Ibuku, Bunda Terakhir pada Keluarga Besar Kami


hari_ibu_ibunda

Mamak - ibunda tercinta - bersama anak kedua kami, Syafiq. November 2009.

Setahun lalu, tepatnya awal November 2009 saat ayah kami meninggal dunia, ada  yang berbeda di hati saya ketika menatap Mamak, ibunda tercinta. Entah kenapa, rasa cinta saya padanya semakin besar. Saya membayangkan betapa pilunya hati beliau karena ditinggal selamanya oleh orang yang selama ini paling setia menemani  hidupnya.

Kini, Mamak bukan hanya “sendirian” dalam arti tak lagi punya suami. Dia juga sekaligus menjadi satu-satunya ibu yang masih hidup pada keluarga besar kami.

“Keluarga besar” yang saya maksud adalah keluarga yang “bernaung” di bawah keturunan kakek buyut dari pihak ayah. Di sana ada mendiang kakek kandung saya beserta saudara kandungnya, plus para keturunan mereka, termasuk ayah kandung saya dan saya sendiri tentu saja.

Pada budaya Batak Karo, semua saudara laki-laki dari ayah (baik saudara kandung maupun sepupu) disebut Bapa. Jadi saya memanggil ayah kandung saya dengan sebutan Bapa. Demikian juga abang kandung dan saudara sepupu ayah saya yang laki-laki, semuanya saya panggil Bapa. Bahkan, para istri mereka saya panggil Nande. Memang peraturan adatnya seperti itu 🙂

Tapi khusus ibu kandung saya, sejak dulu saya memanggilnya Mamak, bukan Nande.

Jadi dapat Anda bayangkan, saya punya demikian banyak ayah dan banyak ibu. Inilah salah satu budaya Batak Karo yang unik dan membuat saya bangga.

* * *

Tanggal 4 November 2009 lalu, saat ayah kandung saya meninggal dunia, kami berkumpul di Binjai, Sumatera Utara. Para saudara pun berdatangan.

Saat itulah, seorang saudara berkata. “Nande Uda,” katanya menyapa Mamak. “Sekarang dari semua Nande kami, tinggal Nande Uda yang masih hidup. Kami berharap Nande Uda tetap sehat dan bisa terus menemani kami.”

Mendengar ucapan itu, saya merenung dan seketika sadar. Ternyata memang benar. Mamak adalah satu-satunya Nande pada keluarga besar kami yang masih hidup. Yang lainnya sudah tiada.

Padahal usia Mamak saat ini sudah cukup uzur. Hampir 80 tahun.

Alhamdulilllah, saya merasa amat bersyukur. Mungkin ini pertanda bahwa Allah masih memberikan kami kesempatan untuk berbakti dan membalas jasa-jasa beliau. Kami tentu saja tak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini.

Selamat Hari Ibu untuk Para Ibu Hebat di Seluruh Dunia!

Terima Kasih dan Salam Sukses!

Jonru

NB:  Sebuah cerita mengenai ibu saya bisa dibaca pada artikel “Mamak yang Smart dan Pemberani”

Iklan

8 responses to “Ibuku, Bunda Terakhir pada Keluarga Besar Kami

  1. Smoga mamak diberi panjang umur dan diampuni serta mendapatkan ridho ALLAH…
    Salam sejahtera dan penuh cinta kasih sayang. .

    Suka

  2. Ping-balik: Tweets that mention Ibuku, Bunda Terakhir pada Keluarga Besar Kami | Jonru on the Web -- Topsy.com

  3. semoga Mamak selalu dalam lindungan ALlah…

    Selamat Hari Ibu…. 🙂

    Suka

  4. Semoga mamak selalu diberikan kesehatan dan senantiasa berada dalam lindungan Tuhan, amin…. 🙂

    Suka

  5. Semoga para ibu,bunda,umi,nande selalu diberikan perlindungan dan kesehatan dari-Nya

    Suka

  6. meski udah terlewat, pengen ngucapin Selamat hari Ibu buat mak di desa, maapin anakmu ini yang blum bisa berkunjung pulang.. I love U pull mak.. smoga Allah selalu memberikan kesehatan dan perlindungan buat emak..

    Suka

  7. Ping-balik: Praba Nyoba Ngeblog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s