Fiksi Islami: Konseptual vs Industri


Tulisan ini terinspirasi oleh komentar mas Sakti Wibowo yang dimuat pada kata pengantar untuk novel “Dan Cinta pun Rukuk” karya Dhani Ardiansyah dan Lulu L Maknun. Berikut cuplikannya.

“…. Hampir seluruh penerbit fiksi Islam, di tahun 2007 ini mengeluh. Dunia penerbitan fiksi Islam sedang mengalami titik kejenuhan yang parah, oleh sebah ceruk kecil itu sekarang begitu sesak pemain. Penjualan fiksi Islam mengalami terjun bebas, dan begitu banyak judul yang jeblok di pasaran.

Penulis-penulis yang dulu berbondong-bondong menjadi penulis fiksi Islam, kini juga sudah mulai berbondong-bondong lagi menjadi penulis fiksi umum….”

Saya mencoba berbaik sangka terhadap mas Sakti Wibowo atas kutipan di atas. Saya yakin mas Sakti tentu punya pemahaman yang sangat luas mengenai konsep “fiksi Islam”. Tapi entah kenapa, saya merasa amat tergelitik membaca tulisan itu, dan akhirnya menggerakkan saya untuk menulis artikel ini.

Saya tak akan bicara soal perkembangan sastra islam, khususnya kebangkitannya kembali setelah FLP berdiri. Sudah demikian banyak tulisan yang membahas hal ini. Kali ini, saya hanya akan membahas satu di antara fenomena sastra Islam yang menggejala (bahkan memprihatinkan sebenarnya) pada era tahun 1997 hingga 2004 lalu.

Saat itu, banyak sekali penerbit yang menerbitkan sastra Islami. Bukan hanya penerbit Islam (maksudnya, penerbit yang memang benar-benar punya misi dan visi untuk menyebarluaskan nilai-nilai Islam lewat buku), tapi juga penerbit umum yang hanya berorientasi bisnis semata.

Saat itu pula, buku-buku fiksi dengan label “Islam” (seperti NORI – novel remaja islami – di DAR! Mizan, dan Fikri – fiksi remaja islam – di Gema Insani) laris manis di mana-mana. Maka, banyak sekali penerbit yang berlomba-lomba menerbitkan buku fiksi dengan label “cerita Islami”.

Saya pernah bertanya kepada seorang editor di sebuah penerbit Islam. Dia memang mengakui bahwa cerita-cerita Islami sedang tren dan laku keras.

Di satu sisi, kita sebagai umat Islam memang bangga dengan fenomena ini. Ini artinya bahwa nilai-nilai Islam semakin populer dan bisa diterima oleh khalayak ramai. Alhamdulillah, kita patut bersyukur.

Tapi di sisi lain, ini juga sebenarnya bisa menjadi bumerang tersendiri. Saya tak akan berpanjang-panjang dalam teori. Tapi komentar mas Sakti Wibowo di atas, bagi saya sudah merupakan bukti yang sangat nyata.

Komentar tersebut membuat saya bertanya-tanya, “Apakah jika seorang penulis menerbitkan buku umum, apakah bukunya itu dijamin tidak islami?”

Terus terang saya sering merasa bingung ketika mendengar pembicaraan antara editor sebuah penerbit Islam dengan seorang penulis:

“Saya mau mengirim naskah ke penerbit Anda,” ujar si penulis. “Apakah penerbit Anda hanya menerbitkan buku-buku Islam?”

“Tidak. Kami juga menerbitkan buku-buku umum, kok,” jawab si editor dengan santainya.

Ini bukan pembicaraan fiktif semata, tapi saya seringkali mendengar pembicaraan semacam itu.

Dan lewat komentar mas Sakti di atas, saya seperti  kembali mendengarkan pembicaraan yang sama, dalam susunan redaksional yang berbeda. Sebuah ungkapan yang di telinga saya terdengar sebagai sebuah pemikiran yang berbau sekularisme. Sebuah ungkapan yang seolah-olah berisi penegasan bahwa “novel-novel yang tidak diberi label Islam adalah tidak Islami”.

Ya, seandainya ucapan seperti itu keluar dari seorang editor dari penerbit umum, terlebih lagi jika dia bukan beragama Islam, saya akan sangat maklum. Tapi jika keluar dari seorang editor dari penerbit Islam, yang selama ini dikenal memiliki visi dan misi untuk berdakwah lewat penerbitan buku, terus terang saya agak merasa bingung.

Maka saya kira, dalam hal inilah kita perlu bijak dalam membedakan mana “fiksi islam” dalam konteks industri dan mana “fiksi islam” dalam konteks konseptual.

Dalam konteks industri, kita memang tak bisa menafikan bahwa para penerbit mau tidak mau harus memberikan label tertentu pada buku-buku terbitan mereka. Tujuannya tentu saja agar buku tersebut dibaca oleh segmen yang tepat, sesuai dengan konsep marketing mereka.

