lagi pelajaran, kalau ngomong sama penulis harus “hati-hati” ya..he.he jangan-jangan di-cerpenin, di blog-kan atau minimal di Sindo-kan seperti pengalaman bang jon dengan wartawan Sindo itu. he.he. Any way, sukses bersama yaa..
    Salam hangat dari Kuala Lumpur..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s