Jangan Setia pada Perusahaan Tempat Anda Bekerja!


“Setialah pada perusahaan tempat Anda bekerja.”

Hm, Anda mungkin sudah terlalu sering dan sudah sangat familiar dengan himbauan di atas. Betul?

Ya, pada taraf tertentu, Anda yang masih jadi karyawan memang harus setia pada kantor yang menggaji Anda; Harus taat pada aturan-aturan yang mereka tetapkan; Harus bekerja sesuai dengan job dec Anda; Tak boleh membocorkan rahasia perusahaan; tak boleh nyambi bekerja di perusahaan lain (bila Anda adalah karyawan full time); dan seterusnya.

Pada konteks seperti itu, memang benar Anda harus setia pada perusahaan.

Tapi yang saya maksud pada judul tulisan ini… bukanlah seperti itu. Kalau Anda penasaran, coba simak kalimat-kalimat berikut:

Perusahaan tempat Anda bekerja bisa bangkrut, tapi profesi yang Anda tekuni tak akan pernah bisa bangkrut, kecuali Anda sendiri yang membangkrutkannya.

Perusahaan bisa mem-PHK Anda, tapi profesi yang Anda tekuni tak akan bisa mem-PHK siapapun.

Perusahaan hanya bisa membayar Anda dengan jumlah tertentu. Profesi bisa membayar Anda dengan jumlah tak terbatas, tergantung besar kecilnya upaya Anda.

Setia pada perusahaan tempat Anda bekerja, akan membuat diri Anda selalu tergantung padanya. Tapi setia pada profesi akan membuat hidup Anda mandiri. Anda bebas memilih mau bekerja di mana, bekerja untuk siapa, dan sebagainya. Terserah Anda.

Setia pada perusahaan akan membuat waktu Anda lebih banyak terkuras untuk mengurus perusahaan ketimbang keluarga. Setia pada profesi akan membuat Anda bisa mengurus pekerjaan dan profesi secara seimbang.

* * *

Nah, sekarang sudah jelas, kan?

Intinya begini:

Selama ini banyak sekali karyawan yang SALAH KAPRAH dalam mengartikan makna “setia pada perusahaan”. Akibatnya, mereka bekerja mati-matian untuk perusahaan. Mereka bekerja keras untuk mengembangkan perusahaan yang menggaji mereka.

Saking asyik dan fokusnya membesarkan perusahaan MILIK ORANG LAIN, mereka jadi lupa untuk mengembangkan diri sendiri. Akibatnya ketika mereka di-PHK atau perusahaan bangkrut, tak ada yang bisa mereka lakukan selain mencari pekerjaan di tempat lain. Mau berwirausaha? Belum berani karena merasa belum siap, belum punya keahlian apapun yang bisa “dijual”.

Nah, pada konteks seperti inilah saya menghimbau Anda untuk tidak setia pada perusahaan. Maksudnya: Anda tentu harus taat pada aturan-aturan mereka; Anda tentu harus bekerja sesuai job desc Anda. Tapi jangan sampai ketaatan seperti ini membuat Anda lupa untuk mengembangkan diri sendiri.

Mulai sekarang, cobalah serius menekuni hobi, minat dan passion Anda. Jangan ragu-ragu menginvestasikan waktu, uang dan tenaga Anda untuk mengasah dan mengembangkan keahlian Anda. Sebab seperti yang saya tulis di sini, keahlian-lah yang akan “menyelamatkan” hidup Anda di masa depan. Sebaliknya, perusahaan tempat Anda bekerja tak akan bisa menolong Anda bila terjadi sesuatu yang menyebabkan mereka tak bisa lagi mempekerjakan Anda!

NB:
Tulisan ini terinspirasi oleh obrolan dengan mas Budi Putra ketika kami sama-sama mengisi seminar blogging di Lhokseumawe tanggal 26 Januari 2012 lalu. Dia saat itu berkata:

“Setialah pada profesi, bukan pada perusahaan tempat Anda bekerja.”

