Kiat Menulis Itu Tidak Perlu, Jenderal!


Siang tadi (18 Oktober 2010), saya kaget ketika membaca tweet Dewi Lestari di account Twitternya:

Bikin ending itu susah, Jenderal!

Kalau yang menulis seperti itu seorang penulis pemula, tentu saya tak akan heran. Tapi Dewi Lestari adalah seorang penulis papan atas yang sudah sangat berpengalaman, buku-bukunya terbukti best seller semua. Maka, saya pun menjawab tweet-nya tersebut:

Ternyata penulis beken juga mengalaminya, hehehe… 🙂

Tak terduga, tweet saya ini disambut oleh seorang penulis papan atas lainnya, Pipiet Senja (yang biasa saya panggil Teh Pipiet):

mengakhiri mmg lbh rumit dpd mengawalinya say

Merasa tersanjung oleh komentarnya ini, saya pun membalas:

Betul teh.. Makanya perlu kiat khusus utk bikin ending ya?

Teh Pipiet membalas lagi:

kiat2 en teori bukan makanan penulis sejati

Nah, tweet terakhir inilah yang menggelitik saya untuk me-reply ulang:

Lho bukannya kiat2 itu bisa bikin tulisan kita makin bagus Teh? Asal jangan terlalu teoritis aja 🙂

Setelah itu saya offline beberapa jam. Malam harinya, saya menemukan tiga tweet berantai dari Teh Pipiet yang merupakan balasan untuk tweet terakhir saya:

maksudku dr pengalaman 35 tahun jd penulis,sy lbh byk pada praktek dan baca karya orang

sgl mcm teori kiat bhkan seminar or workshop hanya akan sia2 belaka jk tdk disiplin lgs menulis

sgh betul kt Fahri Asiza or HTR dan saya juga klo mau jd penulis ya;menulis,menulis,menulis!

* * *

Teh Pipiet Senja adalah salah seorang penulis senior yang sangat saya kagumi. Karya-karyanya luar biasa. Dia adalah seorang penulis otodidak yang telah melahirkan puluhan buku, dan banyak di antaranya yang best seller. Di usianya yang terbilang tidak muda lagi, semangat menulisnya tetap berkobar-kobar, dan buku-buku terbarunya terus bermunculan.

Teh Pipiet Senja adalah seorang penulis yang bisa menjadi inspirasi luar biasa bagi kita semua!

Sebagai seorang penulis, saya juga SANGAT SETUJU terhadap anjuran para senior saya, termasuk Helvy Tiana Rosa, Fahri Asiza dan Pipiet Senja, bahwa kunci utama untuk menjadi penulis sukses adalah MENULIS MENULIS MENULIS.

Artinya, kalau mau menjadi penulis, ya langsung saja menulis. Tak perlu terlalu banyak teori ini teori itu, kiat ini kiat itu dan seterusnya. LANGSUNG SAJA MENULIS,. TITIK!!!

Saya pun pernah membahas hal ini pada sebuah tulisan di blog saya. Silahkan dibaca di sini.

Saya juga secara intens ikut memasyarakatkan Kiat Menulis Bebas, seperti yang sering diajarkan oleh salah seorang penulis senior lainnya, yakni Hernowo.

Ya, benar sekali. Yang dibutuhkan oleh seseorang yang ingin menjadi penulis adalah MENULIS MENULIS MENULIS.

Tapi apakah MENULIS MENULIS MENULIS saja sudah cukup?

Inilah yang hendak saya bahas di sini, terinspirasi oleh perbincangan kami di Twitter tersebut.

* * *

Saya yakin semua penulis senior, atau penulis yang sudah berpengalaman, pasti pernah ditanyai oleh penulis pemula seperti ini:

“Bagaimana sih, cara menulis cerpen?”

“Gimana memasukkan data referensi ke dalam sebuah tulisan ilmiah?”

“Gimana cara jitu membuat ending cerpen atau novel, sehingga Dewi Lestari tak perlu menulis ‘Bikin ending itu susah, Jenderal!’ di Twitter-nya?” Hehehe…..

