Monthly Archives: November 2009

[Kiat Menulis] Berguru dari Penulis yang (justru) Merasa BUKAN Penulis


Berdasarkan penerawangan pengamatan saya, ada berbagai macam jenis penulis yang hidup di muka bumi ini. Yaitu:

  1. Penulis profesional, yakni orang-orang yang mencari uang lewat kegiatan menulis. Mereka ini masih terbagi dua lagi, yakni:
    1. Full Time Writer ==> Menulis sebagai sumber penghasilan utama.
    2. Part Time Writer ==> Menulis sebagai salah satu sumber penghasilan utama.
  2. Penulis amatir, yakni orang-orang yang menjadikan kegiatan menulis sebagai hobi belaka. Banyak orang yang salah persepsi terhadap istilah “penulis amatir” ini. Mereka mengira, penulis amatir adalah orang-orang yang belum pintar menulis, Hm, ini pandangan yang keliru, Saudara-saudara Sekalian!
    Termasuk ke dalam golongan penulis amatir:
    Orang-orang yang menulis untuk tujuan menambah pergaulan, berbagi ilmu, menghilangkan stress, aktualisasi diri, dan sebagainya.
    Seiring dengan perkembangan zaman pengalaman dan keahlian mereka, banyak penulis amatir yang akhirnya beralih status menjadi penulis profesional.
  3. Penulis Tidak Sadar, yakni orang-orang yang sering menulis (dengan tujuan tertentu), tapi mereka merasa bukan penulis. Contohnya
    1. Blogger. Mereka ini umumnya lebih senang disebut blogger daripada penulis. Padahal kegiatan utama mereka justru menulis. Jadi, sebenarnya mereka ini penulis juga, kan? (Barulah ketika tulisan di blog mereka diterbitkan menjadi buku, mereka dengan percaya diri mengatakan, “Saya penulis.”)
    2. Pebisnis online atau internet marketer. Mereka biasanya menulis untuk tujuan SEO, meningkatkan trafik website, dan sebagainya. Sama seperti blogger, mereka pun tidak sadar bahwa mereka sebenarnya penulis.
    3. Staf atau manajer humas di perusahaan, yang harus sering menulis untuk dibaca oleh wartawan atau konsumen mereka.
    4. Dan sebagainya.
  4. Penulis Wanna Be, yaitu orang yang bercita-cita menjadi penulis, tapi tak terwujud juga. Bukan karena mereka gagal. Bagaimana mungkin dibilang gagal, jika mencoba saja belum pernah. Mereka mengaku terlalu sibuk, banyak kendala, belum tahu caranya, MERASA MINDER, dan sebagainya dan sebagainya. Ah, banyak alasan deh pokoknya 🙂

* * *

Pada tulisan ini, saya tertarik untuk membahas penulis jenis ke-3.

Kenapa? Baca lebih lanjut

Iklan

Pengusaha Indonesia Tidak Boleh Nasionalis?


pengusaha nasionalisTiga tahun lalu, saya pernah menulis sebuah artikel berjudul “Menulis Cerpen Berdasarkan Referensi Tertentu”. Ini sebenarnya artikel bertema kepenulisan. Tapi hari ini, saya ingin membahasnya lagi dari sudut pandang yang berbeda: Dunia Entrepreneur 🙂

Untuk jelasnya, coba Anda simak kutipan tulisan tersebut di bawah ini:

Cerpen ini bercerita tentang seorang pemuda yang tinggal di perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan. Kisahnya diawali dengan keputusan si pemuda untuk keluar dari perusahaannya dan berwiraswasta dengan berjualan tikar tradisional. Tikar tersebut ia buat sendiri, lalu dijual di perbatasan.

Tragisnya, produknya ini tidak laku, hanya gara-gara ia berkata jujur, “Tikar ini buatan saya sendiri”. Ternyata, para pembeli beranggapan bahwa tikar tersebut haruslah buatan daerah tertentu di Malaysia. Jika dibuat oleh orang Indonesia, maka dianggap tidak asli.

Si pemuda pun mencoba menjual produknya ini di Indonesia, tapi ternyata prospeknya tidak begitu cerah. ia pun kecewa dan prihatin. Ia telah bertekad untuk lebih mencintai negerinya. Tapi fakta di lapangan menunjukkan bahwa hal-hal yang berbau Malaysia lebih disukai oleh masyarakat Indonesia di perbatasan tersebut. Terlebih, mata uang ringgit lebih disukai daripada rupiah. Hal-hal yang berbau Indonesia hanya mereka “nikmati” saat upacara bendera di sekolah.

Baca lebih lanjut