Ketika Islam Harus Bergaul dengan “Sistem Kufur” yang Bernama Demokrasi


geliat_partai_dakwah_akmal

Ketika menulis buku “Sekuler Loe Gue End” (bersama mas Akmal Sjafril dan Abdurrahman Abu Aisyah), sejujurnya ada satu hal penting yang bergejolak, mengusik hati nurani saya. Di satu sisi, lewat buku ini kami mengajak pembaca untuk meninggalkan gaya hidup sekuler. Tapi di sisi lain kami justru masih sekuler karena ikut dalam sistem pemerintahan demokrasi yang tidak berasal dari Islam.

Dalam acara bedah buku “Sekuler Loe Gue End” bersama #IndonesiaTanpaJIL chapter Cikarang di Karawang beberapa waktu lalu, seorang peserta bertanya, “Bagaimana menurut Bapak-Bapak Pembicara mengenai sistem demokrasi? Bukankah itu berasal dari luar Islam, dan tidak sesuai dengan ajaran Islam? Apakah kita harus meninggalkannya?”

Sebuah pertanyaan yang tidak mengejutkan, karena saya sudah sering mendengarnya, terutama dari teman-teman aktivis HTI. Pembaca boleh tidak percaya: Jawaban saya ketika itu justru belum pernah terpikirkan sebelumnya. Itu adalah jawaban yang idenya justru baru saya temukan setelah pertanyaan tersebut diajukan!

“Saya percaya, setiap aktivis dakwah dari harokah manapun pasti bertujuan sama; ingin menegakkan nilai-nilai Islam di muka bumi ini. Namun cara mereka berbeda-beda. Masalahnya, kita selama ini hanya asyik mempermasalahkan CARA tersebut. Kita menghujat cara yang ditempuh oleh harokah lain. Padahal bukankah tujuan kita sama? Teman-teman yang berjuang lewat demokrasi tentu punya demikian banyak alasan, kenapa mereka memilih jalur tersebut. Teman-teman yang antidemokrasi pun pasti punya banyak alasan, kenapa mereka bersikap seperti itu.

Karena itu, tak perlulah kita mempermasalahkan perbedaan seperti itu. Kita lihat saja hasil akhirnya nanti. Jika misalnya yang lewat demokrasi ternyata berhasil, tentu yang menikmati hasilnya bukan hanya mereka, melainkan umat Islam secara umum, termasuk yang selama ini antidemokrasi. Jika yang berhasil adalah teman-teman yang antidemokrasi, tentu hasilnya pun bukan hanya untuk mereka yang selama ini rajin berkampanye “tegakkan khilafah sekarang juga”, bukan? Sebab khilafah merupakan hak dan milik seluruh umat Islam, bukan monopoli harokah tertentu saja.

Kita semua punya tujuan yang sama, hanya cara kita yang berbeda. Kita belum tahu cara mana yang efektif, cara mana yang berhasil. Tapi belum apa-apa kita sudah ribut dan saling menyalahkan. Jika seperti ini, maka yang bertepuk tangan adalah para musuh Islam. Dan khilafah tak akan pernah tegak jika kita hanya asyik saling menyalahkan, tak pernah action. Mau seperti itu?”

* * *

Walau simpatisan PKS, saya berprinsip untuk tidak pernah “taklid buta” terhadap PKS. Jika PKS salah, saya juga siap mengkritiknya. Ini pernah saya buktikan dua kali. Pertama, ketika dulu PKS pernah setuju pada kebijakan untuk menaikkan harga BBM, saya dengan penuh prihatin mulai menjauhkan diri dari PKS. Dan ketika PKS mencalonkan SBY sebagai presiden, saya justru mendukung Jusuf Kalla.

Bagi saya, harokah (seperti PKS, HTI dan sebagainya) adalah hasil pemikiran manusia, karena itu pasti banyak kelemahannya. Yang sempurna hanya Islam. Karena itu, kita sebaiknya membela Islam, bukan sibuk membela harokah secara membabi-buta. Seolah-olah harokah jauh lebih penting ketimbang Islam itu sendiri. Saya juga tidak segan-segan mempraktekkan hal-hal yang menurut saya benar dari HTI, Salafy atau dari harokah-harokah lain. Dan yang tidak baik dari  mereka, saya tinggalkan.

Ikut berpartisipasi dalam demokrasi adalah salah satu “hal tidak baik” pada PKS. Sejujurnya, saya pun tidak setuju dengan demokrasi. Tapi kenapa saya sampai saat ini masih mendukung PKS?

