Belum Bisa Membedakan FIKSI dengan NONFIKSI?


Pada sebuah kegiatan di Sekolah-Menulis Online BelajarMenulis.com beberapa hari lalu, ada dua siswa yang menanyakan hal yang sama:

“Awalnya saya menulis nonfiksi, yakni sebuah artikel tentang A. Tapi lama-kelamaan, tulisannya kok menjadi fiksi, ya? Bagaimana cara mengatasinya?”

Pertanyaan ini membuat saya agak bingung, karena itu saya meminta si siswa untuk memberikan penjelasan lebih detil.

Mereka pun menjelaskan.

“Begini. Saya kan menulis sebuah artikel tentang A. Di situ saya menjelaskan analisis dan diskripsi tentang A itu. Tapi tanpa saya sadari, tulisan itu akhirnya berubah menjadi penulisan opini saya mengenai A.”

“Oke, lalu di mana letak fiksinya?” tanya saya.

“Ya pada opininya itu.”

“Lho, Anda menganggap opini itu sebagai fiksi?”

“Memang begitu, kan?”

* * *

Terus terang, kejadian ini menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi saya. Sekitar setahun lalu, saya pun pernah ditanyai oleh seorang teman, “Apa sih, perbedaan antara fiksi dengan nonfiksi?”

Bahkan, seorang teman pernah berkata, “Saya sudah terbiasa menulis dengan gaya bahasa yang ringan, pakai sapaan AKU, pokoknya jauh dari resmi. Karena itulah saya tidak berani menulis nonfiksi. Soalnya nonfiksi itu kan tulisan yang serius dan resmi.”

Sejujurnya, selama ini saya menganggap bahwa SEMUA penulis PASTI sudah tahu apa perbedaan antara fiksi dengan nonfiksi. Tapi pengalaman-pengalaman di atas, terus terang membuat saya terperangah sekaligus sadar, bahwa anggapan saya ternyata keliru.

Dari hasil obrolan dengan teman yang belum bisa membedakan antara fiksi dengan nonfiksi tersebut, saya mendapat kesimpulan bahwa dia mengira pembedaan antara fiksi dengan nonfiksi adalah dalam hal GAYA BAHASA. Bila suatu tulisan menggunakan bahasa yang “mendayu-dayu”, indah, nyastra, berbunga-bunga, maka itu adalah tulisan fiksi.

* * *

Mungkin, banyak di antara Anda – para penulis senior – yang geleng-geleng kepala dan merasa heran atas cerita saya di atas. Itu bukan karangan saya semata, tapi itu adalah fakta yang saya temukan di lapangan.

Karena itulah, kali ini saya mencoba memberikan semacam “pelurusan makna” atas isu yang – barangkali – “cukup krusial” ini. Bila tidak diluruskan, saya khawatir jika di masa depan, makin banyak orang yang salah kaprah mengenai perbedaan antara fiksi dengan nonfiksi.

Baiklah!

Perbedaan antara fiksi dengan nonfiksi sebenarnya SANGAT SEDERHANA. Kita akan mulai dari hal yang paling mudah dipahami.

Selama ini, Anda tentu sudah sering mendengar istilah ‘perusahaan fiktif’. Saya yakin Anda tahu apa maksud dari istilah ini. Ya, perusahaan fiktif adalah perusahaan bohongan, tidak benar-benar ada.

Nah, TULISAN FIKSI memiliki pengertian yang lebih kurang sama. “Fiksi” dan “fiktif” berasal dari suku kata yang sama, jadi artinya pun lebih kurang sama. Fiksi adalah jenis tulisan yang hanya berdasarkan imajinasi. Dia hanya rekaan si penulisnya.

Jadi, Anda pasti sudah setuju sekarang, bahwa jenis-jenis karya tulis berikut ini merupakan karya fiksi:
Cerita pendek (cerpen), novel, sinetron, telenovela, drama, film drama, film komedi, film horor, film laga.

