“Hantu Jonru di Koran Tempo” Jilid 2: The Legent Continous :)


Agar tidak bingung, saya menyarankan Anda untuk membaca dulu kronologis peristiwanya DI SINI dan DI SINI 🙂

* * *

Pagi ini (15 Mei 2008), saya mendapat SMS dari seorang teman. Dia mengabarkan bahwa Hak Jawab saya untuk Koran Tempo sudah dimuat. Saya sangat surprise dan buru-buru membeli koran tersebut.

Naskah lengkap Hak Jawab saya tersebut dapat Anda baca DI SINI. Mungkin karena keterbatasan halaman, oleh Koran Tempo naskah itu dipersingkat. Tak apalah, bagi saya tidak masalah. Yang penting intinya tersampaikan.

Secara tulus saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Koran Tempo atas niat baik mereka memuat Hak Jawab tersebut. Namun terus terang, saya merasa terusik oleh jawaban mereka:

“Maaf jika Anda lupa, tapi wartawan kami mewawancarai Anda melalui telepon sekitar satu setengah tahun yang lalu. Kami memang tidak meminta konfirmasi Anda lagi untuk memastikan apakah Anda berubah pikiran atau tidak. Untuk hal ini, kami mohon maaf.”

Hm, saya tertawa geli, merasa amat lucu. Mungkin ini jauh lebih lucu dari Srimulat.

Dalam pembicaraan telepon saya dengan seorang rekan wartawan Koran Tempo tanggal 28 April 2008 lalu, beliau mengatakan bahwa kutipan di Ruang Baca tersebut diambil dari wawancara dengan saya sekitar ENAM BULAN LALU. Seorang redaktur senior di Tempo sempat meralat, “Itu bukan enam bulan, melainkan beberapa bulan”. Oke, berapa bulan pun itu tidak penting lagi sekarang. Sebab secara blak-balakan Koran Tempo telah menulis dengan amat jelas dan bisa dibaca oleh semua pembaca bahwa yang benar adalah SATU SETENGAH TAHUN.

Jangka waktu satu setengah tahun memang bisa membuat seseorang menjadi lupa. Jadi saya bisa saja lupa bahwa saya pernah diwawancarai oleh Koran Tempo. Tapi tentunya, ini semua hanya MUNGKIN. Yang jelas, hingga hari ini saya tetap merasa bahwa saya TIDAK PERNAH diwawancarai oleh Koran Tempo seperti yang mereka katakan.

Siapakah yang benar, Jonru atau Koran Tempo?

Anda tentu berhak memihak siapapun yang Anda inginkan. Tapi satu hal yang SANGAT PASTI:

Hingga hari ini, tanggal 15 Mei 2008, Koran Tempo belum berhasil menunjukkan BUKTI OTENTIK WAWANCARA tersebut. Bila wawancara tersebut memang benar-benar ada, apalagi itu dilakukan via telepon, saya yakin mereka bisa menghubungi Telkom atau provider telepon mereka untuk menunjukkan sebuah KEPASTIAN HUKUM pada saya.

Terus terang, saya sangat menunggu kiriman BUKTI OTENTIK WAWANCARA tersebut, untuk memastikan bahwa saya memang benar-benar lupa mengenai kejadian satu setengah tahun lalu. Tapi saya yakin Anda – terlepas pihak mana yang Anda bela – pasti setuju bahwa bukti otentik jauh lebih valid – bahkan lebih kuat dari segi hukum – dibanding sekadar ucapan atau tulisan.

Selama saya melemparkan isu “Hantu Jonru” ini di berbagai milis, beragam komentar yang berbeda-beda dilontarkan oleh banyak rekan. Namun saya kira komentar Mas Farid Gaban – moderator milis Jurnalisme – berikut ini cukup netral namun sangat mengena:

Saya tidak bisa membahas apa yang saya tidak tahu. Jonru bilang tidak pernah ada wawancara. Teman Tempo bilang ada wawawancara, tapi wawancara enam bulan lalu.

