Terapi Menulis untuk Menyembuhkan Penyakit Hati dan Pikiran (1)


terapi menulisWah, judul tulisan saya kali ini kok seperti artikel kesehatan ya? 😀

Memang benar. Ini adalah artikel tentang kesehatan, khususnya kesehatan hati dan pikiran kita.

Jangan salah sangka dulu. Saya bukan tiba-tiba berubah profesi menjadi dokter, tabib atau psikolog. Tapi setelah bertahun-tahun menekuni profesi sebagai penulis, saya tiba-tiba sadar bahwa ternyata menulis bisa menjadi obat untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit hati dan pikiran.

Salah satu contoh yang sering saya ceritakan adalah kisah sukses Agnes T Harjaningrum. Di buku Cara Dahsyat Menjadi Penulis Hebat, saya menyediakan beberapa halaman untuk menceritakan bagaimana perempuan yang akrab disapa Bunda Agnes ini berhasil mengatasi stress dan masalah hidupnya dengan cara rajin menulis di blog. Berikut kutipannya:

….Kisah diawali dengan perjalanan hidup Bunda Agnes sebagai seorang dokter di Indonesia. Di rumahnya, dia menikmati hidup yang sangat manja. Bila memerlukan apapun, dia hanya tinggal minta dan semua orang siap meladeni.

Lalu di akhir tahun 1998, suaminya – Ismail Fahmi – memboyongnya hijrah ke Belanda. Inilah awal perubahan hidupnya yang sangat drastis! Di Negeri Kincir Angin, Bunda Agnes tidak bisa membuka praktek sebagai dokter. Mau tidak mau, statusnya sebagai wanita karir pun berhenti, berubah menjadi full time mother. Bahkan, Bunda Agnes yang dulunya sangat manja karena segala sesuatu tinggal minta dan semua orang siap melayaninya, kini harus turun tangan langsung dalam menangani urusan-urusan rumah tangga. Di Belanda, nyaris tak ada orang yang mau menjadi pembantu.

Anda tentu dapat membayangkan, ibu muda ini menjadi stress luar biasa. Dia belum siap menghadapi perubahan hidup yang sangat drastis. Hampir setiap hari dia mengomel dan marah-marah, pikirannya kacau, dia merasa hidupnya sangat buruk.

Melihat keadaan ini, suaminya prihatin dan menyarankan dia untuk menulis di blog. Motivasi yang kuat untuk membebaskan diri dari masalah besar dalam hidupnya, mendorong Bunda Agnes untuk mengikuti saran suaminya ini, padahal dia masih awam mengenai internet, apalagi blog. Tapi dia mau belajar dengan tekun.

Singkat cerita, Bunda Agnes akhirnya memiliki blog dan mengisinya dengan berbagai macam curahan hatinya sebagai seorang ibu rumah tangga. Secara perlahan, dia merasakan perubahan pada hidupnya. Setiap kali selesai menulis, dia merasa bahwa beban pikirannya berkurang. Selain itu, aktivitas menulis di blog menyebabkan dia mengenal banyak teman baru lewat internet. Mereka sering berdiskusi dan curhat mengenai banyak hal. Bunda Agnes pun diajak bergabung dengan berbagai komunitas, dua di antaranya adalah We R Mommies () dan Milis Sehat.

Bunda Agnes akhirnya sadar, kegiatan menulis di blog ternyata membawa demikian banyak keajaiban pada hidupnya. Masalah stress-nya hilang, dia mendapat banyak teman dan pengetahuan baru. Dia bahkan bisa beraktualisasi diri lewat komunitas-komunitas yang diikutinya. Bahkan, yang sangat tak terduga, dia akhirnya berhasil menerbitkan buku, sesuatu yang sama sekali tak pernah dia bayangkan sebelumnya!

Hm… kisahnya benar-benar inspiratif, kan?

terapi menulisSaya sendiri pun sering merasakan bagaimana kegiatan menulis bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit hati dan perasaan yang saya “derita”.

