Mendadak Anita Cemerlang (Lagi)! (Bagian II)


Beginilah tampang saya di era Anita CemerlangTahun 1993, saya mengikuti Lomba Cipta Cerpen Remaja (CLLR) yang diadakan oleh Anita Cemerlang. Cerpen yang saya kirim berjudul Telepon. Hasilnya, naskah saya tidak menang tapi alhamdulillah masuk ke dalam kategori “naskah yang layak muat”. Maka, cerpen Telepon ini pun menjadi NASKAH PERTAMA saya yang dimuat di Anita Cemerlang. Duh, betapa bahagianya! Saya bersyukur karena akhirnya naskah saya bisa dimuat di majalah yang bergengsi tersebut!

Di awal tahun 1994, secara mengejutkan saya mendapat sebuah kiriman surat (saat itu belum ada email) dari majalah Anita Cemerlang. Isinya sangat manis dan membahagiakan: Pemberitahun bahwa mereka kembali mengadakan lomba cerpen, dan saya dihimbau untuk ikut serta.

Terus terang, di balik kebahagiaan saya ketika itu muncul sebuah pertanyaan yang didorong oleh rasa heran, “Kenapa Anita Cemerlang begitu perhatian pada saya? Kenapa mereka menyurati saya seperti itu? Bukankah saat itu saya masih sangat pemula, nama saya belum dikenal?”

Hingga hari ini saya belum tahu jawabannya. Tapi saya menduga, mungkin itu adalah salah satu hasil dari seringnya saya mengirim naskah ke Anita Cemerlang. Mungkin mereka melihat kegigihan saya dalam berjuang. Mungkin mereka salut pada semangat saya yang tak pernah padam walau puluhan naskah saya sudah ditolak oleh mereka. Wallahualam. Entahlah.

Saya pun mengirim sebuah cerpen ke LCCR 1994 tersebut. Dan salah satu kejutan terbesar dalam hidup saya pun tergelar ketika suatu hari saya jalan-jalan ke Bandung Indah Plasa. Di dekat lobby, saya melihat seorang penjual koran, dan segera saya membeli Anita Cemerlang terbaru. Saya langsung mencari halaman yang berisi pengumuman pemenang LCCR 1994. Saya tersenyum kecut karena judul cerpen kiriman saya – “Takut Kehilangan Kamu” – tidak tercantum di sana.

Tapi betapa kagetnya saya ketika membaca nama si pemenang pertama: Jonriah Ukur. Masya Allah… itu kan nama saya!

Judul cerpen yang tercantum di sana adalah “Bicara pada Cermin”. Saya masih ingat betul, cerpen “Takut Kehilangan Kamu” tersebut memang bercerita tentang seorang cowok yang suka berbicara pada cermin.

Alhamdulillah, saya langsung bersorak kegirangan dan mentraktir diri sendiri di McDonald. Saat itu saya memang sedang jalan-jalan sendirian. Sesampai di rumah, saya langsung shalat dua rakaat, entah shalat apa namanya, sebab saat itu masih jam sebelas siang. Tapi saya tak peduli, karena saya sangat gembira dan ingin segera melakukan sesuatu sebagai wujud syukur yang luar biasa pada Allah.

Juara kedua pada LCCR 1994 tersebut adalah Benny Rhamdani, penulis yang sudah sangat senior, sering memenangkan lomba penulisan, dan pada LCCR tahun sebelumnya justru menjadi pemenang pertama. Artinya, saya berhasil “mengalahkan” seorang penulis papan atas. Duh, ini adalah kejadian yang paling mengharukan dalam perjalanan karir saya sebagai penulis!

* * *

Cowok di Seberang JendelaSejak menang lomba itu, karir penulisan saya di Anita Cemerlang boleh dibilang sangat mulus. Semua naskah yang saya kirim selalu dimuat. Dua cerpen saya sempat menjadi cerita utama, yakni “Cowok di Seberang Jendela” dan “Tentang Jodoh dan Mawar Putih”. Cerpen yang pertama saya sebutkan bahkan akhirnya menjadi judul buku kumpulan cerpen saya yang diterbitkan oleh Lingkar Pena Publishing House.

Sekitar tahun 1996, saya berhasil menyelesaikan sebuah novelet 60 halaman – berjudul Aku Sayang Dia – dan saya kirim ke Anita Cemerlang. Alhamdulillah, dimuat sebagai cerita bersambung. Tapi judulnya mereka ganti menjadi “Seputih Tirai Cinta”. Sampai hari ini, terus terang saya belum paham apa makna dari judul yang mereka berikan tersebut 🙂

Di tahun 1996 itu pulalah, sebuah PENGALAMAN PALING BURUK sepanjang karir penulisan saya pun terjadi. Kisah lengkapnya pernah saya tulis di sini. Berikut kutipannya:

Tahun 1996 (kalau tidak salah), saya mengirim sebuah cerpen ke Anita Cemerlang. Judulnya “Momen Maaf”. Bercerita tentang seorang mahasiswi bernama Rani yang sangat baik budi, dikagumi oleh teman-temannya, tipe manusia teladan, pokoknya pribadinya sempurna seperti malaikat. Semua orang memuji dan menyanjungnya. Tapi keadaan ini justru membuat Rani merasa bersalah. Sebab, ia sebenarnya bukan manusia yang sempurna. Ia merasa bersalah pada orang-orang yang mengagumi dirinya. Dia merasa telah menipu mereka semua. Sebab, Rani punya masa lalu yang sangat hitam. Ketika SMP, ia pernah menjadi “perempuan nakal”! Kini, Rani sudah bertaubat dan menjalani hidup yang lebih baik.

