Ketika Saya (akhirnya) Mendirikan Penerbitan Buku


“Pak Jonru, sejak kapan Anda punya rencana untuk mendirikan perusahaan penerbitan buku?”

Hm… jangan ditanya seperti itu deh. Soalnya saya sendiri tidak tahu jawabannya 😀

Dulu banget (lupa tepatnya kapan, mungkin sekitar 5 tahun lalu), saya memang pernah kepikiran untuk mendirikan penerbitan buku. Beberapa teman pun sempat berkata:

“Pak Jonru punya penerbit, gak? Kalau ada, saya mau menerbitkan buku di situ.”

“Saya kecewa karena naskah saya ditolak di mana-mana. Coba kalau Pak Jonru punya penerbit sendiri. Saya yakin akan lebih ramah terhadap penulis pemula seperti saya. Tak bakal ada lagi naskah yang ditolak.”

Apakah saya tergoda oleh ucapan-ucapan seperti itu? Jawabannya: BELUM. Karena pada saat itu saya masih fokus mengelola Sekolah-Menulis Online. Belum ada rencana mendirikan bisnis lain, termasuk bisnis penerbitan buku.

Waktu itu saya masih merasa bahwa mengelola bisnis penerbitan buku itu tidak mudah. “Saya belum sanggup. Sumber daya belum memadai. Modal pun belum tersedia.”

Padahal sebenarnya, ilmu, pengetahuan dan wawasan saya seputar penerbitan buku alhamdulillah sudah cukup memadai. Saya pernah mengelola majalah kampus. Walau berbeda dengan buku, tapi secara umum proses kerjanya lebih kurang sama. Artinya, pengalaman saya selama mengelola majalah bisa diterapkan dalam mengelola penerbitan buku.

Saya pun pernah bekerja di penerbitan buku. Saya bahkan pernah menulis buku yang judulnya “Menerbitkan Buku Itu Gampang!”. Jadi modal pengetahuan dan pengalaman sebenarnya sudah lebih dari cukup.

Tapi entah kenapa, niat untuk mendirikan penerbitan buku baru sebatas lintasan pikiran belaka. Belum pernah berubah jadi tekad, apalagi tekad yang kuat.

* * *

EVOLUSI itu pun mulai terjadi ketika saya menyaksikan lahirnya beberapa layanan penerbitan buku secara self publishing. Tiba-tiba saja, banyak sekali orang yang menerbitkan buku dengan cara yang sangat mudah!

Saya merasa prihatin ketika melihat banyak buku self publishing yang kualitasnya buruk. Saya berpikir, “Walau kita serba bebas dalam menerbitkan buku, tapi sebaiknya kualitas dan nilai jual tetap dijaga, kan?”

Karena keprihatinan itulah, sekitar dua tahun lalu tim saya sempat DUA KALI mengadakan seminar bertajuk “Rahasia Sukses Menerbitkan Buku secara Self Publishing”. Pada acara ini, kami mengajak teman-teman yang ingin self publishing, agar tetap memperhatikan kualitas dan nilai jual dalam menerbitkan karya mereka.

Waktu itu saya masih mengelola Writers Academy (WA), dan sempat kepikiran seperti ini:

“Bagaimana jika saya mengajak sebuah layanan self publishing untuk bekerja sama? Para penulis yang menerbitkan buku di tempat mereka, ditawarkan untuk belajar dulu di WA. Mereka dipandu untuk menghasilkan naskah yang berkualitas dan nilai jualnya bagus. Setelah itu, baru deh diterbitkan.”

Ide ini saya sampaikan kepada seorang sahabat yang sudah beberapa tahun mengelola layanan self publishing. Tapi tak ada follow up apapun darinya.

Secara tak terduga, sebuah layanan self publishing dari Jogja menghubungi saya. Mereka menawarkan kerjasama yang konsepnya PERSIS SAMA dengan ide yang saya tulis di atas. Subhanallah! Kok kebetulan gitu, ya?

Maka, tak ada alasan untuk menolak. Tawaran itu pun segera saya terima.

Setelah kerjasama berjalan, ternyata siswa yang mendaftar hanya dua orang. Intinya, kerjasama tersebut tidak menunjukkan ada tanda-tanda keberhasilan.

Kebetulan, pada saat itu saya baru saja berhenti mengelola WA, dan kembali ke Sekolah-Menulis Online (SMO). Dan SMO ketika itu sedang berada pada situasi yang serba kritis (dari segi finansial).

