Mendadak Anita Cemerlang (Lagi)! (Bagian I)


Anita Cemerlang

Selama aktif di Facebook (yang katanya milik Yahudi itu), saya sudah terbiasa mendapat invite untuk bergabung dengan group tertentu. Hampir semuanya saya accept. Begitu pula ketika Mas Benny Rhamdani meng-invite saya untuk bergabung dengan sebuah group bernama “Penulis Anita Cemerlang”. Langsung saya terima, berhubung saya dulu aktif menulis di majalah kumpulan cerpen yang satu ini.

Setelah bergabung, saya baru sadar bahwa “Penulis Anita Cemerlang” sangat jauh berbeda dengan group-group lain di Facebook. Di group inilah untuk pertama kalinya saya bisa berkenalan dengan berinteraksi langsung dengan nama-nama penulis yang hanya saya kenal lewat karya-karya mereka.

Oke, nama-nama seperti Gola Gong, Benny Rhamdani, Ali Muakhir, Pangerang Em (yang kini dikenal dengan sebutan Pak Ustadz Cepy), bahkan Paul sang ilustrator, telah saya kenal sebelumnya. Namun banyak nama yang justru baru saya “temukan” langsung setelah bergabung dengan group “Penulis Anita Cemerlang”. Ada Adek Alwi, Donatus A Nugroho, Nur Alim Jalil, Ayi Jufridar (yang dulu saya kira perempuan, tapi ternyata pria asli), Ryana Mustamin, Djoenaedi Siswo Pratikno, Bambang Sukma Wijaya, dan masih banyak lagi. Bahkan para redakturnya seperti Ganda Pekasih dan Bens Leo pun ikut muncul.

Dari interaksi dan komunikasi dengan teman-teman Penulis Anita Cemerlang, tiba-tiba masa lalu itu seperti hadir kembali (hm, bahasa saya pun jadi kayak cerpen deh, hihihi…..). Sebuah kenangan yang “nyaris terlupakan” tiba-tiba terbentang lagi di pikiran saya. Dulu saya adalah Jon Riyadi, seorang penulis pemula yang tiba-tiba hadir seperti jawara Indonesian Idol.

Kenapa kok Indonesian Idol? Sebab di tahun 1994, saya yang masih berstatus penulis pemula tiba-tiba menjadi pemenang pertama Lomba Cipta Cerpen Remaja di majalah Anita Cemerlang. Nama saya yang awalnya belum dikenal oleh siapapun, tiba-tiba melejit dan ngetop “luar biasa”, persis seperti nasib jawara Indonesian Idol.

Kini, sebuah pertimbangan mengharuskan saya menanggalkan nama Jon Riyadi, dan menggunakan nama baru – Jonru – yang oleh teman-teman disebut sebagai nama yang jauh lebih keren. Bahkan Gola Gong sempat berkata bahwa nama Jonru cocok disandingkan dengan nama siapa saja.

Selain masalah nama pena, hal lainnya yang membuat saya “nyaris melupakan” Anita Cemerlang adalah perubahan pada misi dan visi saya sebagai penulis. Sejak tahun 2004, saya bergabung dengan Forum Lingkar Pena dan memutuskan untuk hanya menulis karya-karya yang Islami.

Anita CemerlangHal lainnya, kini saya lebih fokus ke penulisan nonfiksi. Dan tentu saja, hal “utama” yang membuat saya “nyaris lupa” pada Anita Cemerlang adalah karena kini majalah tersebut telah tiada. Tidak lagi beredar sejak tahun…. (hm… soal ini saya sama sekali belum tahu-menahu).

* * *

Terlepas dari hal-hal di atas, saya harus mengakui bahwa Anita Cemerlang memiliki peran yang sangat penting bagi karir kepenulisan saya. Para penulis masa kini boleh bersyukur karena tersedia begitu banyak sarana untuk belajar menulis. Ada komunitas penulis seperti FLP, ada milis-milis penulisan, ada Sekolah-Menulis Online, ada berbagai macam pelatihan penulisan, dan sebagainya.

Sementara di zaman saya dulu, hal-hal seperti itu sama sekali belum ada. Singkat cerita, saat itu saya adalah penulis yang sangat kuper, tak punya teman untuk berdiskusi soal penulisan, tak ada tempat untuk menimba ilmu seputar penulisan, kecuali:

  • buku-buku yang saya baca (termasuk buku-buku teori/kiat penulisan);
  • bekal ilmu dan wawasan mengenai bahasa, tulis-menulis, tata bahasa, dan EYD yang saya dapatkan dari bangku sekolah;
  • surat penolakan dari media cetak, termasuk Anita Cemerlang.

Ya, saya memang termasuk penulis yang sudah sangat kenyang oleh surat penolakan. Ketika merintis karir sebagai penulis sejak tahun 1990 lalu, saya sudah mengirim puluhan naskah ke berbagai media, namun Anita Cemerlang adalah media yang paling sering saya serbu. Dan seperti yang saya sebutkan di atas, ada puluhan (mungkin sekitar 40 atau 50, saya lupa berapa persisnya) naskah saya yang ditolak.

