Menulis Cerpen Lebih Mudah Ketimbang Menulis Novel, Benarkah?


cara_membuat_novelSaya menemukan banyak penulis pemula yang punya pola pikir seperti judul tulisan ini. Mereka berpikir bahwa menulis cerpen jauh lebih mudah ketimbang novel. Alasannya:

“…cerpen itu tulisan singkat, sedangkan novel sangat banyak jumlah halamannya. Menulis naskah singkat pasti lebih mudah ketimbang menulis naskah panjang. Jadi saya mau fokus menulis cerpen dulu sebagai latihan. Setelah pintar menulis cerpen, saya akan beralih ke novel.”

Benarkah pola pikir seperti ini?

Jawabannya TIDAK!

Kalau tidak percaya, coba Anda simak sosok tiga penulis Indonesia yang paling terkenal saat ini:

  • Andrea Hirata (Laskar Pelangi)
  • Habiburrahman El Shirazy (Ayat Ayat Cinta)
  • Ahmad Fuadi (Negeri 5 Menara)

Karya pertama mereka (juga karya-karya selanjutnya) yang terbit adalah NOVEL. Setahu saya, mereka bahkan belum pernah menerbitkan karya berupa cerpen. Ketika mencoba memastikan hal ini dan searching lewat Google, saya ketemu sebuah tweet Ahmad Fuadi di Twiter yang berbunyi:

Sedang belajar menulis cerpen. Belum pernah sebelumnya

 ahmad_fuadi

Setahu saya, ada sejumlah penulis fiksi yang memang beranggapan bahwa menulis novel jauh lebih mudah ketimbang cerpen. Salah satu penulis yang seperti ini adalah Leyla Imtichanah. Sejak meniti karir sebagai penulis, dia sudah menerbitkan banyak buku, dan semuanya berupa novel. Ela (demikian dia bisa dipanggil) mengaku kesulitan dalam menulis cerpen.

Hal yang sebaliknya terjadi pada Helvy Tiana Rosa. Mungkin banyak di antara kita yang belum tahu bahwa sastrawan terkenal dan pendiri Forum Lingkar Pena ini termasuk penulis yang merasa kesulitan dalam menulis novel. Dari puluhan buku yang telah dia terbitkan, hampir semuanya berupa cerpen atau nonfiksi.

Setahu saya (maaf bila keliru), satu-satunya naskah “novel” mbak Helvy yang sudah terbit adalah Gadis Bening, tapi bukan dalam bentuk buku tersendiri. Ia jadi bonus pada buku “Ketika Mas Gagah Pergi” cetakan kedua. Bahkan, ini sebenarnya bukan novel, tapi novelet yang jumlah halamannya jauh lebih sedikit ketimbang novel.

* * *

Jadi teman-teman sekalian….
Sebenarnya tidak ada rumus baku bahwa menulis cerpen lebih mudah dibanding novel. Atau sebaliknya.

Bahkan dalam lingkup yang lebih besar, juga tak ada rumus baku bahwa menulis cerpen/novel jauh lebih mudah ketimbang menulis artikel, atau sebaliknya.

Selama ini, banyak teman yang berkata pada saya, “Menulis cerpen itu mudah banget, tapi menulis artikel kok susah ya?”

Ada pula teman yang berkata sebaliknya 😀

Mudah atau susah itu sebenarnya sangatlah relatif. Tiap penulis punya preferensi dan keunikan masing-masing.

Jadi janganlah kita menggeneralisir bahwa semua penulis sama saja. Ada penulis yang jago menulis novel, tapi angkat tangan ketika disuruh menulis karangan ilmiah. Ada penulis yang sangat piawai menulis esai, tapi mati kuti ketika disuruh menulis cerpen. Dan seterusnya.

“O, gitu ya? Baru tahu nih! Kalau Mas Jonru sendiri termasuk penulis yang seperti apa?”

