Kiat Sukses: Jadilah Penulis yang Berkompetensi!


Tanggal 27 Oktober 2008 saya mengirim sebuah tulisan singkat ke sejumlah milis penulisan. Judulnya, “[Diskusi] Kompetensi Seorang Penulis”. Di bagian bawah tulisan ini saya lampirkan naskah aslinya. Intinya, saya mengajak para penulis untuk membuat naskah yang sesuai kompetensi mereka.

Di luar dugaan, tulisan ini ternyata menimbulkan perdebatan yang seru. Oke, soal perdebatan bagi saya adalah biasa, sebab ini merupakan bagian dari dinamikan pemikiran masyarakat yang sangat perlu dikembangkan. Masalahnya, banyak di antara rekan anggota milis yang salah persepsi terhadap tulisan tersebut.

Dari semua komentar yang masuk, kesalahan persepsi tersebut intinya mengarah pada tiga hal berikut ini:

1. Ada yang mengira bahwa saya anti marketing. Mereka bilang, “Lho, marketing itu kan penting untuk menentukan laris tidaknya sebuah buku. Buku yang jelek bisa laku keras bila marketingnya bagus. Jadi kenapa Jonru menganggap bahwa yang penting adalah kompetensi, sedangkan marketing tidak penting?”

2. Ada yang sibuk membahas contoh yang saya sebutkan di awal tulisan tersebut, yakni soal “penulis beken”. Mereka pun berkomentar bahwa penulis yang tidak beken pun berhak mempublikasikan karya mereka. Bahkan banyak contoh penulis yang awalnya tidak beken, tapi karya mereka laku keras.

3. Ada pula yang mengira  bahwa saya menganggap kompetensi adalah segalanya, dan kompetensi penulis merupakan satu-satunya faktor yang menentukan laku tidaknya sebuah buku.

* * *

Ketika membaca komentar-komentar tersebut, yang isinya hanya berupa kesalahpahaman terhadap isi tulisan saya, tentu saya merasa amat tergelitik. Misalnya ketika ada teman yang berkata, “Lho, siapa bilang marketing itu tidak penting? Marketing itu penting banget, lho,”, Saya merasa seolah-olah sedang “dituduh” sebagai orang yang anti marketing. Padahal saat ini saya justru sedang tekun mendalami ilmu marketing dari berbagai macam sumber – termasuk dari buku “Marketing Revolution” karya Tung Desem Waringin – untuk diterapkan pada bisnis yang saya kelola.

Bahkan pada buku saya – Menerbitkan Buku Itu Gampang! – terdapat satu bab khusus dengan judul “Promosi Perlu Untukmu!”, yang isinya adalah penjelasan dan kiat-kiat dalam mempromosikan buku, agar buku kita laris di pasaran.

Dari fakta ini, apakah saya masih terlihat sebagai orang yang anti marketing? Atau setidaknya menyelepekan marketing?

* * *

Kompetensi adalah satu hal, sedangkan marketing adalah satu hal juga. Ada begitu banyak faktor yang bisa menyebabkan sebuah buku menjadi best seller. Bisa karena penerapan kiat marketing yang jitu, bisa karena harga bukunya yang murah, bisa karena covernya yang menarik, bisa karena judulnya yang bombastis, bisa karena penulisnya yang memang punya kompetensi, bisa karena faktor X yang masih misterius, dan seterusnya dan seterusnya. Bisa juga larisnya sebuah buku karena gabungan berbagai macam faktor. Saking banyaknya, si penerbit dan penulis sampai bingung faktor mana yang paling dominan.

Intinya, kompetensi seorang penulis bukanlah segalanya. Saya pun sangat menyadari hal ini.

Namun karena tulisan saya mengenai KOMPETENSI, maka saya hendak fokus pada isu ini saja. Marketing dan unsur-unsur lainnya memang penting. Tapi tentu lucu jika saya membahas semua faktor tersebut satu-persatu secara panjang lebar. Bila ini saya lakukan, tema tulisan saya bukan lagi tentang “Kompetensi”, tapi sudah berubah menjadi tema “Unsur-unsur yang menyebabkan sebuah buku bisa menjadi laris bahkan best seller”.

