Buku Baruku, Dunia Baruku


“Kalau sudah menerbitkan buku pertama, biasanya penerbitan buku-buku berikutnya akan lebih mudah.”

Ini adalah ucapan yang sudah sering saya dengar dari para penulis senior. Masalahnya, “teori” ini ternyata tidak “manjur” buat saya.

Saya pertama kali menerbitkan buku pada tahun 2005 lalu. Tidak tanggung-tanggung; Dua buku sekaligus! Yang pertama, novel Cinta Tak Terlerai. Kedua, kumpulan cerpen Cowok di Seberang Jendela. Seperti penulis pada umumnya, saya tentu sangat gembira ketika itu. Apalagi, impian untuk menerbitkan buku telah ada sejak tahun 1991 lalu. Baru bisa terwujud 14 tahun kemudian. Hm, sebuah penantian yang SANGAT PANJANG!

Namun, rasa gembira saya perlahan sirna, karena kedua buku tersebut gagal di pasaran. Hingga hari ini – tiga setengah tahun setelah kedua buku tersebut terbit – cetakan pertama sebanyak 3.000 eksemplar belum habis terjual. Oleh penerbitnya, kedua buku ini sekarang dijual dengan diskon 50 persen, agar persediaan di gudang segera habis.

Sementara di sisi lain, saya justru memantapkan diri lewat sebuah dunia yang belum pernah terpikirkan sebelumnya: Menulis di Internet! Saya rajin menulis di dunia maya. Saya menjadi seorang blogger produktif. Alhamdulillah, hal ini membuat nama saya dikenal oleh banyak orang. Bahkan, lewat kegiatan blogging, saya akhirnya menemukan sebuah HARTA KARUN: Ternyata saya lebih cocok menulis nonfiksi, dan ternyata tulisan-tulisan saya sering memotivasi para pembaca.

Saya yang awalnya punya mimpi untuk menjadi seorang sastawan besar, secara perlahan mulai melupakan impian itu. Maka, dengan penuh keberanian saya pun pindah haluan: Memutuskan untuk lebih fokus di dunia penulisan nonfiksi. Dunia fiksi tentu saja tidak saya tinggalkan. Tapi saya kini memandangnya sebagai hobi semata dan “kesenangan” semata.

Sepanjang tahun 2006 – 2007, ada beberapa buku yang berhasil saya selesaikan, lalu ditawarkan ke penerbit. Alhamdulillah, semuanya ditolak dengan sukses. Inilah yang hendak saya ceritakan sejak awal tulisan ini 🙂

Terus terang saya cukup heran. Katanya, urusan penerbitan buku akan lebih mudah bila buku pertama kita sudah terbit. Tapi kenapa hal ini tidak terjadi pada saya?

Saya pun mencoba intropeksi. Apa yang salah dengan diri saya?

Setelah belajar banyak, saya akhirnya sadar bahwa ternyata saya belum terlalu peka terhadap “selera pasar”, padahal ini adalah salah satu hal yang terpenting di dunia industri manapun, termasuk penerbitan buku. Dan memang terbukti, alasan penolakan terhadap semua buku saya tersebut adalah “Tidak sesuai tren saat ini”.

Saya memang bukan penulis yang suka mengikuti tren. Bahkan, saya cenderung prihatin melihat penulis yang menerbitkan buku hanya karena pertimbangan tren. Bagi saya, menulis buku yang dibutuhkan oleh masyarakat jauh lebih penting.

Memang, sebuah pengalaman masa lalu pun menjadi salah satu faktor yang meneguhkan pendirian ini. Sekitar tahun 1995, di Indonesia sedang berjaya sekumpulan penulis remaja yang bergabung dengan bendera “Pengarang Remaja Gramedia”. Ada Hilman, Zara Zettira, Gola Gong, Adra P Danie, Arini Suryokusumo, Boim Lebon, dan masih banyak lagi.

Saya ingin seperti mereka, ingin mengikuti jejak mereka.

Maka, di tahun 1995, saya membawa sebuah naskah novel remaja ke Gramedia. Namun apa yang saya alami ketika itu benar-benar menjadi salah satu mimpi buruk dalam perjalanan karir saya sebagai penulis.

Buku itu baru saja saya sodorkan. Buku itu belum disentuh sama sekali. Tapi Sang Sekretaris Redaksi yang menyambut saya langsung berkata dengan tegas, “Maaf, Mas. Kami tidak bisa menerima naskah Anda, karena buku seperti ini sudah tidak tren.”

Lemaslah saya seketika. Saya jadi sadar bahwa mengikuti tren itu bisa sangat capek, terutama bila kita tidak bisa dengan cepat meresponsnya. Lagipula, bukankah lebih baik bila kita justru bisa menjadi tren setter, bukan menjadi follower?

Saya ingin seperti Andrea Hirata atau Kang Abik yang berhasil menjadi tren setter. Atau seperti Oleh Solihin; Buku Jangan Jadi Bebek yang ia tulis kini menjadi cikal bakal bagi buku-buku nonfiksi untuk remaja di Indonesia.