Karena sedang kritis itulah, saya (seperti yang sudah ditulis di sini) mulai kepikiran untuk pindah ke bisnis lain.

Pengalaman gagal dalam mengelola kerjasama dengan layanan self publishing dari Jogja pun akhirnya membuat saya berpikir, “Mungkin kurang efektif jika layanan BEDAH KARYA SEBELUM TERBIT ini dikelola oleh SMO, tapi bukunya diterbitkan di tempat lain. Bagaimana kalau kedua layanan disatukan saja dalam SATU MEREK? Artinya, saya membuat penerbit sendiri! Mungkin ini akan jauh lebih efektif.”

Kondisi kepepet dan pemikiran seperti di ataslah yang akhirnya membuat saya berpikir untuk mendirikan layanan penerbitan buku secara self publishing.

Maka, Dapur Buku pun akhirnya lahir!

Kondisi kepepet dan pemikiran seperti di atas pulalah yang akhirnya melahirkan Paket Bedah Karya di Dapur Buku. Saya merasa bersyukur karena terobosan ini menjadi inovasi baru di dunia penerbitan buku di Indonesia (bahkan mungkin dunia). Sebab Dapur Buku adalah penerbit pertama yang punya layanan seperti itu.

* * *

Dengan penuh kejujuran saya harus berterus terang, bahwa di awal masa berdirinya… Dapur Buku masih NEBENG di tempat lain. Maksudnya: Kami menerima naskah, lalu naskah itu diproses di penerbit lain. Lalu diterbitkan atas nama Dapur Buku.

Dengan kata lain, SECARA TEKNIS yang menerbitkan buku adalah penerbit lain, bukan Dapur Buku 😀

Kami terpaksa melakukan hal seperti ini, karena belum sanggup mengelola semua urusan penerbitan buku secara mandiri. Ada banyak alasannya, dan terlalu panjang jika saya ceritakan semuanya di sini 🙂

Saya punya prinsip bahwa jika ingin berbisnis, kita tidak perlu memiliki segalanya terlebih dahulu. Tapi kita bisa memulai dari apapun yang SUDAH kita miliki. Prinsip inilah yang saya pegang ketika mendirikan Dapur Buku, pada saat tim kami masih serba kekurangan dalam hal sumber daya dan sebagainya.

Di masa-masa awal, kerjasama Dapur Buku dengan si “penerbit lain” ini tergolong lancar. Namun lambat laun, kendala demi kendala mulai berdatangan. Saya mulai merasa tidak nyaman, karena ternyata sistem bisnis seperti ini mengundang banyak resiko dan kerepotan, yang justru bisa merugikan Dapur Buku sendiri.

Maka sekitar pertengahan tahun 2012, dengan percaya diri Dapur Buku pun mulai mandiri. Semua proses penerbitan kami kerjakan sendiri, tidak lagi bekerja sama dengan penerbit lain.

Alhamdulillah… hinga har ini kami tim Dapur Buku merasa bahwa bekerja secara mandiri ternyata jauh lebih efektif, efisien dan menyenangkan. Pekerjaan dan proses penerbitan buku pun bisa lebih cepat dari sebelumnya.

* * *

Setelah mengelola Dapur Buku selama satu tahun, saya makin yakin bahwa inilah bisnis yang benar-benar sesuai dengan passion saya.

Alhamdulillah, saya merasa sangat bersyukur karena perkembangan Dapur di masa satu tahun pertamanya ini termasuk cukup mengembirakan.

Salah satu hal yang HINGGA SAAT INI membuat saya sangat bahagia adalah ketika seorang penyair ternama asal Singapura – Johar Buang – mempercayakan penerbitan bukunya di Dapur Buku. Yang jauh lebih membahagiakan adalah ketika mbak Diah Kusumawati melakukan shalat istikharah, dan hasilnya dia mendapat petunjuk dari Allah untuk menerbitkan buku di Dapur Buku. Allahu Akbar!

Itulah dua pencapaian terbesar Dapur Buku yang membuat saya sangat bersyukur. Alhamdulillah (cerita selengkapnya bisa dibaca di sini).

