Empat Fenomena Aneh Seputar Hari Natal


toleransi natal

Mohon maaf, tulisan ini bukan membahas hal-hal esensial sehubungan dengan Hari Natal. Sebab saya bukan umat Kristen. Insya Allah sampai hari ini masih Muslim. Tentu tidak etis jika saya mengurus keyakinan agama lain.

Tulisan ini hanya membahas sejumlah fenomena seputar Hari Natal yang menurut saya aneh.

Fenomena I:

Hari Natal selalu diidentikkan dengan kerusuhan, perang antaragama, situasi tidak aman. Sampai-sampai perayaan Natal di gereja selalu dikawal ketat oleh pihak keamanan.

Kenapa? Mungkin karena dulu pernah terjadi pengeboman di gereja saat berlangsung perayaan Natal. Siapapun pelakunya, saya secara pribadi mengutuk perbuatan tersebut. Jika pelakunya muslim, pasti dia bukan muslim yang baik. Menghargai, membiarkan dan menghormati keyakinan umat agama lain (termasuk ibadah mereka) merupakan salah satu sikap toleransi yang diajarkan oleh Islam. Pasti Rasulullah pun akan sangat marah jika ada umat Islam yang kejam seperti itu.

Namun apakah peristiwa pengeboman di gereja tersebut bisa kita jadikan alasan untuk menganggap bahwa perayaan Natal identik dengan kerusuhan, perang antaragama, situasi tidak aman? Menurut saya, ini pandangan yang terlalu berlebihan. Sebab pengeboman juga terjadi di sebuah kafe di Bali, di gedung perkantoran megah di Jakarta, di tempat-tempat yang tak ada kaitannya dengan perayaan ibadah agama manapun. Tapi kenapa hanya perayaan Natal yang diidentikkan dengan hal-hal buruk tersebut

Fenomena II:

Hampir semua ucapan “Selamat Hari Natal” dari umat nonKristen selalu dibarengi kalimat “mari menjaga toleransi”. Tentu saja, toleransi antarumat beragama itu sebuah keharusan di tengah keberagaman. Namun pertanyaannya, kenapa kalimat “mari menjaga toleransi” hanya muncul pada ucapan selamat Natal? Kenapa tidak muncul di ucapan Selamat Hari Waisak, Selamat Hari Nyepi, Selamat Idul Fitri, Selamat Idul Adha dan seterusnya?

Tentu toleransi BUKANLAH salah satu esensi penting dari perayaan Hari Natal. Menurut kepercayaan umat Kristen, hari Natal adalah untuk merayakan kelahiran tuhan mereka. Ini tentu tak ada kaitannya dengan toleransi, bukan?

Tapi kenapa ucapan dan anjuran toleransi hanya ditekankan pada perayaan Natal?

Jika dikaitkan dengan fenomena I di atas, saya kira ini terlalu berlebihan. Karena seperti yang sudah saya sebutkan, insiden pengeboman tidak hanya terjadi di gereja, tidak hanya terjadi di perayaan Natal.

Atau mungkin ada kaitannya dengan fenomena III di bawah ini?

NB: Tentu tidak masalah jika perayaan agama dijaga petugas keamanan, jika memang itu dianggap perlu. Namun jika perayaan agama diidentikkan dengan situasi buruk, peperangan dan sebagainya, itulah yang disebut keliru.

Fenomena III:

Muncul pemikiran salah kaprah bahwa sepertinya mengucapkan Selamat Hari Natal merupakan sebuah KEHARUSAN. Jika kita tidak mengucapkannya, maka dianggap tidak toleran.

Ya, ini adalah salah kaprah yang sangat kronis, sebab:

  1. Ada demikian banyak perayaan umat beragama di dunia ini. Ada Idul Fitri, ada Waisak, ada Nyepi, ada Paskah, ada Imlek, dan sebagainya. Selama ini, tidak pernah ada himbauan atau perintah untuk mengucapkan selamat hari waisak, selamat hari paskah, selamat imlek, selamat idul fitri, dan sebagainya. Kenapa himbauan tersebut hanya ditujukan pada Hari Natal?
  2. Ketika saya tidak mengucapkan selamat hari waisak, tidak mengucapkan selamat hari paskah, tidak mengucapkan selamat hari nyepi, dan sebagainya, maka TAK ADA yang mengatakan saya tidak toleran. Tapi ketika saya tidak mengucapkan selamat hari Natal, tiba-tiba saya disebut tidak toleran.

