Ngakunya Lomba Menulis, Ternyata Audisi Penulis Buku Antologi. Waspadalah!


lomba_menulisLomba menulis merupakan salah satu event yang paling ditunggu oleh para penulis. Boleh dibilang, “lomba menulis” merupakan salah satu istilah yang paling SEXY di mata para penulis 🙂

Karena sexy itulah, ada sejumlah oknum yang membuat trik menyesatkan. Mereka mempublikasikan acara yang diberi nama LOMBA MENULIS. Tapi dari semua penjelasannya, ketahuan bahwa itu cuma proyek pengumpulan naskah untuk buku antologi.

NB: Bahkan ada yang pakai istilah lebih keren: Beasiswa Penerbitan Buku 😀

Agar lebih jelas, berikut saya uraikan perbedaan keduanya.

Lomba Menulis
Bukan cuma lomba menulis, tapi semua lomba di bidang apapun pada dasarnya punya konsep sebagai berikut:

  1. Pendaftaran peserta. Biasanya gratis. Sekali lagi, gratis!
    .
  2. Ada hadiahnya. Sekali lagi: ada hadiahnya!

Konsep lomba yang baik sebenarnya hanya sebatas itu. Tak lebih dan tak kurang.

lomba menulisCatatan untuk Lomba Menulis:

  1. Biasanya, panitia lomba sudah mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk HADIAH untuk pemenang. Untuk menyediakan hadiah, tentu butuh dana. Karena itu, mereka pun sudah menyiapkan sumber dananya. Bisa dari sponsor, kas panitia, dan sebagainya.
    .
  2. Lomba yang baik itu hadiahnya berupa materi. Bisa uang, barang yang berharga (handphone, sepeda motor, dst), beasiswa, umroh, jalan-jalan gratis ke objek wisata terkenal (misalnya Bali), dan sebagainya.
    .
    Jangan terkecoh oleh “lomba” yang hadiahnya HANYA bersifat nonmaterial, seperti (contoh) “pemenang akan mendapat anugerah Penulis Sejati Award”
    .
    Oke, bolehlah bila hadiah lomba bentuknya seperti itu. Tapi yang namanya anugerah, award dan sebagainya, seharusnya tetap ada unsur hadiah materi. Buat apa dapat award kalau tak ada hadiah materinya?
    .
  3. Kalau ada lomba yang mengharuskan peserta membayar biaya pendaftaran, maka kemungkinannya ada tiga:
    .
    (1) Mereka penipu
    .
    (2) Mereka orang jujur dan amanah, tapi kurang modal. Mereka tidak bisa menyediakan dana untuk hadiah para pemenang. Dengan kata lain, hadiah untuk pemenang diambil dari biaya pendaftaran.
    .
    Sampai di sini, Anda mungkin mulai mencium sebuah ketidakadilan. Sebab iuran SEMUA peserta hanya dinikmati oleh SEGELINTIR pemenang. Bagi yang tidak menang, mereka tidak dapat apa-apa, tapi di depan sudah berkorban sejumlah uang.
    .
    Benar-benar tidak adil, kan?
    .
    (3) Para peserta mendapat fasilitas tertentu. Misalnya ada lomba mewarnai untuk anak, yang pakai biaya pendaftaran, dan peserta diberi fasilitas pensil warna dan kertas untuk mewarnai. Nah, biaya pendaftaran bisa dianggap bayaran untuk fasilitas tersebut.
    .
    Menurut saya:
    .
    A. Kalau kondisinya seperti nomor (3), tentu tak masalah, karena uang yang kita keluarkan memang jelas tujuannya.
    .
    B. Kalau kondisinya seperti nomor (2), saran saya lupakan saja. Sebab panitianya pasti tidak bonafid.
    .
  4. Tanya: Bagaimana kalau para pemenang dijanjikan HADIAH “Naskah Anda akan diterbitkan menjadi buku”?
    Jawab: Penerbitan buku BUKAN bagian dari lomba menulis. Kalaupun naskah para pemenang akhirnya dibukukan, kita bisa menganggapnya sebagai BONUS TAMBAHAN. Itu saja.
    .
    “Penerbitan buku” TIDAK BISA dianggap sebagai hadiah lomba menulis. Apalagi kalau “hadiah” yang dijanjikan hanya berupa penerbitan buku, tak ada hadiah berupa materi, maka waspadalah! Kemungkinan besar itu bukan lomba menulis, tapi hanya sebuah audisi penulis buku.
    .
  5. Tanya: Bagaimana kalau para pemenang dijanjikan HADIAH “royalti atas penjualan buku hasil lomba ini”?
    Jawab: Royalti memang HAK PENULIS. Tanpa ada lomba atau audisi atau acara khusus apapun, memang aturan penerbitan buku seharusnya seperti itu. Jadi kalau ada yang menyebut royalti sebagai hadiah lomba, ho… ho… ho…. Mari tertawa terbahak-bahak sambil tetap waspada!