Mas Budi sendiri sudah mempraktekkan ucapannya itu. Dia dulu bekerja di majalah Tempo. Ketika karirnya di sana sedang bagus-bagusnya, dia resign dan memilih jadi full time blogger. Lalu dia direkrut oleh Yahoo! untuk mendirikan dan mengembangkan Yahoo! Indonesia. Dia pun menjalankan tugas ini dengan baik serta profesional. Setelah Yahoo! Indonesia maju pesat, mas Budi resign dan memilih pekerjaan lain.

Tapi walau selalu pindah-pindah kerja, sejak dulu dia selalu setia dan konsisten pada SATU profesi saja.

Silahkan baca juga artikel terkait:
Apa yang Menyelamatkan Anda dari Ancaman Krisis Global?
Ingin Menemukan Lentera Jiwa? Ini Kiatnya!
[Kiat Sukses] The Power of KONSISTEN

Terima kasih, semoga bermanfaat!
Follow me: @jonru

 

Iklan

37 responses to “Jangan Setia pada Perusahaan Tempat Anda Bekerja!

  1. luar biasssaaaaaaaa pak !

    Suka

  2. Terima kasih atas artikel pagi yang menginspirasi pola pikir saya ke depannya.

    Suka

  3. untung saya setia pada perusahaan milik saya sendiri wkwkwkwk…

    Suka

  4. aku setuju banget pada tulisan ini, terutama pada bagian ini : “keahlian kita lah yang akan menelamatkan kita”

    sippp bangett

    Suka

  5. Ya, benar sekali pak! Sy jg pernah mengalami kondisi seperti itu, Pak! Namun sy kadang sempat “bingung” dgn soal profesi. Pertanyaan sy gini Pak; apakah profesi sama dengan hobi? Lantas, sy juga (pada kondisi tertentu) sering “kebingungan” menentukan atau –mencari– “passion” sy sendiri. Dan 1 lagi pak Jonru, apakah hobi sama dengan passion? Mohon tanggapannya, pak! Sebelumnya, tentu sy ucapakan terima kasih..

    Suka

    • @Toni Santoni: Profesi adalah apapun itu yang kita tekuni secara serius dan menjadi sumber penghasilan. Jika hobi kita kembangkan menjadi sumber penghasilan, maka itulah hobi sekaligus profesi.

      Tentang cara mencari passion dst, coba Pak Toni baca tulisan2 yang saya link di bagian akhir tulisan ini. Semoga bermanfaat ya 🙂

      Suka

  6. luar biasa sekali pak..kondisi seperti ini yang sedang saya alami… Terlalu setia membuat jenuh saja.

    Suka

  7. Artikel yang mencerahkan di pagi hari pak,memang sepertinya harus setia dengan profesi pak,biar kemampuan kita bisa semakin terasah kedepannya 🙂

    Suka

  8. “jangan sekali-kali kita merasa nyaman di suatu tempat sehingga lupa mengembangkan diri guna menghadapi perubahan dan tantangan yang lebih besar”

    Suka

  9. sembilan tujuuuuu 😀

    Suka

  10. Super sekali….he,,pinjem kata2nya Mr. Mario Teguh
    Terimakasih Mr. Jonru sudah banyak wawasan yang anda berikan pada saya, saya janji akan mengamalkan saran diatas. semoga Mr. Jonru selalu dianugerahi kesehatan selalu dan keberkahan rezeki. mohon do’a supernya.
    Senang berkenalan dengan Anda.

    Suka

  11. Mantap pak…. kita kan kerja di suatu perusahaan karena kita jualan skill ya pak… jadi skill itulah yang membuat kita ada… 😀

    Suka

  12. Sangat mencerahkan, Pak 🙂

    Ini saya bekerja keras di perusahaan si Bos niat utamanya sih sebenarnya bukan untuk perusahaan semata, melainkan juga untuk mengembangkan diri saya. Dan memang saya banyak sekali belajar dari tempat kerja saya itu. Membuat saya semakin mantap dalam meniti karier dari profesi yg saya tekuni ini, hehe….

    Suka

  13. Very inspiring! Jadi membuat saya untuk merenung….!! Betul sekali…at the end of the day…we are responsible for our own life…

    Suka

  14. Alhammdulillah pelajaran yang saya dapatkan di dunia kerja membantu saya untuk menjadi full time blogger. Seperti saat ini. Saya sangat setuju sekali dengan artikel bang Jonru diatas.