Karena perkembangannya sangat menjanjikan, saya berharap semoga suatu saat nanti Dapur Buku menjadi salah satu penerbit terbaik di Indonesia. Semoga Dapur Buku juga bisa memberikan kontribusi yang sangat positif bagi perkembangan dunia literasi di Tanah Air. Aamiin….

Dukungan teman-teman semua akan sangat berarti.

Terima kasih, salam sukses selalu!

NB: Artikel ini merupakan lanjutan “yang tertunda” dari artikel “Kilas Balik Satu Tahun Dapur Buku”.

Jonru
Follow me: @jonru
Follow Dapur Buku too: @DapurBuku

Iklan

11 responses to “Ketika Saya (akhirnya) Mendirikan Penerbitan Buku

  1. Salam Literasi Mas, secara kebetulan penerbitan indie kita memiliki usia yg sama, februari kemarin kami genap setahun.
    saya setuju dengan prinsip Mas, ketika memulia berbisnis kita tidak perlu memiliki segalanya terlebih dahulu. kami juga merintis dengan apa yg kami miliki.
    semoga kita bisa sukses bersama Mas, memajukan dunia literasi Indonesia, aamiin.

    Suka

  2. SUKSES Mas Jonru buat Dapur Bukunya! Sy ikut mendoakan. Sy yakin, segala sesuatu yg diawali niat dan cara yg baik, bakal mendatangkan hasil yg baik pula dan memuaskan.

    Sy udah menjadi follower mas @Jonru. Follback sy ya (@SatuJoeli). 🙂

    Suka

  3. Luar biasa, udah buka penerbitan buku sendiri ya. Bisnis yang fokus pada minat dan bidangnya pasti akan sukses mas. Good luck untuk penerbitan bukunya 🙂

    Suka

  4. Alhmdulillah…Menemukan PASSION dlm hidup adalah kebahagiaan sejati yg tak tergantikan..
    Slanjut’y, slalu semangat tuk menebarkn kebahagiaan itu bak cahaya 😀

    Salut dach buat DapurBuku…KEAJAIBAN dari Allah, tidaklah mustahil!

    Suka

  5. Saya sudah lama kenal mas Jonru, saya pernah baca buku menerbitkan buku itu gampang. Kebetulan saya masih mahasiswa, dan kebetulan juga saya terlibat di pers mahasiswa dan yang lebih kebetulan lagi, saya sedang merintis usaha self publishing. Web anda sangat membantu saya menjalankn bisnis saya.

    Ya, sama seperti anda dulu, sekarang saya belum punya segalanya, tapi saya yakin dengan ilmu yang saya tekuni di pers mahasiswa dan ilmu ‘nulis’ yang saya punya, saya mengajak 2 orang sahabat saya untuk merintis usaha self publishing. Dengan motto “pasti terbit” kita mengajak mahasiswa lain untuk menulis dan menerbitkan karya. tidak penting siapa penerbitnya, karnya yang terpenting adalah “TERBITNYA”. HEHE. makasih mas atas curhatannya.

    Suka

  6. Perjalanan yang penuh liku-liku, tetapi saya salut dengan semangat dan kegigihan Anda. Saya jadi penasaran bagaimana caranya mendapatkan penulis terkenal hingga bersedia menerbitkan naskahnya di Dapur Buku.
    Selamat atas awal perjuangannya, semoga bisnis self publishingnya semakin jaya. Aamiin.. 🙂

    Suka

    • @Ide Blogging: Kami tak pernah berusaha secara khusus untuk mencari penulis terkenal. Alhamdulillah, dia sendiri yang mengirim naskah, atas inisiatif sendiri. Mungkin karena kami gencar promosi di internet. Thanks ya 🙂

      Suka

  7. Semoga sukses dengan penerbitan bukunya
    Mari sama2 berjuang untuk mengembangkan usaha kita masing.. 🙂

    Suka

  8. sudah lama saya nggak berkunjung ke blognya pak jonru karena sibuk mengurusi salah satu bisnis jasa marketing online.sekarang saya lihat sudah punya bisnis penerbitan buku.dari dulu saya pengen sekali menerbitkan buku hanya saja kendalanya masih belum spend time untuk menulis buku.kalau pakai ghost writer apakah bagus ya pak jonru.

    Thanks

    Suka

    • @Yohan Yonathan: Paket ghost writer bisa jadi solusi jika kita merasa kesulitan dlm menulis buku. Kebetulan di Dapur Buku juga ada jasa ghost writer.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s