Ketika Bekerja Sesuai Passion, Pertolongan Allah pun Datang


cara menerbitkan bukuArtikel ini merupakan bagian II dari tulisan “Kilas Balik: Dapur Buku Genap Berusia 1 Tahun”.

Pada bagian I, saya sudah bercerita tentang latar belakang berdirinya Dapur Buku. Saya juga telah menceritakan bahwa penerbitan buku ternyata bisnis yang paling sesuai dengan passion atau lentera jiwa saya.

Setelah berada di “passion yang benar”, secara tak terduga berbagai keajaiban, kemudahan dan pertolongan Allah pun hadir. Ini membuat saya SANGAT YAKIN pada satu hal:

Jika kita sudah berkarir di bidang yang benar-benar sesuai dengan passion atau lentera jiwa kita, maka Allah pun akan memberikan banyak kemudahan bagi kita dalam menjalaninya.

Saya sudah membuktikan hal ini dalam mengelola Dapur Buku. Alhamdulillah. Keajaiban-keajaiban seperti itu, sama sekali belum pernah saya dapatkan ketika dulu mengelola Sekolah-Menulis Online (SMO).

Keajaiban, kemudahan dan pertolongan Allah seperti apa sajakah yang saya alami? Berikut cerita detilnya.

Keajaiban #01: Bahagia Luar Biasa

Ketika memutuskan untuk banting stir dari bisnis kursus menulis ke bisnis penerbitan buku, secara ajaib saya merasakan kebahagiaan yang tak terlukiskan dengan kata-kata. Sebuah kebahagiaan yang belum pernah saya alami sebelumnya (dalam konteks bisnis).

Padahal saat itu, Dapur Buku BARU SAJA BERDIRI, belum beroperasi sama sekali, belum ada order, belum ada buku yang diterbitkan, belum ada penghasilannya sama sekali.

Padahal lagi, pada saat ini saya justru sedang galau-galaunya karena kondisi finansial keluarga sedang dalam “masa krisis” (akibat bisnis kursus menulis SMO yang makin terpuruk).

Keajaiban #02: Menemukan Nama Domain Cantik

Setelah memutuskan untuk mendirikan perusahaan penerbitan buku, hal pertama yang saya lakukan adalah membuatkan website-nya. Saya pun hunting nama domain di internet, untuk dijadikan merek.

cara menerbitkan buku

Awalnya, saya hendak pakai nama butikbuku.com (sebab saya ingin bisnis penerbitan buku ini memiliki konsep seperti butik, bukan pabrik sebagaimana halnya penerbit-penerbit lain). Tapi ternyata nama ini sudah dimiliki oleh orang lain.

Saya cari nama lain, ternyata tidak mudah. Hampir semua nama yang mengandung kata BUKU sudah tidak tersedia. Saya baru sadar, ternyata kata BUKU termasuk yang paling menarik untuk dipakai sebagai nama domain 🙂

Setelah terus mencoba, alhamdulillah saya akhirnya ketemu nama DAPURBUKU.COM. Saya sangat bersyukur karena nama domain ini masih available. Maka buru-buru saya beli!

DapurBuku.com adalah nama yang sangat bagus. Banyak teman yang juga mengakuinya. Bersyukur banget, karena di tengah kesulitan mencari nama domain yang mengandung kata buku, akhirnya saya justru mendapatkan NAMA CANTIK secara tak terduga. Alhamdulillah…. Saya selalu mengucapkan kalimat syukur ini setiap kali mengingat keberuntungan tersebut.

Keajaiban #03: Kemudahan dalam Mendapatkan ISBN

Ketika Dapur Buku baru saja berdiri, sebuah “kabar buruk” pun mampir; Untuk mendapatkan nomor ISBN bagi penerbit baru, kita harus melampirkan berkas bukti legalitas penerbit. Sebelumnya, syarat seperti ini sama sekali tidak ada.

Fakta  ini membuat saya sempat galau. Gimana tidak! Bisnis penerbitan buku baru saja didirikan, eh… langsung dapat masalah seperti ini. Dapur Buku belum punya bukti legalitas. Bagaimana ini?