Jawaban untuk pertanyaan ini sungguh tidak mudah, dan butuh satu buku sendiri untuk menjawabnya. Alhamdulillah, saya tak perlu menulis buku tersebut, karena mas Akmal Sjafril sudah melakukannya!

Buku “Geliat Partai Dakwah Memasuki Ranah Kekuasaan” ini boleh disebut sebagai jawaban yang sangat komprehensif untuk menjawab sejumlah pertanyaan umat mengenai “Islam versus Politik” atau “Islam versus Demokrasi”. Secara perlahan namun amat meyakinkan, disertai analisis ilmiah, baik dari ilmu pengetahuan maupun dalil-dalil agama (Islam), mas Akmal membahas masalah yang sangat menarik ini dengan bahasa yang sangat sederhana, dan mudah dipahami.

Menurut pengamatan saya, saat ini ada tiga “pemikiran utama” di kalangan umat mengenai keterlibatan Islam di dalam politik dan demokrasi.

  1. Golongan pertama, berpendapat bahwa umat Islam (khususnya para tokoh agama) tidak seharusnya terjun ke dunia politik praktis, karena politik itu kotor, menghalalkan segala cara. Berpartisipasi dalam politik hanya akan menodai kesucian agama Islam. Orang yang berpandangan seperti ini tidak hanya kaum sekuler yang hidupnya jauh dari nilai-nilai Islam, tapi juga orang-orang yang sebenarnya hidup mereka religius, taat beribadah, bahkan mungkin sudah naik haji. Masalahnya, walau religius mereka masih terjangkiti penyakit sekuler.
  2. Golongan kedua, berpendapat bahwa demokrasi berasal dari sistem kufur, jadi haram hukumnya bagi umat Islam untuk melibatkan diri di dalam demokrasi.
  3. Golongan ketiga, berpendapat bahwa politik tidak perlu diurusi. Kita cukup berjuang menegakkan sunnah. Jika sunnah sudah ditegakkan, otomatis yang namanya khilafah akan tegak sendiri, tak perlu repot-repot diperjuangkan lewat jalur politik, termasuk demokrasi.

Untuk golongan pertama, mas Akmal menjelaskan bahwa berdakwah adalah salah satu tugas utama bagi umat Islam di muka bumi ini. Dan, “Kekuasaan bisa dimanfaatkan sebagai instrumen dakwah yang sangat efektif. Selain melaksanakan dakwah secara praktis, kekuasaan juga dapat menjadi payung pelindung dakwah….” (hal 22).

“Kekuasaan atau politik adalah suatu instrumen yang bisa melakukan hal-hal terentu yang tidak bisa dihilangkan hanya dengan AlQuran belaka.” (hal. 23)

Jelaslah, tujuan umat Islam dalam meraih kekuasaan adalah untuk menjalankan tugas mulia kita di muka bumi ini, yakni berdakwah. Bukan untuk memenuhi ambisi ingin berkuasa semata, seperti yang dilakukan oleh kebanyakan politisi kita saat ini.

Untuk golongan kedua, mas Akmal sepertinya memberi porsi pembahasan yang sangat banyak di buku ini. Disebutkan, demokrasi merupakan sebuah sistem yang sangat terbuka, sehingga bebas ditafsirkan seperti apapun. “Penyebab tidak kunjung selesainya perdebatan soal demokrasi adalah karena demokrasi itusendiri begitu terbuka untuk penafsiran yang berbeda.” (hal 41). Dalam prakteknya, setiap negara menerapkan demokrasi dengan konsep dan cara yang berbeda-beda. Bahkan ada negara yang dinilai oleh banyak kalangan tidak demokratis, tapi mereka menyebut diri sebagai negara demokrasi.

Kondisi ini merupakan sebuah peluang besar bagi umat Islam. Sebab sistemnya yang sangat terbuka dan multitafsir memungkinkan kita membuat penafsiran dan konsep sendiri mengenai demokrasi. Dengan kata lain, kita “menunggangi “demokrasi untuk tujuan dakwah, bukan menikmatinya.

Demokrasi – menurut saya – merupakan “pintu darurat” bagi umat Islam untuk berdakwah lewat kekuasaan. Khilafah memang sistem terbaik, namun apakah kita harus menunggu khilafah tegak dulu baru berdakwah?

