EVALUASI: 2 Bulan Menjadi Pekerja Kantoran (Lagi)


Tak terasa, sudah dua bulan saya menjadi pekerja kantoran (lagi). Sesuai kontrak yang saya tandatangani, tanggal 7 Januari adalah hari terakhir saya ngantor. Setelah itu, insya Allah saya akan menjadi ORANG BEBAS lagi.

Bagi teman-teman yang belum tahu cerita saya yang tiba-tiba ngantor lagi, silahkan baca beritanya di sini .

Berikut ini saya akan menjabarkan sisi-sisi baik dan sisi-sisi buruk yang saya alami selama dua bulan ngantor tersebut.

Tapi saya hendak menegaskan sejak awal:

  • Saya menceritakan sisi-sisi buruk hanya sebagai INFO semata. Insya Allah tak ada maksud untuk mengeluh atau menunjukkan sikap tidak bersyukur.
  • Saya selalu berusaha mengambil hikmah dari kejadian apapun, termasuk dari kejadian yang paling buruk.
  • Saya juga tidak bisa menafikan bahwa banyak hal baik juga yang saya alami selama 2 bulan ngantor tersebut. Karena itu, saya akan menceritakannya secara seimbang (setidaknya saya sudah berusaha ke arah itu).

Baiklah, saya mulai saja dari hal-hal buruk:

1. Di hari pertama ngantor, saya langsung “diuji” oleh kehadiran kakak saya – Kak Pinta – dari Binjai, Sumatera Utara, bersama suami dan anak bungsunya. Ujian yang saya maksud: Saya tak bisa menjemput, mengantar dan menemani mereka karena harus ngantor. Semua urusan akhirnya ditangani oleh istri saya. Duh, menyesal sekali rasanya, karena saya “terpaksa” menelantarkan kakak sendiri yang datang jauh-jauh dari Sumatera.

2. Sekitar satu bulan setelah ngantor, kakak saya lainnya – Kak Lina – juga datang dari Binjai. Saya harus menjalani “ujian” yang sama, dan muncul rasa penyesalan serupa.

Saya membayangkan, “Coba kalau tidak ngantor. Saya tentu bisa menemani mereka secara lebih leluasa.”

3. Tiga kali saya sakit dan terpaksa tidak ngantor. Mungkin karena saya stress, harus mengerjakan hal-hal yang tidak saya sukai sehingga semua terasa amat berat. Mungkin juga karena saya selama ini sudah terbiasa “hidup santai”, tapi tiba-tiba harus mengikuti pola kerja “eight to five” lagi.

4. Sekitar 4 hingga 5 kali saya HARUS menolak undangan menjadi pembicara, karena jadwalnya pas jam kerja. Duh, saya merasa amat bersalah pada panitia yang mengundang saya.

5. Sekitar 3 kali saya harus meminta maaf pada mitra kerja, karena tak bisa memenuhi undangan mereka untuk urusan bisnis tertentu. Alasannya sama: saya tak bisa meninggalkan kantor pada jam kerja.

6. Di awal masa kerja, Si Bos sudah berjanji untuk memberikan saya keleluasaan dalam mengelola bisnis dari kantor. Ketika saya mengatakan ada jadwal konferensi Sekolah-Menulis Online tiap Rabu sore via Yahoo! Messenger (YM), dia bilang “boleh, saya izinkan”.

Tapi dalam prakteknya, ada begitu banyak tugas kantor yang menyebabkan saya kurang leluasa dalam menjalankan bisnis dari kantor.

Janji ternyata tak seindah kenyataan.

Dan yang lebih parah:

7. Sekitar seminggu sebelum masa kontrak habis, entah kenapa saya tak bisa lagi menggunakan YM dari kantor. Padahal sebelumnya lancar-lancar saja. Ini menyebabkan saya tidak bisa mengadakan konferensi online dengan siswa Sekolah-Menulis Online.

