[Renungan] Ketika Allah Menegur atas Kesalahan yang Kita Perbuat


sujud

Sumber foto: bimoprasetio.com

Mungkin banyak teman yang tahu, saya termasuk orang yang antiHOAX (info palsu, tapi banyak yang mengira itu info yang benar). Sering saya menegur orang yang menyebarluaskan hoax di internet. Bahkan, sejumlah teman suka bertanya pada saya mengenai informasi tertentu, apakah itu hoax atau bukan. Misalnya, beberapa waktu lalu ada teman yang bertanya pada saya mengenai kebenaran info tentang Paus yang – katanya – masuk Islam.

Tapi yang namanya manusia, khilaf tentu hal biasa. Saya bukan pakar hoax, tapi sekadar suka saja menegur orang yang mengirim hoax. Saya pun tentu saja pernah khilaf, karena menduga sebuah informasi itu sungguhan, tapi belakangan terbukti hanya hoax. Ya begitulah manusia. Kalau sempurna, bukan manusia namanya 🙂

Nah, beberapa waktu lalu, saya melakukan kekhilafan tersebut. Saya menemukan foto berikut di wall seorang teman Facebook, lalu saya save, saya beri caption, dan diposting di wall Facebook saya. Berikut penampakannya:

foto hoax

Belakangan ternyata ketahuan, ini hanya foto hoax. Tapi Demi Allah, saya awalnya sama sekali tidak tahu soal itu.

Memang, beberapa menit kemudian, ada teman yang memberitahu bahwa itu hoax. Dan (inilah barangkali KESALAHAN SAYA) saya mengacuhkan info dari teman tersebut. Bagi saya, yang penting info yang hendak saya sampaikan lewat posting tersebut bisa sampai. Saya ingin menginformasikan bahwa banyak korban tewas di Mesir yang mati syahid. Buktinya, mayat mereka terlihat tersenyum dengan cerah (Memang yang tahu apakah seseorang itu mati syahid atau bukan hanyalah Allah. Tapi sebagai manusia, kita bisa melihat tanda-tandanya, dan tanda-tanda itulah yang saya tunjukkan).

Beberapa hari kemudian, ternyata ada blogger yang memposting foto tersebut (bersama dua foto lainnya) dalam sebuah tulisan di Kompasiana. Si blogger – namanya Candra Wiguna – dengan lugas menyebut bahwa saya termasuk salah seorang pelaku penyebarluasan foto hoax sehubungan dengan konflik Mesir. Dan – sepertinya disengaja – semua pelaku yang ditampilkan adalah orang-orang yang pro Ikhwanul Muslimin (belakangan, fakta ini membuat saya sadar, siapa sebenarnya si blogger ini, dan dia memihak siapa).

Dan coba tebak! Tulisan si blogger ini sempat menjadi trending article di Kompasiana, bahkan akhirnya masuk headline. Akibatnya, orang yang membaca tulisan ini sangat banyak. Bahkan, banyak orang yang men-share-nya di Twitter dan Facebook.

Di sinilah saya mulai sadar bahwa Allah sedang “menghukum” saya.  Sejujurnya saya akui, bahwa kesalahan saya pada kasus ini adalah saat saya cuek saja, tidak bertindak apapun, ketika tahu bahwa foto tersebut ternyata hoax. Adapun saat saya memposting foto hoax tersebut, saya yakin Insya Allah saya tidak berdosa atau bersalah. Sebab saya melakukannya karena faktor ketidaktahuan. Dalam Islam, bukankah orang yang tidak tahu itu termasuk yang terbebas dari sanksi dosa?

* * *

Sesaat setelah saya mengetahui tulisan di Kompasiana tersebut, saya langsung minta maaf. Karena saya pikir, itulah tindakan terbaik bagi siapa saja yang telah melakukan kesalahan.

maaf kompasiana

Permintaan maaf saya di Kompasiana

maaf twitter

Permintaan maaf saya di Twitter.

Namun ternyata, kebanyakan netizen lebih suka mengorek-ngorek kesalahan orang lain, bahkan membully dengan tuduhan-tuduhan yang “menyakitkan”. Saya dibilang penipu, berdusta di atas penderitaan rakyat Mesir, bahkan ada yang menjuluki saya tukang fitnah. Intinya, tindakan saya ketika memposting foto hoax itu, mereka sebut sebagai tindakan penipuan. Padahal, Demi Allah saya melakukan itu hanya karena ketidaktahuan belaka.

Tapi mereka mana mau tahu? Bagi orang-orang seperti itu, berburuk sangka, menuduh, dan membully orang lain adalah tindakan yang paling menggembirakan.

Bahkan, ada juga orang yang mempersoalkan cara saya meminta maaf. Mereka bilang, cara minta maafnya arogan, membawa-bawa nama Allah, menakut-nakuti orang, dan sebagainya. Padahal insya Allah, sama sekali tidak ada niat seperti itu.