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti ini, tentu seorang penulis berpengalaman perlu menjelaskan sesuatu.

Nah, bila penjelasan tersebut ditulis di dalam sebuah artikel atau buku,  maka ia berubah menjadi KIAT bahkan TEORI.

Berdasarkan pengalaman saya, sebenarnya banyak sekali penulis pemula yang terbantu oleh kiat dan teori menulis tersebut.

Saya pun sejujurnya sering terbantu oleh kiat dan teori penulisan.

Ketika bingung bagaimana cara menulis kalimat yang efektif misalnya, saya mencari tahu – antara lain – dari buku-buku kiat menulis yang ada, yang ditulis oleh para penulis yang jauh lebih berpengalaman dari saya. Dan setelah membaca kiat tersebut, alhamdulillah kemampuan menulis saya semakin baik.

Masalahnya:

(1) Banyak sekali penulis pemula yang justru TERBELENGGU oleh kiat dan teori penulisan.

Setiap kali menulis, mereka dibayang-bayangi oleh pertanyaan:

“Yang kutulis ini sesuai atau tidak ya, dengan teori A? Sesuai enggak ya, dengan kiat penulisan B?”

Nah, bila ada penulis yang bersikap seperti ini, maka inilah yang disebut SANGAT KELIRU.

(2) Banyak pula penulis pemula yang hanya sibuk mengoleksi teori. Mereka membaca banyak buku kiat dan teori penulisan. Mereka banyak mengikuti pelatihan penulisan. Tapi setelah itu, mereka justru tidak pernah MULAI MENULIS.

Saya yakin, ketika mbak Helvy Tiana Rosa, mas Fahri Asiza, atau teh Pipiet Senja melontarkan kata MENULIS MENULIS MENULIS tersebut, sebenarnya mereka sedang mengkritik jenis penulis pemula seperti yang saya sebutkan di atas.

“Kenapa sih, mau menulis saja susah banget? Kalau mau menulis, ya langsung saja menulis. Begitu saja kok repot!”

Begitulah barangkali maksud mereka 🙂

* * *

Tentunya, saya pun SANGAT SETUJU dengan pendapat mereka. Karena saya sendiri pun sudah membuktikannya.

Setiap kali mengajar di Sekolah-Menulis Online, juga ketika mengisi pelatihan penulisan, saya selalu menyampaikan hal seperti itu kepada para peserta.

Tapi seperti yang saya sebutkan di atas, teori dan kiat menulis juga tentu diperlukan.

Bagaimana bila seorang penulis pemula misalnya, menulis secara spontan, dengan gaya semau dia, sesuka-suka dia, karena dia hanya menerapkan kiat MENULIS MENULIS MENULIS? Dia hanya menulis, menulis dan terus menulis sesuka dan semau-mau dia?

Lalu ketika tulisan dia dikirim ke sebuah majalah untuk dimuat, ternyata ditolak mentah-mentah. Penyebabnya, dia mengirim sebuah naskah yang dia sebut cerpen, tapi ternyata oleh si redaktur naskah tersebut dianggap bukan cerpen.

“Ini bukan cerpen, puisi juga bukan, esai juga bukan, resensi juga bukan. Entah tulisan jenis apa ini. Tidak jelas. Kualitasnya juga payah, bikin saya mau muntah membacanya.”

Hehehe…. maaf, komentar seorang redaktur pasti tidak se-sadis itu. Mereka tentu akan menggunakan kalimat yang lebih sopan dan enak didengar. Saya menulis seperti itu hanya sebagai gambaran saja. Gambaran tentang seorang penulis yang hanya menerapkan kiat MENULIS MENULIS MENULIS.

Nah, dari gambaran di atas, jelaslah bahwa MENULIS MENULIS MENULIS saja ternyata tidak cukup.

Sebab segala sesuatu di dunia ini – TERMASUK MENULIS – pasti memiliki kaidah-kaidah dan aturan-aturan tertentu. Pasti ada teori-teori dan kiat-kiatnya, yang disusun berdasarkan pengalaman di masa lalu.