Hm…
Saya termasuk penulis yang memulai karir dari penulisan fiksi (cerpen dan novel). Dulu saya bahkan punya mimpi untuk menjadi seorang sastrawan terkenal seperti Seno Gumira Ajidarma. Tapi coba baca cuplikan “curhat” berikut yang pernah saya posting di sini:

Sebelumnya, saya sangat ngotot untuk menjadi penulis fiksi. Tapi pengalaman membuktikan, ternyata saya lebih produktif di bidang nonfiksi. Maka, sejak akhir tahun 2005 lalu, saya mencoba lebih berkonsentrasi di penulisan nonfiksi. Tapi bukan berarti fiksi saya tinggalkan. Tetap saya geluti, tapi tidak lagi se-ngotot dulu.

Bahasa gamblangnya begini:

  1. Kalau saya menulis cerpen yang hanya 10 halaman, bisa 2 tahun baru selesai. Sungguh! Ini bukan hiperbola, tapi fakta 🙂
  2. Kalau menulis artikel, dalam waktu 30 menit bisa jadi puluhan halaman (apalagi bila data referensinya cukup)
  3. Ketika berkumpul dengan teman-teman sesama penulis fiksi, entah kenapa saya merasa asing, merasa bukan bagian dari mereka.
  4. Ketika berkumpul dengan teman-teman sesama penulis nonfiksi, entah kenapa saya merasa sangat nyaman dan “gue banget”.

Itulah sebabnya, saya akhirnya memutuskan untuk lebih fokus dalam menulis nonfiksi. Adapun fiksi, saya tekuni sesekali saja, tidak terlalu serius.

Tapi anehnya:
Dari segi pemahaman teori, saya lebih kuat di fiksi ketimbang nonfiksi. Kalau disuruh membedah atan mengomentari cerpen, insya Allah saya bisa membuat pembahasan yang sangat komprehensif. Tapi kalau mengomentari tulisan nonfiksi? Terus terang, saya sering kekurangan bahan untuk dibahas 😀

Itulah sebabnya, di Writers Academy saya ditempatkan sebagai pengajar untuk kelas fiksi.

Mengapa saya “aneh” seperti ini?
Mungkin karena saya mengawali karir sebagai penulis cerpen/novel, dan fokus di sana secara intensif dan mendalam selama bertahun-tahun. Alhamdulillah, saya bahkan sudah banyak membaca buku teori/panduan penulisan fiksi. Sedangkan untuk nonfiksi, selama ini saya menulis secara otodidak saja, dan jarang membaca buku teori/panduannya.

Lantas, kelemahan saya adalah dalam menulis karangan ilmiah. Saya benar-benar mati kutu kalau disuruh menulis naskah jenis ini. Dulu ketika Skripsi, salah satu hambatan terbesar saya adalah ketika proses penulisannya. Saya bahkan harus banyak meniru kalimat dari skripsi lain, karena saya kesulitan dalam membuat kalimat sendiri, hehehe… 😀

Saya Cocoknya pada Jenis Tulisan Apa?

Anda mungkin bertanya seperti ini, setelah membaca uraian saya di atas.

Jawaban saya:
Pertanyaan seperti ini tak perlu Anda tanyakan!

Yang penting, mulai sajalah menulis dari hal-hal yang paling Anda sukai dan kuasai. Follow your passion 🙂

Setelah sering dan punya banyak pengalaman dalam menulis, yakni deh… suatu saat nanti Anda akan ketemu sendiri, “O, ternyata saya lebih cocok pada jenis tulisan ini.”

Saya juga seperti itu, kok. Saya jalani saja semuanya apa adanya, seperti air yang mengalir tanpa perlu banyak berpikir dan bertanya-tanya. Dan alhamdulillah, kini saya sudah menemukan jati diri yang unik dalam menulis.

Semoga bermanfaat dan salam sukses!

Jonru
Follow me: Twitter@jonru

Iklan

18 responses to “Menulis Cerpen Lebih Mudah Ketimbang Menulis Novel, Benarkah?