Berikut adalah dua contoh tulisan yang pernah saya buat, sehubungan dengan terapi menulis:

1. Tulisanku = Nasehat Untukku (Di sini saya bercerita tentang kegiatan menulis bisa mencegah saya dari perbuatan maksiat)

2. [Kiat Sukses] Mengubah Kelemahan Menjadi Kekuatan (Di sini saya bercerita tentang kegiatan menulis yang bisa mengatasi salah satu kelemahan saya: minderan)

* * *

Nah, beberapa hari lalu, saya membuat sebuah pertanyaan sederhana di Twitter dan Fan Page saya:

terapi menulis

Siapa yg sudah pernah membuktikan bahwa menulis bisa menjadi terapi diri? Cerita2 dong 🙂

Ternyata respons yang datang dari teman-teman sangat banyak. Berikut saya copy paste semuanya

Dari Twitter:

saya alhamdulillah bisa mengendalikan emosi karena saya jadikan emosi saya sebagai ide cerita dan perasaan dalam karakter serita buatan saya. 😀
jdnya,sdh beberap aorang bilang perasaan yang muncul dicerita saya terasa nyata.. 😀 (@harukazebanri)

Saya. Tiap abis nulis rasanya ploong bgt 🙂 (@nadia_n_n)

clu lg sdih drpd ekspresif mending bkin crpen 🙂 (@FamyAhsa)

yup! bisa bikin plooong… (@adzkia_deztie)

saya, setelah menulis, seolah perasaan jadi lebih terungkap dibanding dengan diucapkan 😀 (@alinwardani)

bagi saya menulis itu bisa meredakan emosi, mengasah otak untuk terus berpikir positif (@endikkoeswoyo)

saya pak, saat sma saya depresi kebetulan juga tertutup orangny, akhirnya teman saya hanya diary. Setelah nulis plog
sampai sekarang kalau sekarang suntuk larinya nulis diblog, jadi bisa di bilang tulisan diblog semua adalah hasil galauan 🙂 (@child_smurf)

Menulis bisa menstabilkan emosi.. 😀 (@aiwulfric)

saya pernah punya unpublish blog, cuma pengen menulis ‘merdeka’ tanpa barier ‘takut dikomen’ rasanya benar2 lega bisa menulis bebas (@andi_krishna)

biasanya kalo lg sedih suka jajan di luar atau menulis, ada rasa lega sekaligus puas, plong & sedih’a berkurang sampe 90% (@oob_ruunii)

jika ada sesuatu yg mengganjal/ sedih, saya biasa menuangkannya dlm tulisan. Begitupun ketika ingin menyemangati diri, saya tuliskn:) (@santi_qh)

Nemu diari jadul, pas dibaca2 lg, nyengir2 sndr, jd nostalgia! Skg jg msh sk nulis. Emg scripta manent verba volant, ya! ^^
Sy jg suka nulis kejadian2 lucu bareng sahabat. Jadi saat slek, ngebaca itu lg jd lupa kl kita lg slek, he he. () (@zetyahardez)

Proven, it’s healing!
saat sedih/ada masalah nulis obatnya, membantu melihat jelas apa yg terjadi, yg sebenarnya sy rasa/inginkan. Kadang solusi.
media tulis teman sejati saat sbuah rahasia tak dpt diceritakan tp perlu diungkapkan hny spy beban ini tak tlalu berat. Lega.
nulis membantu menemukan jati diri. Cuma dg nulis saya bisa belajar berani jd diri sendiri tanpa takut dihakimi. Konsekuensi. (@nthatia)

kalo lagi kesel, biasanya saya nulis.. Dimana aja.. Kadang dibuku, kadang di draft hp.. Setelahnya, lebih lega.. Ekspresi tersalurkan (@die495)

Sy sering mnulis saat pikiran sedang kacau. Setelahnya, alhamdulillah sy kerap temukan pencerahan dari apa yg sy tulis sendiri. (@ewahyudie)

Alhamdulillah,dgn menulis melatih kesabaran (@muadasegab)

wahihihi bener, kenapa saya jg suka ngeblog soalnya otak suka muter muter gak karuan. Dengan menulis bisa jadi lebih tenang. (@jfireman)

Sy Pak, tulisan sy di blog http://learn-english-through-stories.blogspot.com jd obat utk sy dan anak2 sy (@Story4Children)

Setuju bgt ini –> @jonru: RT @endikkoeswoyo: @jonru bagi saya menulis itu bisa meredakan emosi, mengasah otak untuk terus berpikir positif (@planetmiring)

menulis menciptakan kepuasan batin, dibaca orang atau tidak yang penting sudah ditulis. (@jakiumam)

menulis itu obat galau pak 😀 menulis itu adalah penyaluran positif galau2nya anak muda *_* (@diptatanaya)

lagi sedih nulis,pas baca bkin senyum.lagi semangat jg nulis,klo sedih, dibaca bikin semangat 😉 just check azaleav.wordpress.com (@azaleav)