Maka, penerbit pun memberikan label “cerita islami” pada novel tertentu, dengan harapan agar novel tersebut dibaca oleh kalangan pembaca yang familiar bahkan cinta terhadap nilai-nilai Islam. Jika segmen pembaca mereka adalah anak-anak ABG yang doyan pergi ke mal dan jarang shalat, mereka tak akan memberi label “cerita islami” pada novel tersebut.

Lagipula, karena novel-novel berlabel “cerita islami” sedang tren di mana-mana, para penerbit pun berlomba-lomba memberikan label seperti itu pada novel-novel yang mereka terbitkan.

Dan kini, ketika penjualan novel-novel yang berlabel “cerita islami” anjlok drastis atawa terjun bebas, maka para penerbit pun membuang label “cerita islami” dari buku-buku mereka. Sepanjang pengamatan saya, DAR! Mizan termasuk penerbit yang cukup antisipatif terhadap masalah ini. Ketika mereka melihat bahwa prospek penerbitan cerita islami mulai turun, mereka segera mendirikan Penerbit Cinta yang bersifat umum.

Ya, memang demikianlah sistem kerja sebuah industri. Kita tak bisa menyalahkan mereka.

* **

Dalam hal konseptual, saya kira pengertian “fiksi islami” atau “sastra islami” atau “cerita islami” benar-benar jauh berbeda dengan “definisi” ala industri di atas. Agaknya saya tak perlu berpanjang lebar menjelaskan bagaimana definisi yang konseptual mengenai cerita islami. Sudah demikian banyak artikel yang membahas masalah ini. Yang jelas, novel-novel terbitan Gramedia atau Gagasmedia pun bisa saja Islami. Bahkan novel-novel yang di dalamnya sama sekali tak ada simbol-simbol Islam pun bisa saja sangat islami. Sekadar reminder, saya pernah membahas film “30 Hari Mencari Cinta” yang menurut saya memiliki pesan moral yang Islami.

Islam adalah masalah NILAI yang terkandung di dalam sesuatu, BUKAN SIMBOL yang dihadirkan oleh sesuatu tersebut.

Dalam hal inilah saya merasa tergelitik membaca komentar mas Sakti di atas. Okelah, saya mencoba berbaik sangka. Mas Sakti tentu sangat paham mengenai definisi yang konseptual mengenai “fiksi islami”.

Namun, kenapa komentar seperti di atas masih muncul dari pikiran dan goresan pena Mas Sakti? Dugaan saya, mungkin ini disebabkan mas Sakti selama bertahun-tahun menjadi editor di penerbit. Dan tanpa sadar, pikiran beliau sudah “dirasuki” oleh definisi sastra islami ala industri. Semoga ini hanya prasangka buruk dan saya mohon maaf jika memang keliru.

* * *

Bagi seorang muslim yang telah paham mengenai konsep “fiksi islam” yang sejati, saya kira anjloknya atau terjun bebasnya penjualan buku-buku berlabel “Islam” sama sekali tak perlu dikhawatirkan. Tak ada yang perlu disesali. Biarkan saja. Memang dunia industri seperti itu. Suka naik turun. Berubah-ubah semaunya.

Kenapa kita tak perlu khawatir? Sebab yang anjok itu hanya labelnya. Apalah arti sebuah label! Yang penting nilai-nilai Islam di dalam hati dan pikiran kita tidak ikut anjlok. Yang penting muatan nilai-nilai Islam di dalam tulisan-tulisan kita tidak ikut anjlok bahkan hilang. Dan bagi penerbit: yang penting nilai-nilai islam tetap berkibar di dalam buku-buku terbitan mereka, walau buku-buku itu sama sekali tidak ditempeli label-label berbau Islam.

* * *

Dan kalau bicara soal strategi, saya kira banyak kiat yang bisa kita lakukan untuk menyiasati kelesuan industri fiksi islam saat ini.

Bagi penulis: karanglah sebuah novel atau cerpen yang sama sekali tidak menampilkan simbol-simbol islam, tapi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap islami.

Bagi penerbit: dirikanlah sebuah divisi penerbitan yang menerbitkan buku-buku BERLABEL umum, tapi buku-buku tersebut tetap sarat oleh nilai-nilai islam.

Saya tidak berani mengatakan bahwa buku-buku Penerbit Cinta itu dijamin islami. Tapi saya berani menyampaikan bahwa strategi DAR! Mizan ketika mendirikan Penerbit Cinta patut ditiru oleh penerbit-penerbit Islam lainnya.

* * *

Saya ingat pada ucapan Maman S Mahayana pada acara Milad FLP ke-10 bulan Februari 2007 lalu. Katanya, “Salah satu strategi agar karya-karya penulis FLP bisa diterima oleh khalayak umum, mereka harus rajin menerbitkan buku-buku mereka di penerbit-penerbit umum.” Maksudnya (ini dalam versi saya – Jonru), janganlah kita hanya menerbitkan buku di penerbit-penerbit Islam yang selama ini sudah menjadi ‘langganan tetap’ penulis-penulis FLP.