Agar lebih jelas, mari kita beranalogi dulu:

– Penulis A punya kompetensi di bidang komputer, lalu dia menulis buku mengenai komputer.

– Penulis B tidak punya kompetensi di bidang komputer, lalu dia menulis buku mengenai komputer juga.

Nah, kita asumsikan bahwa buku si A dan B memiliki keunggulan yang sama dalam hal marketing, cover buku, nama penerbit, dan seterusnya. Artinya, perbedaan mereka hanya dalam hal kompetensi.

Ya, kondisi seperti ini mungkin mustahil terjadi dalam dunia nyata. Ini hanyalah sebuah asumsi yang bersifat teoritis. Tapi saya kira, membuat analogi yang seperti ini PENTING untuk memudahkan kita dalam memahami sebuah persoalan yang sedang dibicarakan. Agar pembicaraan kita bisa fokus ke satu titik dan tidak melebar ke hal-hal lain.

Oke deh 🙂
Bila asumsinya kita buat seperti itu, atau bila kondisi seperti di atas yang terjadi, maka buku siapa yang akan lebih laku? Buku si A atau B? Apakah pembaca akan lebih tertarik untuk membeli buku si A karena dia lebih berkompetensi ketimbang si B?

Secara subjektif, saya akan memilih buku si A. Karena bagi saya, kompetensi seorang penulis itu sangat penting.

Rekan saya Dani Ardiansyah punya pandangan yang berbeda. Ketika membeli buku “Saya Bermimpi Menulis Buku” karya Bambang Trim, dia sama sekali tidak peduli siapa penulis buku itu. Dia bahkan belum kenal Bambang Trim itu siapa. Baginya, yang penting judul bukunya menarik dan dia memang sedang butuh buku seperti itu.

Saya percaya bahwa buku si A bisa laris bila sebagian pembeli buku memang tipenya seperti  saya. Namun saya juga percaya bahwa buku si B pun bisa laris, bila tipe pembelinya adalah seperti Dani.

Berapa persen pembeli buku yang seperti saya? Berapa persen pembeli buku yang seperti Dani? Dengan kata lain, secara umum apakah kompetensi seorang penulis bisa menjadi faktor yang SANGAT SIGNIFIKAN untuk menjadikan bukunya menjadi laris bahkan best seller?

Terus terang, untuk pertanyaan yang satu ini saya belum punya jawaban yang tepat. Karena untuk menjawabnya kita butuh data yang valid dan dari sumber yang juga terpercaya (Ya, boleh deh kita sebut sebagai sumber yang berkompeten, hehehe….).

Bila kita keluar dari “wacana teoritis” ini, lalu masuk ke dunia nyata, kita akan sadar bahwa kompetensi penulis hanyalah salah satu faktor yang bisa menyebabkan sebuah buku menjadi laris atau tidak. Di atas saya sudah membahas hal ini, jadi tak perlu diulang lagi di sini.

Tapi terlepas dari apapun, saya punya pendirian bahwa kompetensi penulis BISA menjadi salah satu faktor sukses tersebut. Saya sengaja memberi tekanan pada kata BISA, untuk menjelaskan bahwa BISA itu berbeda dengan PASTI.

Buku “Kiat Mendidik Anak” yang ditulis oleh seorang penulis yang tidak berkompeten di bidang pendidikan anak misalnya, bisa saja laris manis bahkan best seller. Bahkan, karena bukunya best seller itulah, si penulis akhirnya mendapat predikat “ahli pendidikan anak” oleh masyarakat. Fakta seperti ini bisa saja terjadi, dan kita semua sah-sah saja untuk bersikap optimis untuk hal yang satu ini.

Tapi terlepas dari apapun, mari kita coba membayangkan situasi berikut:

Seorang penulis yang tidak punya kompetensi dalam hal pendidikan anak – karena dia memang belum berkeluarga – tiba-tiba menulis buku “Kiat Mendidik Anak”. Lalu, karena bukunya best seller, nama dia tekenal, dan banyak orang yang mengundang dia menjadi pembicara. Dia didaulat untuk memberikan ceramah tentang “Kiat Mendidik Anak” di depan 500 orang tua yang kebingungan tentang cara mendidik anak. Pada saat itu, si penulis ternyata belum menikah juga!