  1. Salam,
    Sungguh luar biasa memang ketika kita berkecimpung dalam dunia tulis menulis, semua ekspresi akan keluar (walaupun acak-acakan 🙂 hehe…) seperti ombak yang menggulung di lautan lepas.
    Menulis memang sangat mudah tapi juga sangat sulit. Saya contohnya, sulit dalam mendapatkan ide, sulit merangkaikan redaksi kalimat, dan sulit dalam menentukan akhir tulisa. Namun, ketika semuanya muncul ke permukaan, kemudahan segera “menggerayangi” saya untuk melanjutkan satu tulisan.
    Terimakasih mas Jonru atas pengetahuan inspiratifnya. Apabila berkenan, mohon penilaian atas beberapa tulisan saya di blog http://initialdastroboy.wordpress.com
    Terimakasih

    Salam hangat,
    Dian Kurnia

    Suka

  2. terimakasih informasi tentang perbandingan antara cerpen dan novel….saya lebih mudah menulis cerpen

    Suka

  3. kalau saya mendingan nulis cerpen daripada novel.lebih mudah

    Suka

  4. Kalo saya, susah dua-duanya mas.
    Jangan kan novel atau cerpen.
    Nulis satu artikel saja, kadang-kadang sampai berhari-hari.
    Maklum pengalaman menulis saya juga baru seumur jagung.
    Malah kadang saya pikir tulisan-tulisan yang saya buat di blog belum cukup untuk disebut sebagai artikel.

    Suka

  5. Terimakasih ya Bang Jonru atas kesediaanya untuk berbagi ilmu dan pengalaman dengan kami. Setelah mengikuti 9 newsletter gratis dari grup penulis lepas : ), saya juga memperoleh kesempatan mendapatkan artikel-artikel Bang Jonru yang menambah wawasan dan memompakan semangat untuk tetap berusaha menulis. Maklum passion saya dalam menulis masih naik turun heheheh. Semoga ke depannya saya bisa sperti rekan-rekan yang lain, continue dalam menulis, berbagi hal-hal yang brmanfaat… 🙂

    Suka

  6. kalau saya susah kedua-duanya karena harus membutuhkan waktu lama untuk membuat satu cerpen atau novel. lagi pula susah buat publishnya mensingan ngeblog langsung go public heheh :))

    Suka

  7. Dulu saya pernah menulis ulang cerpen yang dikarang oleh ibu saya yang sudah meninggal.Luar biasa,saya hanya mampu menulis ulang ,tetapi hasilnya cerpen saya mendapat penghargaan di sekolah dan menjadikan saya sebagai redaksi majalah sekolah 😀

    Suka

  8. terimakasih mas…sungguh dengan tulisan di atas saya mendapat pencerahan dari apa yang selama ini mengganjal diri saya…

    Suka

  9. Terimakasih,tulisannya bagus,saya mendapatkan pencerahan yang luar biasa,salam sukses

    Suka

  10. cukup tulis saja apa yg ada dikepala, insyaalah bermanfaat…

    Suka

  11. Saya…
    Lebih lancar menulis novel.
    Cerpen terlalu singkat, rasanya maksud dalam tulisan saya tidak tersampaikan kalau harus berupa cerita pendek.
    Keren buat Mbak Helvy yang jadi Queen of Cerpen. ^_^

    Suka

  12. saya lebih suka menulis cerpen daripada novel. Lebih ringkas dan nikmat hahaha 🙂

    Suka

  13. kalo saya lebih suka menulis dua-duanya, kadang bisa menulis cerpen dengan cepat kadang juga menulis novel 🙂

    Suka

  14. cerpen ibarat sebuah ceritapendek yg d ambil dr dongeng ……………………………………………………………………………………………………………………………………………………..?????????????????????????????????????????

    Suka

  15. Terimakasih mas atas tulisan di atas, saat ini saya sedang belajar menulis, inginnya sih nulis novel, belakangan berubah lagi ingin nulis cerpen sebab cerpen kabarnya tidak terlalu panjang, hehehe *ketahuan malasnya*, Dan saya pun googling di sana-sini akhirnya terdampar di web ini, dan saya baca, Ooo ternyata, masing-masing penulis ada uniknya.

    Dan untuk saya pribadi belum bisa menentukan enaknya menulis apa?, kalau pun menulis di blog, itu pun langsung di sambar saja.
    Namun, satu hal yang paling menyenangkan bagi saya dalam menulis adalah, menulis surat cinta, yap, meski pada akhirnya surat cintanya tidak ada yang tembus-tembus,

    Demikian mas, Makasih 😀
    salam.kreatif.

    Suka

  16. sip….. infonya. makasih ya kak…..

    Suka

  17. baguuuusss

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s