Ketika Ngeblog Tidak Lagi Bebas


“Konsep utama blog adalah kebebasan. Karena itu, kita bebas mengisi blog kita dengan apapun yang kita inginkan, apapun yang kita mau.”

* * *

“Blog adalah media yang sangat personal. Karena itu, isilah blog Anda sesuai dengan keinginan dan kebutuhan Anda. Jangan meniru-niru gaya dan jenis tulisan pada blog orang lain. Jadilah diri sendiri!”

* * *

Kedua kutipan di atas adalah contoh kalimat-kalimat yang paling sering saya lontarkan mengenai blog. Hingga hari ini, saya masih mengakui kebenarannya.

Tapi saya harus jujur sekarang. Mungkin kejujuran saya ini lebih kurang sama seperti yang dicetuskan oleh Daus berikut ini:

Jaim

PERNAHKAH Anda berada dalam situasi ini:

Seseorang yang Anda kenal secara formal menjadi pengunjung setia blog Anda, karenanya Anda berusaha untuk menulis sebaik-baiknya.

I’m in it and it feels sucks!

Ya, saya akui: Menulis di blog ternyata tidaklah seratus persen bebas. Ada kalanya saya harus berpikir panjang untuk menulis sesuatu. Sering kali saya membatalkan niat untuk memuat tulisan tertentu di blog saya, dengan berbagai alasan, antara lain:

  • Khawatir bila tulisan tersebut membuat pembaca blog saya menjadi pesimis atau kehilangan motivasi, padahal selama ini saya sangat rajin memotivasi orang lain.
  • Khawatir bila tulisan tersebut memicu kontroversi yang tidak produktif.
  • Khawatir bila aib saya terbongkar 🙂
  • Khawatir bila tulisan tersebut membuat orang atau golongan tertentu tersinggung.
  • Khawatir bila…. hm… masih begitu banyak alasan lainnya.

Kini, kebebasan saya di blog pun semakin sempit, karena dua hal:

  1. Sejak menjadi Nominator Blog Terbaik untuk Kategori Online Marketing and Sales, ada semacam kewajiban moral bagi saya untuk mulai serius menulis tema-tema internet marketing dan bisnis online.
  2. Saya mulai peduli terhadap sesuatu yang bernama “personal branding”. Hal ini “mengharuskan” saya untuk mulai fokus pada tema-tema tertentu saja, yakni tema-tema yang sesuai dengan personal branding saya. Saya merasa perlu mengurangi atau menghentikan penulisan tema-tema yang tidak sesuai dengan personal branding saya.

Kedua “aturan” di atas sebenarnya dibuat oleh SAYA SENDIRI, dan secara tidak langsung itu telah mengurangi jatah kebebasan berekspresi saya dalam menulis di blog.

Intinya: Saya kini tidak bisa lagi menikmati kebebasan 100 persen dalam menulis dan berekspresi lewat blog.

Apakah saya telah melanggar prinsip utama dalam blog, yakni KEBEBASAN?

* * *

Saya menulis artikel ini, sejujurnya, setelah membaca tulisan Vavai di sini. Katanya:

….ada lebih banyak blogger yang mengalami kegamangan saat hendak menulis secara lepas setelah tahu pembacanya sudah cukup banyak dan ada pembaca blognya yang dikenal baik, dihormati dan lingkungan serta latar belakang pembacanya cukup beragam. Jika demikian yang terjadi, menulis menjadi tuntutan yang bisa menghalangi kreativitas. Kita bisa terbawa menjadi mesin produksi yang menulis sesuatu untuk menyenangkan pembaca. Kita dihadapkan pada pilihan untuk mengira-ngira, topik apa yang menarik. Isi blog macam apa yang bisa sesuai dengan keinginan pembaca. Kita jadi pabrik kata-kata, bukan seorang blogger yang menulis dengan hati. Dalam bentuk yang ekstrem, kita jadi penulis yang menulis sesuai dengan pesanan, entah diminta atau tidak. Pesanan yang kita reka-reka mengenai apa yang diinginkan pembaca….

Ada perasaan bersalah di hati saya ketika pertama kali membaca tulisan di atas. Saya terkejut, karena TANPA SADAR saya telah menjadi seorang penulis pesanan, penulis blog pabrikasi.

Padahal, saya telah memutuskan untuk berhenti menerima proyek-proyek pesanan, hehehehe… 🙂

Hm…
Sekali lagi, apakah saya telah melanggar prinsip kebebasan dalam ngeblog?

Saya berpikir cukup lama, hingga akhirnya saya tersenyum senang. Saya merasa mendapatkan jawaban yang menyenangkan:

Ketika saya MEMUTUSKAN untuk tidak bebas lagi dalam menulis di blog, bukankah ini merupakan SEBUAH KEBEBASAN TERSENDIRI?

Setiap orang bebas MEMUTUSKAN apapun yang mereka inginkan. Jadi saya juga bebas untuk memutuskan apapun yang berhubungan dengan blog saya.

Saya mau JAIM di blog saya, mau membatasi diri untuk menulis tema-tema tertentu saja, atau apapun itu, semua itu terserah saya. Saya bebas memutuskan apapun di blog saya.

Setelah berpikir seperti itu, alhamdulillah… saya merasa mendapat pencerahan. Saya kini berpendapat, ketidakbebasan saya saat ini dalam menulis dan berekspresi di blog, sebenarnya bukanlah sebuah “kesalahan”. Saya tidak melanggar prinsip kebebasan dalam blog.

