Beginilah Cara Koran Tempo Menyerang Sastra Islam


NB: Sebelum membaca tulisan di bawah ini, ada baiknya Anda menyimak dulu latar belakang ceritanya di sini. Terima kasih 🙂

Update 20 Juni 2009:
Masalah pada tulisan ini sebenarnya sudah selesai sekitar satu tahun lalu. Berita detilnya bisa dibaca di sini.

* * *

Bagi Anda yang sudah membaca novel The Da Vinci Code, pasti familiar dengan seorang tokoh bernama Silas. Dia seorang albino, lugu, taat luar biasa pada jamaahnya (mungkin semacam taqlid buta), tapi ia tak sadar bahwa selama ini ia hanya diperalat oleh sebuah mafia kelas kakap. Dan dapat ditebak, tokoh-tokoh seperti Silas yang muncul di film atau novel, nasibnya selalu sama: mati mengenaskan di tangan orang yang selama ini memperalat dia.

Setelah membaca Ruang Baca Koran Tempo edisi April 2008, saya tiba-tiba merasa saya adalah seorang Silas!

Ya, saya memang tidak albino, tapi akan saya ceritakan sebuah fakta:

Nama Jonru selama ini lebih dikenal sebagai seorang penulis yang rajin menulis di blog. Tulisan saya pun lebih banyak nonfiksi, bukan fiksi alias sastra. Sejak beberapa tahun lalu, saya bahkan sudah bertekad untuk lebih serius di dunia penulisan nonfiksi ketimbang fiksi.

Apakah Jonru punya portofolio yang cukup meyakinkan di bidang sastra Islam dan sastra secara umum?

Ya, saya pernah menerbitkan sebuah novel remaja Islami berjudul “Cinta Tak Terlerai”, lantas sebuah Kumpulan Cerpen Islami berjudul “Cowok di Seberang Jendela”. Sebuah cerpen saya berjudul “Sebuah Kota Bernama Sepi” dimuat di Antologi Sastra Senja Depok, kerjasama antara Dewan Kesenian Jakarta dan Forum Lingkar Pena.

Saya juga beberapa kali menulis artikel tentang sastra Islam. Berikut beberapa di antaranya:

Apakah semua data di atas cukup meyakinkan untuk menempatkan Jonru sejajar dengan aktivis sastra Islam lainnya, seperti Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa, Habiburrahman El Shirazy atau Taufik Ismail?

Saya yakin Anda setuju. Jawabannya adalah: TIDAK!!!

Jonru belum selevel dengan nama-nama di atas. Jonru masih sangat jauh di bawah mereka. Terlebih karena:

  • Selama ini saya belum pernah sekalipun SECARA KHUSUS menjadi pembicara pada seminar atau workshop bertema sastra islam (entah dari mana asalnya, kok bisa-bisanya Koran Tempo menulis, “Penulis fiksi Islami yang kerap menjadi pembicara pada banyak diskusi bertema fiksi islami, Jonriah Ukur Ginting, atau yang lebih dikenal lewat nama penanya Jonru….” ANEH SEKALI!). Jika kiprah saya sebagai pembicara pada acara “Bedah Novel Laskar Pelangi” di Lubang Buaya, Pondok Gede, Jakarta Timur tanggal 19 April 2008 lalu dianggap sebagai “pembicara pada seminar atau workshop bertema sastra Islam”, ya itu bolehlah disebut sebagai satu-satunya kiprah saya di bidang ini. Tapi kegiatan yang hanya SATU KALI ini tidak bisa disebut sebagai “kerap menjadi pembicara….”.
  • Kedua buku “islami” yang saya terbitkan di atas, boleh dikatakan gagal di pasaran. Hingga 3 tahun setelah terbit, jumlah yang terjual belum mencapai dua ribu eksemplar. Karena itu, tentu sangat wajar bila karya-karya saya tersebut belum pernah dilirik atau dibahas secara khusus oleh para pegiat dan pengamat sastra Tanah Air.