Namun berita baiknya, surat-surat penolakan tersebutlah – antara lain – yang membuat saya menjadi penulis yang lebih baik. Dalam setiap surat penolakannya, Anita Cemerlang selalu menyertakan selembar kertas penilaian. Pada kertas itu, mereka menyebutkan apa saja kekurangan naskah kita, beserta alasan penolakannya tentu saja. Dari surat-surat penolakan itulah, saya banyak belajar untuk menghasilkan karya yang lebih baik.

Anita CemerlangItulah sebabnya saya mengatakan, salah satu sarana terpenting saya di masa lalu untuk belajar menulis adalah surat-surat penolakan dari Anita Cemerlang 🙂

Alhamdulillah, ketika itu saya tetap tegar, tetap semangat, walau puluhan naskah saya masih rajin ditolak.

Tapi sebagai manusia biasa, tentu ada perasaan sedih juga. Terlebih karena banyak di antara naskah kiriman saya tersebut yang tak ada kabar beritanya. Tidak jelas nasibnya; apakah sudah diterima oleh Redaksi Anita Cemerlang atau belum.

Karena itulah, didorong oleh rasa penasaran, suatu hari saya secara khusus datang dari Semarang ke Jakarta, hanya untuk bertanya SECARA LANGSUNG kepada Redaksi Anita Cemerlang mengenai nasib naskah-naskah saya. Saat itu, saya memang masih kuliah di Semarang, belum punya komputer, belum ada internet.

Setiba di kantor redaksi mereka di jalan Wolter Monginsidi, sebuah kejadian tak terlupakan pun terjadi. Saya bertemu dengan Mas Cahya Sadar (atau Ganda Pekasih ya? Lupa!). Dengan penuh antusias saya bercerita, “Saya sudah sering mengirim naskah ke sini. Kedatangan saya adalah untuk menanyakan naskah-naskah tersebut.”

Beliau manggut-manggut dan menanyakan siapa nama saya. “Saya pakai nama pena Jon Riyadi,” ujar saya.

“O, kamu tho… yang namanya Jon Riyadi? Yang sering mengirim naskah ke sini?”

Ya Allah! Ucapan spontannya itu membuat saya terperanjat, terperangah, kaget, surprise luar biasa. Saya benar-benar tak menduga bila si redaktur yang ganteng tersebut sudah mengenal nama saya! Padahal BELUM ADA satu pun karya saya yang mereka muat!

Fakta ini, alhamdulillah membuat semangat saya semakin menyala-nyala. Saya makin yakin bahwa suatu saat nanti saya akan bisa menembus majalah Anita Cemerlang!

Bersambung ke Bagian II >>

NB: Cerpen-cerpen yang judulnya tercantum pada gambar di atas bukan karya saya. Harap maklum 🙂

Iklan

10 responses to “Mendadak Anita Cemerlang (Lagi)! (Bagian I)

  1. wah bagus majalahnya nih… tapi baru ngeliat… apa waktu terbit aku belum lahir yah..^_^

    SUKSES mas JOnru…

    Suka

  2. Itu sih edisi jadul mas
    kalo edisi terakhir, jauh lebih keren

    Sebelum kolaps, Anita Cemerlang sempat ganti konsep. Cover yang awalnya lukisan semua, diganti jadi foto. Sama seperti majalah remaja lain.

    Suka

  3. Anita cemerlang, saya pernah baca duluuuuuu sekali. Kalau gak salah waktu baru belajar membaca. Pak Cahya Sadar sekarang dimana ya????

    Suka

  4. Oni Asharri Rasyad

    Jadi ingat dulu…
    waktu SMP kelas 1 nyuri-nyuri baca Anita Cemerlang… karena sebagian besar isinya roman-percintaan….

    dasar ABG 😉

    Suka

  5. wah…dah gak terbit lagi yaa???knapa…padahal zaman muda dulu gw syuka bgt baca majalah ini…romantis abiss

    Suka

  6. aduhh.. gw sangat terkesan lihat cover majalah anita cemerlang… itu zaman smp gw…. nostalgia…

    Suka

  7. waah… itu majalah taun berapa ya…? anita cemerlang kayaknya pernah denger…. sekarang aja aq umur 13 taun… brarti itu majalah waktu ku belum lair ea..???

    Suka

  8. Wah… Majalah Anita Cemerlang tuh Majalah langganan aku…. Tapi dulu aku belum pernah ngirim tulisan.. Cuma senang baca aja….

    Suka

  9. Ping-balik: Kursus Menulis, Perlukah Diikuti? | Jonru on the Web

  10. Ping-balik: Mendadak Anita Cemerlang (Lagi!) (Bagian III-selesai) | Jonru on the Web

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s