Hm… ada apakah di balik fenomena aneh ini? Sepertinya ada sebuah pengecualian untuk hari Natal. Sebuah pengecualian yang aneh dan membingungkan.

Mungkin teman-teman kita umat Kristen berargumen, “Hari Natal memang perkecualian, karena ini hari yang sangat istimewa. Ini adalah hari kelahiran tuhan kami.”

Ya, kita bisa memaklumi argumen tersebut, sebab itu bagian dari keyakinan mereka. Kita harus menghormatinya.

Tapi setiap orang tentu punya keyakinan masing-masing. Karena itu: Saat teman-teman Kristen menganggap Natal itu istimewa, tentunya Anda pasti tidak akan memaksakan kepada kami untuk ikut menganggap Hari Natal sebagai hari istimewa, bukan? Sebab Anda pun pasti tidak bersedia jika kami umat Islam menyuruh Anda menganggap Idul Fitri dan Idul Adha sebagai hari istimewa.

Fenomena IV:

Selama ini, sudah biasa diadakan tradisi perayaan Natal Bersama. Para pejabat (presiden, walikota, gubernur dan sebagainya) yang beragama Islam pun ikut hadir merayakan Natal di Gereja.

Banyak orang beranggapan, hal itu wajar-wajar saja, karena para pejabat tersebut adalah milik publik, bukan milik golongan tertentu saja.

Benar. Tapi bagaimanapun, para pejabat tersebut SECARA PRIBADI adalah muslim. Sebagai seorang muslim, mereka tentu masih terikat pada aturan-aturan dalam Islam. Dan dalam Islam, ikut merayakan ibadah agama lain merupakan sesuatu yang sangat tidak diperbolehkan.

Lagipula mari kita simak fakta berikut:
Jika di Indonesia, para pejabat sepertinya diharuskan untuk mengikuti perayaan Natal Bersama, apakah hal ini juga berlaku di negara lain? Apakah di negara-negara di mana umat Islam menjadi minoritas, ada acara Idul Fitri bersama dan dihadiri oleh para pejabat negara yang beragama selain Islam? TAK PERNAH ADA!

Bayangkan bila mayoritas penduduk Indonesia beragama Kristen dan presidennya orang Kristen. Apakah sang presiden akan mau mengikuti acara Idul Fitri Bersama? Saya tidak yakin dia mau. Ini bukan prasangka semata. Tapi pengalaman di tempat-tempat lain membuktikan hal itu.

Jadi, tentu perayaan Natal Bersama merupakan sesuatu yang sangat aneh. Bahkan bila kita melihat sejarahnya, sebenarnya perayaan Natal Bersama merupakan tradisi yang dilestarikan sejak zaman Orde Baru. Sebelum itu sama sekali belum pernah ada.

NB: Ada yang berargumen: Para pejabat tersebut tidak dipaksa datang, tapi hanya diundang.

Nah, di sinilah masalahnya. Kalau umat Kristen memang menghargai keyakinan umat Islam, seharusnya TAK PERLU MENGUNDANG para pejabat Muslim untuk menghadiri perayaan natal. Sebab bagi kami yang muslim, menghadiri seperti itu dosanya sangat besar.

Kami umat Islam juga tak pernah mengundang umat agama lain untuk menghadiri upacara ibadah agama Islam. Jadi untuk urusan agama, sebaiknya masing-masing saja. Yang namanya toleransi dan kerukunan hidup bisa diwujudkan dalam hal-hal lain.

Tentang Toleransi:

toleransi natal

“Banyak umat muslim (terutama para karyawan) yang dari tahun ke tahun selalu dipaksa untuk memakai aksesori Natal. Tapi yang selalu dipersalahkan adalah umat Islam yang tak mau mengucapkan selamat natal. Di manakah toleransi?”

