Tulisan Dibajak? Siapa Takut!


Salah satu isu paling menarik seputar publikasi tulisan di internet adalah PEMBAJAKAN! Secara logika, tulisan di internet memang sangat mudah dibajak. Tinggal copy paste saja, beres dah!

Fakta ini menyebabkan banyak pihak yang mencoba membuat script yang mampu melindungi tulisan di website mereka dari aksi copy paste. Contohnya adalah Detik.com. Tapi ada begitu banyak “script tandingan” (gratis pula) yang membuat proteksi situs tersebut tak ada artinya sama sekali.

Begitu juga dengan orang yang mencoba melindungi ebook berformat PDF dengan password. Ternyata, di luar sana banyak script gratisan yang mampu menjebol password file PDF.

Ironis? Ya, memang. Tapi saya ingin mengajak Anda untuk tidak takut terhadap pembajakan naskah, khususnya yang dimuat di internet.

Kenapa tidak perlu takut? Berikut faktanya:

  1. Tulisan di internet memang gampang dibajak. Tapi siapa bilang tulisan tercetak tak bisa dibajak? Coba baca kisah Helvy Tiana Rosa di sini.
  2. Selama ini, pernahkah Anda melihat kasus tentang pembajak tulisan yang disidangkan di pengadilan oleh si penulis asli, lalu si pembajak tampil sebagai pemenang? Terus terang saya belum pernah menemukannya. Jika Anda pernah, tolong beritahu saya segera.
  3. Masih berhubungan dengan poin 2: Biasanya pembajakan naskah sangat cepat ketahuan, dan si pembajak akan segera kehilangan muka (kecuali kalau dia memang penjahat tulen yang telah kehilangan rasa malu. Tapi lagi-lagi, saya belum pernah menemukan kasus seperti ini).
  4. Kalau kita menegur si pembajak dengan tegas, banyak di antara mereka yang segera minta maaf dan memperbaiki diri. Saya punya beberapa pengalaman, satu di antaranya bisa dibaca di sini.

Dari fakta di atas, sebenarnya pembajakan adalah sebuah kasus yang jarang terjadi, sehingga kita dapat menyebutkan sebagai kasus yang sangat berskala kecil. Tragisnya, kita selama ini terlanjur beranggapan bahwa pembajakan karya merupakan sebuah masalah yang sangat besar sehingga kita pun harus ekstra waspada untuk menghadapinya. Bahkan, banyak penulis yang akhirnya tidak berani memuat naskah mereka di internet.

Apakah saya berkata seperti ini karena saya belum pernah merasakan sendiri bagaimana rasa jengkel dan sakit hati ketika karya saya dibajak? Jangan khawatir! Dalam hal ini saya termasuk orang yang sudah “sangat berpengalaman”, karena karya saya – khususnya yang dimuat di internet – sudah sangat sering dibajak.

Dulu, saya pun sering gusar dengan ancaman pembajakan terhadap tulisan-tulisan saya. Tapi ada tiga pendapat yang membuat pandangan saya berubah drastis.

1. Pendapat Bayu Gawtama dalam sebuah diskusi penulisan di Jakarta beberapa tahun lalu:

Kalau tulisan saya dibajak, itu artinya tulisan saya bagus dan disukai banyak orang. Karena itu, kalau tulisan saya tidak dibajak, saya justru tersinggung!

Mohon maaf, khususnya buat Mas Bayu Gawtama, seandainya kalimat di atas tidak persis dengan ucapan asli beliau. Tapi intinya memang demikianlah. Sebuah ucapan yang sangat mencerahkan, yang kemudian membuat saya tidak terlalu takut lagi jika karya saya dibajak.

Ups… tapi jangan pula ucapan saya ini membuat kamu merasa leluasa untuk membajak tulisan saya. Sebab saya tetap tak akan tinggal diam! 🙂

2. Pendapat Bob Julius Onggo dalam bukunya “Success with e-Book“:

Memang para penulis e-book takut kalau kekayaan intelektualnya dicuri oleh para penyabot informasi lalu mereka mem-forward-nya ke teman-temannya. Itu juga saya alami….

….