* * *

Jika Anda telah paham apa itu FIKSI, maka memahami NONFIKSI akan jauh lebih mudah. Coba amati kata NON yang terdapat di depan kata FIKSI. Arti dari “non” adalah “tidak” atau “selain”.

Jadi, TULISAN NONFIKSI adalah tulisan-tulisan yang isinya BUKAN FIKTIF, bukan hasil imajinasi/rekaan si penulisnya.

Dengan kata lain, NONFIKSI adalah karya tulis yang bersifat faktual. Hal-hal yang terkandung di dalamnya adalah nyata, benar-benar ada dalam kehidupan kita.

Jadi, Anda pasti sudah setuju sekarang, bahwa jenis-jenis karya tulis berikut ini merupakan karya nonfiksi:
Artikel, opini, resensi buku, karangan ilmiah, skripsi, tesis, tulisan-tulisan yang berisi pengalaman pribadi si penulisnya (seperti diary, memoar, chicken soup for the soul, laporan perjalanan wisata), berita di koran/majalah/tabloid, film dokumenter, dan masih banyak lagi.

* * *

Kesimpulan:

Perbedaan antara fiksi dengan nonfiksi sebenarnya hanya terletak pada masalah faktual atau tidak, imajiner atau tidak.

Jadi, perbedaan antara keduanya sama sekali tidak ada hubungannya dengan gaya bahasa atau apapun selain masalah fakta atau imajiner.

Dengan demikian, bisa saja tulisan nonfiksi menggunakan gaya bahasa yang “nyastra”, mendayu-dayu, berbunga-bunga, sebagaimana halnya yang sering kita temukan pada naskah-naskah cerita pendek (cerpen) atau novel. Tulisan nonfiksi bisa saja menggunakan bahasa yang sangat serius, atau sangat santai dan selengekan, seperti buku Kambing Jantan karya Raditya Dika.

Dan – SECARA TEORI – bisa saja cerpen atau novel menggunakan bahasa yang serius dan formal seperti skripsi atau karangan ilmiah. Ya, itu bisa saja. Kenapa tidak? Jangan katakan itu tidak mungkin, sebab siapa tahu suatu saat nanti ada penulis yang berhasil menulis novel dengan menggunakan bahas ilmiah, tapi tetap asyik untuk dibaca.

Di dunia jurnalistik, kita juga mengenal istilah “jurnalisme sastra”, yakni penulisan berita (NONFIKSI) yang menggunakan gaya bahasa sastra, sehingga berita-berita yang kita temukan di majalah tertentu akan terasa seperti novel. Padahal yang ditulis di sana adalah KISAH NYATA atau FAKTA, atawa NONFIKSI.

* * *

Sebagai penutup, saya merasa perlu memaparkan dua hal berikut:

SATU:
Memang, karena alasan tertentu, ada juga penulis yang memasukkan unsur-unsur fiksi ke dalam tulisan nonfiksi. Misalnya: Seorang wartawan menulis sebuah berita, lalu di dalamnya ada wawancara imajiner dengan seorang tokoh yang juga imajiner.

Mungkin Anda mengira bahwa tulisan jenis ini adalah 50 persen nonfiksi dan 50 persen fiksi. Ada juga yang berpendapat ini sudah 100 persen fiksi. Sementara orang lainnya mengatakan tulisan seperti ini masih murni nonfiksi.

Kita bisa saja berdebat panjang mengenai hal-hal seperti itu. Tapi menurut saya, itu bukanlah hal yang terlalu prinsip untuk dibahas. Selama tulisan tersebut bermanfaat bagi pembaca dan tidak merugikan siapapun, saya kira berdebat tentang jenis tulisan hanya akan membuang-buang waktu.

DUA:
“Bagaimana bila IDE DASAR dari tulisan fiksi adalah FAKTA? Contohnya, banyak juga film atau novel yang diangkat dari kisah nyata.”

Untuk menjawab pertanyaan ini, coba Anda baca tulisan saya yang berjudul “Menulis Cerpen Berdasarkan Kisah Nyata”.