Butuh waktu dan proses yang tidak singkat untuk menuju tegaknya khilafah. Namun yang namanya dakwah tak bisa menunggu. Tak ada dalil di dalam Al Quran maupun hadits yang menyebutkan bahwa dakwah hanya wajib dilakukan setelah khilafah berdiri tegak. Karena itu, memilih demokrasi merupakan cara strategis yang bisa ditempuh oleh umat Islam di tengah situasi masa kini yang sangat tidak menguntungkan bagi umat Islam.

Untuk golongan ketiga, saya belum menemukan pembahasan yang memadai. Dan barangkali inilah salah satu kelemahan buku ini.

Kelemahan lainnya dari buku ini adalah pada covernya. Di dalam kata pengantar, mas Akmal dengan tegas menyebutkan bahwa buku ini bukan mengenai PKS, tapi partai dakwah secara umum. Dengan kata lain, ini adalah buku untuk seluruh umat Islam, buka hanya bagi kader PKS. Di beberapa halaman buku ini, mas Akmal juga sempat menyebut nama Partai Masyumi di era Orde Lama. Ini makin mempertegas bahwa buku ini bukan semata-mata mengenai PKS.

Bahkan sebagai pembaca, secara objektif saya melihat bahwa sekitar 70 persen isi buku ini memang BUKAN mengenai PKS. Buku ini penuh oleh penjelasan ilmiah mengenai prinsip demokrasi, sejarah sekularisme, sejarah demokrasi di Indonesia, dan seterusnya. Pembahasan tentang PKS hanya secuil.

Masalahnya, cover buku ini “PKS banget”. Bukan hanya warnanya. Tapi lambang PKS yang muncul di atas dasi makin memberikan kesan bahwa buku ini tentang PKS. Bahkan endorsment di cover belakang pun dari tokoh PKS. Makin lengkap deh, kesan PKS untuk buku ini 🙂

Kalau boleh memberi masukan, cover buku ini sebaiknya diganti dengan nuansa yang umum saja. Tak perlu ada lambang partai apapun, dan warna diganti dengan hijau. Dan untuk gambar pria di cover, menurut saya akan lebih baik bila diganti dengan pria berbaju koko dan berpeci saja. Ini akan lebih kuat untuk memberikan nuansa Partai Islam.

Mohon maaf jika kritikan saya sifatnya sangat teknis. Tapi saya yakin mas Akmal juga setuju bahwa cover bagi sebuah buku sangatlah penting. Cover akan memberikan kesan pertama yang sangat berharga. Dari kesan pertama inilah pembaca bisa menentukan apakah suka atau tidak pada buku ini, apakah mereka akan membeli buku ini atau tidak. Banyak orang yang memutuskan untuk membeli atau tidak membeli sebuah buku, hanya setelah melihat covernya. Ya, cover sangatlah penting!

Saya khawatir, teman-teman yang tidak suka pada PKS akan langsung antipati pada buku ini di saat pertama kali mereka melihat covernya. Padahal, buku ini sebenarnya sangat penting dan bermanfaat bagi mereka. Padahal buku ini sebenarnya bukan mengenai PKS.

Unsur “partai dakwah” pada judul buku pun menurut saya menjadi masalah tersendiri. Sebab selama ini, yang identik dengan “partai dakwah” adalah PKS. Jika mas Akmal memang konsisten dan berkomitmen dengan niat menjadikan buku ini bersifat universal, maka menurut saya judul buku ini pun perlu diganti, misalnya menjadi “Geliat Partai Islam….”

Namun terlepas dari kelemahan tersebut, secara umum buku ini sangatlah bagus. Lagipula, bukankah kelemahan hanya pada covernya, bukan isinya? Kalau isinya, hm… daging semua, deh. Sangat layak dibaca. Sangat bermanfaat untuk memberikan pemahaman bagi umat Islam, bahwa kita memang harus berpolitik. Sebab berpolitik dan berdakwah lewat jalur kekuasaan merupakan salah satu keniscayaan agar Islam bisa kembali berjaya di muka bumi ini.

Jonru

– Penulis Buku  “Sekuler Loe Gue End” (ditulis keroyokan bersama Akmal Sjafril dan Abdurrahman Abu Aisyah)

– Direktur penerbit Dapur Buku

– Penulis buku “Cara Dahsyat Menjadi Penulis Hebat”, “Menerbitkan Buku Itu Gampang!” dan sejumlah buku lainnya.

Follow me: @jonru

Iklan

5 responses to “Ketika Islam Harus Bergaul dengan “Sistem Kufur” yang Bernama Demokrasi

  1. Setuju atas kritik tentang cover buku itu bang jonru.

    Saya juga sebagai kader pks, agak menyayangkan kalo buku yg isinya toh tidak berbicara banyak ttg pks dan saya berharap dapat di gunakan sbg salah 1 rujukan/bahan pemikiran semua umat islam indonesia. Harus dihias gambar cover spt itu.