Alhamdulillah, sebuah ide pun terlintas. Dulu saya kan pernah menerbitkan buku “Cara Dahsyat Menjadi Penulis Hebat” (CDMPH) pakai nama penerbit “Penulis Lepas Publishing House” (PLPH). Jadi bagaimana kalau saya mengajukan ISBN pakai nama penerbit ini? Kalau bisa, tentu saya tak perlu melampirkan bukti legalitas. Sebab syarat ini hanya berlaku untuk penerbit yang belum pernah punya nomor ISBN.

cara mendapatkan nomor isbn

Sumber foto: abebooks.com

Saya pun pasang strategi: Mengajukan nomor ISBN atas nama penerbit PLPH, dan nama Dapur Buku saya sebutkan sebagai salah satu imprint-nya.

Situasi dramatis muncul ketika pihak Perpusnas mengatakan bahwa Dapur Buku tak boleh mengajukan ISBN sebagai imprint dari penerbit lain. Jadi harus melampirkan bukti legalitas usaha, jika tetap ingin pakai nama Dapur Buku.

Waduh! Gawat nih! Saya jadi gusar.

Alhamdulillah. Saat itulah saya merasakan pertolongan Allah berikutnya. Secara tak terduga, si petugas berkata pada staf saya yang datang ke Perpustakaan Nasional, “Kita bikin gampang saja, Mas. Coba Mas bikin surat keterangan yang menyebutkan bahwa penerbit PLPH sekarang ganti nama jadi Dapur Buku. Jadi PLPH dianggap sudah tidak ada, dan tak boleh lagi mengajukan ISBN pakai nama PLPH. Mulai sekarang, Mas bisa mengurus ISBN pakai nama penerbit Dapur Buku, tanpa harus melampirkan bukti legalitas usaha. Gimana? Mau?”

Subhanallah! Tentu saja saya SANGAT MAU. Bagi saya, nama PLPH sangat tidak penting untuk dipertahankan, karena dulu saya pakai nama penerbit ini secara asal-asalan saja, kok, hehehe…. 😀

Keajaiban #04: Banjir Dukungan

Ketika Dapur Buku baru saja berdiri, ketika belum ada order sama sekali, belum ada penghasilan sama sekali, secara ajaib saya mendapat banyak dukungan dari teman-teman penulis. Sebuah dukungan yang benar-benar di luar dugaan.

Banyak banget teman penulis yang menyatakan antusias untuk menerbitkan buku di Dapur Buku. Penulis pertama yang menyatakan ingin mengirim naskah adalah mbak Khadijah Amroe (bukunya akhirnya terbit di Dapur Buku dengan judul Perempuan yang Rindukan Matahari).

Dua orang sahabat – Roni Nuryusmansyah dan Yons Achmad – bahkan langsung membuat tulisan mengenai Dapur Buku, atas inisiatif mereka sendiri, tanpa pernah saya minta.

Berikut tulisan mereka tersebut:

Wujudkan Mimpimu Menerbitka Buku bersama Dapur Buku
Dapurbuku.com: Menggagas Buku Berkualitas Tinggi dan Laku di Pasaran

Keajaiban #05: Logo yang Dibuat secara Mendadak

Ketika mendirikan bisnis apapun, biasanya saya langsung membuatkan websitenya, fan page Facebook, dan akun Twitter. Dapur Buku pun demikian.

Ketika membuat Fan Page, saya langsung berpikir, “Pakai foto apa ya, sebagai profile picture-nya?”

Secara spontan saya pun langsung berpikir untuk menggunakan logo saja. “Tapi logo apa? Dapur Buku kan belum punya logo!”

Maka saat itu juga, SECARA SPONTAN saya langsung membuat logo, dan langsung saya upload sebagai profile picture.

Karena mereknya DAPUR buku, maka saya membuat logo yang mewakili nama ini, yakni topi chef. Saya pun segera hunting foto TOPI CHEF di Google. Lantas saya padukan dengan gambar siluet buku. Saya utak-atik sedikit pakai Photoshop, dan jadilah logo tersebut hanya dalam hitungan sekitar 10 atau 20 menit (lupa tepatnya berapa menit, yang jelas SANGAT CEPAT!).