Daripada curhat ga jelas,mending nulis bikin lega (@Yudizzied)

menulis bantu bisnis sy bkembang pesat, muncul ide2 brilian
menulis bantu memicu, menata ide2 brilliant bisnis sy & mempresentasikan ke stake & stock holder scr sistematis agar mudah dipahami (@doddybening)

menulis untuk bahan mengajar, ternyata melatih diri untuk belajar. jika ingin ilmu bertambah, maka menulislah & mengajarlah… 🙂 (@_Onggo)

mnulis: wujud ekspresi hati. Yg ga bs dkatakan, bs dituangkan dlm bentuk yg bisa dibaca *diary, blog, twitter&FB jd medianya 🙂 (@siskasarii)

menulis adalah jembatan perasaan, dengan menulis akan dikenang sepanjang masa (@AhmadImamRoby)

saya hanya yakin dan terus menulis krna Allah. Eh jadi buku best seller. Wktu itu masih SMA. Nulis trus smpai mati. (@fikrihabibullah)

mujarab bgt!!!…sy nulis di BB..and feel so relieve. (@varissaisrina)

Dari Facebook:

minimal bisa terapi hati… klo lagi sumpek biasanya saya menulis dalam catatan harian saya… 🙂 (Nizran Kimjan Paputungan)

bener om
bisa mengurangi emosi..
bisa jadi cara menenangkan diri
serta berbagi (kalau ga ada temen) (Agung Firmansyah)

akuu,, klo lg sedih, trus nulis sesuatu,, sedih BERKURANG,, kalo lg senang trus nulis sesuatu, BERTAMBAH senang. ajaib ya,, *ya minimal, nulis d blog dan note facebook klo aku mah 😀 (Rahma Ramcil)

Klo aku da masalah obat.a itu nulis,, dripada cerita ma orang laen ‘gak asik’.. (Nurul Handayani)

Menulis itu adalah expresi luberan isi kepala ..kalo sudah tersalurkan u mengeluarkan isi kepala rasanya hati dan pikiran jadi ringan 🙂 (Ning Rinda)

pak jonru, aku nulis model “terapi” gini dah lama. Bukan cuma pas sedih aja, tapi kesel sama orang, atau lagi gembira luar biasa juga aku tulis. Buatku mengungkapkan emosi lewat tulisan, lebih detail pak. Begitu dibaca ulang 3 tahun kemudian, atau bahkan besoknya, itu juga merupakan terapi. Jadi, tulis + baca = terapi (panjang ya…) (Fairus Baggins)

Walaupun masih coba-coba, namun menulis dapat menghilangkan rasa lelah dan beban berat, setelah seharian sejak pukul enam pagi hingga pukul sepuluh malam bekerja…,alhamdulillah… (Aisy Laztatie)

Betul betul betul. Menulis itu (apalagi ungkapan hati) = menabung kenangan, menguraikan rasa (apapun itu) dan menyembuhkan luka. Dan suatu saat, bila kita baca lagi, bisa jadi pembelajaran buat kita.. (Oktana Melsa)

Menulis novel menjadi penenang saat menulis (skripsi) saya ketika itu. Menulis memudahkan menulis. 🙂 (Agung Satriawan)

yupp,,, 100% benar,,, mengungkapkan sesuatu yang ada didalam fikiran yang sejalan dengan susana hati dapat menghasilkan suatu karya yang luar biasa,,, dan sangat efektif sebagai terapi diri,,,:D (Emma Ganjar Fitriah)

* * *

terapi menulisNah, setelah membaca testimoni dan pengakuan teman-teman di atas, bagaimana pendapat Anda?

Ternyata menulis tidak hanya bermanfaat bagi orang-orang yang punya keinginan untuk menjadi penulis sukses. Menulis juga bermanfaat bagi siapa saja tanpa kecuali, termasuk orang yang tidak suka menulis. Kegiatan menulis ternyata sangat bermanfaat untuk DIRI SENDIRI, untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit hati dan pikiran.

Setelah menulis, rasanya plong banget! Semua beban pikiran dan perasaan yang sebelumnya mengganjal, serasa lenyap semua!

Anda juga ingin mencoba? Ingin menulis yang manfaatnya bisa menjadi terapi diri? Silahkan 🙂

Tapi perlu diingat: Tidak semua tulisan bisa menjadi terapi diri. Justru, ada tulisan yang bisa membuat pikiran dan perasaan kita jadi galau, makin stress, dan seterusnya.

“Jadi, tulisan seperti apa yang bisa menjadi terapi diri? Dan bagaimana cara membuatnya?”