    Suka

  2. Beberapa waktu yang lalu saya pernah mendengar seorang ustadz mengatakan bahwa demokrasi tak ubahnya daging babi. Daging babi bagi umat Islam itu hukumnya haram namun boleh dimakan jika terpaksa harus mempertahankan hidup daripada mati kelaparan. Namun, hanya boleh diambil sekedarnya saja, tidak boleh berlebihan apalagi sampai dinikmati.

    Mengenai cover buku itu saya sependapat dengan pak Jonru, lebih baik yang umum saja. Jangan sampai nanti orang-orang yang seharusnya bisa tercerahkan dengan isi buku itu malah enggan membacanya karena terkesan PKS banget

    Suka

  3. Saya sangat suka dan setuju dengan ulasan bapak ttg cara menyikapi perjuangan menegakkan khilafah. Harus saya akui selama ini terjebak dlm terma pro demokrasi dan anti demokrasi sehingga melupakan tujuan sebenarnya.. Terima kasih pak..

    Suka

  4. Seperti halnya babi, babi haram sampai kapan pun. Memang jika dalam keadaan terdesak dibolehkan dengan catatan memang saat itu tidak ada lagi makanan selain babi, dan jika kita tidak makan saat itu juga kita akan mengalami kematian. Jadi terdesak ini ukurannya jika tidak dilakukan akan menyebabkan kematian.
    jika dibilang demokrasi adalah pintu darurat, menurut saya ini salah besar. Sebab masih ada jalan lain yang bisa digunakan untuk mencapai tegaknya islam(jalan . Tujuan yang mulia harus dicapai dengan metode yang benar. Inilah konsepan ihsanul amal. Ikhlas dan sowab(benar sesuai hukum syara).
    misal saya beri contoh sederhana.
    Anda shalat subuh ikhlas sekaliiii.. namun anda shalat sambil koprol guling2.. apakah shalat anda dikatakan amalan yang terbaik(ihasanul amal)
    atau anda shalat subuh benar sih, tapi tidak ikhlas ada keterpaksaan disana. apakah itu amalan terbaik? tentu tidak karena sarat ihsanul amalnya tidak terpenuhi,
    Seperi halnya teman2 yang menjadikan demokrasi sebagai tunggangan. dia rela ikhlas berjuang menegakkan islam tapi justru caranya salah tidak sesuai dengan islam. Apakah dikatakan amalan yang terbaik? jelas tidak malah bisa berdosa karena demokrasi kedaulatan ditangan manusia padahal dalam islam kedaulatan ada di tangan Allah.
    Maka masihkah kita menggunakan demokrasi sebagai jalan?
    padahal suatu kesesatan yang nyata,
    Memang menurut akal dan logika kita menunggu khilafah tegak itu lama..inilah keterbatasan kita.
    Tapi Allah itu maha kuasa, Khilafah itu janji Allah. memang tentang waktu kita tak tahu, tapi ia adalah sebuah kepastian.
    Sebenarnya, tanpa anda atau saya pun khilafah itu akan tegak.
    lantas tak usah berjuang?
    Ya terserah anda, tapi jika tidak maka kerugian besar bagi kita.
    Tanpa kita pun Allah akan mengganti kita dengan orang yang lebih baik dari kita Allah akan mengganti kita dengan orang yang lebih mencintai Allah dan Allah pun lebih mencintainya. maka mari berjuang sesuai metode rasulullah, tanpa demokrasi.

    Semoga bermanfaat dan memberikan pencerahan. Kaji lebih dalam, carilah kebenaran bukan pembenaran. 🙂

    Suka

  5. BOLEH SAYA BERTANYA KEPADA IKHWAH SEMUA YANG ADA DISINI???
    PERTANYAAN SAYA :

    APABILA SI FULAN ADA DI TENGAH2 LUMPUR HIDUP YANG AKAN MENENGGELAMKAN NYA. BAGAIMANAKAH CARA SI ANTUM MENYELAMATKAN NYA?

    A. MASUK KEDALAM LUMPUR HIDUP ITU,LALU BERJUANG (BERENANG DLL) KE TEPI DENGAN SUSAH PAYAH.

    B. GUNAKAN SARANA LAIN (KAYU,TALI DLL),LALU TARIK DIA DARI LUMPUR TERSEBUT.

    KIRA2,IKHWAH PILIH YG MANA?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s