Namun, Anda tidak perlu takut dengan kriteria orang seperti itu. Berdasarkan pengalaman saya, apapun yang mereka lakukan sebenarnya membantu mempromosikan diri Anda, sehingga brand Anda akan dikenal di mana-mana (halaman 22).

3. Pendapat Denny Baonk dalam tulisannya berjudul Internet, Plagiatism & Hak Cipta. Kutipan singkatnya:

Jadi, jangan takut untuk mempublikasikan karya cipta di internet, karena itu malah menjadi sarana paling murah, paling mudah dan paling cepat untuk menegaskan hak cipta kita.

Memang, pendapat Denny Baonk ini masih mengudang sejumlah perdebatan. Hal ini antara lain disampaikan oleh Brahmanto yang mengomentari tulisan mas Denny di atas:

Wah, menarik banget, Bang Denny! Tapi, saya masih bingung nih. Publikasi lewat blog, scr hukum apa kuat ya? Krn bagaimanapun penanggalan post di blog kan mudah diubah. Publikasi lewat situs? Milis? BBS? Gimana kalo suatu hari ajang online itu di-delete pengelolanya (umpamanya gara-gara space-nya penuh)? Mengandalkan bukti SENT juga saya ragukan, mengingat mekanisme SENT itu sendiri: Tiap pengiriman, meski itu gagal, nyangkut, atau apapun, dokumen SENT akan selalu ada (asal tidak disetel off). SENT bahkan tidak sama dg REPORT. Jd, kayaknya SENT tdk serta-merta membuktikan bahwa karya kita pernah dipublikasikan. Langkah penyimpanan file (misalnya html, php, asp) yang memuat tulisan kita pun berpeluang diragukan keabsahannya, lantaran file semacam itu gampang sekali diciptakan sendiri. Nah, lantas kalo bukti2 kita debatable gitu, apa saksi2 kita ada gunanya?

Ya, kalau dipikir-pikir, pendapat Brahmanto itu banyak benarnya juga. Tapi berdasarkan sejumlah fakta dan pendapat di atas, coba deh kita sikapi isu pembajakan ini dengan pikiran yang sangat positif:

  1. Jika tulisan saya dibajak, itu artinya tulisan saya bagus dan disukai banyak orang. Alhamdulillah.
  2. Jika tulisan saya dibajak, akan lebih banyak orang yang membaca karya saya, dan ini tentu membawa banyak dampak positif bagi saya.
  3. Jika ketahuan (dan biasanya memang sangat gampang ketahuan), nama baik si pembajak akan segera tercemar, dan sangat sulit untuk memulihkannya kembali.

Lantas, pengalaman saya sendiri:
Memang ada kekhawatiran jika tulisan saya – yang banyak beredar di internet – dibajak oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab. Tapi saya justru menemukan fakta yang sangat menarik:

Saya rajin menulis di internet, dan itu menyebabkan nama saya dikenal di mana-mana. Banyak orang yang mengundang saya menjadi pembicara. Pergaulan saya pun makin luas. Banyak orang yang merasakan manfaat dari tulisan saya.

Intinya, tulisan-tulisan kita di internet memang gampang dibajak. Tapi ada satu hal yang jauh lebih berharga: Tulisan-tulisan tersebut merupakan portofolio tersendiri bagi kita. Suatu saat nanti, Insya Allah tulisan-tulisan tersebut akan sangat berharga bagi pengembangan karir penulisan kita.

* * *

Jadi, dengan fakta-fakta dan argumen-argumen di atas, masihkah kita takut akan pembajakan? Insya Allah saya tidak! Tapi kalau masih ada orang yang nekat membajak tulisan-tulisan saya, saya tetap punya kewajiban hukum untuk menyelesaikan masalah ini secara gentleman!

Cilangkap, 31 Mei 2007
Jonru

Iklan

26 responses to “Tulisan Dibajak? Siapa Takut!

  1. di indonesia, bajak-membajak bagi saya hal yang wajar, tidak usah takut. Yah, maklum, kita kan negara agraris :-p

    Suka

  2. hehehe… betul juga ya :

    Suka

  3. Loh mas, khan bisa pake jasa copyscape.com hehehe.

    Suka

  4. wah… situs bagus
    tapi barusan saya coba, kok hasilnya gak akurat ya?

