Dalam Menulis, Pentingkah Menguasai Tata Bahasa?


tata bahasaKetika pertama kali mendirikan Sekolah-Menulis Online (SMO) tahun 2007 lalu, saya merasa surprise luar biasa, karena salah seorang pendaftarnya adalah Oma Ning Harmanto. Dia seorang pengusaha sukses dan sudah menerbitkan 18 buku, yang semuanya best seller! Saya tak habis pikir, “Mengapa penulis sehebat dia masih mau belajar menulis bersama saya?”

Dalam sebuah kesempatan, saya pun bertanya pada beliau. Dan inilah jawaban dia (saya tulis ulang, insya Allah tanpa mengurangi maknanya):

“Saya sering heran terhadap kerja editor. Begitu menerima naskah saya, langsung mereka edit, dan setelah itu diterbitkan. Memang tulisan saya menjadi lebih bagus. Tapi saya tidak tahu di mana kekurangannya. Saya sudah menerbitkan banyak buku, tapi cara kerja editor yang seperti itu membuat saya tidak tahu bagaimana cara meningkatkan kualitas tulisan-tulisan saya. Nah, saya bergabung dengan SMO dengan tujuan untuk belajar tentang cara memperbaiki tulisan-tulisan saya.”

Saya pun manggut-manggut, dan rasa penasaran itu pun hilang. Saya jadi ingat salah satu fenomena di dunia penulisan kita: Banyak sekali penulis yang belum menguasai tata bahasa. Tragisnya, mereka pun tidak termotivasi untuk mempelajari keahlian yang satu ini. Kenapa? Mungkin salah satu sebabnya adalah cara kerja editor seperti yang diceritakan Oma Ning Harmanto di atas.

Tapi kita juga tidak mungkin menyalahkan editor/redaktur. Memang cara kerja mereka seperti itu. Mereka sangat sibuk dan tentu tak punya waktu untuk memberitahu para penulis tentang cara memperbaiki kualitas naskah. Lagipula, itu bukan bagian dari tugas mereka. Kalau Anda ingin belajar tentang cara memperbaiki kualitas tulisan, bergabunglah dengan pelatihan penulisan, seperti Oma Ning Harmanto yang mendaftar di SMO 🙂

* * *

“Oh, jadi belajar tata bahasa itu memang penting, ya? Seberapa pentingkah itu?”

Mungkin Anda bertanya seperti ini. Ketika saya mengajar di depan peserta Kelas Tatap Muka Writers Academy beberapa waktu lalu pun, ada seorang siswa yang juga menanyakan hal serupa. Dia penasaran, apakah untuk menghasilkan tulisan yang bagus, kita harus mempelajari tata bahasa – termasuk EYD – secara khusus?

Nah, menurut saya begini ya:
Ada tiga fakta penting yang harus kita sadari dalam konteks tata bahasa:

Fakta I:
Walau tata bahasa Anda sangat buruk, jangan khawatir karena ada editor atau redaktur yang bertugas untuk memperbagusnya. Banyak sekali penulis yang tidak menguasai tata bahasa, tapi mereka berhasil menerbitkan buku, atau tulisan-tulisan mereka dimuat di berbagai media cetak.

tata_bahasa_goryskeraf

Ini salah satu buku panduan saya dalam belajar tata bahasa Indonesia

Salah satu sebabnya: Setiap media cetak punya redaktur dan setiap penerbit punya editor. Mereka dibayar - ANTARA LAIN – untuk memperbaiki tata bahasa dari naskah-naskah yang diterima (NB: Saya memberi tekanan pada kata “antara lain” karena tugas editor/redaktur sebenarnya tidaklah sebatas mengedit naskah. Masih banyak jenis pekerjaan lain yang biasanya mereka tangani).