Dan agar seorang penulis tidak sampai mendapat perlakuan seperti yang saya tulis di atas, mereka tentu harus mempelajari kiat-kiat dan teori-teori yang ada. Mereka juga harus mempelajari kaidah-kaidah yang berlaku di dunia penulisan.

* * *

Hanya saja, di sinilah titik krusialnya:
Memang, kiat dan teori menulis itu penting. Tapi jangan sampai kita salah kaprah dalam menerapkannya. Jangan sampai kita justru terbelenggu olehnya ketika menulis.

Intinya:

  1. Benar bahwa ketika Anda baru MULAI belajar menulis, yang Anda butuhkan hanyalah MENULIS MENULIS MENULIS. Itu saja. Titik.
    .
  2. Dan ketika Anda hendak meningkatkan kualitas tulisan-tulisan Anda, ketika Anda hendak membuat naskah yang sesuai dengan kaidah-kaidah yang disepakati oleh masyarakat, maka mempelajari teori/kiat/kaidah menulis tentu sangat diperlukan.

Tapi, seperti yang juga sudah saya bahas di atas, kita tentu saja harus memperlakukan kiat/teori/kaidah tersebut secara BENAR. Proporsional. Pada Tempatnya:

(1) Jangan sampai kita terbelenggu oleh kiat/teori penulisan. Sebab mereka ini hanyalah alat bantu. Sebagai alat bantu, seharusnya merekaa bisa membantu kelancaran proses penulisan, dan membantu meningkatkan kualitas tulisan-tulisan kita.

Bukan sebaliknya 🙂

Nah, gar kita dapat memperlakukan teori/kiat/kaidah tersebut secara benar, wajar, proporsional, agar dia bisa membantu memperlancar proses penulisan dan meningkatkan kualitas tulisan kita, maka yang kita butuhkan adalah: KIAT MENULIS BEBAS!

Masih ingat kan, dengan kiat ini? Jika sudah lupa atau bila belum membacanya, silahkan dibaca di sini >>

(2) Jangan sampai pula, kita menjadi penulis yang hanya hobi mengoleksi kiat/teori penulisan, juga mengoleksi sertifikat pelatihan penulisan. Tapi kita justru sama sekali belum pernah mulai menulis.

Nah, untuk mengatasi masalah seperti ini, coba Anda simak tulisan yang satu ini >>

* * *

Demikianlah pembahasan saya terhadap perbincangan dengan Teh Pipiet Senja di Twitter. Kalau di sana kami terlihat seperti berbeda pendapat, saya kira itu hanya karena salah persepsi saja. Twitter yang hanya 140 karakter memang berpotensi besar menimbulkan salah persepsi. Karena itu, saya coba membahasnya secara lebih detil di sini.

Saya yakin, teh Pipiet Senja bisa menjadi penulis yang sangat hebat seperti saat ini, pasti tidak terlepas dari penguasaan dia terhadap teori, kiat dan kaidah tertentu dalam menulis. Ketika mengisi pelatihan penulisan di berbagai kota dan mancanegara pun, Teh Pipiet pasti sering membagi-bagikan teori/kiat/kaidah yang telah dia praktekkan selama ini.

Dan kalau dipikir-pikir, bukankah rumus MENULIS MENULIS MENULIS yang dilontarkan oleh para penulis senior tersebut pun merupakan sebuah teori/kiat juga?

Hehehehe….

Oke, walau secara khusus tulisan ini saya peruntukkan bagi Teh Pipiet Senja, seorang penulis senior yang sangat saya kagumi dan hormati, tapi semoga bermanfaat juga bagi Anda, para pembaca sekalian 🙂

Oh ya, silahkan follow my Twitter: @jonru

* * *

Terima Kasih, Salam Sukses untuk Anda!

Jonru

Founder & Mentor Sekolah-Menulis Online
Cara Modern Menjadi Penulis Hebat
http://www.SekolahMenulisOnline.com

Penulis Buku “Menerbitkan Buku Itu Gampang!”
Panduan Langkah-langkah Penulisan & Penerbitan Buku untuk Pemula
Silahkan pesan di http://www.MenerbitkanBukuItuGampang.com

Penulis Buku “Cara Dahsyat Menjadi Penulis Hebat!”
Buku Pertama di Indonesia yang Tidak Sekadar Berisi Kiat Jitu di Bidang Penulisan,
Tapi Juga MOTIVASI TERBAIK untuk Memandu Anda Mewujudkan Impian sebagai Penulis Sukses!
Klik http://www.PenulisHebat.com

Iklan

16 responses to “Kiat Menulis Itu Tidak Perlu, Jenderal!

