[Kiat Menulis] Tak Ada Istilah “Tulisan Fals”


Anda mungkin sering melihat sebuah iklan kopi di televisi yang menayangkan sosok suara pria bersuara fals. Lalu muncul si narator dengan ucapan, “Enggak semua orang bisa bermain musik.”

Ya, di dunia musik, memang suara merdu banyak ditentukan oleh bakat alam. Ada orang yang ditakdirkan bersuara merdu, sehingga dia berpotensi besar menjadi seorang penyanyi sukses. Sementara ada orang (termasuk saya) yang bersuara fals, pas-pasan, sehingga nyaris tak mungkin menjadi penyanyi sukses.

Ada seorang teman yang pernah berkata pada saya, “Penyanyi dan penulis pada dasarnya sama. Ada orang yang suaranya fals, sehingga tak mungkin jadi penyanyi. Ada juga orang yang tulisannya jelek, sehingga tak mungkin menjadi penulis.”

Pendapat seperti ini bukan hanya dilontarkan oleh orang awam. Bahkan Stephen King – penulis cerita horor paling ngetop sedunia – pun, dalam bukunya On Writing, menjelaskan bahwa ada penulis luar biasa seperti Kahlil Gibran atau Ernest Hemingway, ada pula penulis yang biasa-biasa saja seperti kita-kita ini. Menurut King, seorang penulis yang biasa-biasa saja tak mungkin “naik status” menjadi penulis luar biasa.

Walau Stephen King termasuk salah seorang penulis yang paling terkenal sedunia, saya SANGAT TIDAK SETUJU dengan pendapatnya ini.

Di dunia penulisan, tidak ada istilah “tulisan fals”. Dunia penulisan SANGAT BERBEDA dengan dunia musik.

Pada dasarnya, siapa saja bisa menjadi penulis. Siapa saya bisa menjadi penulis yang luar biasa. Termasuk Anda dan saya!

Yang Anda butuhkan untuk “naik status” menjadi seorang penulis yang luar biasa adalah seperti yang pernah saya jelaskan di sini.

Itu saja. Tak lebih dan tak kurang.

Dunia penulisan tidak mengenal istilah “tulisan fals”.

Salam Sukses!

Jonru

Iklan

34 responses to “[Kiat Menulis] Tak Ada Istilah “Tulisan Fals”

  1. maaf, saya ‘agak’ tidak setuju dgn tulisan pak Jonru di atas. Menurut saya, apapun bisa dicapai selama berlatih dan bekerja keras. Seperti halnya dalam dunia tulis-menulis, dalam dunia musik pun ada berbagai cara untuk mencapainya. Dari mulai latihan vokal, pernapasan, pemilihan jenis musik yang tepat sampai dengan menggunakan teknologi supaya suaranya terdengar mulus. Artinya dalam bidang apapun kita bisa berhasil, asal ada kemauan (niat yang kuat) dan kerja keras. Saya yakin, barangsiapa yang berusaha, maka Tuhan akan menunjukkan jalan. Demikian, mohon maaf apabila ada kesalahan.

    Suka

  2. @Marina: Gak apa2 kok beda pendapat. Santai saja 🙂

    Suka

  3. kata – kata yang sangat inspiratif…
    ini akan jadi pembelajaran untuk saya..

    Suka

  4. sangat menggugah..tfs

    Suka

  5. ya betul mas jonru,ngga ada yg namanya penulis fals…tugas kita sll melatih diri ini untuk tetap kreatif dan tak putus asa.penyanyi fals banyak,kalopun itu suaranya pas dg musik(itukan di rekaman sj yg ada filter dsb)coba kalo nyanyi live akan kelihatan suaranya kacau/pecah.
    thanks atas supportnya.