Audisi Penulis (Pengumpulan Naskah Antologi)
Buku antologi adalah buku yang isinya merupakan kontribusi dari sejumlah penulis. Misalnya, ada buku tentang “kasih sayang ibu” yang ditulis oleh 30 penulis wanita. Atau buku kumpulan cerpen yang berisi cerpen dari 15 penulis dari Yogyakarta. Dan seterusnya. Intinya, buku antologi adalah BUKU KEROYOKAN.

lomba menulis

Salah satu contoh audisi penulis buku (BUKAN lomba menulis)

.
Dalam setiap buku antologi, biasanya ada seseorang yang berperan sebagai PENYUSUN. Tugas dia adalah:

  1. membuat konsep dan tema buku;
  2. mengumpulkan naskah dari para penulis;
  3. menyeleksi naskah-naskah yang masuk;
  4. menerbitkan naskah-naskah yang lolos seleksi;
  5. dan memberikan royalti atau honor kepada penulis yang naskahnya diterbitkan.

Kenapa saya memberi warna biru untuk poin 2 dan 3 di atas? Karena kedua poin inilah yang saat ini sering disebut AUDISI PENULIS BUKU.

Tak ada yang salah dengan istilah audisi penulis buku. Yang salah adalah ketika si penyusun atau panitia mengubah istilah ini menjadi LOMBA MENULIS (atau ada juga yang pakai istilah Beasiswa Penerbitan Buku).

Mungkin si penyusun/panitia punya tujuan agar informasi yang mereka sampaikan menjadi lebih “sexy”. Tapi dengan mengubah istilah seperti itu, segala sesuatunya menjadi sangat rancu. Sebab target audisi penulis adalah untuk menerbitkan buku antologi. Sedangkan target lomba menulis adalah untuk mencari pemenang yang akan diberi hadiah.

Keduanya sangat berbeda, bukan?

lomba menulis

Scary Moment, salah satu contoh buku antologi yang naskah-naskahnya diperoleh lewat acara audisi penulis buku (BUKAN lomba)

Untuk lebih jelasnya, coba baca uraian berikut ini.

Catatan untuk Audisi Penulis Buku:

  1. Tak ada istilah HADIAH, sebab hadiah itu sejatinya untuk lomba.
    .
  2. Naskah yang lolos seleksi akan diterbitkan menjadi buku. Dan penerbitan buku ini BUKAN hadiah. Sekali lagi, ini bukan hadiah!
    .
  3. Penulis yang naskahnya lolos seleksi, biasanya mendapat royalti atas naskah mereka yang diterbitkan. Jadi prinsipnya sama saja seperti penerbitan buku pada umumnya.
    .
  4. Tidak ada pungutan biaya apapun terhadap para peserta audisi.
    .
  5. Kalaupun ada biaya, dikenakan kepada penulis yang naskahnya lolos seleksi dan diterbitkan. Untuk peserta yang naskahnya tidak lolos, tentu tidak wajib menyetor biaya apapun.
    .
  6. Biaya yang dikenakan kepada para penulis buku antologi, biasanya digunakan sebagai urunan atau saweran biaya percetakan. Kenapa harus saweran? Karena panitia atau penyusun tak punya modal untuk mencetak bukunya. Kenapa tak punya modal? Karena biasanya si penyusun bukan penerbit mayor yang bermodal kuat, melainkan hanya penulis biasa atau layanan self publishing yang modalnya sangat terbatas.
    .
  7. Kalau Anda diwajibkan membayar saweran biaya percetakan untuk menerbitkan sebuah buku antologi, KETAHUILAH  bahwa Anda telah ikut MENANAM MODAL. Artinya, Anda status Anda bukan sebatas penulis buku, melainkan juga PEMODAL.
    .
    Dengan kata lain:
    .
    (1) Sebagai penulis buku, Anda mendapat royalti.
    .
    (2) Sebagai pemodal, Anda mendapat bagi hasil dari keuntungan penjualan buku.
    .
    Nomor (1) dan (2) merupakan dua hal yang berbeda. Artinya, bila Anda adalah penulis sekaligus ikut membayar biaya penerbitan buku, maka Anda harus mendapatkan (1) dan (2) sekaligus. ITU HAK ANDA.
    .
  8. Bila yang menerbitkan buku antologi adalah sebuah penerbit mayor, biasanya para kontributor tidak dikenakan biaya apapun. Sebab penerbit mayor umumnya kan bermodal kuat.
    .
  9. Sebaliknya bila buku tersebut diterbitkan secara self publishing, biasanya unsur (1) royalti dan (2) bagi hasil digabung menjadi satu. Dan karena mereka belum sanggup memberikan uang tunai, biasanya para kontributor mendapat pembayaran dalam bentuk lain. Salah satu contohnya adalah seperti yang selama ini diterapkan Indie Publishing; Para kontributor buku antologi mendapat bagi hasil 30% dari harga jual buku.
    .
    Menurut saya ini sah-sah saja. Yang penting semua transparan, sistemnya jelas dan terbuka, serta menguntungkan semua pihak. Tak ada yang didzolimi.

* * *

lomba menulisKesimpulan:
Ciri-ciri Audisi Penulis Buku Berkedok Lomba Menulis:
(Atau ada juga yang pakai istilah Beasiswa Penerbitan Buku) 

  1. Tak ada hadiahnya. Kalaupun ada, hanya bersifat nonmaterial, seperti award, anugerah, dan sebagainya.
    .
  2. Dijanjikan: Naskah para pemenang akan diterbitkan menjadi buku. Ya iyalah! Namanya juga audisi penulis buku antologi! Kalau naskah pemenang tidak diterbitkan, justru aneh kan?
    .
  3. Para pemenang dijanjikan royalti atas naskah mereka yang diterbitkan. Ya iyalah! Royalti memang hak penulis buku. Sangat konyol bila royalti disebut hadiah lomba!
    .
  4. Para peserta dipungut biaya pendaftaran. Tragisnya, panitia atau penyusun sama sekali tidak memberitahu bahwa biaya pendaftaran tersebut sebenarnya untuk saweran biaya cetak. Dan karena itu saweran, seharusnya biaya tersebut HANYA dibebankan kepada penulis yang naskahnya diterbitkan. Masa biaya cetak dibebankan juga kepada penulis yang naskahnya tidak lolos seleksi? Enggak adil dong ah!
    .
    NB: Jika peserta tidak dipungut biaya pendaftaran, sekilas memang tak ada hal yang merugikan peserta. Tapi tetap saja curang karena si panitia/penyusun telah menipu dengan cara menggunakan istilah lomba menulis, padahal aslinya itu hanya audisi penulis buku untuk penerbitan buku antologi.