Tenang! Hal ini akan kita bahas dalam tulisan berikutnya ya. Insya Allah akan saya muat di sini beberapa hari lagi; Kiat membuat tulisan yang berfungsi sebagai terapi diri.

Coming soon 🙂

NB: Update 31 Oktober 2011:
Lanjutan tulisan ini sudah bisa dibaca di sini >> 

Thanks dan Salam Sukses Selalu!
Follow me: @jonru

Iklan

27 responses to “Terapi Menulis untuk Menyembuhkan Penyakit Hati dan Pikiran (1)

  1. Ditunggu tulisan berikutnya, Pak 🙂

    Suka

  2. kalo saya malah bisa jadi sebuah kebahagiaan mas ,, kepuasan pribadi juga. Setelah menulis bebas terus sedikit di edit nah biasanya langsung saya baca sendiri,, rasanya seneng aja gitu liat hasil tulisan sendiri walaupun masih amburadul 😀

    Suka

  3. kalo saya malah bisa jadi sebuah kebahagiaan mas ,, kepuasan pribadi juga. Setelah menulis bebas terus sedikit di edit nah biasanya langsung saya baca sendiri,, rasanya seneng aja gitu liat hasil tulisan sendiri walaupun masih amburadul 😀

    Suka

  4. Sepakat banget, habis nulis biasanya plong:)

    Suka

  5. wah, mengetahui bahwa ada artikel baru di blog mas jonru saja sudah menjadi terapi utk menenangkan pikiranku..
    apalagi menulis..
    mantap!

    ah, senangnya..
    kata-kataku yg amat sangat sederhana itu bs muncul d blog semewah ini..

    jd terharu, hehe..

    syukron mas jonru..

    Suka

  6. sesuatu banget om komentar saya bisa dimuat di tulisannya om Jonru.. Tq Tq Tq..:D

    Sedikit cerita saya tentang menlis..
    Dulu saya jarang (bukan berarti tidak sama sekali) menulis. Saya menulis sekedarnya saja. Sebab dulu saya punya sahabat yang selalu mendengarkan curahan hati saya (juga sebaliknya saya terhadapnya). Saya merasa bercerita kepadanya menjadi terapi yang 2x lebih baik ketimbang menulis.
    Tetapi seiring berjalannya waktu, Dia berubah total. Mungin semenjak dia punya pacar setahun yang lalu. Dia sudah jarang menghubungiku, dan dia pun sudah susah ku hubungi. Nomor Hp nya diganti, tak pernah bilang kepadaku. Padahal kami sekampus, tapi tak pernah lagi bertemu. Pernah ketemu sekali secara kebetulan, tapi Dia tak sehangat dulu lagi.
    Aku benar2 marah, kecewa, merasa sangat dikhianati. “Mentang-mentang punya pacar baru, lupa sama sahabat sendiri”, gerutuku dalam hati.
    Perasaan kesal itu membumbung di hatiku. Ingin ku ceritakan, tapi tak tahu kepada siapa. sebab dialah satu2nya pendegar setia ku selama ini. Tak mungkin ku bercerita kepadanya kalau aku marah padanya..
    Akhirnya aku menulis. Legah rasanya.. Hingga saat ini, Ku curahkan hatiku lebih banyak kepada tulisanku.. 😀

    ngomong2 menyangkut kisah bunda Agnes di atas, klo saya tak begitu suka menulis di blog.. walaupun saya punya blog pribadi sih.. hehehe..:P
    saya lebih suka menulis di note book saja… 😀

    Suka

  7. Nah, kalau dia pejabat, pidatonya suka ditulisin orang lain, gimana? Hehehe… Sukses, Pak Jonru

    Suka

  8. iya..seneng banget bisa liat twit saia disini.. 😀
    dan setuju sama semua yang ditulis disini..apalagi kalau lagi marah..daripada dikeluarkan ke hal-hal negatif, lebih baik menulis kan.. 😀 *pengalaman pribadi bgt heheu.. *

    Jadi semangat untuk ngblog lagi ni… ^^

    Suka

  9. yang pasti saya merasa dengan menulis berarti kita berguru pada apa yang kita tulis, dan itu mendidik kita untuk belajar menanamkan komitmen diri terhadap apa yang ditulis. alhasil kita pun dibuat mengerti dan ditunjukannya banyak hal yang baik dan bermanfaat yang harus kita jalani sebagaimana yang ditulis.
    karena tidak mungkin seseorang menulis tetapi kepribadian si penulisnya bertolak belakang atau bahkan menghindar dari apa-apa yang ia tulis.
    maka, jika ingin mengupayakan diri agar terus berkembang menjadi pribadi yang lebih baik lagi, MENULISlah..
    bener gak pak jonru?! hehe..

