[Kiat Sukses] “Duh, Harganya Kok Mahal Banget Ya?”


Saya pernah membeli software pembuat file PDF seharga $48. Saya juga sudah membeli script seharga $180 untuk menjalankan bisnis online di WebMerdeka.com dan Writers Academy.

Kalau dilihat dari angkanya, tentu itu mahal banget, kan?

Terus terang, saya pun awalnya berpikir seperti itu. Dan saya yakin, banyak di antara kita yang punya pandangan serupa.

“Lantas kalau mahal, kenapa Pak Jonru beli juga? Apa karena Anda sudah kaya raya?”

Hehehe… bukan itu alasannya 🙂

Pertama: Saya belum termasuk orang yang sangat kaya (setidaknya sampai tulisan ini dibuat)

Kedua: Kita mungkin lupa, bahwa ada DUA JENIS PENGELUARAN yang biasanya kita lakukan:

1. Pengeluaran untuk tujuan konsumtif
Contoh: Membeli mainan untuk putra/putri tercinta, membeli mobil untuk transportasi keluarga, membeli tas untuk dipakai kuliah, dan sebagainya.

Biasanya, pertimbangan kita ketika membeli produk konsumtif adalah:

  • mahal atau murah
  • saya ingin atau tidak
  • saya butuh atau tidak
  • saya sanggup membelinya atau tidak 😀

2. Pengeluaran untuk tujuan investasi
Contoh: Membeli mobil lalu digunakan untuk bisnis persewaan mobil.

Biasanya, pertimbangan kita ketika membeli produk produktif adalah:

  • setelah membeli produk ini, berapa banyak peningkatan profit yang akan saya dapatkan?
  • balik modalnya berapa lama?
  • sudah ada anggarannya atau belum?

Jadi pada pengeluaran investasi, mahal atau murah bukanlah pertimbangan yang terlalu penting. Walau harganya sangat mahal, tapi jika dia bisa mendatangkan profit yang berlipat-lipat, tentu tak ada salahnya dibeli selama anggarannya memang tersedia 🙂

* * *

Selama ini, kita sering mengeluhkan harga software atau tarif pelatihan penulisan yang – menurut kita – terlalu mahal. Kenapa? Karena kita memandangnya dari segi PENGELUARAN KONSUMTIF.

Jadi tidak heran bila selama ini banyak teman yang “mengadu” pada saya:

Pak Jonru, saya ingin sekali menjadi siswa Writers Academy. Tapi kok tarifnya mahal banget, ya?

Ketika membeli software pembuat file PDF seharga $48 dan script bisnis online seharga $180 tersebut, saya menggunakan pola pikir PENGELUARAN INVESTASI:

  1. Saya membeli software seharga $48 (atau sekitar Rp 450.000), lalu saya gunakan sebagai modal untuk membuat dan menjual ebook seharga Rp 50.000. Bila terjadi penjualan sebanyak 9 kali saja, maka saya sudah balik modal.
    .
    (Memang banyak software pembuat PDF yang gratis dan bagus. Tapi yang saya beli ini punya banyak fitur unggulan yang tidak dimiliki oleh produk gratisan. Itu sebabnya saya berani membelinya)
    .
  2. Script bisnis online seharga $180 (atau sekitar Rp 1,7 juta) memang terkesan sangat mahal. Tapi bila saya menyewa jasa seorang programmer untuk membuat script seperti itu, bukankah honor dia bisa mencapai angka tersebut, bahkan lebih besar lagi?
    .
    Lagipula, uang sebesar Rp 1,7 juta ini saya keluarkan untuk mengelola bisnis di WebMerdeka.com dan Writers Academy. Bila ada 4 orang pendaftar untuk Kelas Pemula (yang investasinya Rp 495.000), maka saya sudah balik modal, bahkan mendapat profit sekitar Rp 280.000)

* * *

investasi writers academy

Uang pendaftaran di Writers Academy selalu kami sebut sebagai Investasi

Tahukah Anda kenapa uang pendaftaran pada pelatihan/workshop/seminar manapun, hampir selalu disebut INVESTASI dan bukan biaya? Karena uang yang kita keluarkan untuk mengikuti kegiatan tersebut memang benar-benar investasi. Dari pelatihan tersebut kita akan mendapat banyak ilmu, keahlian, wawasan, dan seterusnya, yang sangat bermanfaat sebagai modal untuk meraih sukses di masa depan.