Semoga bermanfaat, dan semoga tak ada lagi salah kaprah mengenai pengertian fiksi dan nonfiksi.

Cilangkap, 18 Februari 2008

Jonru

Iklan

49 responses to “Belum Bisa Membedakan FIKSI dengan NONFIKSI?

  1. sekadar saran om, kalo untuk saya tulisan NF yg Campur F seperti nomor 1, itu justru menarik…

    OK deh Arham..
    thanks ya, atas masukannya

    Suka

  2. Ping-balik: [Kilas Balik] Sekolah-Menulis Online Genap Setahun (Bagian IV-Selesai) | Jonru on the Web

  3. Ping-balik: [Kilas Balik] Sekolah-Menulis Online Genap Setahun (Bagian III) | Jonru on the Web

  4. Ping-balik: Kiat Menulis Esai yang Menarik | BelajarMenulis.com

  5. Opini yang sama.. tdk berani menulis karena gaya bahasa yg terkadang kurang fix dgn pokok bahasan.

    tapi sekarang sudah banyak karya F yang dicampur dgn Science .. buat saya itu sungguh menarik..

    Ada sisi santai dan seriusnya..

    Suka

  6. Ping-balik: Kiat Menulis Esai | BelajarMenulis.com

  7. sory om klo menurut saya apapun itu yang penting yagh nulis dolo…
    klo kata buku yang pernah saya baca (cieee) klo cuma debat kapan kelarnya mandek ama debat doank….
    nyang penting nulis and nulis….
    klo perlu ampe modar ^-^

    Suka

  8. salam kenal om, mungkin yang jadi masalah adalah tidak berani memulai, takut salah, dan sebagainya…

    Suka

  9. Thx bgt nih infonya…
    Jujur info tersebut sgt berharga buatku yg lg blajar “menulis” sesuatu yg bermanfaat.
    Meski dulu disekolah(SD,SMP,SMU) udh pernah dijelasin bedanya F dan NF tapi buat aku yg baru minat nulis,hal itu baru kelihatan manfaatnya penjelasan ini…
    Sekali lagi thx a lot Uncle…

    Suka

  10. Tonny Yabezpra

    Terimkasih telah menjelaskan tentang perbedaan Fiksi dan Non Fiksi mudah-mudahan bermanfaat, namun demikian karena saya baru rencana ikut dalam SMO dan ingin menjadi penulis mohon dapat diberikan modul dan kiat-kiat bagaimana caranya menjadi seorang penulis yang nantinya diterima oleh semua pihak (pembaca).

    Suka

  11. Jadi intinya apa?

    Suka

  12. apakah semua novel or cerpen disebut karya sastra?..
    kalu tidak semua novel bisa disebut karya sastra, apa yang membedakannya?…

    Suka

  13. agung lindu nagara

    terimakasih bang Jonru, berdasar pengalaman menjadi wartawan, dalam jurnalistik jika sumbernya imajiner pasti tidak akan dimuat, meskipun feature sumber harus jelas, jika minta disamarkan, maka ganti dengan nama lain

    maaf sekedar berbagi info

    terimakasih atas ilmu menulis gratisnya

    Suka

  14. Terima kasih penjelesannya mengenai fiksi dan non fiksi ,saya jadi ngerti ha..ha… saya memang bodoh sekali orangnya.Oh iya bagaimana mengolahnya cerita non fiksi jadi cerita fiksi?Ini kan memerlukan diplomasi penulisan bagi penulis yang sudah ahli?

    Suka

  15. @M Hartono: Diplomasi penulisan seperti apa maksudnya nih? Kalau mengubah nonfiksi menjadi fiksi, ya tinggal tambahkan saja imajinasi ke dalamnya.