  1. Ping-balik: Tweets that mention Kiat Menulis Itu Tidak Perlu, Jenderal! | Jonru on the Web -- Topsy.com

  2. benar bang Jonru.

    kalau membaca tulisan di atas. ada 2 persoalan yang belum menemukan titik temu.

    antara anjuran untuk Menulis, Menulis dan Menulis.Dengan waktu yang tepat menerapkan Teori.

    dari sini semakin jelas solusinya.

    Suka

  3. benar sekali seperti disampaikan teh pipiet itu mas, saya juga mengalaminya…seingat saya sudah sejak 2000 hingga 2009 kemarin saya mengikuti kursus penulisan, tetapi kemampuan saya menulis tak juga meningkat…tulisan saya biasa-2 saja. malah, setelah lama berhenti menulis, kemampuan saya juga menurun…berbeda dengan ketika saat saya masih rajin menulis, sepertinya mengalir saja…
    saya setuju, untuk menulis itu tak perlu kiat2 khusus, melainkan kita harus konsisten menulis, menulis dan menulis, serta banyak membaca karya orang (tak lupa juga membaca karya sendiri). saya yakin dengan begitu kemampuan kita akan bertambah…keep in writing mas…

    Suka

  4. Nice Article, inspiring. Aku juga suka nulis artikel bidang bisnis di blogku : http://www.yohanwibisono.com, silahkan kunjungi, mudah-mudahan bermanfaat. thx

    Suka

  5. menulis… menulis… dan menulis…
    semangat mas !

    Suka

  6. Menulis membutuhkan keajegan sehingga membuat jadwal penulisan akan snagat membantu, walau dalam jadwal itu hanya satu paragraf yang kita hasilkan. Yang terpenting menulis….. menulis dna menulis

    Suka

  7. menulis menulis menulis di tambah sedikit teori dan tips sama dengan penulis hebat …

    Suka

  8. saya setuju jendral, semua aturan itu membelenggu…

    Suka

  9. selamat dan sukses ya…

    Suka

  10. terima kasih pak jonru,
    baca postingan ini jadi tambah ilmu,
    sukses selalu pak jonru,

    salam.

    Suka

  11. Ping-balik: Dalam Menulis, Pentingkah Menguasai Tata Bahasa? | Jonru on the Web

  12. Ping-balik: Kiat Menulis Bebas: Kiat Paling Jitu agar Kita Selalu Lancar Menulis! « Wahyu Nobe

  13. Wah…Menulis, menulis, meenulis,,,,setuju baget

    Suka

  14. mungkin penulis pemula harus berkomitmen terhadap dirinya sendiri ya? misalnya: setiap hari setidaknya menyisihkan waktu setengah jam untuk menulis.

    Suka

  15. Salam.
    Saya pribadi menyakini, bahwa banyak membaca dan banyak menulis, merupakan kunci para penulis hebat tersebut, hal yang tak bisa di ikuti jika kita tidak konsisten.
    Apa yang di sebut dengan kepekaan gramatikal oleh Pak Mulyadi Kertanegara harus sejalan dengan menulis tanpa beban yang di ungkapkan Mas Hernowo.
    Menulis tanpa beban biasanya harus di terapkan saat menulis, dan kepekaan gramatikal (tata bahasa, teori, kiat) bisa di terapkan saat mengedit tulisan. Bagi saya harus ada porsi tersendiri antara menulis dan mengedit, dan biasanya penulis pemula seperti saya sering kali melakukannya bersamaan, karena ada tuntutan ingin sempurna dari awal, sebuah virus psikologis yang sering di idap para penulis pemula, bahkan inilah yang memunculkan Writer’s block.
    Salam.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s