Wawancara enam bulan lalu dimuat sekarang memang memalukan. Tapi, masih ada soal lain:

Jonru tidak pernah mengatakan seperti yang tertulis. Tempo mengatakan Jonru memang mengatakan itu.

Mana yang benar? Maaf, saya tidak tahu.

Terima kasih banyak Mas Farid, atas komentar Anda yang menurut saya sangat brilian. Anda berkata, “Wawancara enam bulan lalu dimuat sekarang memang memalukan.” Saya kira, “Wawancara SATU SETENGAH TAHUN LALU dimuat sekarang PASTI LEBIH MEMALUKAN.”

* * *

Saya merasa TIDAK PERLU membahas “komentar Jonru” yang dimuat di Ruang Baca Koran Tempo tersebut. Buat apa? Sampai hari ini saya masih berpendapat bahwa itu bukan pendapat saya. Koran Tempo sendiri pun hingga hari ini belum berhasil menunjukkan BUKTI YANG KUAT bahwa itu memang benar-benar pendapat saya. Jadi buat apa saya membahas bahkan mengcounternya?

Seperti yang saya tulis di atas, saya secara tulus mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Koran Tempo atas niat baik mereka untuk memuat Hak Jawab saya. Terlebih karena Koran Tempo sudah menulis:

“Kami memang tidak meminta konfirmasi Anda lagi untuk memastikan apakah Anda berubah pikiran atau tidak.”

Saya kira, kalimat yang sangat singkat namun padat ini sudah cukup memadai untuk membuktikan bahwa “pendapat Jonru” di Ruang Baca tersebut TIDAK MENCERMINKAN pendapat saya yang sebenarnya. Dengan kata lain, secara tidak langsung Koran Tempo telah meralat semua “pendapat Jonru” yang mereka muat.

Karena itu, saya berpendapat bahwa kasus ini bukan lagi mengenai “Benar tidaknya Jonru pernah berpendapat seperti itu mengenai Sastra Islam”. Menurut saya, isu terbesar yang harus diperhatikan dengan amat serius oleh seluruh insan pers adalah ETIKA dan ASAS JURNALISTIK. Saya berharap, semoga mulai hari ini tidak ada lagi media yang melakukan kesalahan serupa.

Seandainya (ini hanya seandainya lho…) saya memang pernah diwawancarai oleh Koran Tempo satu setengah tahun lalu, saya yakin Anda – para insan pers – pasti setuju bahwa memuat wawancara satu setengah tahun lalu sangat lucu plus memalukan.

Saya yakin, rekan-rekan wartawan sudah terbiasa bersikap curious, ingin tahu apakah ada “udang di balik batu” dari segala peristiwa. Itu memang sudah menjadi makanan sehari-hari Anda, bukan?

Jadi, dengan sifat dasar wartawan seperti itu, Anda bisa bertanya di dalam hati, “Kenapa Koran Tempo sampai bela-belain memuat wawancara dengan Jonru yang terjadi satu setengah tahun lalu? Bahkan lebih dari itu, kenapa pendapat Jonru yang dipakai? Emangnya Jonru itu siapa? Apakah dia seorang sastrawan ternama yang selevel dengan Goenawan Muhammad atau Taufik Ismail?”

Maka, atas pertanyaan ini, jangan salahkan bila saya akhirnya membuat sebuah analisis seperti yang pernah saya tulis DI SINI 🙂

Hingga hari ini, saya masih kukuh pada pendapat saya bahwa Rubrik Ruang Baca Koran Tempo tanggal 27 April 2008 lalu merupakan sebuah upaya mereka untuk menyerang sastra Islam. Saya menggunakan istilah “menyerang”, bukan “mengkritik”. Sebab tulisan-tulisan di Ruang Baca tersebut memang lebih terkesan sebagai serangan ketimbang kritikan.

Bahkan ketika saya bertemu dengan sejumlah rekan penulis dan sastrawan, mereka sependapat dengan saya. Alhamdulillah mereka mendukung saya habis-habisan.