* * *

Selama hampir tiga tahun saya vakum menerbitkan buku, terutama karena semua naskah saya ditolak oleh penerbit. Faktor lainnya, karena selama hampir tiga tahun itu saya mencoba belajar lagi lebih banyak mengenai dunia penerbitan buku. Dan yang paling penting, saya berusaha keras mencari jati diri yang sebenarnya. Saya merasa kurang cocok di dunia fiksi. “Hoki” saya ternyata bukan di penulisan cerpen atau novel. Insya Allah, dunia saya yang sebenarnya adalah NONFIKSI, khususnya buku-buku yang berhubungan dengan kiat dan motivasi penulisan.

Ya, ini adalah dunia yang saya temukan selama hampir tiga tahun vakum menerbitkan buku!

Dan insya Allah, bulan Oktober 2008 nanti, buku nonfiksi pertama saya akan terbit. Bagi saya, ini bukan sekadar buku baru. Ini adalah tonggak sejarah bagi dunia baru saya. Ketika buku ini terbit, insya Allah “Jonru Baru pun Terbit”. Saya bukan lagi penulis cerita-cerita fiksi. Saya kini adalah seorang penulis nonfiksi, yang lebih fokus di penulisan buku-buku mengenai kiat dan motivasi penulisan. Ini adalah JATI DIRI BARU yang insya Allah akan saya kibarkan mulai sekarang.

Saya juga mulai dengan berani menegaskan beberapa sikap:

  1. Saya hanya akan menulis buku berdasarkan kemauan sendiri, bukan berdasarkan permintaan penerbit atau pesanan dari siapapun.
  2. Saya tak akan menulis buku hanya karena tren. Bagi saya, ini adalah PANTANGAN BESAR.
  3. Saya tidak berorientasi pada kuantitas, melainkan kualitas. Sama seperti Helvy Tiana Rosa yang berkata “Saya tidak mengejar istilah sastra kejar tayang”, saya pun tak akan menjadi “penulis kejar tayang”.
  4. Insya Allah, saya hanya akan menulis buku yang sesuai dengan “personal branding” saya. Kalau terpaksa menulis buku yang berbeda (karena alasan tertentu) saya akan menggunakan nama pena yang berbeda pula.
  5. Tujuan utama saya dalam menerbitkan buku bukan untuk mencari royalti, melainkan untuk berbagi ilmu dengan masyarakat, juga untuk meneguhkan posisi saya sebagai seorang pendiri dan mentor di Sekolah-Menulis Online. Kalaupun buku saya bisa memberikan banyak royalti bagi saya, ya alhamdulillah. Saya menganggap itu sebagai bonus belaka.

Bagi Anda yang ingin mendapat bocoran tentang buku baru saya ini, berikut saya sampaikan kisi-kisinya:

Tema: Penulisan

Segmen: Penulis Pemula

Penerbit: Tiga Serangkai, Solo

Harga: Masih tentatif

Jadwal terbit: Oktober 2008

Hal yang unik, semua endorsment pada buku ini (jumlahnya sekitar 20) BUKAN ditulis oleh tokoh terkenal, melainkan oleh orang-orang yang telah merasakan manfaat buku ini mereka.

Mohon doanya ya, semoga cepat terbit dan semua urusannya lancar.

Amiin….

Salam sukses!

Cilangkap, 15 Agustus 2008

Jonru

Iklan

10 responses to “Buku Baruku, Dunia Baruku

  1. selamat ya pak guru, nggak sabar pengen beli bukunya..

    Suka

  2. Sukses ya, Bang! Ditunggu deh buku ‘Jonru on writing’ nya 🙂 Mudah-mudahan suatu saat nanti bisa menulis buku sekelas “Stephen King on writing’ dan dialihbahasakan ke beberapa bahasa 🙂

    Suka

  3. Buku baru…., (tentang tulis-menulis)…, saya akan beli. Semoga dijual di Bandung.

    Salam.
    Gede H. Cahyana
    http://gedehace.blogspot.com

    Suka

  4. Sayapun merasakan demikian Bung Jonru lebih cocok dengan menulis buku-buku nonfiksi.Karena saya telah membaca buku Bung Jonru yang berjudul membuat buku itu mudah.Buku itu mudah dipahami dan tidak berbelit-belit langsung pada fokus. Selamat Bung Jonru. Mudah-mudahan sukses selalu.

    Suka

  5. Selamat, Bang. Ikut senang, jika memang Bang Jonru merasa “menemukan” dunia barunya. “Jonru baru”-nya.

    Pastikan saya sebagai pembaca buku Abang. Syukur2 kalo dikirimin gratis plus tanda tangan penulisnya… haha!

    Sekali lagi, selamat!

    Salam sukses,
    FAJAR S PRAMONO

    Suka

  6. Ping-balik: Buku Baruku, Dunia Baruku « Opung Regar Haus Buku

  7. Selamat Pak Jonru, ijinkan saya jadi murid Bapak.
    SMO 4 ini.

    dewi

    Suka

  8. Mas Jonru, selamat atas penerbitan buku barunya. Saya pasti beli deh!

    Suka

  9. Wah selamat mas Jonru. Ini akan memperkaya khasanah dunia penulisan pada umumnya. InsyaAllah akan saya rekomendasikan juga ke siswa-siswa menulis saya.

    Salam hangat

    Nilna

    Suka

  10. Boleh dong dikasih tahu gimana caranya agar tulisan kita bisa diterbitkan mas??? Kemana harus menawarkannya?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s