Monthly Archives: Agustus 2010

Tentang Kemerdekaan, Kebahagiaan Sejati, dan Sebuah Website


kebebasan sejatiLho, apa hubungan antara kemerdekaan, kebahagiaan sejati dan sebuah website? Saya akan menjelaskannya lewat cerita berikut.

Jika Anda termasuk orang yang suka main games, bagaimana perasaan Anda bila ada sebuah perusahaan yang mau membayar Anda Rp 10 juta perbulan hanya untuk bermain games? Bila Anda suka berkelahi, bagaimana perasaan Anda bila ada perusahaan yang mau membayar Anda untuk berkelahi dengan orang lain? Menjadi debt collector misalnya?

Tentu saja, semua orang akan sangat bahagia bila memiliki pekerjaan, karir, atau profesi yang seperti itu.

Alhamdulillah, saya pun sudah mengalaminya! Baca lebih lanjut

Iklan

[17 Agustus] Memerdekakan Diri dari Lomba Makan Kerupuk


lomba makan kerupukNB: Tulisan ini merupakan revisi dari tulisan ini, yang saya tulis dua tahun lalu dalam rangka peringatan HUT Proklamasi RI.

Pernahkah Anda berpikir, dari mana asal muasal lomba makan kerupuk, lomba balap karung, lomba panjat pinang, dan lomba-lomba lain yang bernuansa 17 Agustusan? Kalaupun pernah, saya yakin Anda akan sulit menemukan jawabannya. Baca lebih lanjut

Kiat Menulis Sinopsis Novel


belajar menulis novelBila Anda mengirim naskah novel ke penerbit, biasanya editor mereka meminta agar sinopsis ceritanya dilampirkan juga. Sayangnya, banyak penulis yang justru mengirim sinopsis yang isinya tidak sesuai harapan. Lebih parah lagi, mereka belum tahu apa yang dimaksud dengan sinopsis novel.

Sinopsis sebenarnya sama artinya dengan ringkasan. Jadi dengan kata lain, si editor meminta Anda untuk mengirim ringkasan cerita dari novel Anda.

Apa tujuannya?
Tentu saja agar si editor tahu, naskah novel Anda tersebut bercerita tentang apa, bagaimana struktur dan alur ceritanya, dan seterusnya.

Kenapa si editor harus mengetahui hal tersebut?
Sebab naskah novel berbeda dengan naskah nonfiksi. Kalau saya disuruh mempelajari dan menilai sebuah buku nonfiksi, insya Allah saya bisa mengerjakannya hanya dalam hitungan kurang dari 30 menit. Saya cukup membaca daftar isinya, lalu membaca seluruh isi naskah dengan metode fast reading. Beres dah! Sangat gampang.

Tapi novel benar-benar berbeda. Si editor tak akan bisa mempelajari dan menilai sebuah naskah novel hanya dengan membaca daftar isinya, atau dengan fast reading. Untuk menilai sebuah novel, apakah dia layak terbit atau tidak, si editor harus membacanya secara cermat dan teliti, kalimat demi kalimat, dari awal hingga akhir. Dan untuk membaca sebuah novel yang tebal dengan cara seperti itu, tentu dibutuhkan waktu yang cukup lama. Baca lebih lanjut