Itu bunyi sebuah banner yang saya baca di sebuah website.

Bagaimana jika pegawai Kristen dipaksa berjilbab saat bulan Ramadhan? Pasti langsung ramai diperbincangkan. Pasti Islam akan langsung diserang, disebut sebagai agama yang tidak toleran. Anehnya, ketika umat Islam dipaksa memakai aksesori Natal, semua dianggap biasa-biasa saja. Tak ada yang ribut.

Ya, toleransi kini mengalami kerancuan makna yang sangat luar biasa. Bahkan, dari dua paragraf di atas, terlihat dengan jelas bahwa ada ketidakadilan dan keberpihakan yang tidak fair sehubungan dengan toleransi di negeri ini.

Padahal dalam Islam, toleransi itu sangat jelas. Kita menghormati keyakinan umat agama lain. Kita membiarkan mereka merayakan ibadah agama mereka. Kita tak akan mengganggu mereka. Itulah toleransi, dan itu sudah lebih dari cukup.

Sesuatu TIDAK BISA disebut toleransi jika sudah menyangkut aqidah, jika sudah menyangkut iman.

Referensi Sebelum Mendebat:

Anda dipersilahkan mendebat tulisan ini. Tapi sebelumnya, sebaiknya baca dulu artikel-artikel di bawah ini. Jika Anda masih membahas hal-hal yang sebenarnya sudah pernah dibahas di artikel-artikel tersebut, maka maaf jika saya tidak ada waktu untuk mengulang-ulang pembahasan yang sama.

1. Rancunya Natal oleh Akmal Sjafril

2. Tentang Hari Natal, Sudahkah Kita Saling Menghormati Keyakinan? 

3. Mengapa Ucapan “Selamat Natal” Bisa Mengganggu Iman Seorang Muslim?
4. Meluruskan Definisi Fanatik dan Toleransi:

5. Sebuah karikatur dari Komik Haji Jayus yang memberikan gambaran sangat sederhana mengenai makna toleransi yang sebenarnya (klik untuk melihat ukuran sebenarnya):

toleransi natal

NB: Insya Allah tulisan ini bukan bermaksud memancing kebencian antarumat beragama. Justru, agar kita lebih saling menghormati dan menghargai. Kalau bicara soal agama selalu dibilang SARA dan menyebarluaskan kebencian, justru itu yang berbahaya karena itu sama saja seperti memendam bara api yang suatu saat bisa meledak dan berkobar-kobar.

Iklan

29 responses to “Empat Fenomena Aneh Seputar Hari Natal

  1. Analisanya dari mana ada orang Kristen yg mengharuskan pejabat menghadiri perayaan Natal? Mereka diundang. Tidak diharuskan datang. Dan masalah saudara2 muslim yang dianggap tidak menunjukkan toleransi karena tidak mengucapkan selamat Natal, apa tidak salah? Saya perhatikan mengucapkan selamat atau tidak, (saya pribadi) tidak suka memperdebatkannya. Saya perhatikan perdebatan itu hanya terjadi di antara keluarga yang keluarganya ada mualaf karena antara mereka belum saling menerima batas di antara mereka. Dan atribut2 Natal yang dipakai oleh petugas2 polisi yang bertugas tersebut, coba diprotes langsung ke pemimpinnya. Siapa tahu aja yg nyuruh makai atribut tersebut yang lebay. Orang yang Natalan aja gak semuanya pakai atribut tersebut. Oh ya, kepolisian sekarang udah boleh pakai jilbab, udah tahu kan? Menurut anda yang dulu melarangnya orang Kristen gitu ya? Masalah Gereja yang dijaga ketat saat Natal, coba analisa bagaimana sendiri bagaimana insecure orang minoritas seperti kami hidup di negeri ini. Dan menurut saya, mendalami agama itu adalah dengan menggali sebanyak-banyaknya kebenaran dari agama masing-masing untuk mencapai kedalaman kualitas rohani yang sesungguhnya. Karena dengan begitu kedamaian dalam batin masing-masing orang tercapai. Bukannya dengan mencari-cari keanehan agama Kristen dan perayaan Natal. Oh ya, tulisan Anda banyak sekali menggali-gali keanehan agama Kristen daripada agama lain. Bisa dijelaskan kenapa? Kalau menunjukkan keanehan agama Kristen sepertinya Anda punya cukup waktu. Jangan lupa, terlalu sibuk mencampuri area orang lain, bisa mengurangi waktu untuk melakukan hal-hal yang lebih penting di area Anda sendiri. Saya agak tersulut membaca tulisan Anda walaupun Anda tidak bermaksud demikian. Pasti ada yang aneh dengan saya 😦