Dapatkah Anda membayangkan, apa jadinya jika seorang bujangan menceramahi para ayah dan ibu tentang kiat mendidik anak?

Contoh situasi lain:
Agar sebuah buku bisa menjadi laris, salah satu kiatnya adalah dengan berpromosi segencar mungkin. Salah satu kiat berpromosi adalah mengadakan launching buku, atau bedah buku, atau diskusi/seminar yang temanya sesuai dengan tema buku yang dipromosikan tersebut. Pada event seperti ini, si penulis buku biasanya diwajibkan hadir sebagai pembicara.

Dapatkan Anda membayangkan bila si penulis tadi – yang sama sekali belum menikah – menjadi pembicara untuk acara-acara seperti itu, yang temanya adalah “Kiat Mendidik Anak”?

* * *

Teman-teman sekalian….

Dalam konteks inilah, kenapa saya berpendapat bahwa setiap penulis sebaiknya menulis naskah (bisa buku, artikel dan seterusnya) yang sesuai dengan kompetensinya.

Agar lebih jelas, berikut saya paparkan beberapa poin keunggulan dari argumen di atas.

1. Dari segi laris tidaknya buku
Seperti yang dijelaskan di atas, memang belum ada data yang valid mengenai relevansi antara kompetensi penulis dengan laris tidaknya sebuah buku. Tapi kalau bicara dalam konteks peluang, kita bisa paparkan sebagai berikut:

A. Bila sebuah buku ditulis oleh penulis yang berkompeten, maka orang seperti saya dan orang seperti Dani punya peluang yang sama sebagai pembeli potensial

B. Bila sebuah buku ditulis oleh penulis yang tidak berkompeten, maka hanya orang seperti Dani yang berpeluang sebagai pembeli potensialnya.

Dari “teori peluang” ini, kita bisa melihat bahwa buku yang ditulis oleh penulis berkompetensi memiliki peluang yang lebih besar. Sekali lagi, pernyataan ini adalah dengan asumsi bahwa faktor-faktor lain seperti marketing, cover buku, nama penerbit dan sebagainya tidak dilibatkan (mohon jangan salah persepsi LAGI terhadap kalimat ini. Jika Anda masih bingung atau ingin protes, silahkan baca lagi naskah ini dari awal).

2. Dari segi “nilai jual” penulis
Banyak penulis pemula yang mengeluh, bahwa peluang mereka untuk menjadi penulis sukses sangat kecil. Mereka merasa bahwa penerbit atau media lebih mengutamakan naskah dari penulis terkenal.

Anggapan ini sebenarnya keliru. Sebab sudah banyak contoh penulis pemula yang sukses menjadi penulis terkenal HANYA setelah mereka mempublikasikan karya yang pertama. Andrea Hirata (Laskar Pelangi) dan Aditya Mulya (Jomblo) adalah contoh yang SANGAT NYATA!

Selain itu, sebenarnya ada satu hal yang selama ini mungkin dilupakan oleh para penulis pemula: Bagi penerbit atau media, KOMPETENSI seorang penulis cenderung memiliki “nilai jual” yang sama dengan NAMA BESAR PENULIS.

Agar lebih mudah dipahami, yuk kita berandai-andai:

Misalnya ada dua buku dengan tema “Seluk Beluk Arsitektur Islam”. Buku pertama ditulis oleh Helvy Tiana Rosa. Buku kedua ditulis oleh Joko Susanto (maaf, ini hanya nama fiktif), seorang arsitek beragama Islam yang prestasinya bertaraf internasional, tapi dia masih sangat pemula di bidang penulisan. Kita asumsikan: Kedua buku ini punya kualitas yang sama, temanya pun memiliki nilai jual (aspek marketing) yang sama. Secara umum, diasumsikan bahwa kedua buku ini layak untuk diterbitkan.

Nah, dengan asumsi dan andai-andai di atas:
Bila kedua buku ini ditawarkan ke penerbit yang sama, pada saat yang sama pula, bisakah Anda menebak buku siapa yang akan diterima oleh si penerbit?

