Terapi Menulis untuk Menyembuhkan Penyakit Hati dan Pikiran (2)


terapi menulisDari tulisan sebelumnya, kita jadi tahu bahwa kegiatan menulis bisa berfungsi sebagai terapi diri, manjur untuk mengatasi berbagai penyakit hati dan pikiran. Menulis bisa mengatasi stress, membuat masalah berat terasa ringan, bahkan bisa mengatasi rasa sakit hati akibat dihina atau disepelekan oleh orang lain.

Sesuai janji saya sebelumnya, berikut saya sampaikan sejumlah kiat menulis untuk terapi diri.

1. Terapi Menulis Bisa untuk Siapa Saja TANPA KECUALI

Kiat menulis pada umumnya (kiat menulis cerpen, kiat menulis naskah skenario, kiat menulis artikel, dan sebagainya) memang ditujukan kepada orang-orang yang memang INGIN JADI PENULIS. Tapi terapi menulis bisa diterapkan oleh siapa saja, termasuk Anda yang tidak suka menulis dan tidak pernah punya sedikit keinginan pun untuk jadi penulis.

Kenapa?

Karena terapi menulis adalah sebuah metode penyembuhan, bukan metode untuk meniti karir sebagai penulis. Yang namanya penyembuhan, tentu bisa diterapkan oleh siapa saja tanpa kecuali, bukan?

(Tapi jika setelah menerapkan terapi menulis, Anda tiba-tiba bisa menerbitkan buku misalnya, ya anggap saja itu sebagai bonus tak terduga, hehehe…)

2. Abaikan Semua Aturan/Kaedah Penulisan

terapi menulisMenulis untuk terapi diri itu sama dengan menulis untuk diri sendiri. Kita tidak harus membuat tulisan yang bagus, yang sesuai aturan/standar kepenulisan yang baku, sesuai EYD, yang layak muat di koran, dan sebagainya.

Itu semua tidak perlu! Sebab tujuan terapi menulis adalah untuk diri kita sendiri. Karena itu, menulis saja sesuka Anda. Terapkan kiat menulis bebas. Abaikan semua aturan/kaedah kepenulisan. Yang penting, kegiatan menulis bisa mengatasi penyakit hati atau pikiran Anda. Itu saja. Titik!

3. Tidak Harus Berupa Artikel. Update Status Facebook pun Bisa!

Anda tidak harus membuat artikel utuh, yang memenuhi standar baku dalam menulis artikel. Tidak harus! Terapi menulis yang dimaksud di sini bahkan bisa hanya berupa menulis update status Facebook atau nge-twit di Twitter.

Gampang sekali, bukan?

4. Hindari Tulisan yang Bernuansa Negatif

Sudah menjadi hukum alam bahwa ucapan atau tulisan negatif hanya akan memberikan dampak yang tak kalah negatifnya. Karena itu, hindarilah membuat tulisan yang:

a. hanya berupa keluhan.

Sial! Lagi-lagi macet! Padahal gue lagi buru-buru nih. Bisa dimarahin bos lagi. Bahkan bisa dipecat kalo keseringan telat. Emang sial banget hidup di Jakarta ini!

b. isinya hanya tumpahan perasaan sedih, marah, kesal, jengkel, benci, dan seterusnya.

Aku benci banget sama dia. Kepercayaanku padanya dihancurkan hanya dalam hitungan detik. Dia telah menghianatiku! Benci banget deh. Ingin kulumat tubuhnya hingga hancur!

c. isinya menghina, mengejek, meremehkan, merendahkan orang/golongan/kelompok lain.

Agama X memang kampungan. Penganutnya norak semua!

d. unsur predikatnya berupa kata negatif.

Menulis itu sulit.
A orangnya sangat menjengkelkan.
Gue sakit hati sama B.
Ngobrol sama C bikin gue muak mau muntah.
Aku merasa kesulitan tiap kali belajar piano.

terapi menulisKalau Anda belum paham atau penasaran dengan poin d ini, coba baca penjelasan lengkapnya di sini.

NB: Poin a, b, c, dan d di atas hanya sebagian kecil contoh saja. Masih banyak contoh lainnya.

Intinya: Semua tulisan yang bersifat negatif atau membawa pengaruh negatif, akan berpengaruh negatif pula, baik terhadap si penulisnya maupun orang lain. Karena pengaruhnya negatif, maka tulisan-tulisan seperti itu justru bisa membuat hati makin galau, makin sedih, makin jengkel, makin benci, dan seterusnya.

Dengan kata lain, hal-hal yang dibahas pada poin 3 ini adalah jenis-jenis tulisan yang tidak bisa berfungsi sebagai terapi diri.