    Suka

    • @Ester Wika: Saya tidak membahas keanehan2 pada agama Kristen, tapi keanehan2 fenomenanya. Dan yang terlibat di fenomena itu tidak harus umat Kristen. Justeru banyak umat Islam (terutama yang libaral) yang terlibat di dalam keanehan2 tersebut. Saya kira, kamu bisa membaca artikel ini dengan pikiran jernih, bukan dengan prasangka yang tidak semestinya.

      Suka

  2. Oh ya satu lagi: Kalau umat Kristen memang menghargai keyakinan umat Islam, seharusnya TAK PERLU MENGUNDANG para pejabat Muslim untuk menghadiri perayaan natal. Sebab bagi kami yang muslim, menghadiri seperti itu dosanya sangat besar.

    Kami umat Islam juga tak pernah mengundang umat agama lain untuk menghadiri upacara ibadah agama Islam. Jadi untuk urusan agama, sebaiknya masing2 saja. Yang namanya toleransi dst bisa diwujudkan dalam hal2 lain.

    Suka

  3. Kalo tidak salah,bang jonru muallaf ya? Seperti halnya ustadz felix siauw?

    Suka

  4. hemmm saya baru sadar betul juga apa yang dikatakan pak jonru ini, toleransi beragama memang harus dilakukan itu yang idanjurkan semua agama, tapi yang paling aneh kenapa polwan berjilbab dianggap ribet tapi kalau pakai topi natal malah diseragamkan… padahalkan mayoritas diindonesia kan umat islam

    Suka

  5. 1. kristen tidak pernah memaksa minta ucapan.
    2. akibat perbuatan “jangan ucapkan selamat natal” , itu yang membuat seolah-oleh kaum kristen kehausan kalimat ucapan selamat natal,padahal tidak! maksud hati membela agama, jadi seolah2 di plintir kehausan selamat
    3. jika umat muslim menghargai umat kristen/katolik tolong ngga usah bahas-bahas artikel tentang natal yang memicu kontroversi.

    kalau bicara tentang syariat-aturan aturan agama, anda pun sudah berdosa juga nih bikin artikel yang mengundang emosi/kontroversi. jangan ngeles “pikiran jernih” . itu namanya lagu lama, kaset baru.

    nanti lebaran 6 bulan lagi kita juga mau coba bikin spanduk jangan kasih selamat lebaran. mau tau aja reaksinya…. kalo marah sih, kita tinggal balikin spanduk yang dilarang kasih selamat lebaran buat 1 sama sih hehehehehe. biar sama-sama tau perasaan aja sih. lo enak gue enak. lo gak enak gue juga gak enak.

    Suka

    • ” jika umat muslim menghargai umat kristen/katolik tolong ngga usah bahas-bahas artikel tentang natal yang memicu kontroversi.”
      ==>> Justru artikel seperti ini perlu dibuat agar antarumat beragama makin saling memahami, saling menghargai. Keterbukaan itu sangat penting Bro. Kalau cuma dipendam, justru itu yang suatu saat nanti bisa membuat bahaya.

      Suka

  6. ***
    nanti lebaran 6 bulan lagi kita juga mau coba bikin spanduk jangan kasih selamat lebaran. mau tau aja reaksinya…. kalo marah sih, kita tinggal balikin spanduk yang dilarang kasih selamat natal buat 1 sama sih hehehehehe. biar sama-sama tau perasaan aja sih. lo enak gue enak. lo gak enak gue juga gak enak.

    Suka

    • @Gio: Selama ini tidak pernah ada “tuduhan” bahwa yang tidak mengucapkan selamat idul fitri itu tidak toleran. Tapi umat Islam yang tidak mengucapkan sselamat natal sering disebut tidak toleran. Itulah bedanya.