Saya yakin, dari pertanyaan ini Anda sudah bisa memahami betapa pentingnya kompetensi seorang penulis, bahkan BISA jauh lebih penting dari faktor-faktor lain, termasuk faktor “nama beken si penulis”.

Pesan moral dari poin ke-2 ini:
Bila Anda merasa belum mampu bersaing dari segi popularitas nama, kenapa Anda tidak bersaing dari segi kompetensi? Saya yakin Anda pasti bisa!

3. Dari segi proses penulisan
Bila Anda ahli di bidang perakitan komputer, lalu Anda menulis buku tentang “Kiat Merakit Komputer”, maka insya Allah proses penulisan buku Anda akan lebih lancar dibandingkan bila Anda menulis tentang bola basket, padahal Anda justru masih sangat awam tentang bola basket.

Sangat masuk akal bila banyak pakar penulisan yang menghimbau para penulis pemula untuk mulai menulis mengenai tema yang paling mereka kuasai dan minati. Bila mengikuti himbauan seperti ini, maka Insya Allah kita akan lebih lancar dalam proses menulis, lebih mudah dalam mengembangkan ide. Motivasi kita pun akan lebih mudah terjaga, tidak mudah menyerah atau putus asa ketika ada kendala, karena kita sedang menekuni sesuatu yang sangat kita minai dan kuasai.

4. Dari segi personal branding
Kita mengenal Hernowo sebagai penulis yang identik dengan konsep “Mengikat Makna”. Fauzil Adhim adalah penulis dengan spesialisasi “keluarga sakinah”. Habiburrahman El Shirazy dikenal sebagai penulis novel Islami dengan setting Timur Tengah atau masyarakat Muslim. Pipiet Senja dikenal sebagai penulis novel-novel yang ceritanya syahdu dan menggetarkan jiwa.

Mereka berempat ini adalah contoh penulis dengan personal branding yang kuat, karena mereka punya ciri khas atau karakter yang unik. Sementara banyak penulis lain yang “wujudnya tidak jelas”. Mereka menulis mengenai apa saja, yang penting produktif menulis serta mendapat banyak uang dari aktivitas seperti ini. Akibatnya… silahkan Anda tebak sendiri 🙂

Bila Anda ingin menjadi penulis dengan personal branding yang kuat, seperti empat contoh penulis di atas, salah satu kiatnya adalah KONSISTEN dalam menulis naskah-naskah yang sesuai kompetensi Anda.

* * *

“Saya Tidak Punya Kompetensi!”

Ya, mungkin kalimat seperti ini yang Anda lontarkan setelah membaca uraian panjang lebar di atas.

Oke, saya bisa memahami pemikiran – bahkan mungkin keputusasaan – Anda. Tapi biarkan saya menjelaskan satu hal:

Kompetensi sebenarnya tidak harus berupa sesuatu yang MULUK-MULUK seperti prestasi tingkat internasional, nama beken seorang penulis dan sebagainya.

Pada tulisan awal mengenai kompetensi ini, saya sudah menyebutkan:

1. Bila Anda seorang ibu rumah tangga, buatlah buku dengan tema “kiat menjadi ibu rumah tangga yang baik dan efektif”

2. Bila Anda seorang anak kos, buatlah buku dengan tema “Kisah-kisah menarik dan belum pernah dipublikasikan seputar rahasia anak kos”

Status sebagai “ibu rumah tangga” dan “anak kos” adalah dua contoh kompetensi yang sangat sederhana. Intinya, kompetensi bisa mencakup apa saja, mulai dari hal-hal yang besar hingga hal-hal yang kecil. Mulai dari hal-hal yang sangat biasa hingga hal-hal yang sangat luar biasa.

Jadi, Anda tak perlu berpikir terlalu ribet mengenai kompetensi ini. Bila Anda adalah seorang anak sulung, maka Anda punya kompetensi yang sangat memadai untuk menulis naskah dengan tema “Suka Duka Menjadi Anak Sulung.”

Dengan kata lain, setiap orang PASTI punya kompetensi. Yang Anda butuhkan saat ini hanyalah membangun kepercayaan diri dan keyakinan yang kuat bahwa Anda punya satu atau beberapa kompetensi yang sangat luar biasa!