    Suka

  15. Ya saya sangat respon dan bahkan saya pun sering memberikan suport kepada generasi pekerja muda yang pernah sempat tidak fokus terhadap pekerjaannya yang ia kerjakan dalam bentuk apapun dan dengan siapapun, ternyata tidak membawa dirinya menguntungkan, terutama kepercayaan tidak tumbuh dari pihak luar dirinya, kedua ketrampilan tidak pernah lekat pada dirinya bahkan tidak bertambah,ketiga hasilnya pasti setengah-setengah artinya tidak memuaskan sesuai rencana, kempat hasil dan waktu selalu tidak tepat, sementara setelah aku membaca artikel ini saya sangat mendukung dan bahkan sangat memerlukan suport isi dan maksud seperti di artikel ini, saya sendiri membiasakan sikap seperti ini memang benar apa yang
    kita lakukan pasti diakui oleh semua pihak atas hasil dan pertanggungjawaban nya. sehingga saya sendiri karena dengan modal sungguh dan setia pada profesi apapun bentuknya tidak pernah memandang gengsi dan yang paling penting halal ternyata membawa nikmat bagi cita-cita pribadi dan kini membawa dampak positip terhadap orang lain, bahkan orang lainpun ikut ambil bagian atas karya yang saya lakukan dan akirnya sanggup memberikan jalan keluar ekonomi mereka meskipun tidaklah terlalu hebat, tetapi sikap mereka laku dan layak jual kepada siapa dan dimana sesuai profesinya.

    Suka

  16. Mas Budi anti kemapanan rupanya ya 🙂
    Suami saya 10 thn yang lalu keluar dari zona nyamannya di perusahaann minyak yang bikin orang ngiler dengan gajinya. Orang-orang pada bilang ‘bodoh’ atau ‘gila’. Ada yg diam sih tapi tidak jelas mengerti atau bingung mau bilang apa hehehe.

    Bagi saya tidak ada masalah karena kesetiaan mendampingi suami di mana pun dia nyaman adalah ‘kesetiaan pada profesi’ saya sebagai seorang istri.

    Meski gaji seperti yang dulu tidak mampir lagi ke rekening kami, tapi hidup bisa dibikin nyaman koq. Semua kan masalah setting pikiran disertai kejernihan hati.

    Terimakasih sharingnya yang menarik bang Jonru.
    ^__^

    Suka

  17. Artikel yp penuh inspirasi. Trima kasih byk Pk.Jonru.

    Suka

  18. Tuhan mungkin tidak langsung menunjukkan jalan kepada saya seperti halnya para Rasul. Tapi Tuhan berkuasa menjadikan orang seperti pak Jonru untuk menjadi salah satu pelita bagi mereka yang ada dalam kegelapan.
    Than’x atas semua ilmunya mas !! terutama MBIG-nya. It’s help me so much

    Suka

  19. Wah benar sekali itu pak Jonru. Tapi, dalam konteks nyatanya setiap orang punya mindset “setia dengan perusahaan sama dengan mendapatkan uang bonus”, hahaha…

    Suka

  20. haha..betul sekali pak jonru..kalau setia sama perusahann..yang enak ya para bos2..kerja capek-capek yg naik pangkat bos..salam sukses..ditunggu tulisan lainnya pak..

    Suka

  21. Nurrahman Al Maghribi

    pada bagian ini “Setialah pada profesi, bukan pada perusahaan tempat Anda bekerja.” sangat inspiratif dan saya sedang mengalami keadaan seperti ini, setelah baca tulisan ini saya akan coba menerapkan pd diri saya pak 🙂 terima kasih banyak untuk inspirasi nya.