5. Tulislah Hanya Hal-hal yang Bersifat atau Memberi Pengaruh Positif

Dari poin 4 di atas, kita jadi paham bahwa tulisan yang tidak bisa menjadi terapi diri adalah yang bersifat atau memberikan pengaruh negatif.

Lalu tulisan apa yang bisa menjadi terapi diri?

Tentu saja, jawabannya adalah sebaliknya; tulisan yang bersifat atau memberikan pengaruh positif.

Berikut adalah beberapa contoh dan kiatnya.

5.A. Hiburlah Diri Sendiri

Katakanlah Anda dihina, diejek atau diremehkan oleh orang lain. Terasa sangat sangat di hati, bukan? Agar rasa sakit hati tersebut hilang atau berkurang, coba buat tulisan yang isinya menghibur diri sendiri. Contoh:

Senangnya, ada orang yang mau repot-repot meluangkan waktu untuk mengomentari diriku. Terharu, deh 🙂

Contoh lain: Ada orang yang mengatakan Anda bodoh. Maka tulis saja:

Alhamdulillah, aku masih bodoh. Merasa bodoh itu justru bagus lho, karena bisa memotivasi kita untuk belajar. Sebaliknya kalau merasa sudah pintar, justru bahaya karena kita malas belajar. Hidup kita pun begitu-begitu saja, tak ada peningkatan. Jadi, lebih baik merasa masih bodoh kan, daripada merasa sudah pintar?

Anda merasa sedih karena sudah bekerja keras tapi belum sukses juga? Coba hibur diri sendiri dengan menulis seperti ini:

Sukses itu pasti akan datang. Hanya soal waktu. Sekarang saatnya bersabar dulu. Tetap semangat!

Anda merasa minder pada teman yang lebih kaya? Coba tulis seperti ini:

Syukur banget, hidupku jauh lebih baik dibanding Pak Mamat yang tukang ojek itu. Dia sering makan satu kali saja sehari. Kasihan ya. Aku ingin jadi kaya agar suatu saat nanti bisa membantu orang-orang seperti Pak Mamat.

5.B. Berbagi Lewat Tulisan

terapi menulisKiat ini sangat sering saya praktekkan. Misalnya ketika sedang stress, merasa gagal, dihina orang, dan seterusnya, maka saya mencoba mengalihkan perhatian. Saya pun membuat status di Facebook atau kultwit di Twitter yang isinya berbagi ilmu dengan teman-teman semua.

Sebagai seorang pebisnis, tentu wajar bila ada naik turun dalam penghasilan. Kadang penghasilan besar, kadang juga nyaris tak ada penghasilan. Ketika keuangan sedang tipis, sebagai manusia biasa tentu saya pun bisa galau, stress, bahkan sempat merasa gagal.

Pada saat perasaan seperti itulah, saya duduk di depan laptop, membuka Twitter.com dan mulai menulis kultwit #jadi_entrepreneur. Saya menceritakan suka duka sejak dulu merintis bisnis hingga berkembang seperti sekarang. Saya sama sekali tidak menceritakan perasaan saya yang ketika itu sedang galau, stress, merasa gagal dan sebagainya. Yang saya lakukan hanya berbagi.

Kalau Anda penasaran, silahkan baca kultwit saya yang ditulis ketika dulu sedang stress dan merasa gagal dalam bisnis. Klik di sini.

5.C. Ambil Hikmah dari Semua Kejadian

Jangan hanya memikirkan kesedihan, kejengkelan atau kemarahan Anda ketika mengalami peristiwa buruk. Sadari dan yakinkan diri bahwa semua peristiwa – termasuk yang paling buruk sekalipun – pasti ada hikmah positifnya.

Misalnya, coba tulis hikmah-hikmah berikut dari contoh-contoh peristiwa buruk yang bisa menimpa siapa saja, termasuk diri kita.

– Handhone hilang karena dicopet:

“Alhamdulillah, barusan saya sedekah handphone. Semoga bermanfaat bagi yang mengambilnya tanpa sepengetahuan saya.”

– Dihina oleh orang lain:

“Senangnya bisa ikut ujian kenaikan kelas lagi. Kalau ucapan orang ini bisa saya hadapi dengan bijaksana, berarti saya akan naik kelas, level saya akan lebih tinggi dari sebelumnya. Asyik, kan?”

– Gagal menjadi pemenang lomba menulis:

“Pasti di depan sana, ada prestasi terbaik yang telah dipersiapkan khusus untuk saya. Sabar ya. Hanya soal waktu, kok.”

Dan seterusnya 🙂

5.D. Ubah Kalimat yang Predikatnya Negatif Menjadi Kalimat Positif

terapi menulisIni berkaitan dengan poin 4.d di atas.

Katakanlah Anda hendak menulis:

Saya bosan.