Fakta II:
Semua orang pasti senang bila kita membuat tugas mereka terbantu, bukan? Nah, editor/redaktur pun demikian. Bila mereka menerima naskah yang tata bahasanya belepotan, mereka mungkin membacanya sambil tersenyum kecut, “Seandainya enggak disuruh sama Si Bos, malas banget gue membaca naskah yang satu ini!”

Bayangkanlah bila si editor menerima naskah yang tata bahasanya sudah sangat bagus. Dia akan tersenyum cerah dan berkata di dalam hati, “Kalau semua naskah seperti ini, kan enak. Kerjaan ngedit gue jadi lebih ringan.”

Intinya, naskah yang tata bahasanya sudah bagus berpotensi lebih besar untuk MEMBUAT SENANG si editor/redaktur.

Tapi jangan salah sangka:
“Membuat senang” dan “pasti dimuat” adalah dua hal yang berbeda. Yang saya maksud pada uraian di atas adalah: Si editor/redaktur merasa senang membaca naskah Anda karena tata bahasanya bagus. Titik. Hanya sebatas itu.

Soal apakah setelah membaca dan mempelajari naskah Anda, si editor/redaktur memutuskan untuk memuat/menerbitkan atau menolaknya, itu adalah hal yang berbeda. Sebab untuk menentukan suatu naskah yang “layak muat” atau “layak terbit”, tentu masih banyak unsur lain yang perlu dipertimbangkan.

Fakta III:
Keahlian apapun yang kita miliki, akan semakin bagus dan berkembang bila kita menguasai ALATNYA.

Contoh: Alat bagi seorang fotografer adalah kamera. Bila seorang fotografer telah menguasai jenis-jenis kamera, cara kerja kamera dan seterusnya, maka dia akan sanggup menghasilkan karya foto yang lebih berkualitas.

Menulis pun sama seperti itu. Tata bahasa adalah salah satu alat kita dalam menulis. Maka bila Anda sudah memahami tata bahasa (“Subjek + Predikat + Objek”, pokok kalimat, “kalimat tunggal vs kalimat majemuk” dan seterusnya), maka insya Allah Anda akan lebih mudah dalam menghasilkan tulisan yang berkualitas.

Tapi harap hati-hati:
Ada titik kronis yang perlu Anda waspadai sehubungan dengan Fakta III ini:

Jangan sampai penjelasan saya ini membuat Anda terhambat dalam menulis. Jangan sampai teori-teori tentang tata bahasa menghantui Anda ketika menulis, sehingga Anda menjadi mandeg, tak bisa menulis apapun.

Bila ini yang terjadi, maka yang perlu Anda lakukan adalah menerapkan Kiat Menulis Bebas. Intinya: Ketika tahap awal menulis, silahkan menulis secara bebas, sekehendak Anda, tidak perlu memikirkan apapun, termasuk tata bahasa. Barulah ketika tahap revisi, Anda boleh memikiran tata bahasa, dan merevisi naskah Anda sesuai dengan tata bahasa yang berlaku.

tata_bahasaKiat selengkapnya silahkan dibaca di sini. Jangan lupa baca juga tulisan saya yang berjudul “Kiat Menulis Itu Tidak Perlu, Jenderal!”.

* * *

Dari penjelasan di atas, kesimpulan apa yang bisa kita ambil? Begini:

Fakta I tentu saja bisa membuat siapapun malas belajar tata bahasa, termasuk saya 😀

Fakta II memang benar. Atau setidaknya, HAMPIR SEMUA redaktur/editor lebih senang membaca naskah yang tata bahasanya bagus.

Tapi kita harus akui pula, bahwa untuk membuat seorang editor/redaktur senang pada tulisan kita, caranya BUKAN HANYA dengan membuat naskah yang tata bahasanya bagus. Bisa saja seorang editor menyukai suatu naskah yang tata bahasanya sangat buruk, misalnya karena si pemilik naskah rajin memberi perhatian khusus terhadap si editor 🙂

* * *

Dari Fakta I dan II di atas, jelaslah kesimpulannya bahwa belajar dan memperdalam tata bahasa sebenarnya tidak penting-penting amat. Tapi jangan bersorak gembira dulu 🙂

Kita belum membahas Fakta III:
Apakah Anda ingin menghasilkan tulisan yang benar-benar bagus, menarik bagi pembaca, berkualitas tinggi, bahkan layak menjadi pemenang lomba menulis tingkat nasional?