(Bahkan di hari terakhir saya bekerja di sana, Webmessenger pun tak bisa lagi diakses. Padahal sebelumnya bisa. Aneh banget deh).

Mungkin YM di kantor tersebut sudah diblokir. Entahlah. Tapi saya tak begitu peduli, karena saya tahu masa kerja saya di sana sudah hampir berakhir.

8. “Tubuh saya di sana, tapi hati saya di tempat lain”. Inilah masalah terbesar yang saya alami selama 2 bulan ngantor tersebut. Saya benar-benar tidak bisa lagi menikmati hidup sebagai pekerja kantoran. Saya sudah merasa sangat asing dengan dunia seperti itu. Ketika bekerja, yang ada di pikiran saya cuma bisnis, bisnis, dan lagi-lagi bisnis.

9. Saya tak punya rasa bangga sedikit pun terhadap jabatan dan profesi saya di kantor tersebut. Ketika ada teman yang berkata, “O, kamu sekarang bekerja di Penerbit X, ya?” Saya selalu menjawab, “Bukan. Kebetulan saya lagi ada kontrak selama 2 bulan di sana. Sebentar lagi kontraknya juga bakal habis, kok.”

Bila orang lain bangga sebagai karyawan pada perusahaan tertentu, saya justru merasa bahwa status seperti itu ibarat sebuah kesalahan, dan saya merasa malu atawa bersalah untuk mengakui status saya yang sebenarnya.

Sebagai konsekuensinya, saya merasa amat asing dengan istilah “berangkat ke kantor” atau yang semacam itu. Saya merasa lebih nyaman menyebut “Berangkat ke Penerbit X” 🙂

Intinya, saya ngantor tapi malu mengakuinya. Aneh, bukan?
10. Sebulan setelah ngantor, saya stress luar biasa. Saya hampir putus asa dan berkata pada istri saya, “Besok saya mau resign aja, deh. Saya sudah tidak kuat.”

Sebenarnya, pekerjaan saya tidak berat-berat amat. Tapi ketika Anda tidak menyukai pekerjaan tertentu, maka seringan apapun itu… akan terasa amat berat. Itulah yang saya rasakan.

Tapi akhirnya saya mencoba berpikir jernih. Saya mengatakan pada diri sendiri, bahwa masa kontrak saya di sana tinggal sebulan lagi. Itu tidak akan lama.

Saya juga berpikir, bahwa saya harus keluar dari perusahaan tersebut dengan meninggalkan kesan yang baik. Saya harus menjaga hubungan baik dengan mereka setelah saya resign nanti.

Niat seperti inilah yang membuat saya betah dan semangat lagi dalam bekerja.

11. Banyak urusan bisnis saya yang terbengkalai, karena waktu saya habis terpakai untuk ngantor.

* * *

Hal-hal yang baik dan menyenangkan:

1. Bos saya sangat baik, bijaksana, tahu bagaimana cara memotivasi karyawan, dan tak pernah marah. Bahkan, semua jajaran bos di kantor tersebut sangat merakyat. Salut deh pada mereka.

2. Saya bisa menikmati akses internet berkecepatan tinggi, beda banget dengan internet di rumah yang super lelet.

3. Gaji yang saya terima dari penerbit tersebut, menjadi sumber rezeki tersendiri yang patut saya syukuri. Terus terang, dalam rentang waktu dari November hingga Desember 2007, boleh dikatakan saya nyaris tak punya penghasilan yang memadai. Pekerjaan di penerbit tersebut membuat masalah ini teratasi. Alhamdulillah.

4. Saya mendapat banyak tambahan ilmu, termasuk “kiat membuat banner flash dengan Adobe Image ready”. Wah, ternyata asyik banget dan sangat mudah. Padahal dulu saya anggap sulit.