Singkat cerita: Jonru bukanlah seorang penulis yang kredibel di dunia sastra Islam dan sastra Indonesia secara umum. Bila seorang wartawan hendak menulis berita tentang sastra Islam, saya yakin bahwa dia – hingga saat tulisan ini disebut – belum akan kepikiran untuk menjadikan Jonru sebagai orang yang tepat untuk dijadikan nara sumber. Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, Taufik Ismail, Habiburrahman El Shirazy, Maman S. Mahayana, adalah beberapa contoh nama yang paling tepat SAAT INI untuk berbicara tentang sastra Islam.

Dan bila si wartawan hendak mewawancarai tokoh yang berseberangan secara ideologi dengan Sastra Islam, maka orang yang paling tepat – antara lain – adalah Ayu Utami. BUKAN JONRU!

Pertanyaannya sekarang:

Kenapa nama Jonru – yang notabene bukan siapa-siapa di dunia sastra islam dan sastra Indonesia secara umum – digunakan oleh Koran Tempo untuk “melawan” Ayat Ayat Cinta dan sastra Islam? Dengan amat sombong,”Jonru” bahkan berkata bahwa karya sastra Islam itu tidak bermutu, kecuali karya Helvy, Asma Nadia, dan Kang Abik (nama akrab Habiburrahman El Shirazy).

Naudzubillahi min zalik! Sebuah fitnah yang amat kejam!!! Karena lewat “ucapan” tersebut, “Jonru” SECARA TELAK telah menafikan dan menyepelekan karya penulis-penulis FLP lainnya. “Jonru” telah menyepelekan Tasaro, Afifah Afra, Sakti Wibowo, Fahri Asiza, Gola Gong, Pipiet Senja, Boim Lebon, dan penulis-penulis top lainnya dari FLP.

Hm…. Siapakah “Jonru” ini, sehingga dia dengan amat sombongnya menyepelekan karya penulis-penulis top seperti itu?

Bahkan setelah menyanjung Kang Abik setinggi langit, dengan tetap sombong “Jonru” lantas menuding bahwa AAC pun – sayang sekali – telah tergelincir menjadi sebuah sebuah karya romantisme belaka!

Siapakah Jonru sehingga ia dianggap demikian BERHARGA oleh Koran Tempo? Demikian berharganyakah Jonru, sehingga nama dia diletakkan di bagian akhir, nama dia digunakan untuk menyerang dan menyepelekan karya para sastrawan Islam kelas kakap, yang levelnya sangat jauh di atas Jonru sendiri? Demikian berharganyakah Jonru sehingga Koran Tempo mati-matian, berusaha sekeras mungkin untuk memuat “wawancara enam bulan lalu” (wawancara yang sebenarnya tidak pernah ada), bahkan MUNGKIN mengutip komentar-komentar Jonru dari berbagai milis dan blog lalu ditulis ulang dengan kalimat versi mereka sendiri?

Demikian berharganyakah Jonru sehingga Koran Tempo harus berjuang sekeras itu untuk menghadirkan ucapan dan pendapat Jonru pada tulisan mereka mengenai Sastra Islam?

Walau bukan wartawan, saya pernah belajar jurnalistik, dan saya tahu bagaimana cara memengaruhi opini publik lewat tulisan. Pendapat tokoh yang diletakkan di bagian akhir biasanya adalah pendapat yang sejalan dengan misi/visi redaksi, pendapat yang merupakan kesimpulan atas semua pemaparan di bagian awal. Dan coba tebak: Pendapat Jonru diletakkan di BAGIAN AKHIR dari tulisan berjudul “Karena Fiksi Bukan Kutbah Jumat” tersebut.

O la la…. Fakta ini dengan amat meyakinkan menunjukkan satu bukti:

Koran Tempo telah memberikan kehormatan yang amat luar biasa kepada Jonru, kehormatan berupa kesempatan untuk melawan para dedengkot sastra Islam, kesempatan untuk memberikan kesimpulan akhir bagi sebuah diskusi panjang mengenai Sastra Islam.

Padahal oh padahal… (ini sebuah analisis dalam konteks jurnalistik):
Dari fakta objektif yang saya uraikan di atas, Jonru sebenarnya bukan nama yang pantas untuk melakukan penyerangan atau perlawanan seperti itu. Jonru bukan siapa-siapa di dunia sastra Islam dan sastra Indonesia secara umum. Jonru sama sekali TIDAK LEVEL untuk melawan penulis sekaliber Habiburrahman El Shirazy, Gola Gong, Pipiet Senja, dan seterusnya. Jonru sama sekali TIDAK LEVEL untuk menyerang Sastra Islam!