Saya “setengah setuju” dengan pendapat Bang Maman ini. Di satu sisi, saya memang sependapat bahwa ini bisa menjadi salah satu strategi agar penulis-penulis FLP mulai diterima di “dunia luar”.

Tapi di sisi lain, saya juga mengkawatirkan satu hal: Jika semua penulis FLP menerbitkan buku di penerbit umum dan meninggalkan penerbit-penerbit Islam yang selama ini sangat setia mendukung FLP, apakah itu bukan berkhianat namanya?

Karena itulah, saya punya ide yang semoga bisa menjadi jalan tengah.

Wahai para penerbit Islam! Dirikanlah satu atau beberapa lini penerbitan, yang menerbitkan buku-buku umum, tapi muatannya tetap Islami. Lalu ajaklah para penulis FLP untuk menyumbangkan naskah-naskah mereka. Saya yakin, banyak penulis di kalangan FLP (termasuk saya, hehehe…) yang tertarik dengan sistem ini.

Saya kira, ini bukan hanya masalah strategi untuk menyiasati kelesuan pasar. Tapi:

  1. Ini juga bisa menjadi strategi dakwah yang sangat jitu. Sebab dengan menerbitkan buku bermuatan Islam tapi jauh dari simbol-simbol Islam, diharapkan buku-buku tersebut bisa menjangkau kalangan masyarakat yang selama ini memang masih antipati terhadap segala sesuatu yang berbau Islam.
  2. Karya-karya penulis FLP tetap diterbitkan oleh penerbit-penerbit Islam yang selama ini setia mendukung FLP.
  3. Karya-karya penulis FLP diharapkan makin diterima luas oleh masyarakat umum.

Yang kita butuhkan saat ini adalah membuka pikiran dan wawasan yang seluas-luasnya. Saatnya kita – baik penulis maupun penerbit – menata ulang persepsi kita selama ini yang mungkin masih salah mengenai definisi fiksi Islam.

Cipayung, 14 Mei 2007
Jonru

Iklan

8 responses to “Fiksi Islami: Konseptual vs Industri

  1. saya setuju dengan poin-poin yang mas jonru paparkan di sini. benar, bahwa selama ini ketika khalayak melihat ‘fiksi islami’ mereka lebih terkonsentrasi mengangkat hal-hal yang bersifat ‘ritual’.

    sehingga tema-tema yang dibahas berkisar seputar sesuatu yang sangat khas islam seperti jilbab (atau poligami). tetapi bukankah islam lebih universal dari itu? seringkali hal-hal bersifat ritual menutupi mata kita dari hal-hal yang bersifat humanis dan bisa diterapkan di mana saja, oleh siapa saja, sehingga nilai-nilainya dapat dihargai dan dimengerti oleh semua orang–bahkan mereka yang non-muslim.

    fiksi islami di masa depan, menurut hemat saya, seharusnya bisa menyampaikan poin bahwa islam adalah agama yang universal dan bertenggang rasa 🙂 sudah saatnya pengkotak-kotakan yang ada menjadi lebih fleksibel; karena dunia jauh lebih besar dari ‘kotak-kotak’ itu.

    salam.

    Suka

  2. betul, setuju banget 🙂

    Suka

  3. …karanglah sebuah novel atau cerpen yang sama sekali tidak menampilkan simbol-simbol islam, tapi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap islami.

    Setuju! Dunia ini tidak pernah sehitam-putih kisah film atau komik Indonesia tahun 90-an ke belakang. Tapi, btw, film 30 Hari Mencari Cinta memiliki pesan moral islami? Ah, yang bener, Mas Jon? Kalau yang dimaksud dengan pesan moral islami adalah kebaikan universal, ya tentu saja ada! Bahkan film terburuk di antara yang terburuk pun selalu punya pesan moral tentang kebaikan.

    Suka

  4. @brahmanto:
    film “30 hari mencari cinta” kan bertema “persahabatan jauh lebih baik daripada mencari pacar”. Nah, inilah yang saya sebut islami.

    Namun mengenai pernak-pernik film ini seperti gaya hidup yang hedonis, gaya berpakaian, dst, ini adalah bagian yang tidak islami.

    thanks ya…

    Suka

  5. salam kenal aja, kunjungi blog saya di taufik79.wordpress.com

    Salam kenal juga Pak Taufik 🙂

    Suka

  6. Salam Kenal Pak Jonru. Saya mempunyai banyak novel dan cerpen karangan sendiri, tapi hanya saya baca dan simpan di komputer. ketika teman saya baca katanya bagus. saya ingin menerbitkannya tapi bagaimana caranya ya?
    oya, kebanyakan cerpen dan novel saya adalah dari kisah nyata yang menurut saya cukup menarik. Terimakasih sebelumnya.

    Suka

  7. Well, it is really very exciting news that c-lab has developed a new addition to the work being as part of @rt outsiders festival.
    http://www.clothingchinaoutlet.com/

    Suka

  8. This topic was really educational and nicely written.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s