Nah, setelah Anda menyadari kompetensi apa yang Anda miliki, maka jadikan ia sebagai modal utama untuk merintis karir sebagai PENULIS HEBAT!

Demikian dari saya. Semoga bermanfaat dan terinspirasi. Semoga tak ada lagi yang salah paham setelah ini. Hehehehe…..

Amiin 🙂

Berikut adalah kutipan dari tulisan awal saya mengenai Kompetensi tersebut.

[Diskusi] Kompetensi Seorang Penulis

Assallamualaikum,

Beberapa hari lalu, saya jalan-jalan ke toko buku Gramedia di Mal Cijantung. Saya merasa amat tergelitik membaca judul sebuah buku: “Kiat Menjadi Penulis Beken”.

(Ya, judul persisnya saya lupa. Tapi intinya seperti itu deh).

Bila yang menulis buku itu adalah Andrea Hirata atau Asma Nadia atau Dewi Lestari, tentu tak ada yang aneh.

Tapi nama penulis buku itu sama sekali masing asing bagi saya. Intinya: Dia bukan penulis beken!

Beberapa waktu lalu, saya juga melihat sebuah buku. Judulnya, “Kiat Menjadi Selebriti Blog”
Saya sih kenal dengan penulisnya. Dia memang seorang yang cukup dikenal di dunia blog.

Masalahnya, dia pakai nama samaran. Sebuah nama yang sama sekali masih asing bagi para blogger. Sehingga pembaca akan berpendapat bahwa si penulis buku ini BUKAN seorang seleb blog 🙂

* * *

Pertanyaan buat kita semua, para PEMBACA:
Apakah Anda tertarik untuk membeli sebuah buku dengan judul “Kiat Menjadi Penulis Beken” yang ditulis oleh seorang penulis yang sangat jauh dari beken?

Tentu saja, semua orang bebas menulis buku. Para pemula pun punya peluang yang sama untuk menjadi penulis sukses. Dan ini sudah dibuktikan oleh Andrea Hirata (Laskar Pelangi), Aditya Mulya (Jomblo), dan sejumlah penulis lain.

Jadi mohon jangan salah pengertian. Tulisan saya kali ini bukan hendak menghalang-halangi para penulis pemula yang ingin menerbitkan buku 🙂

Yang jelas, ada hal yang perlu kita sadari bersama:

Bila Anda menulis buku yang tidak sesuai dengan kompetensi Anda, maka ada kemungkinan buku Anda tidak akan dilirik oleh pembaca.

Jadi saran saya, tulislah buku yang temanya memang sesuai dengan kompetensi Anda.

Kompetensi ini bisa menyangkut minat, bakat, disiplin ilmu, status, dan sebagainya.

Selama ini, banyak penulis pemula yang pesimis, bahwa peluang mereka untuk sukses sangat kecil, karena penerbit/media lebih mengutamakan karya penulis senior.

Anggapan ini sebenarnya sangat keliru. Saya sudah menjelaskannya lewat tulisan “Status Penulis Pemula Bukan Kutukan” yang dapat anda dapatkan
di Newsletter BelajarMenulis.com ( http://newsletter.belajarmenulis.com )

Selain itu, ada satu hal penting lainnya yang sebenarnya sangat diminati oleh penerbit/media, yakni KOMPETENSI.

Intinya begini:
Walau Anda masih sangat pemula, namun penerbit/media akan tertarik pada naskah Anda, bila Anda membuat tulisan yang sesuai dengan kompetensi Anda.

Contoh kompetensi yang PALING sederhana:

1. Bila Anda seorang ibu rumah tangga, buatlah buku dengan tema “kiat menjadi ibu rumah tangga yang baik dan efektif”

2. Bila Anda seorang anak kos, buatlah buku dengan tema “Kisah-kisah menarik dan belum pernah dipublikasikan seputar rahasia anak kos”

Ya, itu hanya contoh. Anda tentu bisa mencari ide lainnya yang lebih bagus dan kreatif.

Semoga terinspirasi, semoga bermanfaat!