Lagipula, seperti yang pernah saya tulis, bukankah kebebasan sejati atau kebebasan 100 persen itu tidak pernah ada:

Ya, saya tahu. Kebebasan sejati tak pernah ada. Seorang teman menganalogikan kebebasan seperti seseorang yang baru keluar dari sebuah rumah. Ia kini terbebas dari rumah tersebut, beserta semua aturan dan tetek bengek yang ada di dalamnya. Tapi begitu berada di luar rumah, ternyata ia tidak benar-benar bebas. Justru di dunia luar pun terdapat sejumlah aturan, etika, dan seterusnya yang membuat dia menghadapi ketidakbebasan yang lain.

Ya, kebebasan sejati tak pernah ada selama kita masih berada di dunia yang fana ini.

Jadi, ketika orang yang “memutuskan untuk mengurangi kebebasan mereka dalam berekspresi di blog” disebut sebagai “penulis pabrikasi dan tidak lagi menulis dengan hati”, saya kira “julukan” tersebut perlu dikaji ulang. Sebab julukan seperti itu justru bisa mengarah sebagai “upaya untuk membatasi kebebasan para blogger”.

Para blogger tak perlu dibatasi, sebab konsep utama blog adalah kebebasan.

Anda setuju atau tidak? Itu terserah Anda. Bebas-bebas saja, kok.

Buat Vavai, take it easy yach….
Beda pendapat itu biasa. Yang penting kita tetap peace…. 🙂

Hehehe….

Cilangkap, 23 Desember 2007

Jonru

Iklan

8 responses to “Ketika Ngeblog Tidak Lagi Bebas

  1. bang kl daku paling suka nulis model cicken soup (blog).

    kalau untuk yang “spesialis” nulis di media cetak aja seputar “Kajian media” ini mungkin personal branding.
    gimana kalau yang seperti ini 🙂

    ya itu bagus saya kira

    (btw pertanyaan ente sering bikin bingung, hehehehe…)

    Jonru

    Suka

  2. Benar sekali, saya juga merasa menulis di blog tidak 100% bebas. Satu yg paling saya hindari adalah menulis tentang kerja dan suasana di kantor, sangat berbahaya bila dibaca atasan ! 😀

    yup betul
    dulu juga sempat ada berita:
    ada karyawan yang dipecat gara2 membeberkan “rahasia dapur” kantornya di blog 🙂

    (sayangnya, saya lupa link-nya)

    Jonru

    Suka

  3. kalau masih terkekang aturan dan jaim, belum “bebas” pak. menulislah dengan hati bukan dengan hati-hati 😀
    saya sih cuek aja, biar salah satu tulisan saya melahirkan kecaman dari institusi atau pribadi tertentu. cuma sebuah opinion, kenapa harus repot.

    seperti yang saya sebutkan di atas:

    Kita bebas memutuskan apapun di blog kita, termasuk memutuskan untuk “memangkas” kebebasan kita sendiri.

    Demikian pendapat saya

    btw,.. thanks atas masukannya

    Jonru

    Suka

  4. Saya kira ada perbedaan penafsiran disini, mas Jonru. Saya yakin, dengan kapabilitas yang dimiliki mas Jonru, bisa memahami dan memaknai tulisan saya bukan dalam pengertian membedakan seorang blogger itu semacam mesin pabrik atau bukan.

    Analogi saya soal ‘menulis berdasarkan pesanan’ dan saran agar kita menulis dengan hati tidak dalam konteks kebebasan melainkan dalam konteks menulis secara lepas (seperti situs yang dikembangkan mas Jonru juga, penulislepas 😀 ). Menulis dengan hati bisa diasosiasikan sebagai menulis tanpa pretensi. Just Write !

    Quote Brokencode sangat tepat, menulis dengan hati, bukan hati-hati.

    Istilahnya, karena relasi dengan tulisan Firman Firdaus, menulis dengan hati dan bukan pabrikasi dianalogikan juga sebagai menulis tanpa jaim. Tentu tak ada masalah jika kita menulis dengan mempertimbangkan baik dan buruk, dan itu bisa kita kembalikan pada nurani kita, itulah menulis dengan hati.

    BTW, perbedaan pendapat menurut saya merupakan sesuatu yang bisa memberikan nuansa dan pemahaman yang lebih baik mengenai satu persoalan ditinjau dari berbagai segi. Tak ada masalah. Kita bisa saja sepakat untuk tidak sepakat. Kalau segala sesuatu harus homogen kan malah aneh ya 🙂

    Thanks buat pandangan mas Jonru.

    Mas Vavai…
    terima kasih banyak atas masukannya yang sangat berharga

    sukses selalu ya

    Jonru

    Suka

  5. Saya pernah mengalami hal semacam itu mas. Entah kenapa orang2 menanggap blog yg saya tulis sebagai blog sains, padahal saya sendiri tidak berniat menjadikannya demikian. Akibatnya, saya terpaksa menulis entri khusus untuk menjelaskan duduk perkaranya: http://blog.dhani.org/2006/12/blog-sains/

    Mas Dhani…
    Personal branding kita memang terkadang ditentukan oleh orang lain.
    Blog saya ini pun sama. Aslinya saya mengisi blog ini dengan tulisan apa saja, namun lebih condong ke penulisan. Tapi malah dikasih award “blog terbaik untuk kategori internet marketing”

    hehehehe.. 🙂

    Suka

  6. very very nice blog,.thanks for your info sir,.

    Suka

  7. Ping-balik: How To Build Wealth From Nothing

  8. Ping-balik: Kpop Kola » Wawancara 2PM dengan Majalah ViVi Jepang November 2011 part 1 | Source For K-Pop Albums, Style, Goodies, and K-Drama Reviews

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s