* * *

Oke, Koran Tempo sudah memuat Hak Jawab saya. Untuk itu saya mengucapkan terima kasih. Namun saya akan sangat senang bila mereka bersedia mengirim BUKTI OTENTIK WAWANCARA tersebut langsung ke alamat email saya.

Terlepas dari apapun, saya berharap agar masalah ini menjadi perhatian serius bagi para insan pers Indonesia. Saya mengharapkan agar kita semua bisa mematuhi asas dan etika jurnalistik yang berlaku, dan menghormati setiap nara sumber dengan selayaknya.

Terima kasih, salam sukses bagi kita semua!

Cilangkap, 15 Mei 2008

Jonru

Iklan

11 responses to ““Hantu Jonru di Koran Tempo” Jilid 2: The Legent Continous :)

  1. iya saya juga membca demikian, Koran Tempo edisi 27 April memang menyerang sastra islam dengan mengatas namakan Jonru…ah koran yang punya nama besar, ternyata tak bernyali sebesar namanya

    Suka

  2. Saya kira sudah cukup penjelasan Bang Jonru dan semua tahu bagaimana Koran Tempe berusaha “jaim”.

    Jangan sampai kita terjebak pada hal yang kontraproduktif. Kita lanjutkan hidup dan membuktikan dengan karya.

    Salam,

    Suka

  3. Betul Mas Jonru, Koran Tempo memang lucu
    Yang benar wawancara 6 bulan lalu, atau beberapa bulan lalu, atau satu setengah tahun lalu ? Atau jangan-jangan …

    Ok tak perlu dipikirin, Sukses Selalu
    Salam Damai dari Kota Apel Malang

    Suka

  4. Mungkin ini pelajaran buat mas Jonru juga.. ambil hikmah nya bang.. bagus juga ngikutin kiat-kiat nya Desy Ratnasari dengan selalu menjawa “No Comment” pada semua wartawan.. ya ndakkk?

    Suka

  5. Aku maghh ndak heran, lha wong Koran Tempo (maupun majalahnya) adalah pendukung Islam Liberal yang tentunya kita semua sudah gak heran ttg apa2 saja pandangan mereka terhadap sastra Islam… 🙂

    tetap berjuang Bung Jonru !! jgn sampai patah arang…

    Suka

  6. Deni Nursani, Bandung

    Dahulu orang tua kita yang tergabung dalam Manives Kebudayaan (satu di antaranya Taufiq Ismail) harus berhadapan dengan LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat)-nya PKI (satu di antaranya Pramudia). Nampaknya sejarah kembali berulang. Saat ini kawan-kawan yang berusaha menghadirkan sastra moral dihantam oleh sastra selangkangan yang amoral.
    Bagi saya: maju terus sastra moral, maju terus sastra ISLAMI !!!
    ALLOH bersama kita!

    Suka

  7. sebaiknya mas jonru mensomasi koran tempo atau jika mas yakin benar, sebaiknya laporkan ke kepolisian dengan tuntutan pencemarannama baik. Ini sebagai pelajaran bagi koran tempo untuk lebih profesional dalam menyiarkan berita. Dan supaya mereka dapat sanksi oleh masyarakat, karena ketidakprofesionalan mereka.

    Suka

  8. aneh juga ya Koran Tempo?!
    semoga bisa menjadi pelajaran untuk kita semua. saya juga setuju dilaporkan ke polisi aja dengan tuntutan pencemaran nama baik!
    hidup SASTRA ISLAM!!!!

    Suka

  9. Enggak usah dia apa apain koran tempo pasti akan mati suri..lha wong sekarang aja sudah di jual seribuan di pinggir jalan.
    Kalau sesuatu enggak bermutu dan bikin gundah ya udah pasti enggak lama ke laut.
    Santai saja Bos…

    Suka

  10. Ping-balik: Beginilah Cara Koran Tempo Menyerang Sastra Islam | Jonru on the Web

  11. taufan aditia aristianto

    ini membuktikan kalo media itu ternyata sarat kepentingan juga ya.. cuma, yg parah, kan bisa merubah opini publik…
    bahaya..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s