Berikut adalah logo Dapur Buku buatan saya tersebut:

logo lama dapur buku

Banyak teman yang berkata logo ini kurang bagus. Ya, saya juga mengakuinya. Tapi logo ini dibuat oleh orang yang bukan ahli desain grafis, sama sekali tak pintar bikin logo, dan dibuat secara buru-buru, hanya dalam hitungan BELASAN MENIT. Dengan situasi dan kondisi seperti ini, saya yakin Anda pasti bisa memberikan penilaian yang lebih permisif. Hehehe… 😀

Dan walau logo tersebut kurang bagus, SECARA SUBJEKTIF saya mengakui bahwa ini adalah logo terbagus dan terkeren yang pernah saya buat. Sebelumnya saya pernah membuat beberapa logo, tapi hasilnya sama seperti karya para amatiran atau pemula lainnya. Jauh dari bagus 😀

Logo Dapur Buku ini merupakan keajaiban lainnya yang saya rasakan. Sampai saat ini saya masih seperti tak percaya, kok bisa-bisanya saya berhasil membuat logo secara amat cepat seperti itu. Padahal saya aslinya tak ahli membuat logo. Kejadian seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya!

Keajaiban #06: Langsung Dapat Order Besar

Begitu tahu saya mendirikan bisnis penerbitan buku, sahabat saya Dudun Parwanto langsung memberikan sebuah proyek besar; menerbitkan buku karya seorang pengusaha sukses, Umyung Mustika. Alhamdulillah banget. Penampakan bukunya bisa dilihat di sini.

laa yahtasib

Keajaiban #07: Hasil Shalat Istikharah

Mbak Diah Kusumawati mengirimkan naskahnya ke Dapur Buku, mengambil Paket Bedah Karya. Ketika proses bedah karya berlangsung, tiba-tiba dia berubah pikiran. “Pak, gimana kalau pendaftaran saya dibatalkan saja? Buku itu rencananya mau saya tawarkan ke Gramedia.”

Ternyata Mbak Diah ini khawatir bukunya kurang sukses jika diterbitkan secara self publishing. Maka, saya pun memberikan penjelasan sesuai kemampuan. Saya ketika itu tawakkal saja. Menyerahkan semua keputusan kepada Allah. Tak mau ngotot dalam “merayu” Mbak Diah agar dia tetap di Dapur Buku.

Tak ada respon apapun dari Mbak Diah ketika itu. Tapi beberapa hari kemudian, dia menghubungi saya lagi dan berkata, “Saya sudah shalat istikharah, Pak. Dan hasilnya, Allah memberi saya petunjuk untuk menerbitkan buku saya di Dapur Buku.”

Ya Allah! Subhanallah! Hati saya benar-benar BERGETAR saat mendengar itu. Bahkan ketika menceritakannya lagi seperti ini pun, hati saya kembali BERGETAR!

Jika ada penulis yang memilih Dapur Buku atas keputusan dia sendiri, tentu saya bersyukur. Tapi secara objektif ini adalah hal yang biasa saja.

Tapi ketika ada penulis yang memilih Dapur Buku setelah mendapat petunjuk melalui shalat istikharah, bagi saya ini SANGAT AMAT LUAR BIASA BANGET SEKALI!!!. Saya yakin ini merupakan pertanda, bahwa Allah sangat meridhoi Dapur Buku. Allah memberikan dukungan yang benar-benar nyata bagi bisnis saya.

Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!!!

NB: Buku karya Mbak Diah – Gerbong Kehidupan – akhirnya menjadi salah satu buku paling best seller di Dapur Buku. Kini sudah masuk cetakan kedua, dan sudah masuk ke toko buku Gramedia, Gunung Agung dan sebagainya.

gerbong kehidupan

 

Keajaiban #08: Dukungan dari Sahabat

Ketika masih mengelola bisnis kursus menulis, saya pernah mengajak sahabat saya, Dudun Parwanto, untuk bergabung. Dia memang menerima, tapi dengan perasaan setengah hati. Di satu sisi dia tak suka dan merasa berat menjalankannya, tapi di sisi lain dia sedang butuh pekerjaan karena sedang mengalami krisis finansial.

Alhamdulillah, walau kondisinya seperti itu, Dudun tetap bisa bekerja secara profesional. Inilah salah satu hal yang saya kagumi dari sahabat yang satu ini.