    Suka

  5. definisi membajak itu agak kurang jelas….
    ada istilah copy paste tapi juga ada plagiasi …

    kalau si plagiator membajak, tapi membuat seolah2 itu karya kita itu sebagai karya si plagiator, ….gemanah nama kita bisa terpromosikan??

    Suka

  6. hmmmm…bingung juga ya…

    bingung kenapa nih?

    Suka

  7. Tidak ada satupun karya manusia yang orisinil. Setiap detail karya yang kita buat — ukir, ucapkan, tulis, atau apapun bentuknya — adalah bentuk plagiasi kita terhadap apa yang kita lihat, dengar, atau rasa, kemudian meng”inspirasi” kita untuk mencipta hal baru….

    Alam selama ini tidak pernah menuntut atas inspirasi yang telah mereka beri setiap hari — mulai dari mega merah, pelangi, embun pagi, deburan ombak di pantai, kepakan sayap rajawali, bahkan hingga derik jangkrik — semua gratis buat manusia setiap hari tersedia.

    Sebanyak apa engkau telah memberi?

    Suka

  8. Ya, saya setuju betul dengan bang emjie..

    Suka

  9. Hehehe… bang jonru, akhirnya nongol juga nih topik ini, baru saja saya alami pembajakan puisi-puisi saya oleh user id: langit_septa di kemudian.com. Nggak tanggung-tanggung, dari 4 lembar laman karyanya (total ada 9), saya udah menemukan 19 judul puisi yang diakui karyanya yang diambil dari website pribadi http://www.indahip.blogspot.com.

    Tindakan saya adalah menghubungi moderator/redakturnya, setelah 3 kali tidak mendapat tanggapan lalu menghubungi beberapa teman yang pernah jadi narasumber di beberapa acara komunitas itu dan akhirnya puisi2 tsb tetap dipasang dengan label bajakan.

    Selain itu saya juga membuat tantangan perang sebagai respon pribadi hehehe, tentu saja perang puisi, tarung satu lawan satu 😉 (tapi sebenarnya nggak mungkin juga ya? Karena di dunia maya siapa yang bisa memastikan seseorang menulis sendirian tanpa back up siapapun?).

    Mungkin banyak yang merasa ngapain buang-buang energi dan waktu ngurusin hal ini. Apalagi langit_septa seperti punya banyak pendukung yang nggak percaya karya-karya itu bukan miliknya.

    Tapi saya merasa peduli.

    Sampai saat ini puisi tantangan itu nggak juga mendapat jawaban atau respon langit_septa, sih..Konon yang bersangkutan sudah terbang, tapi saya melihat track nya masih ada di mana-mana bahkan seminggu terakhir ini ;-). Lagipula bukankah siapapun bisa menjelma nama lain di dunia maya?

    Merasa deg-degan memposting karya dan hampir ngambek berkarya, sempat juga, tapi saya pikir kalau demikian bukankah artinya saya menyerah pada kondisi? So, saya buang jauh-jauh rasa ragu, rasa ngambek, rasa nggak nyaman, rasa takut dijiplak lagi dan bangun lagi, tetap berkarya seperti biasa.

    Sesungguhnya kasus ini bikin semangat berkarya melambung berlipat-lipat, sebab saya tahu ada yang mengapresiasi dan menyadari bahwa itu karya saya dan menginformasikan bahwa ada yang membajaknya. Hehehe

    Tetap semangat! Buku terbaru mas Jonru akan beredar di KL nggak ya? 😉

    Suka

  10. mbajak, kalo buat kebaikan bersama sih ok-ok saja
    tapi kalo mbajak untuk kepentingan sendiri, komersil sendiri itu harus diberantas

    tapi..
    kalo mbajak sambal jangan diberantas yah. abis sambal bajak itu enak:)

    Suka

  11. Setelah mendapat serangan bertubi-tubi di blog saya http://duniaebook.wordpress.com , mengenai ebook mudah dibajak, setelah saya memposting tulisan mengenai keunggulan ebook dibandingkan buku. Rasanya kini saya seperti dapat dukungan dari Bang Jonru dengan tulisan yang menetramkan ini. Dan saya juga telah memposting “7 Langkah Melindungi eBook dari Pembajakan” di blog saya.