Maka semakin jelaslah sekarang. Tema “Merebaknya Sastra Islam” pada Ruang Baca Koran Tempo edisi April 2008 dengan amat sangat jelas menunjukkan sikap koran yang satu ini dalam menyuarakan aspirasi mereka. Dan saya – Jonru – saat ini memiliki nasib yang lebih kurang sama seperti tokoh Silas pada novel The Da Vinci Code. Yang dilakukan oleh Koran Tempo bukanlah sebuah upaya untuk mengangkat harkat dan derajat saya, bukanlah upaya untuk menyanjung saya, bukan upaya untuk mendukung perjuangan saya selama ini. Tapi pemuatan “hantu Jonru” di Koran Tempo hanyalah karena mereka beranggapan bahwa saya adalah orang yang paling masuk akal untuk dikorbankan!

Singkat cerita:
Koran Tempo SEPERTINYA sedang membuat sebuah skenario besar untuk melawan sastra Islam. Untuk itu, mereka membutuhkan ucapan seorang tokoh yang akan melakukan penyerangan secara langsung. Mereka mungkin mempertimbangkan nama Ayu Utami atau Sapardi Joko Damono atau nama-nama sastrawan lain yang selama ini berseberangan secara aliran dan ideologi dengan Sastra Islam.

Tapi secara jurnalistik, isu “Ayu Utami menyerang Sastra Islam” (misalnya) sama sekali tidak menarik.

Karena itu, Koran Tempo mungkin mencoba mencari jalan yang lebih “cerdik”. Maka profil seperti berikut ini tentu amat menarik bagi mereka:

Seorang penulis yang selama ini sering berkomentar kritis seputar karya-karya Sastra Islam, kebetulan dia adalah ORANG DALAM Forum Lingkar Pena (sebuah organisasi penulis yang giat memperjuangkan keberadaan sastra Islam), dan ia berpotensi besar untuk diperlakukan seperti tokoh Silas pada novel The Da Vinci Code.

“Hm… ini adalah tokoh yang paling tepat untuk kita manfaatkan dalam menyerang Sastra Islam. Ayo lakukan! Tentu SANGAT MENARIK bila Sastra Islam diserang oleh sesama pegiat Sastra Islam sendiri. INI BARU BERITA!!!”

Jadi demikianlah saudara-saudara sekalian, cara Koran Tempo dalam menyerang sastra Islam. Saya yakin bahwa Koran Tempo adalah media yang sangat profesional dan sangat rapi dalam menerapkan asas-asas jurnalistik. Jadi, kasus “Hantu Jonru di Koran Tempo” tersebut bukanlah urusan teknis semata. Itu bukan semata-mata salah kutip, bukan semata-mata kekhilafan seorang wartawan yang bersifat manusiawi. Dari uraian saya di atas, saya yakin Anda sudah bisa melihat bahwa kasus ini sebenarnya merupakan representasi dari sebuah pertarungan ideologis antara Sastra Islam melawan sastra selangkangan, sastra pluralis, dan kawan-kawannya.

Bila Anda tidak percaya, lihatlah cover depan Ruang Baca edisi April tersebut. Di sana dengan amat jelas, ditulis dengan huruf yang sangat besar, tertulis sebagai berikut:

Merebaknya Fiksi Islam

Bersemi pada awal 2000, berpuncak pada terbitnya Ayat-Ayat Cinta dan banjir novel bertema serupa. Mereka terus tumbuh tapi miskin kualitas.

Hm… sebuah vonis yang sangat tegas. Sebuah vonis yang ditulis langsung secara verbal oleh redaktur Koran Tempo. Padahal menurut etika jurnalistik yang berlaku, melakukan vonis dengan cara seperti itu sangat tidak diperkenankan di dalam menulis sebuah berita.