5. Saya sadar dan merasa amat bersalah. Selama hampir setahun menjadi “orang bebas”, saya kurang disiplin dalam mengelola waktu, sehingga banyak waktu yang terbuang percuma. Setelah ngantor lagi, saya jadi tersadar bahwa waktu itu ternyata amat berharga. Jadwal yang amat padat membuat saya harus benar-benar disiplin dan cermat dalam mengelola waktu. Saya berharap, semoga kejadian ini membuat saya lebih disiplin dan bijaksana dalam mengelola waktu.

* * *

Ringkasan dan Kesimpulan:

Bila ada teman yang bertanya, “Coba ceritakan semua hal di atas secara ringkas, maka saya akan menjawab seperti ini:

“Dulu saya sudah berjanji untuk tidak lagi menerima proyek-proyek pesanan, tidak lagi jadi pekerja kantoran. Tapi saya akhinya tergoda dan melanggar janji tersebut. Akibatnya, saya dihukum selama dua bulan. Saya dipenjara di sebuah penerbit buku.”

Alhamdulillah, masa tahanan saya sudah berakhir. Saya bebas lagi sekarang. “Dipenjara” selama dua bulan membuat saya bisa belajar tentang banyak hal. Saya bertekad untuk menjadi orang yang lebih baik dari hari-hari sebelumnya!

Hikmah terbesar dari “hukuman 2 bulan” tersebut:

Saya belajar untuk menjadi orang yang lebih fokus, tidak mudah lagi tergoda, dan disiplin dalam mengelola waktu.

Alhamdulillah…
Selama dua bulan ngantor tersebut, ada sekitar 5 kali saya menolak tawaran untuk mengerjakan proyek pesanan. Ketika ada teman yang memberi info bahwa ada sebuah penerbit yang ingin merekrut saya, dengan amat tegas saya berkata, “Saya sudah tak mau menjadi pekerja kantoran.”

Saya merasa bisa lebih tegas dan kuat dalam menghadapi godaan. Dan ini semua merupakan hikmah dari “hukuman 2 bulan” tersebut.

Alhamdulillah….

Cilangkap, 7 Januari 2008

Jonru
Setelah kembali bebas karena besok tak perlu ngantor lagi 🙂

Iklan

9 responses to “EVALUASI: 2 Bulan Menjadi Pekerja Kantoran (Lagi)

  1. selamat bang, akhirnya menjadi orang bebas lagi.
    semoga pekerjaan yang sekarang di fokuskan berjalan dengan lancar 🙂

    Thanks Mas Ipung 🙂

    Suka

  2. wah.. benar2 antara hitam dan putih 🙂

    Itu memang disengaja Pak
    hehehee… 🙂

    Suka

  3. kerja kantor emang bisa bikin kita tambah fokus mas jonru, tapi ntar jadinya “terlalu fokus” 🙂

    hehehehe..
    betul banget Mas 🙂

    Suka

  4. Thanks atas sharing hal ini Pak Jonru..
    ada hikmah yang bisa kita petik bersama

    Semoga bisnis Pak Jonru terus berkembang
    salam,
    faif

    Thanks juga PaK Faif
    Semoga sukses selalu ya 🙂

    Suka

  5. Terima kasih pak Jonru, atas artikelnya yang inspiratif,
    semoga saja saya bisa ngikutin jejak Anda.

    Salam sukses,
    Abu Hafidz
    http://www.AsianBrainHome.com

    Pak Abu Hafidz…
    Amiin.. saya doakan semoga cita2nya terwujud segera ya…

    Suka

  6. tapi kalau saya mah mas jadi stress kalau gak ngantor karena gak ada gaji ………… belum punya bisnis sendiri sih, ajarin donk caranya jadi ngepengen jadi orang bebas tapi berpenghasilan

    Ahmad Farid…
    Saya sedang mempersiapkan sebuah tulisan yang isinya adalah jawaban atas pertanyaan anda.
    Insya Allah…
    Tunggu saja ya….

