Mendadak Anita Cemerlang (Lagi!) (Bagian III-selesai)


Cinta Tak TerleraiAlhamdulillah, di tahun 2004 saya bangkit dari “mati suri” selama 8 tahun. Saya kembali hadir di dunia penulisan. Semangat saya kembali menyala-nyala. Saya berpikir bahwa saya tak boleh larut dalam kesedihan, kekecewaan dan keputusasaan. Saya ingin meneruskan perjuangan, mewujudkan kembali impian sebagai penulis sukses, seperti yang sudah lama saya idam-idamkan. Impian yang selama 8 tahun nyaris saya lupakan!

Saat itulah saya mengubah nama pena dari Jon Riyadi menjadi Jonru. Awalnya, saya sebenarnya masih sangat suka pada nama Jon Riyadi. Bahkan ketika mengirim naskah ke penerbit di tahun 2004, saya masih menggunakan nama tersebut. Harapan saya, nama ini bisa menjadi salah satu “nilai jual” buku saya. Karena saya berharap masih banyak orang yang ingat pada nama Jon Riyadi.

Namun dari sejumlah milis penulisan yang saya ikuti, banyak teman yang berkata bahwa nama Jon Riyadi itu jelek. Mereka lebih suka nama Jonru. Karena bingung dan ragu, saya sempat membuat sebuah polling di milis. Saya meminta teman-teman untuk memilih, “Anda suka yang mana?”

Ternyata 100% dari penjawab memilih nama Jonru. Tak satu pun yang memilih Jon Riyadi!

Maka, mulai hari itu, saya pun langsung bertekad untuk melupakan nama Jon Riyadi dan mulai menggunakan nama pena baru: JONRU.

Dengan sigap, saya pun menghubungi penerbit Mizan dan Lingkar Pena Publishing House. Mereka telah meng-acc naskah saya untuk diterbitkan. Saya katakan pada mereka, “Tolong nama saya – Jon Riyadi – pada naskah ini diganti menjadi Jonru.”

Alhamdulillah, kedua buku saya – novel Cinta Tak Terlerai dan kumcer Cowok di Seberang Jendela – pun akhirnya terbit di tahun 2005 dengan nama penulis Jonru.

* * *

Kini, saya telah banyak berubah. Jonru di masa kini sudah jauh berbeda dengan Jon Riyadi di era Anita Cemerlang. Dulu saya bercita-cita menjadi seorang sastrawan terkenal seperti Seno Gumira Ajidarma atau (mendiang) Sidney Sheldon. Kini, perjalanan waktu membuat saya memutuskan untuk mengubah cita-cita. Saya kini lebih fokus sebagai penulis nonfiksi. Bahkan lebih spesifik lagi, saya bertekad untuk lebih banyak menulis naskah bertema kiat dan motivasi penulisan untuk pemula.

cara menerbitkan bukuAlhamdulillah, perubahan haluan ini telah dicatat oleh sejarah dengan terbitnya buku ketiga saya, atau buku nonfiksi pertama saya, “Menerbitkan Buku Itu Gampang!”

Kini, sudah banyak hal yang berubah pada diri saya jika dibanding era Anita Cemerlang dulu.

Walau sudah pernah menjadi pemenang pertama lomba cerpen di Anita, terus terang saya merasa bukan siapa-siapa di sana. Sebabnya, saya dulu sangat kuper di Anita Cemerlang. Tak ada orang yang saya kenal. Lagipula, seperti yang saya tulis di atas, nasib saya di Anita Cemerlang mirip kisah para jawara Indonesian Idol. Saya bukan siapa-siapa, tapi tiba-tiba meraih prestasi tertinggi, lalu terkenal, lalu setelah itu hilang dan dilupakan.

Begitulah persepsi saya mengenai diri sendiri dalam konteks Anita Cemerlang.

Tapi pertemuan kembali dengan teman-teman Penulis Anita Cemerlang di Facebook membuat saya harus terperanjat. Sungguh suatu keajaiban ketika saya menyadari bahwa teman-teman di group ini sangat menghormati saya. Mereka berkata, “Jon Riyadi kan sangat terkenal di Anita Cemerlang.” Bahkan ada yang berkata, “Jon Riyadi yang menjadi langganan juara lomba menulis di Anita Cemerlang….” padahal baru satu kali!