    Suka

  6. setuju sama pendapat marina… semua bisa dipeljari selama masih hal2 yg bersifat manusiawi, meskipun jika ada bakat akan lebih menunjang apa yg telah dipelajari…
    jadi ,menyanyi sambil menulis atau menulis sambil menyanyi,ya,pak? (e,he,he) karena menulis adalah menyanyi juga, yaitu menyanyikan hati…he,he,he
    salam hangat

    Suka

  7. sebenarnya menulis adalah menuangkan semua ide, buah fikiran dalam sebuah tulisan,,, orang yang jago orasi belum tentu bisa menulis dengan baik,,, begitu sebaliknya,,,,tapi,,, apapun bisa dicapai di dunia ini,,, dengan ijin Allah SWT dan usaha dan kerja keras,,,, mudah2an berhasil… lanjutkan pak…

    Suka

  8. Saya sepakat dengan Bang Jonru, kalau dalam dunia tarik suara, bakat memang berpengaruh cukup signifikan saya fikir, karena yg namanya suara kan bagus atau tidak sudah tidak bisa kita ubah. Meski kalau mengenai teknik bernyanyi dsb nya memang mungkin bisa kita pelajari. Tapi kalau dasar suara nya sudah fals ya susah juga yah 🙂

    Nah sementara kalau dalam dunia tulis menulis itu benar2 ditentukan oleh kegigihan kita untuk terus belajar, mencoba dan berlatih, tanpa kenal putus asa.

    Salam hangat Bang Jonru:)

    Suka

  9. Bakat, anda percaya dengan bakat?. Saya meyakini bahwa setiap orang punya bakat berbeda-beda. Di negara-negara maju, ada yang namanya PENCARI BAKAT, sebab bakat seseorang itu tidak akan diketahui apabila tidak dipupuk betul-betul. Mereka melakukan bermacam test untuk menemukan bakat terbaik seseorang.
    Bakat itu tertanam di dalam GEN dan KROMOSOM pembawa sifat seseorang. GEN itulah yang akan membawa keinginan kita untuk melakukan sesuatu yang kita senangi. Ada yang cepat belajar matematika, tetapi lambat dalam menghafal kalimat. Ada yang senang olahraga sementara yang lain menyukai bermain musik. Ada yang pendiam, sementara saya OUT SPOKEN.
    Menurut pendapat saya, Dalam pekerjaan apapun juga, termasuk menulis, bakat itu sangat penting. Ada yang suka menulis cerita petualangan, yang lain suka cerita romatis.
    Semua orang bisa MENULIS, tetapi tidak semua orang bisa menjadi PENULIS.
    Saya kira Bang Jonru yang sudah banyak pengalaman menulis bisa melihat dengan jelas hal itu. Menulis itu tidak bisa dipaksakan sebagaimana memaksakan seorang anak membaca buku yang tidak disukainya.
    Tetapi, belajar menulis itu saya akui sangat penting, walaupun tidak ada tujuan kita menjadi penulis yang terkenal. Paling tidak menambah pengalaman dan pandangan hidup kita.
    Jadi, saya kira saya setuju dengan Stephen King.

    Terimakasih.

    Suka

  10. Hmmm… jadi tulisanku nggak fals ya??

    Suka

  11. Muhammad Syafii Masykur

    Kalau saya menulis kadang seperti main dadu. Ada tulisan yang saya anggap bagus dan saya terbitkan sendiri malah gak laku. Ada tulisan yang saya anggap buruk dan saya jual murah ternyata laris di pasaran dan dalam satu tahun cetak ulang berkali-kali….Ya, bagaimana pasar menilai aja lah….

    Suka

  12. setiap orang bisa menulis, tapi, tak semua orang beruntung dapat menjual tulisannya.

    piece…..

    Suka

  13. Tulisan yang sangat inspiratif mas, namun kadangkala ketika kita lagi semangat ada aja orang mematahkan semangat kita. Contohnya ketika lebaran kemarin saat saya ngobrol dengan kakak saya yang berkali-kali membuat cerita dan skenario film tapi tidak pernah ada yang diterbitkan atau menembus rumah produksi. Waktu itu saya sedikit promosi ” sekolah menulis online ” mas Jonru. Dia langsung berkata,” percuma, orang kaya kita ini tidak mungkin bisa tembus ke penerbit, Disana banyak mafianya! kakak sudah pengalaman masalah itu, lupakan saja. saya jadi bertanya2. ” Apa betul begitu?

    Suka

  14. tulisan yg fals itu seperti apa ya? ah gak ngerti, blum pernah mbaca, tapi klo Iwan Fals gue suka banget. tak ada istilah ‘tulisan fals’, setuju.