    Suka

  12. @indahip,
    Saya bisa memahami perasaan anda, karena saya juga pernah jadi korban.

    http://sanjisan.wordpress.com/2009/03/05/mengatasi-website-plagiator-jika-seseorang-membajak-tulisan-anda/

    Jangan menyerah! Mari kita rame-rame membantai situs pembajak yang tidak menyertakan sumbernya, hehehe 🙂

    Suka

  13. salam… yap, saya punya pengalaman sakit hati dibajak. Bagaimana tidak, buku yang saya tulis dengan susah payah, 2 kali beberapa bagian dibajak dengan begitu saja tanpa menyebutkan sumber aslinya. saya yakin itu bajakan dari tulisan saya karena bahasanya sama persis tanpa melalui proses editing. yang menyedihkan lagi, artikel itu dipublikasikan di media cetak. yang satu di jurnal, yang satunya lagi di suratkabar nasional. Gila kan… mereka dapat honor, sementara saya harus nunggu sekian lama untuk terima royalti yang jumlahnya tidak seberapa. Gila lagi, yang membajak bukan orang awam, yang satu dosen di sebuah perguruan tinggi swasta di jogja, yang satu mahasiswa sebuah perguruan tinggi negeri, di Jogja juga… Kapan negeri ini bisa maju kalao pembajakan terus menjadi tradisi? tragis-

    Suka

  14. Kayaknya para plagiat tidak bisa lagi dibendung. semua ada dimana-mana. pusing…! entah itu para blogger, penyanyi, band, bahkan negara. ampun deh..

    Aku punya triknya untuk menjebak para plagiator

    MAU?

    Suka

  15. Tulisan blog saya juga baru dibajak jadi buku. Masih mencoba kontak penulis atau penerbitnya tp belum bisa.

    Suka

  16. Ping-balik: Cuma Ngeblog Bisa Dapat Blackberry GRATIS. Mau? | Jonru on the Web

  17. He3,saya termasuk yang ragu-ragu untuk menulis gara-gara takut di bajak, mas 🙂
    Nggak nyangka, dah ada tulisan mas jonru yang bhas masalah ini. Bner2 membuka wawasan, walaupun untuk kberanian masih dalam butuh waktu.

    Suka

  18. setelah baca ini jadi semangat nulis n ga’ takut dibajak…

    Suka

  19. masih dilema sich…
    kita yang bersusah payah eh ada orang lain yg nikmati hasilnya…

    Suka

  20. terima kasih mas
    setelah membaca ini saya tidak takut artikel saya akan dibajak..

    Suka

  21. manusia memiliki fitrah mudah meniru dari apa yang dia lihat, dengar dan rasakan.

    lihat saja seorang anak kecil begitu mudah dibentuk karekternya dengan hanay melihat tingkah laku dari kedua orang tuanya. kan gitu?! 🙂

    Suka

  22. ah ya, saya termasuk orang yang masih rancu dengan definisi membajak (mengambil karya orang dan mengklaim sebagai karya pribadi), dengan menulis ulang (mengambil ide dan menuliskan dengan gaya bahasa sendiri). yang pertama jelas adalah kejahatan, sementara yang kedua bagaimana?

    saya sendiri juga termasuk yang ketakutan jika karya saya dibajak, apalagi ada klaim bahwa apa yang disebar di internet adalah milik publik, dan bebas dipakai oleh publik. huff…

    Suka

  23. Ping-balik: Tweets that mention Tulisan Dibajak? Siapa Takut! | Jonru on the Web -- Topsy.com

  24. yup. setuju, kita yg punya orisinilnya.
    karena kita sudah publis ya siap2 aja di baca atau dicopy

    Suka

  25. takut karyanya di bajak, takut pembajakan adalah hal2 yang membuat kita terhadang untuk menulis, menulis saja dulu di bajak no 2

    Suka

  26. Semoga para pembajak segera sadar bahwa membajak karya orang lain adalah dosa. 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s