Coba ganti dengan kalimat:

Saya belajar untuk enjoy.

Penjelasan atau kiat selengkapnya bisa Anda baca di sini.

5.E. Ubah Keluhan Menjadi Konsultasi atau Kalimat Motivasi

Daripada menulis:

Saya bingung gimana cara membuat blog.

Coba Anda tulis seperti ini saja:

Membuat blog pasti mudah banget. Masalahnya saya belum tahu. Itu saja. Yang saya perlukan hanya BELAJAR dengan TEKUN.

atau:

Teman-teman, di mana ya tempat belajar membuat blog yang bagus? Ada yang punya info? Bagi-bagi, dong 🙂

5.F. Silahkan Teman-teman Tambahi Sendiri 🙂

Mungkin ada yang terlewat oleh saya, karena lupa atau masih kurangnya pengetahuan saya. Karena itu, silahkan teman-teman tambahi sendiri pada bagian komentar di bawah ini, ya. Thanks 🙂

* * *

Hal yang Sangat Penting:

Setelah membaca kiat-kiat di atas, Anda mungkin berpikir bahwa terapi menulis itu ternyata sulit juga.

Hm, kalau Anda berpikir seperti itu, coba deh… yang pertama kali harus Anda praktekkan adalah poin 4 dan 5.D di atas 🙂

Coba ubah kalimat:

Terapi menulis itu ternyata sulit.

menjadi:

Terapi menulis itu mudah bila saya mau belajar dan mempraktekkannya dengan sungguh-sungguh.

Kedua, terapi menulis adalah KEAHLIAN. Yang namanya keahlian atau keterampilan, kita akan semakin terampil/ahli bila semakin sering berlatih.

Karena itu, yang kita butuhkan adalah sering berlatih menulis. Di tahap awal mungkin Anda masih sering keliru, masih terjebak untuk mengeluh padahal seharusnya tidak boleh mengeluh, dan seterusnya.

Tidak mengapa :) Tak perlu risau 🙂

Namanya juga sedang belajar. Namanya juga sedang berlatih. Wajar dong, kalau di tahap awal masih “belepotan”.

Yang penting teruslah berlatih. Sebab kalau sudah berpengalaman, yang menikmati hasilnya adalah diri Anda sendiri, bukan?

terapi menulisKetiga, banyak membaca buku-buku motivasi dan mendengarkan ceramah agama. Kegiatan seperti ini insya Allah akan membantu mengubah pola pikir kita yang awalnya hampir selalu negatif, pesimis, mengeluh dan sebagainya, menjadi jauh lebih baik. Setelah membaca buku-buku motivasi atau mendengarkan ceramah agama, insya Allah Anda akan lebih mudah untuk membuat kalimat-kalimat yang positif, memotivasi, optimis, bijaksana, inspiratif, menggugah semangat, dan seterusnya.

Intinya: Sambil belajar membuat tulisan untuk terapi diri, kita juga sekaligus belajar mengubah pola pikir, cara bicara, cara menulis, cara berpendapat, dan sebagainya, ke arah yang lebih baik.

Bukankah bila kita berhasil menjadi manusia yang jauh lebih baik dari sebelumnya, ini pun merupakan sebuah terapi diri yang sangat luar biasa dan sangat patut disyukuri?

Alhamdulillah, sesuatu banget 🙂

Semoga Bermanfaat dan Salam Sukses Selalu!

Jonru
Follow me: @jonru

Iklan

23 responses to “Terapi Menulis untuk Menyembuhkan Penyakit Hati dan Pikiran (2)

  1. Ping-balik: Terapi Menulis untuk Menyembuhkan Penyakit Hati dan Pikiran (1) | Jonru on the Web

  2. Sebelonnye gak pernah kepikir, kalo nulis itu bisa jadi “therapi” .. terima kasih bang, udeh berbagi 🙂

    Suka

  3. seolah-olah mas Jonru sedang menjadi seorang ustadz dan dokter serta penulis sekaligus..

    hebat, hehe

    Suka

  4. ketika saya sedang galau ,, menahan rasa pedih yang tiada habisnya ,, #lebay 😀
    saya menumpahkannya kedalam tulisan. Masa bodoh dengan kaidah bahasa, yang penting rasa pedih saya tercurahkan. Dan hasilnya positive, rasa perih itu bisa sedikit terobati. Yang lebih hebat lagi ketika saya curhat kedalam tulisan tanpa sadar saya sedang mengembangkan kualitas tulisan saya.