Demi Allah, ini adalah fakta yang benar-benar tak pernah saya duga sebelumnya! Sebagai catatan: Hampir semua teman di group Penulis Anita Cemerlang ini adalah orang-orang yang tak pernah lagi mendengar kabar mengenai saya sejak tahun 1996. Bahkan, banyak di antara mereka yang lebih suka memanggil saya dengan nama Jon Riyadi, sebab nama Jonru masih sangat asing bagi mereka.

Dengan fakta ini, terus terang saya sangat terperanjat atas sikap dan perlakuan mereka terhadap saya yang benar-benar di luar dugaan!

* * *

sekolah menulis onlineKini, walau saya mungkin tak bisa lagi berkiprah seperti di Anita Cemerlang dulu – sebab sudah banyak perubahan orientasi hidup yang saya alami selama lebih dari 12 tahun ini, insya Allah saya tetap antusias untuk mengikuti acara Reuni Penulis Anita Cemerlang tanggal 15 Februari 2009 di Jakarta. Saya sangat penasaran untuk bertemu para penulis hebat, yang nama-nama mereka dulu hanya saya kenal lewat karya-karya mereka di Anita Cemerlang.

Dan yang tak kalah penting:
Terlepas dari apapun, Anita Cemerlang memiliki peranan yang SANGAT PENTING – bahkan boleh disebut sebagai SALAH SATU YANG TERPENTING – bagi karir penulisan saya. Rasanya saya tak akan punya alasan untuk melupakan Anita Cemerlang. Saya tak punya alasan untuk tidak mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.

Mungkin bila nanti Anita Cemerlang terbit lagi, saya pun mungkin masih tergerak untuk berkiprah di sana. Mungkin bukan menulis cerpen remaja, tapi siapa tahu ada peluang lain yang tak kalah menarik.

Amiin…. 🙂

Cilangkap, 13 Februari 2009
Dua hari sebelum Reuni Penulis Anita Cemerlang

Jonru
(d/h Jon Riyadi)
Founder PenulisLepas.com & BelajarMenulis.com
Founder & Mentor Sekolah-Menulis Online
Penulis Buku “Menerbitkan Buku Itu Gampang!”

NB:
Di zaman Anita Cemerlang dulu, komputer masih langka dan saya belum punya mesin tik. Setiap kali menulis, saya pakai tulisan tangan, lalu saya bawa ke biro jasa pengetikan. Setelah itu, baru dikirim ke majalah. Cerita selengkapnya bisa dibaca di sini.

Sekitar tahun 1991, saya berhasil membeli mesin tik manual. Lalu dari hadiah LCCR tahun 1994, saya membeli sebuah mesin tik elektronik yang alhamdulillah membuat saya lebih produktif dalam menulis.

Semoga secuil kisah ini bisa mendatangkan inspirasi dan motivasi bagi teman-teman sekalian, khususnya yang masih sangat pemula. Bila naskah Anda masih sering ditolak, Anda tak punya komputer atau muncul kendala-kendala lain dalam menulis, saran saya: TETAPLAH SEMANGAT! Semua kendala itu justru merupakan bagian dari proses Anda untuk mewujudkan impian sebagai PENULIS HEBAT!

<< Bagian sebelumnya
<< Bagian I

Iklan

9 responses to “Mendadak Anita Cemerlang (Lagi!) (Bagian III-selesai)

  1. Fitri Ushinawareta

    Begitu ya pak ceritanya. Hmmm, baiklah. SEMANGAT!! Nice story. Menambah smangat saya untuk menulis. Haduh, masih ada 2 tugas SMO yg blum dikerjakan pak. 😀

    Suka

  2. Pak jonru,

    Terima kasih atas cerita pengalamannya. Saya dulu adalah pembaca setia AC juga. Dan pernah beberapa kali mengirim naskah kesana. Kebetulan, saat itu saya masih bekerja di sebuah penerbit buku besar di Jkt. Malah saya sempat bertemu dgn mas Cahya Sadar, krn beliau pernah dtg ke kantor dgn membawa naskah cerita utk coba diterbitkan. Sayang, waktu itu bos saya tidak berminat.