Rani ingin berterus terang pada semua orang tentang masa lalunya. Ia ingin jujur pada mereka. Ia ingin menghilangkan perasaan bersalah yang terus menghantui perasaannya.

Maka suatu hari, Rani membeberkan tabir gelap itu pada teman-teman kos-nya. Ia berkata, “Ketika SMP, aku pernah hidup sebagai gadis penunggu perempatan lampu merah di malam hari dan sering jalan dengan pria hidung belang. Kalian tahu kan, apa yang aku maksud?”

Cerpen ini dimuat di Anita Cemerlang beberapa bulan kemudian, judulnya mereka ganti menjadi “Rani dan Permintaannya.” Bag saya itu tidak masalah. Yang membuat saya hampir pingsan adalah: Redaksi Anita mengubah kalimat di atas menjadi, “Ketika SMP, aku pernah diperkosa.”
Saya diam seperti orang bisu, benar-benar tak percaya dengan apa yang saya baca. Emosi saya langsung mengalir ke ubun-ubun.

Ya, prinsip editing kedua berbunyi, “Redaksi/editor berhak mengedit naskah penulis tanpa mengubah isinya.” TAPI MEREKA TELAH MENGUBAH ISI CERPEN SAYA!!!!!! Kalimat di atas adalah kunci dari seluruh isi cerpen saya. Jika kunci itu diubah, maka isi cerpen pun berubah, bahkan ceritanya menjadi sangat konyol dan memalukan.

Coba anda bayangkan:
Ada seorang gadis korban perkosaan yang dihantui perasaan bersalah. Ia merasa telah menipu orang-orang yang mengaguminya. Ia ingin berkata pada mereka, “Kalian salah. Saya tidak sebaik yang kalian duga. Saya punya masa lalu yang kelam. Saya punya dosa yang sulit dimaafkan. Saya dulu pernah diperkosa. Itulah dosa dan kesalahan terbesar yang pernah saya lakukan di sepanjang hidup saya.”

Saya yakin, penulis paling tolol sekalipun tak akan pernah membuat cerita sekonyol itu. Tapi tiba-tiba pembaca melihat saya seperti seekor keledai yang tak punya otak dan perasaan. Saya membayangkan cerpen itu dibaca oleh seribu wanita korban perkosaan. Lalu mereka marah dan mendatangi saya. “Apa kamu bilang? Kamu menganggap bahwa diperkosa adalah sebuah kesalahan dan dosa besar? Kamu menyalahkan kami yang justru menjadi korban? Dasar manusia biadab!!!!”

Saya langsung protes ketika itu. Saya mengirim surat ke redaksi Anita, berharap mereka mau memuatnya sebagai revisi terhadap kesalahan editing pada cerpen tersebut. Saya juga sempat menelepon mereka, dan ngobrol dengan Bens Leo kalau tidak salah. Dari cara dia bicara, saya tahu bahwa dia pun sadar bahwa kesalahan terletak pada redaktur. Tapi sayangnya, Anita tak pernah memuat surat saya itu.
Saat itu, kebetulan saya mengikuti KKN, dan terpilih menjadi koordinator kecamatan. Seribu kesibukan pun segera menyerbu saya, membuat saya tak sempat mengurus insiden Anita Cemerlang. Selama tiga bulan saya berkutat dengan tugas-tugas KKN, melupakan masalah yang amat tragis itu, dan tak ada waktu untuk menulis cerpen. Sepulang KKN, saya sudah tidak terlalu memusingkan masalah korban perkosaan dan sebagainya. Saya juga merasa sudah canggung menulis karena tiga bulan tidak pernah lagi merangkai kata (kecuali naskah pidato perpisahan dengan pak camat di akhir masa KKN).

* * *

Beberapa bulan lalu, saya pernah diminta oleh seorang teman untuk menulis biografi sebagai penulis, untuk diterbitkan (tapi sampai sekarang belum terbit juga). Alhamdulillah, saat itu saya berhasil menulis sekitar 23 halaman. Itulah untuk pertama kalinya saya berhasil menulis biografi kepenulisan saya secara detil dan runut.

Pada biografi tersebut, saya menyebutkan 7 alasan kenapa saya vakum menulis sejak tahun 1996 hingga 2004 (DELAPAN TAHUN!). Salah satu alasan yang saya sebutkan adalah INSIDEN ANITA CEMERLANG yang saya ceritakan di atas. Terus terang, insiden ini bagi saya merupakan salah satu pengalaman paling buruk pada karir penulisan saya. Insiden tersebut membuat saya KAPOK MENULIS, dan sampai saat ini saya masih suka terbawa emosi bila mengenangnya.

Bersambung ke bagian III >>
<< Bagian sebelumnya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s