    Suka

  15. @Salwanggga: Keberuntungan bukan milik orang tertentu saja. Semua orang bisa beruntung. Ada sebuah buku bagus yang membahas masalah keberuntungan ini secara ilmiah dan sangat logis. Coba baca resensinya di sini.

    @Tips ampuh: Itu pandangan yang SANGAT keliru. Siapa bilang ada mafia seperti itu? Mungkin kakak Anda itu pernah mengalami hal buruk dengan penerbit tertentu, lalu dia melakukan generalisasi.

    Suka

  16. yang terpenting untuk menjadi orang besar adalah keberuntungan

    Suka

  17. saya bersikap netral dengan pendapat mas jonru tentang tulisan “fals”. Dan menurut saya pendapat stephen king itu sangat jumawa dan meremehkan.
    Menurut saya, tulisan itu seperti makanan. Mungkin ramuan bang jonru lebih merdu di otak saya dibanding dengan ramuan mas stepen king. mungkin karena selera rasa saya yang sama dengan mas jonru. Bisa jadi menurut saya stephen king hanya lebih terkenal saja dari mas jonru tapi tidak lebih hebat. Contohnya saja, saya lebih senang dengan novel2 kang abik atau Shindunata di banding dengan novel2 aghata christie atau mungkin Khalil Gibran. Sekali lagi, ini semua selera.. menurut saya tulisan aghata christi sangat fals hingga cuma satu novelnya yang saya baca dan tidak tamat … memuat saya bosan.

    Suka

  18. menurut saya tergantung dari masing-masing orang tersebut, apakah dia ingin berusaha dan terus berjuang “melampaui batas” ataukah dia hanya bisa merenung dan menyalahkan diri sendiri,
    misalnya >>> seorang yang punya suara “fals” atau kurang enak belum tentu tidak dapat menjadi penyanyi sukses toh banyak cara untuk memerdukan suara, banyak cara pula untuk dapat bernyanyi dengan baik, seperti kursus vokal dan makan buah-buahan yang bisa membuat suara merdu dan jernih, bahkan ada teknologi yang bisa merubah suara. ( saya tidak menganjurkannya ^^’)begitu juga dengan penulis, pasti pada awalnya kurang enak tulisannya, tapi begitu berlatih dengan gigih dan berkoreksi dengan teliti maka akan menjadi penulis yang hebat dan ternama, yaaa makanya itu saya katakan diawal tadi sesuai dengan usaha dan semangat orang itu sendiri ada optimis pasti ada jalan pula. ingat pepatah yang satu ini >>> ala bisa karena biasa ( kalau bisa menghasilkan tulisan yang berbobot pasti dia telah biasa untuk terus berlatih menulis dengan baik. )Insya Allah tulisan ini bisa memotivasi teman-teman yang suka menulis juga ( seperti saya ) dan Insya Allah buku komputer saya bisa segera diterima oleh penerbit yang sedang saya ajukan sekarang ( bantuu doain yaaaah ^^)

    feed back ke m_rustam_as@yahoo.co.id
    silahkan kunjungi juga blog saya teman
    yakinsukses.blogspot.com

    semoga dapat berguna untuk kita semua…

    AMIIIIIIIIIIIIIINNNN… ^^

    Suka

  19. Bang jonru… ada satu lagi yang lebih penting. banyak dari kita yang masih bertahan dalam dunia lisan belum pindah ke dunia tulisan karena takut fals. Bila kita sering mengikuti komunikasi di dalam milis, saya kira yang fals akan bisa menjadi lebih baik. Salam Bang…

    Suka

  20. Intinya adalah belajar dan berlatih , berani mencoba dan terus mencoba….

    Suka

  21. penuli yang baik, ya jonru

    Suka

  22. Trima kasih Pak Jonru, saya jadi semangat utk menulis, cuma waktunya aja belum pas kali pak,anak saya masih kecil jd perlu waktu byk dgn saya, sedang klu menulis itukan perlu konsentrasi dan ketenangan, trima kasih atas masukkannya.