    Tapi sayangnya, karena merasa tak memenuhi standar dan tak pernah dimuat. Selain kesibukan yg memang padat, saya berhenti mengirimkan hasil tulisan saya sebelum sempat satupun termuat di AC. Apalagi waktu itu saya tidak bekerja lagi di Penerbit buku besar itu.

    Setelah membaca tulisan Anda di atas, saya merasa tergugah dan sadar bahwa saya seharusnya tidak gampang menyerah untuk sebuah cita-cita yg sangat ingin saya wujudkan. Terima kasih sekali lagi ya, Pak.

    Suka

  3. saya juga bikin pen name, tapi gak tahu juga gimana nantinya…. hihihih

    Suka

  4. Ternyata, untuk jadi penulis butuh perjuangan, ya, Pak?. Saya juga baru aja mendadak kreatif pak Jonru. Setelah mendapat motivasi dan belajar menulis gratis di Web BelajarMenulis.Com. Saya murid Pak Jonru yang setia menunggu Newslwtter gratisan dari Bapak, he .. he … he… Dan ternyata juga, percaya nggak percaya, nama pena punya kekuatan alias memiliki daya jual sendiri, dan memiliki energi tarik menarik (low of attraction) yang tinggi pak.
    Sejak saya menemukan nama Purwalodra sebagai nama pena, sejak itu saya mendadak kreatif pak. Makanya, saya juga membuat email purwalodra@gmail.com, sebelumnya antakusuma.purwanto@gmail.com. Tapi kedua email saya ini masih aktif lhooo ?
    Saya, mulai gemar menulis sejak SMP tahun delapan puluhan. Dulu saya beli koran SPM (Sinar Pagi Minggu, sekali seminggu, maklum cuma segitu mampunya. Belinya harus mengendarai sepeda tujuh kilo ke arah Kota Klaten, Jawa Tengah. Maklum saya tinggal dipinggiran kota. Waktu itu, pengen bangets puisi2 saya bisa, masuk SPM, namun apa daya tidak masuk nominasi. Nah sekarang saya mo mulai lagi. Kata teman saya, nggak apa-apa terlambat, daripada tidak menulis sama-sekali.
    Dan sekarang Alhamdulillah, opini-opini saya diterima di PenulisLepas.Com. Sekarang, saya juga menulis cerpen, dimana saya bisa kirim ke web Pak Jonru, agar bisa di edit dan di-upload. 3makasih atas motivasinya. Sukses, untuk Pak Jonru.

    Suka

  5. Hai jonru, apa kabar? Moga masih inget saya.
    Wah, baru tahu kalo ada facebooknya eks penulis anita cemerlang. Secara, meski cuman sedikit saya pernah nulis di majalah kesayangan tsb… (mau gak mau, mesti bikin FB nich)

    Sukses terus ya, buat kamu!

    Suka

  6. pengen sih nulis…bikin buku atau gimana gitu…
    tapi mau nulis apa ya???

    Suka

  7. Saya mengucapkan Salut dengan perjalanan karir di dunia penulisannya Mas Jonru. (iya lebih enak Pakai Nama Jonru)

    penglaman anda sangat insipiratif.

    Suka

  8. wah pengalaman yang menarik untuk dibaca dan diambil hikmahnya. sukses selalu pak jonru, sy suka baca2 tulisan pak jonru. suatu saat saya ingin bs jadi penulis………………………………….

    Suka

  9. waah,,, bisa diteladani nih kisahnya Pak Jonru….
    Pak, saya juga lagi tahap pembuatan novel lho… umur saya 13 taun… tapi cita-cita saya buat jadi novelis termuda kayaknya hrus hncur deeh… knp? karna udh ada yang mndahului saya… dan bahkan dia lebih muda. umurnya 9 taun…
    pak,,, kapan-kapan tampilin dong cerpen bapak yang pernah bapak kirim k anita cmerlang….

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s