      Dan selama ini, tidak pernah ada yang mempermasalahkan umat nonmuslim yang tidak mau mengucapkan selamat Idul Fitri. Jadi kalau kamu membuat spanduk tersebut, sepertinya tidak relevan dengan kondisi masyarakat.

      Coba aja deh kamu buat spanduk seperti itu. Paling nanti kami umat Islam cuma berkata, “So what?”

      Suka

      • Dampaknya terasa di Papua bung, kalau muslim di Papua menuntut supaya orang kristen dan para pejabatnya ngucapin idul fitri, dan kalau tidak hadir dalam acara mereka, nanti para pejabatnya dibilang intoleran… wkwkwkw… dan kalo orang Kristen Papua bilang “SO WHAT??” para muslimnya ga dapat jatah hari raya dari pemerintah.

        Suka

  7. Seandainya umat kristen menucapkan kalimat syahadat kira-kira mau gak? kalo mau saya juga mau mengucapkan selamat natal.

    Suka

  8. Artikel yang bagus bung Jonru, mengingatkan kita untuk memberi ruang toleransi dalam pergaulan antar umat beragama, Sekaligus mendorong masing2 pemeluk agama lebih mendalami lagi esensi keimanan dan ketuhanan yang dianutnya. Tidak perlu memaksakan atau membujuk orang lain atau pemeluk agama lain untuk mengikuti keyakinannya.

    Suka

  9. ide tulisan ini adalah mempertanyakan mengapa Natal ada “kekhususan” / “perkecualian” … tapi maaf tulisan ini justru menjustifikasi “kekhususan” / “perkecualian” tersebut … coba kalau gak … kenapa juga hal semacam ini dibahas ???

    Saya rasa tidak ada keharusan mengucapkan selamat apapun … itu hanya bentuk kesopanan kita sebagai sesama manusia … Menurut saya ucapan Selamat Natal kepada umat Nasrani itu sama dengan ucapan Selamat Ulang Tahun kepada orang yang ulang tahun. Hanya bedanya itu satu berkaitan dengan perayaan agama dan yang lain berkaitan dengan perayaan pribadi / individu.

    Tentang undangan, saya rasa sama dengan pernyataan di atas, hanya bentuk kesopanan terhadap sesama. Mau datang ya silakan .. tidak datang juga tidak ada masalah …. gitu aja koq repot 🙂

    Letak toleransi bukan pada ucapan Selamat-nya, datang karena undangan-nya, dsb tapi lebih pada tindakan nyata yang tidak mengundang pertentangan dan anarkisme berkaitan dengan keyakinan masing2.

    salam

    Suka

  10. Tulisan yg mengena sekali, sepertinta ini lebih cocok dibaca oleh org muslim, krna kok lebih banyak yg gak sependapat dan bilang gak toleran itu ya sesama muslim sendiri 😦 , padahal mungkin yg nasrani sebenarnya jg tidak masalah diselamati atau tidak.. entahlah siapa yg memulai ghawzul fikr ini.. wallahualam..esensi utamanya memang lakum dinukum waliyadin, masalah agama itu masalah sendiri sendiri, toleransi antar umat bisa diwujudkan dengan saling tolong menolong dalam bermasyarakat, seperti nabi muhammad yg menyuapi seorang yahudi yg buta setiap hari, tanpa mengucapkan selamat hari raya yahudi pun sudah terwujud toleransi. Semoga setiap kita bijak menyikapi hal yg hanya di mulut ini, hingga tidak jadi masalah.