    Suka

  16. makaci atas penjelasannya

    Suka

  17. Ping-balik: Lagi, Soal Perbedaan antara Tulisan Fiksi dengan Nonfiksi | Jonru on the Web

  18. Ping-balik: Belajar Menulis bersama O. Solihin « O. Solihin

  19. bagaimana cara kita agar bisa membedakan keduanya

    Suka

  20. @Rajak: Lho, kan di atas sudah dijelaskan 🙂

    Suka

  21. Syukurlah saya menemukan artikel ini, semula saya sempat lupa dengan perbedaannya, karena pelajaran tentang ini sudah lama mengendap dan tertimbun dengan sejumlah memori2 baru yang tidak sedikit jumlahnya. Okelah kalau begitu, salam kenal yaaaa…… Thank you so much!

    Suka

  22. Menurut pandangan saya, baik fiksi maupun non-fiksi memang masing2 punya kriteria tertentu, tapi apapun tulisan yang kita buat mestilah harus menarik bagi pembacanya dan punya nilai jual yang bisa menarik pembeli, mau gaya apapun cara penulisan kita yang penting nilai jualnya, betul gak Pak Jonru? Mohon tanggapannya. salam saya baru aja bergabung dengan blog ini……salam kenal semua.

    Suka

  23. terima kasih saya jadi paham antara buku fiksi dan non fiksi sekarang.
    sebelumnya saya pun juga bingung membedakan antara fiksi dan non fiksi.

    Suka

  24. blog walking, , ,

    Suka

  25. akhirnya sy menemukan forum yang open air atas hasrat terpendam sy terhadap dunia penulisan.Tak pernah saya tahu bagaimana memulainya?berkutat dengan teori2 yang sy baca tentang menulis semakin saya tenggelam dalam kebingungan,alhasil tak satupun karya tertuang.surut dalam keraguan,mampukah saya menulis????????????????

    Suka

  26. @Cindy: Itu buktinya anda sudah mampu menulis 🙂

    Suka

  27. thanks ini yang saya cari…. terima kasih banyak

    Suka

  28. makasiii, jadi ngerti deeehhhh

    Suka

  29. Anisah Widyastuti

    wah lagi bingung karena dapet tugas dari suatu lembaga, aku nemu blognya pak Jionru.sip deh nisa jadi mulai mengerti the diffrences between them , dan aku sudah bisa memutuskan untuk mengambil non fiksi 🙂

    Suka

  30. Artikel ini ngebantu bgt buat ujian prktk besok..makasih banyak!

    Suka

  31. Risa anggraeny

    lalu persamaan untuk karya fiksi dan non fiksi apa kalau gitu??? butuh penjelasan ni buat bahan mid semester.. tq

    Suka

  32. Miftahur Rahman el-Banjary

    Berdasarkan pengalaman & profesi saya yang bergelut dlm dunia kepenulisan, saya kurang sepakat dengan pendapat Mas Jonru bahwa cerita fiktif itu selamanya imajinasi atau tulisan berdasarkan khayalan si penulisnya.

    Saya banyak menulis cerita-cerita atau peristiwa yang sesungguhnya benar-benar terjadi, kemudian saya kemas kembali dlm bentuk cerpen atau saya masukkan dlm bagian-bagian plot novel. Ada bnyak novel2 dunia, bahkan banyak jg novel karya penulis Tanah Air yg menulis karya fiktif berdasarkan realita, jadi saya kira penjelasan Mas Jonru masih sedikit membingungkan.

    Mohon tanggapan dr Mas Jonru,

    Suka

    • @Miftahur: Kisah nyata pada cerita fiksi itu fungsinya sebagai IDE CERITA, atau BAHAN BAKU untuk dirangkai menjadi cerita. Ketika kisah nyata sudah ditambah dengan imajinasi, maka dia menjadi fiksi. Tapi ketika kisah nyata ditulis apa adanya tanpa dibumbui imajinasi, maka itu adalah nonfiksi. Begitu Mas penjelasannya. Salam sukses ya 🙂

      Suka

  33. Siti Badriyah

    Apakah komik termasuk ke dalam fiksi?