“Oke kalau begitu. Jadi bagaimana sikap yang baik dalam menghadapi harga suatu produk atau jasa?”

Tentu saja, kita sebaiknya mempelajari dulu apakah produk/jasa tersebut bersifat konsumtif atau produktif. Kalau untuk tujuan konsumtif, tentu sangat wajar bila masalah mahal atau murah menjadi salah satu pertimbangan utama kita.

Tapi jika untuk tujuan produktif, produk/jasa yang – menurut kita – mahal sebaiknya disikapi dengan cara berikut:

  • Jika bagi saya produk/jasa tersebut sangat penting untuk meningkatkan produktivitas, maka saya harus membelinya.
  • Bila anggaran saya belum cukup, maka saya akan menabung, atau saya akan mengusahakan cara lain.
  • Bila ada penawaran produk/jasa dengan kualitas yang sama tapi harganya lebih murah, tentu saya akan memilih yang lebih murah. Tapi bila yang mahal tersebut lebih berkualitas, memilih yang mahal adalah pilihan terbaik.

Bila kita sudah punya pola pikir seperti ini untuk produk/jasa yang bersifat produktif, maka yakin deh… kita tak akan pernah lagi mengeluhkan harga yang “mahal”.

Investasi pada pelatihan penulisan misalnya. Banyak orang yang beranggapan bahwa tarif Rp 990.000 untuk belajar selama 2 bulan di Writers Academy Kelas Online itu terlalu mahal. Padahal bila ada handphone yang harganya lebih besar dari itu, mereka menganggap itu murah, dan sangat bersemangat untuk membelinya.

Padahal handphone tersebut mungkin ditujukan untuk keperluan konsumtif belaka (bahkan sering hanya untuk meningkatkan gengsi dan ikut tren). Sedangkan mengikuti pelatihan penulisan merupakan investasi yang sangat berharga bagi masa depan.

Apakah kita selama ini menganggap bahwa gengsi dan ikut tren jauh lebih penting dibanding investasi untuk masa depan?

Semoga bermanfaat dan salam sukses selalu!

Jonru
Follow me at Twitter: @jonru

Iklan

8 responses to “[Kiat Sukses] “Duh, Harganya Kok Mahal Banget Ya?”

  1. Masalahnya kadang orang yang ingin berinvestasi duitnya sdah habis buat membeli barang yang kurang berguna seperti hp yang ikt trend 😀

    Moga pada sadar. . termasuk saya ya ^_^

    Suka

  2. Ping-balik: Dilema harga mahal « pieliciouslife

  3. saya sependapat mas.
    Harga murah dan mahal saya kira lebih kepada seberapa penting apa yang akan kita beli untuk diri kita. Walau bagus, kalau tidak dianggap penting dan membantu juga tidak akan dibeli.

    Ini juga terkait pada konsep menghargai diri sendiri. Seberapa mahal kita menghargai diri sendiri. Tentunya ketika kita menghargai diri sendiri, kita akan melakukan apapun yang meningkatkan kualitas diri, termasuk investasi dalam pelatihan-pelatihan pengembangan diri.

    Suka

  4. saya donlod. makasih =)

    Suka

  5. kalo ada rejeki ah.. terima kasih informasinya, pak jonru 🙂

    Suka

  6. mahal di awal untung di ahir. sebuah investasi yang patut di tiru. masalahnya saat ini saya belum sampai situ maklum masih banyak tanggungan :)).

    Suka

  7. untuk investasi emang butuh pengorbanan, namun itu akan tergantikan sebuah keuntungan. tapi dalam memilih iventasi harus benar2 bijak dan bisa dipertanggung jawabkan jika tidak ingin buntung bukan untung. 🙂

    Suka

  8. there are no free stuff in this world… hehe beli sesuatu aja harus pakai tenaga. jadi sebenarx apapun itu buth investasi baik dalam bentuk uang ataupun tenaga

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s