* * *

Oke, demikian informasi dari saya. Inti tulisan di atas adalah: Jangan terkecoh oleh istilah, tapi pahami konsep dasarnya.

Semoga bermanfaat, ya.

Salam Sukses Selalu!

Jonru
Follow me: @jonru

Iklan

32 responses to “Ngakunya Lomba Menulis, Ternyata Audisi Penulis Buku Antologi. Waspadalah!

  1. wah gitu ya ternyata…

    makasih mas infonya

    Suka

  2. harus waspada kayaknya

    Suka

  3. benar sekalli kita perlu waspada saat mengikuti lomba seperti ini juga

    Suka

  4. Yah, sekarang memang banyak kreasi istilah yg digunakan untuk menamakan event tertentu. Tujuannya untuk menarik minat masyarakat, meskipun upaya itu bisa menjurus ke penipuan, karena sifatnya rancu atau mengacaukan makna….

    Suka

  5. Dulu sempet mau ikut, tapi gak jadi karena kayaknya lebih ribet. untung baca artikel ini, sekarang jadi tau maksud mereka…
    oh ya Pak Jonru, boleh saya nanya. kalau sebuah naskah yg sudah diterima penerbit dan sudah deal mau diterbitkan, kira-kira berapa lama ya proses naik cetak dan edarnya? thanks.. 😀

    Suka

  6. pencerahan baru…
    baru tau kalo itu namanya antologi…
    dapet ide nich buat buku dengan cara keroyokan…

    Suka

  7. Terima kasih Pak Jonru untuk informasi2 yang sangat membantu untuk saya.
    Oya, Kalau boleh ikut tanya, saya pernah membuat buku tetapi tiap kali penerbit minta dummy buku dan soft file, selanjutnya mereka ulur waktu dan cari alasan ini itu, tidak jelas hehe… padahal buku saya juga sdh diberi sambutan dari orang2 yang kompeten. Bagaimana Menurut Pak Jonru? Terima kasih.

    Suka

  8. Terimakasih…info nya… Pak jonru 🙂

    Suka

  9. woalah banyak tuh kayaknya yang kayak gitu 😀

    berhati-hati emang yang paling utama

    jangan langsung ikutan aja ya?

    Suka

  10. @sunu: Tarik saja naskahnya dan tawarkan ke penerbit lain 🙂

    Suka

  11. Terimakasih infonya. saya juga pernah ikutan lomba kayak gituan juga soalnya. Mau langsung saya share di FB sebenarnya. tapi tombol sharnya kok belum ada ya?

    Suka

  12. Makasih atas share_nya, Pak Jonru.
    Semoga saya gak terkecoh …

    Suka

  13. Kalo kasus yg sy alami, beberapa kali ikutan audisi menulis buku antologi, naskah sudah lolos dari kapan tau, tp buku yg dijanjikan ga terbit2, minta tarik naskah juga ga digubris. Jadi gondok, tau gitu ga sah dikirim aja naskahnya, mending disimpan tuk disertakan dalam audisi menulis yg lebih jelas.

    adalagi kasus yg dialami sodara sy, udah bayar, tp bukunya ga terbit2, begitu mo terbit, nama sodara sy tdk tercantum dlm pengumumannya, pas minta penjelasan, katanya tdk bisa ngecek naskah krn netbook si penyelenggara lg diservis, ditanya lg, netbook masih diservis. Ya udah, minta tarik uang dan naskah, eh si penyelenggaranya malah bilang gini, “klo mrk ngotot saya gak akan kembalikan uang itu sebagai ganti rugi tenaga dan waktu saya selama ini .. jd impas .. ”

    Emang seh, rata2 panitia antologi itu biasanya lebih mirip sukarelawan, tp kalo dr awal katanya dah niat baik mo bantu orang2 pd belajar nulis, ya dikelarin lah, jangan cuma niat doang trus kita ditinggalin, soal duit sich cuma dikit, tp ketidakpastiannya bikin nyelekit

    Sorry pak….komennya sekalian curcol neh, jadi kepanjangan deh. Thanks for reading 🙂

    Suka

  14. walah.. repot-repot amat yak…
    aku juga pernah sih.. tapi toh naskah kita di bukukan secara gratis.. , hitung2 nambah koleksi antologi..