    Suka

  34. saya mau nanya, nih…kalo misalnya ada perlombaan yang menysratkan menulis cerita non fiksi, gimana mereka tau kalo itu rekaan atau kisah nyata sementara perbedaan fiksi dan non fiksi juga tidak terpatok.
    nanya lagi nih…bisa nggak bikin cerpen non fiksi dan apa bedanya dengan fiksi? maaf banyak nanya.. jawaban mas jonru sungguh berarti. heehe

    Suka

    • @Ayuri: Di atas kan sudah saya jelaskan perbedaan yang sangat jelas di antara keduanya. Kenapa Anda kok mengatakan “perbedaan tidak terpatok”?

      Cerpen itu fiksi, jadi aneh sekali bila ada istilah “cerpen nonfiksi” 😀

      Suka

  35. Salam sastra, mas saya izin copas materi yg berjudul Belum Bisa Membedakan FIKSI dengan NONFIKSI? yg ada di Jonru on the Web utk dishare di Group TAMAN SASTRA ya,terima kasih sebelumnya,dan sekaligus mengundang mas utk bisa share ilmu2nya di group tersebut,terutama pd postingan materi ini nantinya:)

    Suka

  36. abahmanula blm habis abah untuk baca tulisan nanda yang sangat bermutu ini N abah udah 71 tahun menjalani hidup dlm kehidupan ini, rasanya udah kebelet untuk joint dlm course online nya jonru ini………yha abah mo buat kisah NONFIKSI kehidupan abah, apakah bisa ditulis ke FIKSI ajee jadi NOVEL dan menjadikan sebuah buku yang abah persembahkan terutama ke pd 4 anak2 abah, N cucu2 abah tercinta , bersyukur sekiranya bermanfaat N berkah untuk kaula muda belia ….. abah selalu berkata pd ninik abah ( tunangan istila abah) ma.! Kl anak udah menikah itu artinya udah anak orang, yg penting mereka tdk menganggu kita lagi, kan mereka lg berjuang utk menjalani hidup kehidupannya bersama anak2 dan isterinya….. abah kembali akan ber-hapy2 selagi masih sehat N amint2 jangan kesampaian pd tn Alzhaemers desease. …….. Wait abah pasti mo joint kursusnya slm abah untuk nanda Jonru …

    Suka

  37. makasiih om atas penjelasannya pengertian ini sngat membantu saya
    karena saya gak mengerti sama sekali
    sekali lagi makasih

    Suka

  38. terimakasih sekali pak. sekarang saya baru tahu, betul2 sangat membantu.

    Suka

  39. Sip gan,sukses slalu bwt blognya.
    minta sarnnya sm blog ane mudakaroh.wordpress.com

    Suka

  40. Bagai mana pak, kalau ada sebuah cerita nyat yg menceritakan tentang sebuah kisah yg tak nyat.

    Suka

  41. menurut saya pribadi fiksi dan nonfiksi ..
    contoh ny fiksi —–> seprti buku buku pelajaran , modul dan sebagainya
    sedangkan
    nonfiksi———-> seperti buku buku majalah, dongeng … dsb…..

    🙂

    bner kagag ?
    kasih masukan please..

    Suka

  42. Farida Durrotun Nasihah

    wah ini… terima kasih 🙂

    Suka

  43. welly prasetyo

    saya ingin bertanya apakah dalam menilai suatu karya dan menentukan tulisan tersebut fiksi atau nonfiksi dapat ditentukan dari POV orang ke-3? adakah cara untuk mengetahui sebuah tulisan itu fiksi atau tidak selain pengakuan dari penulis?

    terima kasih. atas jawabannya.

    salam,
    welly

    Suka

  44. siti maesaroh

    Assalamu`alaikum…perkenalkan saya maesaroh..sempat saya membaca naskah fiksi & non fiksi, sedikit pemasukan ke otak perbedaan naskah fiksi &nonfiksi tersebut… saya ingin mencoba menulis dengan hasil karyaku sendiri…akan tetapi karyanya mengenai tentang apa-apa aja pa…??

    Suka

  45. thanks atas ilmu yang bermanfaatnya salam sastra dari semua kumpulan penulis

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s