    Suka

  23. @Nanda: Sebenarnya kesibukan dan situasi lingkungan bukan alasan untuk tidak menulis. Masalahnya sekarang, apakah kita merasa bahwa menulis itu penting atau tidak. Apakah kita mencintainya atau tidak. Kalau kita merasa itu penting dan kita mencintainya, maka kendala sebesar apapun tidak akan jadi masalah.

    Info selengkapnya, coba baca artikel yang satu ini 🙂

    Suka

  24. yup setuju meski tulisanku nggak bagus2 amat, tapi bolehkan aku bilang setuju he he he…
    btw terkadang kita mati ide, gimana dong biar ide bisa mengalir deras di otak kita 🙂

    Suka

  25. @benin: Agar tak pernah mati ide dan bisa lancar menulis, silahkan baca kiatnya di sini

    Suka

  26. maaf om jonru..baru sempat mampir kesini…
    wah..makasih atas nasehat2nya…

    saya kira, tulisan fals itu adalah tulisan2 sumbang, artinya sebuah tulisan yang didalamnya mengandung konteks perlawanan terhadap sebuah kekuasaan, atau rezim..
    bahkan bisa perlawanan dengan suatu arus mainstream…

    mohon penjelasannya…
    thanks

    Suka

  27. @Muamdisini: Kalau Anda mempersepsikan “tulisan fals” seperti itu, ya monggo. Bebas2 saja 🙂

    Suka

  28. mantap dah.. yang pentingt ikhtiar yang maksimal insyaAllah semuanya mungkin..

    Suka

  29. kalo kyk gtu biasa ja kok kn da latar belakang na,yg penting gak mubazir he he he

    Suka

  30. Berbeda pendapat hal yang biasa… bukannya perbedaan menjadikan segala sesuatu makin berwarna.. perbedaan juga membawa kita pada titik sempurna asal menerima satu sama lain.. buktinya Bhineka tunggal ika.. meskipun berbeda2 tapi tetap satu jiwa…. ( terus berusaha ) terima kasih Untuk ayahnda Jonru yang setia men up date info ter anyar… sukses bos!!!!

    Suka

  31. Keahlian menulis yang baik, didapat setelah latihan yang terus menerus dan konsisten. Terima kasih. 🙂

    Suka

  32. Tak ada yg tak mungkin dihidup ini asalkn kita tetap trjga dlm sgitiga khdupan ykni:USAHA,SEMANGAT,DOA(iman).klw yg 3 tsbt tlh ada dlm jiwa seseorang,psti ia akn brhsil,prcyalh.

    Suka

  33. Saya sudah baca kok buku On Writing itu. Yang disebutkan oleh Stephen King di sana, kalau tidak salah ada 3 jenis penulis: Penulis yang jenius, penulis yang bagus, dan penulis yang sangat buruk. Pendapatnya saya rasa berkenaan dengan masalah “bakat”.

    Memang tidak semua orang percaya dengan “bakat”, tapi bagi saya bakat tidaklah lebih dari ketertarikan yang luar biasa. Ketika seseorang memiliki ketertarikan yang luar biasa pada suatu hal, saya menyebut orang tersebut berbakat.

    Orang yang tidak punya ketertarikan pada tulis-menulis, tidak mungkin dan mustahil bisa menjadi penulis yang bagus, apalagi penulis jenius. Namun di sisi lain, ada juga kecenderungan bawaan yang bersifat genetis. Seperti yang kita tahu, kecenderungan seseorang ada berbagai macam jenisnya, mulai dari verbal, spasial, kinetis, dll.

    Kalau seseorang memang bakatnya dalam bidang olahraga dan tidak punya bakat di bidang verbal/linguistik maka (seperti yang dikatakan King–dalam bahasa yang lebih sarkastik) percuma dipaksakan menjadi penulis yang baik. Lagipula untuk apa memaksa seseorang menjadi penulis, kalau memang ia tidak tertarik?

    Dan saya harus bilang kalau Stephen King bukanlah seorang motivator seperti Anda, cara pengungkapannya bertolak belakang.

    Suka

  34. Saya setuju kang jonru. Memang kita itu sebenarnya bisa lho jadi penulis asalkan kita mau berlatih aja.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s