Bila ya, maka belajar tata bahasa adalah salah satu langkah jitu yang bisa Anda lakukan.

Dengan kata lain:
Bila Anda malas belajar tata bahasa setelah menemukan Fakta I dan II di atas, coba lupakan saja kedua fakta ini. Mari konsentrasikan diri kita pada Fakta III.

Bila Anda memahami Fakta III ini dan mau belajar tata bahasa secara lebih serius, maka percaya dan yakinlah: Hasilnya nanti untuk DIRI ANDA SENDIRI. Sebab dengan menguasai tata bahasa yang baik dan benar, maka Anda punya peluang besar untuk menghasilkan kualitas tulisan yang jauh lebih bagus.

NB: Memang kualitas tulisan TIDAK HANYA ditentukan oleh tata bahasa. Masih banyak faktor lainnya. Tapi penguasaan tata bahasa yang baik bisa menjadi salah satu faktor yanga menentukan kualitas tulisan kita.

* * *

“Oke. Saya kini paham bahwa belajar tata bahasa sangat penting untuk meningkatkan kualitas tulisan-tulisan saya. Tapi di mana saya bisa belajar tata bahasa?”

Secara pribadi, saya belajar tata bahasa dari sebuah tempat yang pasti sudah sangat familiar bagi kita semua: BANGKU SEKOLAH.

Modal utama saya dalam menguasai tata bahasa adalah pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dulu, mulai SD hingga SMA. Alhamdulillah, saya merasa bersyukur karena sejak dulu saya sangat senang pada pelajaran Bahasa Indonesia. Saya juga pernah belajar tata bahasa dari sejumlah buku panduan, antara lain karangan Gorys Keraf.

Bagi Anda yang ketika sekolah dulu tidak pernah serius belajar Bahasa Indonesia, saran saya jangan berkecil hati, menyesal atau kecewa. Yang perlu Anda lakukan adalah membeli atau meminjam buku tata bahasa dari anak atau keponakan atau tetangga Anda yang masih SD, SMP atau SMA, lalu pelajari itu dengan sungguh-sungguh. Atau, silahkan cari buku tata bahasa Indonesia yang – mudah-mudahan masih – banyak tersedia di toko buku kesayangan Anda 🙂

Dan salah satu cara jitu lainnya dalah mempelajari tata bahasa adalah: RAJIN MEMBACA.

Sebab dari buku-buku yang dibaca, kita bisa sekalian belajar banyak hal, termasuk bagaimana penerapan tata bahasa di dalam buku tersebut. Coba Anda baca penjelasan lengkapnya pada tulisan yang satu ini.

Semoga Bermanfaat dan Salam Sukses!

Jonru
Founder & CEO Writers Academy

Iklan

21 responses to “Dalam Menulis, Pentingkah Menguasai Tata Bahasa?

  1. Ping-balik: Tweets that mention Dalam Menulis, Pentingkah Menguasai Tata Bahasa? | Jonru on the Web -- Topsy.com

  2. artikel diblog saya masih belepotan.
    Gak apalah yg penting komunikatif.

    terus belajar memperbaiki tulisan

    Suka

  3. @ierone 4 famouser: Betul sekali. Memang seharusnya seperti inilah sikap kita dalam menulis. Salam sukses ya 🙂

    Suka

  4. Aspek tata bahasa ini terkadang bisa membuat menghampat proses produksi tulisan atau artikel,karena saya merasa hanya sebagai penulis blog yang masih merasa menulis untuk diri sendiri,perihal tata bahasa sering saya abaikan.