    Suka

  15. Baru tahu nih, perbedaan lomba menulis dan audisi menulis,.. makasih pak.

    Suka

  16. saya pernah baca pengumuman lomba yang seperti itu Pak, hadiahnya tulisan akan di terbitkan… untung saya nggak ikut, soalnya saya pikir ini bukan hadiah..
    tapi baru2 ini saya ikut lomba cerpen Porseni, dan lomba itu ada biaya pendaftarannya 10rb per judul, apa yang seperti itu wajar?
    hadiahnya berupa uang…

    Suka

  17. Saya Ikut Nyimak Ya..
    Ini Info Yang Menarik , Sangat Bermanfaat Bagi Saya Yang Memang Senang Menulis..Salam Kenal Pak
    terimakasih

    Suka

  18. saya paling suka bangett dengan menuliss,, waktu saya msaih sekola juga suka bangett bikin cerita, puisi, cuman yang paling aku g suka itu adalah novell, hehe…

    Suka

  19. wah, info yg membantu, membuat kita waspada. kasihan kan kalah sdh korbankan waktu ternyata tertipu.

    Suka

  20. wah mantap banget infonya pak… terimakasih.. sangat membantu bagi saya yang masih newbe… 😀

    Suka

  21. pak jonru,,, Anda ngawur…..di Seminar Blogging Politeknik Negeri Lhokseumawe.
    cuma mau uji kelayakan dari pertanyaan bapak di seminar blogging Politeknik Negeri Lhokseumawe,
    Karena menurut logika berfikir saya yang rada-rada menggila nech sebagai orang awam, Jawaban dari audience yang mendapatkan buku itu sangat benar sesuai dengan jawaban yang anda inginkan,
    tapi sepertinya ada yang salah dengan pertanyaan bapak,
    “Bagaimana agar mas budi putra mau mengunjungi blog kita lewat komentar yang kita berikan dalam waktu singkat, 1 menit…….”
    “1 menit…..”
    hahahahahaaaa….
    misalnya nech, klo seandanya si mas budi sedang makan bakso dan ga bawa laptop, tidak sedang online?
    ga mungkin kayaknya situkang bakso mengatakan bahwa “Mas budi, Ada yang menjelek-jelekkan mas budi di blog mas tuh…”
    karena kayaknya ga ada tukang bakso yang punya sistem notification seperti di FB atau Twitter…
    hehe,,,he,,,he,,,he,,,
    Jangan tersinggung ya pak….
    cuma iseng aja nech…!
    peace…!!
    🙂

    Suka

  22. adoh,,, adoh,,, bapak bilang jika kita berkomentar sesuatu yang bersifat mengkritik, dalam 1 menit kita dapat feedback.
    ah bapak gimana sech…??!!!
    udah 1 jam jam lebih nech…
    Kritikan saya kurang buat bapak berang ya atau kritikan saya kurang pedas…adoh,,, tukang baksonya udah pergi pula tuh,, ga ada lagee cabe nech,,,, he,,,he,,,!!
    peace…!
    kasih kek feedback , misalnya gini pak “mang udah berapa lama kamu blogging, baru 1-2 tahun aja pun, sudah berani mengkritik saya yang sudah sukses….”
    hahahahahaaa,,, itu lah hoby saya pak…he,,he,,,sesuatu yang bisa saya bantah dengan LOGIKA, akan segera saya utarakan, selatankan, baratkan dan Timurkan.
    Tapi ga boleh marah pak….jika bapak marah maka agenda DPR tahun ini mungkin penghapusan UU kebebasan berpendapat…..
    SETUBUH…!!!??? eh,,,,, SETUJU…!!!??????