Bila Anda ingin belajar lebih mendalam seputar penerbitan buku, silahkan klik saja http://www.naskahoke.com/mbig 🙂

Oke deh, salam sukses ya…

(*)

Iklan

12 responses to “Kiat Sukses: Jadilah Penulis yang Berkompetensi!

  1. Mengomentari perihal kesalahpahamannya saja.
    Sepertinya disebabkan karena reading comprehension yang kurang, sehingga makna yang “terbaca” lain dari maksud yang hendak disampaikan.
    Orang suka fast reading, terus salah tangkap.

    Entah apa ada hubungannya juga sama budaya baca kita yang masih kurang. Sepertinya sih tidak, hanya kurang teliti saja.

    Salam kenal pak. Saya daftarin feed blognya ke list reader saya ya. Buat nambah koleksi bacaan. 🙂

    Suka

  2. Fenomena kompetensi ini tidak hanya bagi penulis buku saja, tetapi juga untuk para new blogger yang baru belajar membuat blog trus tulis artikel “tips dan trik meramaikan blog anda” … dan saya mungkin salah seorang dari mereka 😀

    Suka

  3. Bang Jonru, ….Jika penulis itu pemula yang belum dikenal, dari mana diketahuinya seseorang itu kompeten di bidang yang ditulisnya. Apakah dari biodata atau dari mana? Trims

    Suka

  4. Salam kenal pak, saya tertarik untuk menulis. Tetapi belum pede karena belum punya kompetensi. Dari mana yah harus mulainya? Apakah harus menjadi kompeten dulu untuk menulis atau karena menulis itu bisa kompeten? .. ah jadi bingung sendiri.

    Suka

  5. Arief:
    Rajin dan konsisten menulis bisa mendatangkan kompetensi bagi Anda. Dan itu juga yang saya alami selama ini.

    Salam sukses!

    Suka

  6. ASM. apa kbr Mr. Jonru. jujur saya saat ini sedang bingung untuk menentukan ide utk diangkt menjd sebuah kry tulis. Alhamdulillah setelah saya membaca tulisan anda tentang kompetensi penulis, saya merasa tlh tercerahkan. terima kasih, tulisan anda sangat bermanfaat utk saya. insyaAllah saya akan gabung jadi siswa anda diskolah menulis anda. thanks

    Suka

  7. menulis kunci utama menjadi blogger sukses…
    trims atas segala sharenya mas, kl berkenan kunjungi juga blog saya ya 🙂

    Suka

  8. Bang Jonru, kita ada pada minat yang sama. Saya juga suka sekali dengan dunia tulis-menulis. Bagi para penulis pemula, kiranya praktek menulis dapat dilakukan antara lain di buku harian atau di blog yang dibuatnya sendiri. Di kedua media itu,hampir tanpa seleksi. Orang bebas menulis. Orang bebas berekspresi. Kalau menulis di blog, yang penting tulisan itu tidak mengandung unsur sara, pornografi, dan yang sejenis dengan itu. Kuncinya adalah menulis dan menulis. Praktek menulis ini akan dapat mengasah kemampuan si penulis untuk masuk ke media massa yang sesungguhnya, tempat orang memperoleh penghasilan. Oke, selamat Bang Jonru. Anda telah banyak mendorong lahirnya penulis-penulis muda di negeri ini. economist-suweca.blogspot.com

    Suka

  9. kalau pemula seperti saya, takut mas buat berkompetisi.. tapi tipsnya bagus banget.. trims

    Suka

  10. setelah membaca tulisan di atas saya sepertinya bakalan selektif dalam memilih buku, tidak cuma sekedar melihat tampilan coover yang menarik dan judul yang boombastis.

    saya mendapat pencerahan setelah membaca penjelasan “Seorang penulis yang tidak punya kompetensi dalam hal pendidikan anak – karena dia memang belum berkeluarga – tiba-tiba menulis buku “Kiat Mendidik Anak”. Lalu, karena bukunya best seller, nama dia tekenal, dan banyak orang yang mengundang dia menjadi pembicara. Dia didaulat untuk memberikan ceramah tentang “Kiat Mendidik Anak” di depan 500 orang tua yang kebingungan tentang cara mendidik anak. Pada saat itu, si penulis ternyata belum menikah juga!”

    TERIMA KASIH…. ^-^

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s