    Tetapi bila untuk penulis buku sepertinya skill ini memang setidaknya sedikit tahu harus di pahami 🙂

    Suka

  5. #blogwalking

    salam pak, masih inget dulu jadi pemateri di Malang gak?
    saya dulu pematerinya…

    tulisannya baguuuus2 deh, mampir ke blog saya juga yaa.. ditunggu komentarnya
    http://rosevioly.blogspot.com

    Suka

  6. Salah satu alasan kenapa saya jarang menghasilkan tulisan adalah karena terlalu memikirkan kaidah dan tata bahasa ketika menulis, Pak. Satu kalimat aja bisa memakan waktu beberpa puluh menit. Benar-benar merepotkan… Tidak heran jarang ada tulisan di blog saya 😦

    Suka

  7. TFS. Saya paling senang menulis bebas, mengenai tata bahasa yang minim mungkin jadi alasan saya untuk terus belajar. 🙂

    Suka

  8. Saya setuju sekali dengan artikel yang bang Jonru tulis. Di dalam menulis, jika bahasanya bagus, yang membaca juga enak, tapi jika tulisan jelek alias tata bahasanya jelek…males ah membacanya. Bang Jonru jagonya…dalam mengelola kata-kata. Salut dan sukses terus…

    Suka

  9. bahasa menunjukkan kualitas sang pemilik blog itu mas..
    jd mmg sangat penting penggunaan bahasa dalam menulis..

    berita bagus pun bsa berkesan jelek klo penggunaan bahasa nya tidak tertata dan rapi..

    salam kenal

    Suka

  10. Menurut saya: tata bahasa akan sangat berguna untuk menulis buku (terutama) ilmiah. Namun lainnya, misal fiksi atau bahkan blog, saya kira tata bahasa tak perlu dipakai sungguh-sungguh.
    Salam kenal

    Suka

  11. buat saya bahasa non baku lebih bagus dibandingkan dengan bahasa baku versi EYD… coz bahasa non baku lebih komunikatif and seakan akan kita berbicara langsung dengan pembaca (that’s my own opinion)
    bdw.. numpang baca pak, skalian nambah ilmu menulis… ^_^

    Suka

  12. Salam kenal mas.

    Wah, jadi orang bahasa itu sulit juga za! Hehehe, dulu saya fikir menjadi orang bahasa itu mudah, karena pelajaran bhs. Indonesia memang mudah. Gampangan jadi orang matematika sama fisika ternyata? Eh tanya dulu, yang benar itu “gampangan jadi orang matematika sama fisika ternyata?” atau “gampangan jadi orang matematika dan fisika ternyata?” “gampangan jadi orang matematika atau fisika ternyata?” atau “gampangan jadi orang matematika dengan fisika ternyata?”, jangan lupa beri penjelasan dan alasan!

    Suka

  13. kalo saya sih nulisnya asal-asalan 😀
    Ngemeng2 markasih banget tipsnya

    Suka

  14. tq brtax, fllow ak ea.

    Suka

  15. saya masih terus belajar dan belajar…khususnya penggunaan tata bahasa

    Suka

  16. Ping-balik: wisata kuliner : antara aku, ide, dan konten | Dapur Blog

  17. Ping-balik: 10 Blog Indonesia Yang Sebaiknya Anda Kunjungi | BintangWeb.com

  18. Ping-balik: 10 Blog Indonesia Yang Sebaiknya Anda Kunjungi « SepedaMotor.web.id

  19. halo saya berasal dari iran , saya ingin belajar tata bahasa indonesia . Apakah anda bisa membantu saya.

    Suka

  20. Terimakasih mas, saya rasa kebutuhan untuk menulis yang berkualitas itu sangat penting apalagi mengenai gaya bahasa, tentunya hal ini perlu lebih di tekankan lagi. Trims great post bro

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s