    Ralat sendiri aja dech pertanyaan bapak di seminar tadi….
    “Bagaimana caranya untuk agar kau mengerti bahwa aku cinta…..(by agnes monica)”
    Opss… bukan itu ya….
    hahahahahaaa…
    “Bagaimana cara agar komentar kita di blog mas budi ‘SEGERA’ mendapatkan ‘RESPON’ baik berupa mengunjungi balik blog kita atau berkomentar diblog kita,,, bahkan mungkin membajak blog kita (wadoh), ‘SETELAH YANG EMPUNYA BLOG MEMBACA KOMENTAR TERSEBUT’ ”
    nah tuh,, bukan dalam hitungan menit, bahkan tidak terindikasi hitungan hari/bulan atau tahun. Terserah mas budi dunk kapan mau ngebacanya.
    ha…hayyy…..

    Ni termasuk saran bapaknya,,,, PRAKTEK…..!!!!
    yu…hui….!!!

    Suka

    • @kids:

      Pertama: Saya kemarin itu tidak mengatakan bahwa mas Budi Putra dijamin mengomentari tulisan blog Anda dalam hitungan 1 menit. Yang satu menit itu adalah bagian dari cerita saya ketika tulisan saya dikomentari oleh Enda Nasution.

      Kedua: Kemarin saya cerita tentang kiat tersebut. Dan hari ini ketika Anda mempraktekkannya, mungkin Mas Budi Putra (juga saya, hehehe…) enggan mengomentari, karena kami sudah tahu bahwa itu cuma buat mengetes kami. Hehehe…

      Artinta, coba kiat itu Anda terapkan pada orang lain ya 🙂

      Ketiga: Bersikap sopan santun itu sangat penting. Karena sopan santun adalah salah satu hal yang membuat orang tergoda untuk berbaik hati pada kita.

      Thanks dan salam sukses!

      Jonru

      Suka

  23. Share yang sangat baik sekali, Pa 🙂
    Terima Kasih. Bisa membuat saya lebih waspada 😀

    Suka

  24. wah gawat ni,harus hati-hati ni

    Suka

  25. tiga tulisan saya dibukukan dalam buku antologi, tapi dari awal si penyelenggara mengatakan bahwa tidak ada royalti karena hasil penjualan buku tersebut akan disumbangkan ke Yayasan Sosial, banyak orang yang sedang belajar menulis tertarik mengikuti lomba ini. Jadilah sang penyelenggara mengadakan lomba beberapa kali. dan setelah itu membukukannya, tapi… tetap tidak ada royalti. 🙂

    Suka

  26. Hmmm,
    Saya g pernah peduli dgn topik apapun yg Pa’ Jonru tulis, krna apapun itu, sy sgt mnikmati alur menulisnya :D..
    Toh klo dibaca sampe tuntas ujung2nya malah mengerti topik tulisannya luar dalam… Berkat pembawaan tulisanx Pa’Jonru yg asik n pnh analisis…

    Nice share…

    Suka

  27. Ping-balik: Pelajaran Menulis « Satap9.com

  28. Wah, terima kasih pak Jonru, sngat mencerahkan. Awalnya sy sering ikutan audisi penulis yg berbayar. Tapi, dipikir-pikir uang pdnftara yg sy masukin, hanya dinikmati segelintir org sja alias pemenang, aneh juga. rugi dua kali. udah gk menang, eh uang pndftaranya hangus, hehehe.. sjk itu, lgsng malas ikutan lomba nulis yg harus mungut biaya.

    Suka

  29. yang sering saya jumpai malah lebih parah, kontributor tidak dapat apa2, malah wajib beli bukunya.. event yang aneh..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s