Bahkan hal yang sangat lucu:

Habiburrahman El Shirazy – menurut pengakuan dia ketika kami bertemu di Banda Aceh tanggal 27 April 2008 lalu – bahkan sama sekali tidak diwawancarai untuk keperluan tulisan di Ruang Baca tersebut. Padahal karya dia adalah salah satu ISU UTAMA yang dibahas. Bahkan, cover Ruang Baca tersebut pun mirip dengan cover novel Ayat-Ayat Cinta. “Dari segi jurnalistik, ini sebenarnya sudah cacat,” ujar beliau.

Dan satu hal yang PALING LUCU:

Orang yang mereka manfaatkan untuk menyerang Sastra Islam justru adalah seseorang bernama Jonru yang sebenarnya sangat tidak kredibel untuk berbicara mengenai Sastra Islam dan Sastra secara umum.

Jadi mereka telah menempatkan seorang tokoh yang ‘SEHARUSNYA TIDAK ADA DI SANA’ karena dia belum pantas berada di sana.

Hm, dapatkah Anda bayangkan sekarang, bagaimana naif dan lucunya Koran Tempo itu?

* * *

Oke! Lantas bagaimana pendapat saya mengenai Sastra Islam?

Sebagian teman berkata, mungkin Koran Tempo mengutip komentar atau tulisan saya yang tersebar di berbagai blog atau milis, lalu mereka menulisnya ulang dengan kalimat mereka sendiri.

Ya, hal itu bisa saja terjadi. Namun bila faktanya memang seperti itu, perlu saya jelaskan bahwa apa yang ditulis oleh Koran Tempo tersebut merupakan sebuah kesalahan persepsi mereka atas isi tulisan dan/atau komentar saya. Mohon maaf, saya tak akan berbicara panjang lebar mengenai hal ini. Saya tidak bersedia untuk repot-repot menjelaskan sikap dan pandangan saya yang sebenarnya mengenai Sastra Islam. Bila Anda penasaran, ingin tahu, silahkan baca tulisan-tulisan yang saya link di atas. Itu merupakan jawaban yang SUDAH SANGAT JELAS.

* * *

Alhamdulillah… saya termasuk orang yang selalu melihat sisi positif dari setiap kejadian, termasuk kejadian paling buruk sekalipun. Peristiwa “Hantu Jonru di Koran Tempo” ini membuat saya sadar, bahwa mulai sekarang saya harus lebih hati-hati dalam berkata dan berbuat. Saya juga bahagia, karena Kang Abik sebagai orang yang “diserang oleh Hantu Jonru” justru menjadi orang pertama yang mendukung dan menghibur saya. Dengan amat bijaksana dia justru membakar semangat saya untuk merapatkan barisan, tetap konsisten untuk berdakwah lewat pena, memperjuangkan keberadaan dan perkembangan Sastra Islam di muka bumi ini. Allahu Akbar!!!

Saya terharu oleh sikap Kang Abik, dan itu membuat saya yakin bahwa saya tak akan mati secara mengenaskan seperti tokoh Silas. Mungkin selama ini saya terlalu lugu, terlalu blak-blakan dan kurang peka terhadap hal-hal yang berbau politik beserta seluruh intrik-intriknya. Karena itu, Insya Allah kejadian ini merupakan sebuah pelajaran yang amat berharga bagi saya. Saya akan berusaha keras untuk memperbaiki diri, memperbaiki cara saya dalam berbicara di depan publik. Saya yakin, karakter Silas yang paling goblok sekalipun pasti bisa belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya.

Alhamdulillah… amiin ya rabbal alamiin…

Cilangkap, 4 Mei 2008

Jonru

NB: Kepada saudara-saudaraku sesama pegiat Sastra Islam, termasuk teman-teman di Forum Lingkar Pena: Jangan gentar sedikit pun oleh serangan yang membabi buta dari Koran Tempo atau media manapun. Tak perlu merasa minder, tak perlu kecewa. Balaslah serangan mereka dengan membuat karya-karya sastra Islam yang berkualitas. Biarkan fakta yang berbicara. Dan yakinlah bahwa kita berada di pihak yang benar. Allahu Akbar!!!

Iklan

66 responses to “Beginilah Cara Koran Tempo Menyerang Sastra Islam

  1. assalamualaikum warahmatullahhiwabarakatuh..

    saya tau kosnpirasi besar ini. berarti bisa jadi benar apa yang selama ini diperjuangkan Saut Situmorang. bagaimanapun lantangnya cacimaki Saut terhadap mereka–KUK, TUT. Saut tetap ada benarnya.