Setelah saya mendirikan Dapur Buku, TANPA SAYA MINTA Dudun langsung memberikan dukungan yang sangat besar. Secara resmi dia memang tidak bergabung dengan Dapur Buku. Tapi selama setahun ini dia banyak sekali memberikan dukungan yang sangat bermanfaat. Salah satunya adalah seperti yang saya ceritakan pada Keajaiban #06 di atas.

Keajaiban #09: Buku “Sekuler” yang Dramatis

sekuler loe gue endHm… sebenarnya saya merasa berat mengatakan ini, karena menyangkut sebuah konflik antara saya dengan seorang sahabat. Tapi tak apalah saya ceritakan, hanya untuk menjelaskan betapa ini juga merupakan salah satu dari keajaiban tersebut.

Jadi, penerbitan buku Sekuler Loe Gue End awalnya bekerja sama dengan penerbit lain, milik salah seorang sahabat saya. Sebab ketika itu Dapur Buku belum berdiri.

Dan keajaiban tersebut berawal dari konflik antara saya dengan si sahabat (beberapa bulan setelah Dapur Buku berdiri). Ada hasil pekerjaan dia yang membuat saya sangat kecewa. Maka saya segera memutuskan untuk mengakhiri kerjasama kami. Saya katakan, “Buku Sekuler ini saya terbitkan di Dapur Buku saja, deh.”

Peristiwa ini membuat hubungan saya dan si sahabat sempat retak. Tapi alhamdulillah, sekarang silaturahmi kami sudah normal kembali.

Saya merasakan bahwa pertolongan Allah ternyata bisa juga hadir melalui kejadian buruk. Contohnya adalah kasus buku Sekuler tersebut. Awalnya buku ini akan diterbitkan oleh penerbit lain, tapi akhirnya berhasil terbit atas nama Dapur Buku, walau melalui jalan yang sangat dramatis.

Coba kalau buku Sekuler tadinya diterbitkan di penerbit lain. Mungkin ini bisa membuat citra Dapur Buku sedikit melemah. Sebab, “Punya penerbitan sendiri, tapi kok menerbitkan buku di tempat lain?” Para pembaca tentu tidak tahu bahwa kerjasama penerbitan buku Sekuler ini telah mulai berproses sebelum Dapur Buku berdiri.

Alhamdulillah, walau melalui jalan yang “pahit”, akhirnya saya berhasil “menyelamatkan” nama Dapur Buku. Inilah salah satu keajaiban tersebut!

Membaca cerita di atas, mungkin ada pembaca yang mengira bahwa saya sengaja menciptakan konflik agar bisa menerbitkan buku Sekuler di Dapur Buku. Tapi Allah Maha Mengetahui. Demi Allah kejadiannya tidak seperti itu, karena semuanya berlangsung di luar rencana, sama sekali di luar dugaan saya.

NB: Pertolongan Allah lainnya dari buku Sekuler ini adalah ketika ada seorang kenalan di Facebook yang menyetorkan modal untuk membiaya penerbitan buku ini. Rekan tersebut sama sekali belum saya kenal, tapi subhanallah… dia percaya pada saya!

Sungguh ini peristiwa yang sangat luar biasa!

Keajaiban #10: Logo dari Sahabat

Mungkin karena merasa logo Dapur Buku buatan saya kurang bagus, ada tiga orang sahabat yang dengan sukarela membuatkan logo versi mereka, lalu memberikannya pada saya secara ikhlas, tidak minta bayaran sama sekali.

Ketiga sahabat tersebut adalah:
– Dani Ardiansyah
– Farid Wahyudi
– Mas Imam

Terima kasih banyak saya ucapkan kepada ketiga sahabat ini. Semoga kebaikan Anda mendapat balasan yang sangat besar dari Allah.

Dan sekarang, bertepatan dengan ulang tahun Dapur Buku yang pertama, kami menggunakan salah satu karya sahabat tersebut sebagai logo baru Dapur Buku. Cerita lengkapnya bisa dibaca di sini.

logo dapur buku

Keajaiban #11: Menerbitkan Buku Karya Warga Asing

Banyak orang Indonesia yang tinggal di luar negeri. Dan ketika mereka menerbitkan buku di penerbit Tanah Air, tentu itu biasa saja, karena bagaimanapun mereka masih warga Indonesia.