Ya, memang seperti itulah ilmu keledai. Apapun yang kita perbuat, pasti dianggap salah. Jika kemarin saya tidak minta maaf pun, pasti dipermasalahkan juga. Ketika sudah minta maaf pun, tetap dipermasalahkan. Begitulah ilmu keledai!

* * *

Saya menulis artikel ini bukan dalam rangka mengeluh, curhat, atau membela diri. Soal bully, cemoohan dan semua tuduhan yang dialamatkan ke saya, insya Allah saya sudah lumayan kebal terhadap hal-hal seperti itu. Sebab alhamdulillah saya sudah “berpengalaman jadi korban bully” sejak beberapa tahun lalu. Pengalaman demi pengalaman itu membuat saya berkesimpulan bahwa SIKAP TERBAIK dalam menghadapi bullying adalah DIAM. Ya, diam saja sambil bersabar dan ucapkan di dalam hati, “Allah Maha Tahu. DIA Maha Tahu terhadap isi hati saya dan siapa saya yang sebenarnya. Bagi saya, yang penting adalah pendapat Allah. Pendapat manusia tidak penting.”

Dengan bersikap seperti itu, insya Allah kita akan jadi tenang, tak terpengaruh sedikit pun oleh berbagai macam komentar miring yang dialamatkan pada kita.

Kenapa harus diam? Sebab pengalaman saya membuktikan, bahwa semakin kita bicara, semakin kita meladeni para pelaku bully, semakin kita membela diri, maka semakin banyak juga bullying yang kita terima. Apapun alasan yang kita ucapkan, apapun argumen kita, percayalah bahwa itu semua tak ada gunanya, sebab mereka tak akan menggubrisnya. Justru, alasan demi alasan, argumen demi argumen yang kita lontarkan, akan mereka counter lagi dengan hujatan-hujatan berikutnya yang jauh lebih menyakitkan.

Intinya, meladeni mereka hanya buang-buang waktu, buang-buang energi, tak ada gunanya. Lebih baik diam saja, sambil berdoa, bersabar, dan yakin bahwa Allah Maha Tahu. Titik.

Maka, tulisan saya ini bukan dalam rangka curhat, bukang dalam rangka mengeluh, apalagi dalam rangka membela diri (bukankah saya sudah minta maaf?).  Insya Allah, saya menulis artikel ini dengan niat untuk merenung saja. Karena itulah, saya mencantumkan kata RENUNGAN pada judul.

Dan renungannya adalah:

Saat menyadari bahwa kita telah berbuat salah, maka langkah terbaik adalah segera memperbaiki kesalahan tersebut. Jika tidak, kita tak akan menduga “hukuman” seperti apa yang akan diberikan oleh Allah pada kita.

(Dan tentu saja, semoga ini bisa membawa hikmah bagi kita semua – termasuk saya – bahwa kita sebaiknya tidak mudah percaya pada info apapun di internet, sebab banyak sekali info hoax yang bertebaran di dunia maya. Jangan terlalu mudah menyebarluaskan informasi apapun. Cek dan ricek dulu kebenarannya).

Seperti yang sudah saya alami, hukuman tersebut ternyata berupa pemuatan sebuah tulisan di trending article dan headline Kompasiana, lalu banyak orang yang jadi tahu, banyak orang yang menuduh saya penipu dan berbagai macam tuduhan yang sebenarnya jauh dari kebenaran. Sebab di balik tuduhan-tuduhan tersebut, terdapat sejumlah buruk sangka, salah persepsi dan sebagainya, yang tentu saja tak bisa kita hentikan. Sebab itu sudah di luar wewenang kita.

Seorang teman di Facebook sempat berkomentar, “Jangankan berbuat salah, Pak. Kita berbuat benar saja pun sering disalahkan. Karena itu, lebih baik selalu hati-hati dalam bertindak.”

Ya, betul sekali. Terima kasih, Teman, karena sudah mengingatkan.

Berikut saya cantumkan komentar beberapa rekan Kompasianer, yang menurut saya memberikan gambaran yang objektif mengenai tulisan Candra Wiguna tersebut.

Saya sdh baca tulisan terkait berikut segala komentnya, mau ikut koment jg tapi lihat begitu banyak kelebaian jadi males dah… soal foto hoax itu sendiri sy tdk suka, tp mungkin itu hanya refleksi pembelaan anda terhadap sodara muslim yang teraniaya. Hanya saja saya melihat anda dihakimi oleh kelompok itu seolah anda lebih kejam dari para pembantai walaupun sdh meminta maaf dgn besar hati. Saya yakin banyak hoax yg lebih kejam dari pembela militer mesir, tp dimata mereka itulah kebenaran.

Sesungguhnya kebenaran yang hak adalah milik Allah, tetaplah berjuang dijalan Allah, doakan para pejuang menang dalam menegakan agama Allah, karena jika bukan kita yg seaama

Ahmed Saudio

* * *

Artikel yang aneh, karena disaat pembantaian manusia dgn cara biadab malah yang diangkat persoalan kecil yang dibesar-besarkan dan mengecil-ngecilkan suatu yang besar. Ada apa??!