    Suka

  7. Salam kenal Mas Jonru, saya juga dari jaktim. Sudah lama buka buka blognya tapi baru sekarang bersuara karena topik yang ini buat saya menarik.
    Saya juga nggak ngantor, adalah bisnis kecil-kecilan bikinan suami (http://www.freewebs.com/bundahenny). Saya juga sering tergoda untuk kerja lagi, karena sebelum punya anak ngantor juga.
    Dengan bekerja, mungkin akan mengalami hal yang sama seperti Mas Jonru.
    Jadi… Saya pikir2 mungkin memang lebih baik mengelola bisnis di rumah saja dan anak-anak bisa terurus.
    Trims buat sharingnya…
    Rumput tetangga memang lebih indah kelihatannya ya…

    Bunda Henny… salam kenal juga
    Semoga sukses dengan bisnisnya ya…

    Suka

  8. Bung Jonru,

    Saya adalah salah satu “penggemar” Anda. Buat saya, membaca “perjalanan terjal” Anda dalam mencapai cita-cita adalah sangat inspiratif.

    Tetapi Bung Jonru,

    Kalau boleh memberi saran, sebaiknya tidak perlu menuliskan kesulitan-kesulitan yang SEKARANG INI Anda alami. Kenapa? Karena pada dasarnya, menuliskan hal-hal di atas membuat pikiran Anda terfokus pada hal-hal tersebut. Pikiran yang fokus pada kesulitan, hanya akan menciptakan kesulitan-kesulitan lain.

    Ingat, pikiran tidak hanya bersifat mengamati, tapi lebih dari itu, pikiran juga selalu menciptakan. Ketika kita melakukan pengamatan, maka pada saat itu juga kita sebenarnya sedang melakukan penciptaan.

    Menuliskan kesulitan-kesulitan hidup kita, sebaiknya dilakukan pada saat kesulitan itu sudah lewat, sudah menjadi hikmah atau pelajaran, sehingga fokus pikiran kita dan para pembaca adalah pada hikmah tersebut, bukan pada kondisi kesulitan kita.

    Jadi, kesulitan-kesulitan Anda tidak perlu ditulis. Tuliskanlah keberhasilan-keberhasilan Anda!

    Seperti yang terakhir, mendapat liputan MetroTV. IT’S A SUPER BIG ACCOMPLISHMENT! Kenapa tidak menuliskannya secara komprehensif? Tuliskanlah keberhasilan itu dari berbagai sisi yang mungkin, dengan cara yang semenarik mungkin. Saya yakin, hal itu akan sangat mendukung reputasi dan kredibilitas Anda di mata pembaca dan para calon pelanggan Anda.

    MENGAPA BELUM DITULIS, BUNG JONRU?

    MENGAPA ANDA “TAKUT” KALAU ANDA INI SEBENARNYA JAUH LEBIH BESAR DARIPADA KONDISI FINANSIAL ANDA, JAUH LEBIH BESAR DARIPADA KESULITAN-KESULITAN HIDUP ANDA, JAUH LEBIH BESAR DARIPADA PUJIAN, KRITIKAN, ATAU CACIAN DARI SIAPA PUN?

    Pak Ferli… salam kenal ya
    Terima kasih banyak atas komentar anda yang penuh semangat 🙂

    Sebenarnya, ‘kesulitan’ yang saya ceritakan di atas justru setelah kejadiannya lewat.
    Jadi tak ada masalah kan?

    hehehehe…

    btw… sepertinya anda pecinta “the secret” juga ya 🙂

    Suka

  9. Memang benar, melakukan suatu hal yang tidak kita inginkan tetapi secara terpaksa harus kita lakukan itu sangat tidak mengenakan, jiwa kita di sana, tetapi badan kita di tempatlain. itu seperti sedang berjalan di atas duri. Dulu saya juga pernah mengalaminya, dan itu membuat saya sangat stress

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s