    syukron pak jonru “sang motivator writers”
    motivasinya mencerahkan buangettt… hee

    Suka

  10. Keren! Apa aja bisa jadi ide. Pak Jonru emg gudangnya ide 🙂

    Suka

  11. semoga bisa seperti pak Jonru aktif menulis, minimal menulis di blog 🙂

    Suka

  12. Ping-balik: my blog « menyingkap rasa, menabur asa

  13. kalo menulis bebas, seperti yang saya baca, di buku Bang Jonru, Cara Dahsyat Menjadi Penulis Hebat, memang bisa menghilangkan stress bang.

    Biasanya saya, menumpahkan “uneg-uneg” dengan cara seperti itu, tulis saja hingga hati terasa lega, dan bisa tidur pulas :).

    Biasanya hasil tulisan, berupa kumpulan kertas, setelah beberapa hari kemudian, saya baca. Waduh menakutkan, ternyata saya bisa sekejam itu ya, maklum namanya juga lagi emosi. Untung saya tumpahkan “uneg-uneg” itu dalam tulisan, bagaimana kalo saya tumpahkan dengan cara lain. Mengerikan.

    Sebenarnya bagus juga, kalo ikut kelas belajar menulis online-nya Bang Jonru. Siapa tahu “uneg-uneg” bisa jadi buku 🙂

    Nanti bang, kalo tabungan saya sudah cukup, saya pasti daftar. 🙂

    Suka

  14. kapan nih part duanya om? Masih sabar menanti 😀

    Suka

  15. sepakat bang jonru, minimal dengan menulis kita selalu diingatkan tentang apa yang telah kita sampaikan, hal ini melatih diri kita untuk menjadi manusia yang konsisten dan istiqomah.. thanks 😀

    Suka

  16. Ping-balik: Terapi Menulis untuk Menyembuhkan Penyakit Hati dan Pikiran (2) | Jonru on the Web

  17. Terima kasih sekali atas tulisan ini. Sangat menyentuh dan mengharukan. Sebuah tulisan/esai ternyata bia juga memanggil empati paling dalam pada diri seorang manusia. Sebuah tulisan dapat menguak sebuah sisi positif yang hampir dilupakan… Salam.

    Suka

  18. Ping-balik: PENTING: Penjelasan Jonru tentang Audisi Penulis Buku “Terapi Menulis” | PenulisLepas.com

  19. Membaca penggalan kata dari abang untuk menulis sebagai terapi diri pernah juga saya alami. Waktu tahun 2005-2009 saya merasa kehilangan idealisme karena tekanan kerja yang saya alami. Namun di sela-sela libur atau pulang kerja saya gunakan untuk menulis entah di kertas atau di forum milis. Nah setiap saya selesai menulis rasanya beban berkurang dan ada kepuasan batin sendiri. Nah kumpulan tulisan-tulisan saya itu kini sudah menjadi dua naskah buku yang siap diterbitkan. Dan kiranya abang bisa membantu bagaimana proses selanjutnya. Terimakasih Bang.

    Suka

  20. dengan menulis keresahan dalam hati in makin hilang dan kegundahan hilang aku terasa lega, dulu waktu smp tiap aku resah dan gundah kuluapkan dalam dieraku

    Suka

  21. Halo Bang Jon, apa kabar. Dulu kita teman di Akuntansi UNDIP Semarang. Kau pemalu dan minderan, sekarang berubah hebat jadi dosen penulis. Selamat ya bang Jonru 🙂

    Suka

  22. Saya lagi mencari-cari teori terkait dengan ini nieh Pak. Semua yang saya baca mendukung data tapi saya masih kekurangan referensi yang mendukung sebagai sebuah teori. Mohon bimbingannya Pak, di mana kira-kira saya dapat menemukan teori yang kuat sebagai landasan dari Terapi menulis ekspresif ini? Atau terangnya dalam buku apa ya Pak??? Terimakasih sebelumnya

    Suka

  23. setuju banget bang, minimal dengan menulis kita selalu diingatkan tentang apa yang telah kita sampaikan, hal ini sangat penting untuk melatih diri kita menjadi manusia yang konsisten dan istiqomah.. makasih

    Suka

  24. Yups! Saya juga ngerasain efek positifnya menulis, tapi kadang saya takut tulisan saya dibaca orang plus malu,,, tapi sejak mulai ngeblog rasa malu dan takut itu hilang,

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s