    Luar biasa

    Salam bahagia dan jemput impian 🙂

    Suka

  5. baru update blog setelah kuwalahan hadapi bungkamnya pikiran…liat status twitter Pak Jonru, terus mampir di blog ini. Bener lho, terapi menulis untuk menyembuhkan penyakit, juga untuk upgrade loyonya amal yaumi 😉

    Suka

  6. inilah keajaibn menulis, luar biasa… dan di Al-Quran pn kita di printhkn untk mnulis. mmang mnulis ni bnyk manfaat’a. 🙂

    Suka

  7. Teman-teman Facebook saya entah kenapa banyak yg lebih suka memasang status negatif/galau daripadang status yg positif. Mungkin hati mereka mjd lebih tenang setelah menulis status tsb. Kalau demikian, timbul pertanyaan di benak saya, apakah menulis status yg negatif sebenarnya juga mampu menjadi terapi diri seperti layaknya menulis status yg positif?

    Suka

  8. Waw ternyata menulis bisa ngilangin stress?…try..try..try..dulu akh 🙂

    Suka

  9. wah bener juga pak… ga sadar dengan menulis kita tentunya ga terfokus dengan masalah yang dipikirkan… ga salah kalo bisa disebut sebagai terapi 😀

    Suka

  10. hm,..bagus banget informasinya, thx ya

    Suka

  11. siiipp!! terimakasih atas ilmunya pak!!!!!

    Suka

  12. Ruarrr biasa artikel ini! Setuju sama komentar @Rony Nuryusmansyah, baca artikel seperti baca tulisannya seorang dokter, ustadz sekaligus motivator. Hebat! 🙂

    Sepertinya saya tertarik deh untuk memulai terapi menulisnya di blog. Patut dicoba buat orang yg suka nulis!

    Suka

  13. Ping-balik: PENTING: Penjelasan Jonru tentang Audisi Penulis Buku “Terapi Menulis” | PenulisLepas.com

  14. terasa hatiku sedih telah bersalah dengan sahabatku yang begitu dalam telah membuat dia ,terluka lebih dalam .
    kini aku harus meninggalkan dia dalam jangka waktu yang cukup lama ,begitu pula dia tapi kini aku semakin bingung dan sedih dia takmau kuhubungi sebelum tantangan kami ajukan terwujaud

    Suka

  15. Dengan menulis, aku telah mengubah kertas menjadi emas

    Suka

  16. Teraphy dengan menulis banayk sekali, tdk hanya bisa menyembuhkan penyakit hati, tapi juga bisa menunda kepikunan karena sel-sel saraf otak banyak di aktifkan

    Suka

  17. wah pak Jonru setuju sekali menulis menjadi terapi hati buat saya 🙂

    Suka

  18. Saya preanh nulis 2 artikel di shvoong, tapi blom tau dibayar brp :)anyway, thanks for the info

    Suka

  19. saya pernah ikut hipnoteraphy,
    pertemuan keduanya, saya disuruh nulis, saya bertanya2 sebelumnya dalam hati saya,
    koq ini, koq itu,,
    akhirnya saya bisa merasakan ada rasa yang beda dari biasanya..
    dan sementara ini, hanya untuk konsumsi pribadi dulu deh..

    Suka

  20. bagaimana menurut anda soal terapi menulis di link ini ?
    http://bagaimanamengatasistres.blogspot.com/2013/05/cara-mengatasi-stres-dengan-terapi.html
    disitu tercantumkurang lbih kayak gini “t Tuliskan semua perasaan anda diatas kertas secara sangat detail, sedetil detilnya. Jangan sampai ada yang ketinggalan. Habiskan semuanya. Jangan kasi ampun. Hajar saja. Jika anda ingin memaki, makilah. Jika anda ingin teriak atau mengucapkan kata kata kotor, silakan! Hajar Saja! Lakukan hingga anda benar benar puas. Pastikan anda menulis hingga anda kelelahan. Jika masih ada perasaan marah dll, TULIS LAGI dan habiskan sehabis habisnya emosi anda itu. No Mercy, Jangan kasi ampun sedikitpun.”.
    pernyataan itu kok seolah2 beda sama yg mas jonru utarakan ya? yg benar yg mana ya? jd bingung

    Suka

    • @masyes: Yang namanya tips, tiap orang pasti beda2. Soal mana yang benar, saran saya anda coba praktekkan saja. Mana yang efektif, maka itulah yang benar bagi Anda. Orang lain mungkin aka merasakan pengalaman yang beda, karena tips itu cocok2an juga, tergantung orangnya.

      Suka

  21. Sepakat Pak.. Menulis emang bisa dijadikan terapi untuk hati yang bersih dan tenang.

    Suka

  22. alhamdulillah mas jonru. sy barusan praktekin sesuai tips di atas. lmayan. galau meter td di angka 8 skg trun jd 6. wkwk. thnks mas. moga slalu berkah hidupnya sampeyan hehe

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s