Cara seperti ini dapat mengalihkan perhatian pada hal yg tidak penting, sehingga menimbulkan anggapan seolah-olah photo2, rekaman2 kejadian yg lain diragukan kebenarannya.

Demi kepentingan tertentu terkadang sekecil apa pun peluang untuk tujuan kelompok akan dimanfaatkan…

Perlu diingat, boleh jadi photo2 palsu itu dibuat oleh orang2 yg memang ingin agar kebenaran sesungguhnya menjadi diragukan!.

Hanya ada beberapa photo palsu, sedangkan photo dgn kejadian yg sebenarnya itu jumlahnya ribuan!.

Sepertinya penulis artikel lebih suka mengulas photo yg sedikit ini (meskipun ada benarnya) ketimbang photo yg jumlahnya ribuan itu.

Kenapa begitu!?

Saya meragukan niat baik penulis artikel ini…

Terserah pula anda menilai saya…

Imam Gilben

* * *

mas kenapa seperti yang disengaja yang diposting berita hoax dari pendukung mesir dan PKS? jangan-jangan ada misi juga ya…padahal lebih banyak berita bohong dan hoax dari yang mendukung liberal dan militer, coba aja cek dan silahkan posting kalau berani dan niatnya baik untuk mendukung kebenaran. Saya keberatan dengan artikel ini karena jelas menyudutkan satu pihak/tidak berimbang. Padahal kenyataanya lebih banyak berita bohong oleh pendukung militer yang dilakukan dengan masip dan terencana oleh media besar daripada oleh individu yang gak terlalu besar efeknya daripada media besar

Eli Kurniadi

* * *

Sebagai penutup, saya sampaikan sekali lagi bahwa tulisan ini dibuat dengan niat sebagai renungan belaka, untuk diri saya sendiri, dan semoga bermanfaat bagi teman-teman semua. Namun jika ada di antara pembaca yang menanggapi artikel ini secara negatif, kembali membuat tuduhan terhadap saya dan sebagainya, ya sudahlah. Allah Maha Tahu mengenai isi hati saya yang sebenarnya.

NB: Sebelum tulisan ini, saya juga sudah membuat tulisan tersendiri mengenai kasus ini di Kompasiana. Klik di sini.

Terima kasih, salam sukses selalu!

Jonru
Direktur Penerbit Dapur Buku
Cara Baru Menerbitkan Buku. Naskah Apapun Diterima. Bebas Penolakan Naskah

Follow me: @jonru

Iklan

8 responses to “[Renungan] Ketika Allah Menegur atas Kesalahan yang Kita Perbuat

  1. Ya sudah.. jangan terlalu diambil hati Bang.. mereka juga jauh didalam hatinya sudah memaafkan abang kok.. cuma yang terucap sedikit berbeda.. Toch mereka juga manusia yang tidak luput dari kesalahan…
    “Ula sangkut ukurndu… Ginting kan la megogo…”

    Suka

  2. Permintaan maaf saya kira sdh cukup. Ya ini lah dunia maya yg tidak semua penghuninya memiliki kedewasaan berpikir, terutama kebesaran hati meminta maaf dan menerima maaf.

    Selamat berjuang terus Bang !

    HILDAN FATHONI

    Suka

  3. Iya bang jangan diambil hati, dunia maya 1-2 bulan ilang
    memang sekarang era nya informsi begitu cepat, dan kadang kalau ane sendiri sangat ingin menyampaikan berita berita baik dengan terkadang ane tidak terlebih dahulu mengkroscek nya. ane juga kadang seperti itu bang.
    Ane bisa mengambil hikmah dengan apa yang abang alami dengan lebih hati hati mengshare atau membagikan berita apapun yang sifat nya dan sumbernya belum terlalu jelas.

    semangat bang, salam dari Jogja

    Suka

  4. yang sabar ajja dah 🙂

    Suka

  5. misalnya saya yg tidak berbuat tpi saya yg di tuduh dan saya pun tidak tau apa apa tpi orang ni tetep saya di suruh jujur udah jujur saya di malah makin gk percaya saya trus dengan kekerasan saya juga di cobanya saya malah menuduh orang apa solusinya udah saya bilang juga kalo saya cuman buat cerita aja buat nuduh dia trus apa lg yg harus sya perbuat??

    Suka

  6. M. Dhinar Zulfiqar

    tetap tabah, perbanyak istigfar dan mohon ampunanNya agar semua masalah ini dapat diselesaikan dengan baik, tanpa ada pihak yang dirugikan
    diam itu emas, segera tinggalkan sesuatu yang sekiranya buruk untuk kita rasakan

    Suka

  7. Ping-balik: Surat Cinta untuk Darwis Tere Liye | myrahil

  8. Ping-balik: Surat Cinta untuk Darwis Tere Liye | dakwatuna.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s