    Makasih mas infonya. Selama ini saya selalu mencari-cari akar permasalahannya. rupanya ini sudah mengarah ke politik sastra. Mereka (koran tempo, Tempo, Teater Utan Kayu, Salihara dan komplotannya) barangkali mencoba mendominasi gaya sastra selangkangan itu.

    tetap semangat berkarya di jalur anda mas. saya salut…

    Suka

  2. Wah.. fakta semakin banyak.. fakta tentang media informasi indonesia yang selalu bergerak demi “kehebohan”. Bukti ttg nama besar sebuah media pemberitaan bukan jaminan mutu. Ah.. tp ini bukan kesimpulan..
    Untuk Mas Junro.. Saya percaya kalo anda berusaha menulis sesuatu yg benar.. Karena saya juga sering merasa janggal dengan gaya jurnalistik redaktur tempo. Ntah kesan apa yg saya dapat dari mereka. Itulah alasan saya percaya.
    Semangat…!!!
    Jangan takut.. jangan bimbang.. Innaloha ma’ana..

    Suka

  3. Dua tahun lebih berlalu, saya baru membaca halaman ini. Dukungan saya terus mengalir buat Anda Mas Jonru.
    LAWAN!!!

    Suka

  4. dengan hormat,

    Menurut hemat saya, baik atau buruknya suatu karya sastra apakah itu fiksi atau non fiksi selalu terletak pada seluruh inspirasi yang akan diperoleh pembaca dari karya sastra tersebut.

    saya sangat senang dengan karya sastra terutama yang dilandaskan atas dasar runtun logis dari ilmu pengetahuan apakah itu fiksi ataupun nonfiksi.

    tidak banyak yang saya ketahui dari jonru,
    tapi suatu saat nanti mungkin karya jonru akan menjadi sumber inspirasional bagi saya, tetapi jika saya baca sekilas judul yang diterbitkan oleh jonru, saya kria masalah islam yang diangkat adalah masalah popular.

    dan saya rasa hal ini akan lebih memacu jonru untuk lebih menciptakan karya yang setara dengan Quraish Sihab yang saya senangi.

    Suka

  5. Subhanallah
    ternyata, ada kejadian besar dulu ya
    saya kok baru tahu sekarang

    saya juga sering tertawa sendiri soal komentar2 ndorokaukung di twitternya
    mereka orang2 tempo memang di mindset untuk menyerang Islam
    so, hati2 lah teman2

    Suka

  6. yerus berjuang menegakan kebenaran’we like it

    Suka

  7. Kejadian ini benar-benar meruntuhkan kredibilitas Tempo. dimana disiplin verifikasi yang mereka agung-agungkan?? hendaknya kita semua tabayun atas setiap berita yang ada!

    Suka

  8. Jadi ingat kata-kata mulutmu harimaumu

    Suka

  9. waw, saya mau komentar sedikit. lepas dari aturan2 jurnalistik, menurut saya karya yang telah dipublikasikan statusnya sangat mutlak untuk dipuji, diapresiasi, maupun dikritisi termasuk karya-karya sastra islam indonesia yang sudah dirilis. dan menurut saya nama-nama hebat dengan berbagai karya dan penghargaan tersebut juga bukan tolak ukur kesempurnaan karya mereka. apalagi tulisan mas jonru mewakili persepsi sebagian orang termasuk saya terkait dengan karya sastra islam indonesia yang ada sekarang ini. yang saya takutkan adalan persepsi anda terhadap koran tempo merupakan representasi dari karakter anda sendiri.. yang saya lihat dari tulisan anda terhadap koran tempo dan Jonru malah sangat naif. cara penyampaian anda konservatif dan tidak berkarakter mungkin hal ini yang membuat karya anda tidak laku. (MUNGKIN). apalagi pada wacana di atas sedikit tersirat unsur “narsis”. maju terus sastra islam indonesia.