    Suka

  22. Good Article. Sy setuju. PROFESI = SPESIALISASI.

    Suka

  23. Ping-balik: Pernahkah? « InungBlog

  24. iya bener pak,,,kita harus mempunyai komitmen pada pekerjaan kita bukan pada perusahaan…

    Suka

  25. Artikel yang menohok.Jadi mikir, keahlian saya apa ya??
    Harus mulai mempersiapkan diri dr sekarang, krn kt tdk tahu apa yg terjadi besok. Trm kasih bang jonru

    Suka

  26. Sebenarnya “kesetiaan pada perusahaan” lebih sering dialami oleh karyawan baru. Tapi tidak untuk karyawan lama, bahkan mereka berfikir bagaimana supaya memiliki usaha sendiri dan memperkerjakan orang lain, bukan sebagai pekerja sebuah perusahaan.

    Suka

  27. Wah bener banget tu mas…saya sendiri mengalaminya..selama kuarng lebih 18 tahun saya sangat loyal terhadap perusahaan dimana saya bekerja..ternyata salah besar, dimana ternyata perusahaan tidak pernah memikirkan masa depan kita…perusahaan hanya membayar kita…beruntung saya sekarang melek internet dan sudah mampu mandiri…salam sukses selalu..

    Suka

  28. betul sekali, meskipun bermula dari hobi bisa jd sumber penghasilan yang progresif… meskipun masih merintis berpenghasilan dari hobi, membaca tulisan ini jadi ingin lebih profesional lg atas pilihan itu dan rasanya tidak ingin kembali menjadi orang kantoran. cukup di rumah saja.
    salam kenal p’ Jonru

    Suka

  29. makasih pada jonru menyajikan makanan jiwa. semoga sukses

    Suka

  30. Benar juga apa yang anda katakan namun tak sedikit pula perusahaan2 tertentu yang baik dan sampai saat ini masih mempertahankan para karyawannya.

    Suka

  31. Ping-balik: Pernahkah? | InungGoBlog

  32. Yup betul mas jonru, terima kasih tulisanya sangat inspiratif,..
    semoga kita selalu terus mengembangkan kemampuan yang kita miliki sehingga kita dapat menjadi diri sendiri dan mandiri,..

    Suka

  33. Tulisan yang sangat bagus bang Jonru, memang saya alami sendiri bang, saya sudah kerja selama 9 tahun dan mencoba untuk setia dan loyal pada perusahaan namun apa daya ternyata perusahan hanya mengeksploitasi karyawan nya sendiri. memeras dan memanfaatkan karyawan semaksimal mungkin dan membayarnya sebatas aturan pemerintah atau UMK / UMR. Kalau perusahaan rugi karyawan diberitahu dan kalau perusahaan untung karyawan tidak akan pernah tahu. Begitulah nasib menjadi buruh di indonesia bang tidak akan pernah punya masa depan lebih baik seperti yang diucapkan abang…., bekali dan kembangkan diri agar bisa kerja mandiri dan segera tinggalkan perusahaan kalau ada kesempatan untuk membuat usaha sendiri. Nasib BURUH di Indonesia hanya sekedar untuk makan saja bang dan tetap saja melarat. Harapan saya jangan pernah mau jadi buruh dinegara sendiri dan orang asing jadi majikan kita inilah yang dinamakan penjajahan gaya baru gaya liberalisme dan kapitalisme. Buruh di indonesia akan tetap melarat selama diterapkan aturan UMK/UMR oleh para penghianat bangsa. Tinggalkan profesi buruh dan hiduplah mandiri. Buka Pikiran dan Kembangkan diri. salam kenal bang Jonru dan tetaplah berjuang untuk kemajuan rakyat Indonesia. Merdeka.

    Suka

  34. Wah mas jonru…..pas banget. Semoga ini menjadi cemeti hati dimasa mendatang, sekian lama waktu telah saya lewatkan….insya allah esok masih ada.

    Salam,

    Suka

  35. Saya tertarik dengan petikan dari mas Budi Putra “Setialah pada profesi, bukan pada perusahaan tempat Anda bekerja.” Sejak lulus kuliah saya berusaha menerapkan itu hehe meskipun prakteknya susah ya mas..pernah jadi kontributor, jadi wartawan koran, wartawan majalah sekarang jadi penulis content web …
    Apalagi kalau dikaitkan dengan iming-iming penghasilan…hmmm

    Suka

  36. Ping-balik: Ruang Antara Pekerjaan, Profesi, dan Karir | InungGoBlog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s