Alhamdulillh, saya merasa SANGAT SURPRISE karena Dapur Buku sempat mendapat kepercayaan dari seorang penulis luar negeri. Namanya Johar Buang. Dia adalah seorang penyair terkemuka atau papan atas di Singapura. Beliau memang berasal dari Palembang, tapi kewarganegaraannya Singapura.

Info buku karya Johar Buang yang berjudul Zikir Cendrawasih tersebut bisa dibaca di sini.

zikir cendrawasih johar buang

Saya merasa sangat tersanjung. Sebab mungkin Dapur Buku adalah layanan self publishing pertama di Indonesia yang menerbitkan buku karya warga negara asing.

Alhamdulillah. Ini merupakan salah satu keajaiban lainnya yang dialami oleh Dapur Buku!

Keajaiban #12: Kondisi Finansial yang Makin Sehat

Dulu ketika masih mengelola kursus menulis, terus terang kondisi keuangan keluarga saya sering kembang kempis. Tapi sejak mengelola Dapur Buku, alhamdulillah situasi makin membaik. Saya merasa bahagia dan sangat bersyukur.

Saya optimis, insya Allah Dapur Buku bisa menjadi bisnis yang sangat menjanjikan. Saya bahkan bermimpi, suatu saat nanti Dapur Buku bisa menjadi sebuah layanan penerbitan buku yang sangat besar dan sangat terkemuka di Indonesa.

Aamiin…. Semoga Allah mengabulkannya. Semoga Dapur Buku bisa memberikan sumbangan positif dan bermanfaat bagi perkembangan dunia penerbitan buku di Indonesia, bahkan dunia!

Dukungan teman-teman semua akan sangat berharga. Terima kasih 🙂

NB: Sebenarnya masih banyak keajaiban lain yang saya alami ketika mengelola Dapur Buku. Namun semoga yang tertulis di atas bisa mewakili semua rasa syukur tersebut.

Tertanda,

Jonru
Follow me: @jonru

Iklan

9 responses to “Ketika Bekerja Sesuai Passion, Pertolongan Allah pun Datang

  1. Ping-balik: Kilas Balik: Dapur Buku Genap Berusia 1 Tahun (Bagian I) | Jonru Ginting

  2. Subhanallah….tgl lahir saya 16 Februari berbarengan dengan beberapa tokoh ahli di bidangnya masing-masing, termasuk dapur buku. Ini semakin memotivasi saya untuk mengasah kemampuan saya. mengenai dapur buku, berdasarkan sejarah berdirinya dapur buku, dg keringat yg sangat luar biasa. Sama halnya cerita ibu saya melahirkan saya dg penuh usaha yg sgt luar biasa, karena terjadi peristiwa yg menurut saya menyayat kalbu. Semoga Allah memberikan kesejahtertaan kepada orang tua saya khususnya ibu saya.

    Suka

  3. Inspiratif! Moga selalu diberkahi ALLAH, mas…

    Suka

  4. sangat menginpirasi sekali untuk cerita pengalaman dari pak jonru.
    semoga sukses

    Suka

  5. Ulasannya sangat Menarik Sekali Pak Jonru, PASION juga Berarti Identitas Diri. Siapapun yg dalam profesinya mengnal identitasnya maka akan totalitas dalam berkarya.

    Salam Sukses dan Berbagi

    Suka

  6. Saya ikut bahagia atas kebahagian dan anugerah yang Alloh SWT berikan kepada Pak Jonru dan keluarga. Semoga ini semakin menjadikan Pak Jonru semakin yakin akan dekatnya Pertolongan Alloh SWT..

    Satu hal lagi, kunci nikmat ini dengan syukur Pak Jonru…

    Suka

  7. Ulasannya sangat menginspirasi, Pak. Saya jadi semakin mantap untuk mengelola usaha saya, hehe…. 🙂

    Suka

  8. Ping-balik: Ketika Saya (akhirnya) Mendirikan Penerbitan Buku | Jonru Ginting

  9. Kalau kita pandai bersyukur seperti Pak Jonru, Insya Allah segala sesuatunya yang sukar2 akan mendapatkan pertolongan dari Allah SWT
    Terus semangat dalam melebarkan bisnis perbukuan dan sukses selalu buat anda dan DapurBuku.com 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s