    Suka

    • @jojo: Terima kasih atas komentar Anda. Apapun dan bagaimanapun tanggapan Anda, bagi saya itu bukan hal yang perlu dipermasalahkan, sebab setiap perbedaan perlu dihargai.

      Tapi saya merasa perlu sedikit melakukan klarifikasi pada Anda:
      Tulisan saya di atas bukan bicara soal keluhan atau “tangisan” saya mengenai karya saya yang tidak laku.

      Justru saya hendak menyampaikan: Kalau karya sastra saya termasuk yang tidak laku, kenapa Koran Tempo menggunakan nama saya untuk mengcounter para sastrawan yang jauh lebih hebat dari saya?

      Bahasa gampangnya: Kenapa saya yang masih di level anak TK, disejajarkan dengan lulusan S3?

      Dan yang lebih tragis: Pendapat tersebut ternyata hanya fiktif. Saya sama sekali tak pernah mengucapkannya.

      Itulah yang membuat saya berkesimpulan, tulisan Koran Tempo tersebut penuh rekayasa untuk menyerang sastra islam dengan cara yang TIDAK LUCU 🙂

      Demikian klarifikasi saya. Btw kasus di atas sebenarnya sudah selesai. Yang saya tulis ini sekadar informasi saja.

      Thanks ya
      Jonru

      Suka

  10. terus dan terus berkarya karena Allah

    Suka

  11. Pernah di rubrik Pendapat ato laporan khusus tentang Abu Bakar Baasyir. Mungkin maksud Koran Tempo adalah untuk meng-counter pendapat ABB mengenai Islam dan Jihad, namun yang dijadikan nara sumber kok ya Ulil Abshar Abdala, yang nota bene orang pun tau siapa Ulil, seorang pentolan Jaringan Islam Liberal. Menurut saya, Artikel itu malah menjadi rancu, dan tidak berhasil menarik simpati pembaca Islam pada umumnya, karena tidak terwakili di artikel tersebut.

    Suka

  12. as.w.w..usahakan hal-hal yang tidak menimbulkan konflik, jika media-media yang menjadi provokasi terjadinya konflik,..di sarankan dengan baik-baik bila perlu di hentikan aja..jangan sampai terulang kembali kasus-kasus konflik nasional karena hanya karena persoalan-persoalan sara….para provokator2 yang mengacauakan bangsa ini..sikat dan hilangkan dari muka bumi..ini..jangan..manfaatkan media untuk urusan yang prinsip..ingt negara ini mencari ketenangan..teroris yang paling kejam bukanlah teroris yang membunuh pakai boom,tapi terroris paling kejam adalah orang yang merusak fikiran manusia lewat tulisanya dan lisan serta misionarisnya…heran negara ini tidak pernah masalah itu datang dari islam..yang duluan memancing adalah yg selalu memushi islam..ingat kasus ambon dan konflik-konflik sara dimana…yang mendahului bukan islam lo..tapi islam di manfaatkan di cuci otaknya oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab……….

    Suka

  13. Saya pernah lihat di Film James Bond 007 dan banyak lagi novel dan berita berita
    cetak maupun electronic bahwa ADA BANYAK PEMILIK MEDIA YG JADI TERORIS TERSELUBUNG.
    Jadi yaaah mana ada media yg nggak punya misi.
    Ada misi baik dan ada misi kehancuran.Tergantung pemiliknya siapa.

    Suka

  14. windra gunawan

    Untuk Kang Jonru :
    Walau tema ini sdh selesai, tp gua cuma mau comment. Gua jg menyayangkan akhir2 ini Tempo semakin menurun kualitasnya. Banyak pemberitaan di Tempo tidak cover both side, dan terlalu kentara menyerang orang2 yg berseberangan dg kepentingan Tempo. Padahal gua dulu sangat salut dg Tempo. Namun sekarang gua jd belajar untuk semakin kritis membaca media.

    Buat Dodo:
    Sorry bos, menurut gua memang AAC msh banyak kekurangannya. Tp kalau mau dibandingkan dg Film AAC gua kurang sependapat dg Elo. Novel AAC jauh lebih bagus dari Filmnya menurut gua.

    Suka

  15. wajar bro…media2 kafir lagi menspiliskan dan merusak islam lewat karya2 liberal mereka yg tidak bermutu

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s