    Suka

  11. oh ya … ada yang masih mengganjal …

    Mungkin memang kita belum dewasa dalam perbedaan … selalu saja yang menjadi awal pertentangan adalah hal yang berbeda .. kita belum bisa menyadari-menerima perbedaan dan mencari tujuan lain di luar perbedaan itu sendiri.

    ya memang baru sampai level itu saja …. maaf …

    Suka

  12. Biasanya sayag tidak pernah terusik untuk mengomentari tulisan-tulisan orang lain di internet, tetapi mungkin karena Pak Jonru yang menulis, saya jadi tergerak untuk membagikan cara pandang saya sebagai seorang yang beragama Kristen tentang fenomena-fenomena diatas.
    Untuk Fenomena pertama, memang diakui, penjagaan yang ketat dimulai ketika pada tahun 90 an terjadi peristiwa bom malam natal di daerah Menteng, saya lupa kejadian detailnya, tetapi itu pernah terjadi, 1-2 tahun memang gereja meminta bantuan kepada Polisi di area masing-masing untuk menjaga dan bahkan menggeledah tas-tas jemaat yang akan datang di kebaktian malam Natal dan kebaktian Natal, tapi di tahun-tahun terakhir, fenomena keterkaitan Natal dengan kerusuhan sudah semakin menghilang, kami memang masih meminta untuk Pak Polisi berjaga di pintu masuk gereja, hal ini lebih kepada masalah lalu lintas yang pasti lebih ramai dari kebaktian biasa (mengingat kami juga ada tradisi untuk berkumpulnya keluarga disaat Natal yang juga bertepatan dengan libur akhir tahun) dan hal ini juga kami pakai untuk bersilaturahmi dengan bapak-bapak Polisi setempat, dan bahkan beberapa Petugas Polisi setempat juga jadi sangat kenal dan dekat dengan beberapa panitia Natal secara personal, sepertinnya kita bisa sepakat meminta Pak Polisi untuk turut serta membantu mengatur lalu lintas justru menunjukan bahwa kami berusaha mengurangi efek negatif (kemacetan, dll) dari perayaan Natal agar tidka mengganggu lingkungan gereja sat itu. Jadi penjagaan yang saat ini dilakukan memang tidak lagi berasosiasi dengan kerusuhan, tapi lebih pada justru menjaga supaya tidak terlalu mengganggu lingkungan sekitar gereja dan juga bersilaturahmi dengan petugas setempat.
    Untuk Fenomena kedua dan ketiga, saya coba bagikan cara pandang tentang kedua fenomena ini sekaligus, saya melihat bahwa ketidak adaan atau semakin berkurangnya praktik saln kunjung saat Hari Raya bukan lebih kepada praktik religius, tapi pada hubungan antar personal di lingkungan tersebut. Saya pribadi -dan saya yakin sebagian umat Kristiani- tidak pernah terganggu secara religi soal tidak diberi selamat Natal oleh tetangga, tetapi lebih kepada menyayangkan kalau tradisi yang guyub ini jadi tidak dijalankan karena alasan religiusitas yang melarang. Saya banyak menerima tetangga yang datang ke rumah atau teman kerja yang menyalami saya tanpa mengucapkan selamat Natal, atau mereka merubah frasenya menjadi “selamat merayakan” dan buat saya itu tidak mengurangi perhatian mereka kepada saya. Selain itu saya juga 100% setuju kalau tidak saling mengucapkan selamat bukan menandakan sikap yang tidak toleran, karena justru di kejadian sehari-hari diluar hari Raya akan terlihat apakah seseorang itu toleran atau tidak.
    Untuk Fenomena keempat, ketika panitia Natal mengundang pemimpin yang non kristen untuk hadir pada perayaan Natal, sebetulnya beliau kita undang sebagai pemimpin di insititusi tersebut, yang tentunya menyetujui ( paling tidak saat mengajukan anggaran di institusi untuk perayaan Natal) dilaksanakannya perayaan Natal, tidak lebih dan tidak kurang. Tentunya sebagai pengundang, kami akan sangat bersuka cita jiak yang diundang datang, kalau tidak, ya gak papa. Perlu juga dikomunikasikan jika biasanya Perayaan Natal bisa terjadi dalam 2 atau 1 segment, segment pertama adalah Ibadah Natal (yang ini lebih religius, ada kebaktian / misa, ada ritual pujian, kotbah, dll) dan segment berikutnya adalah perayaan yang isinya adalah pertunjukan, ya ada yang nyanyi, nari, drama Natal seperti layaknya perayaan 17 Agustusan, segment kedua ini tidak lagi ada ibadah, apalagi ritual keagamaan. Biasanya undangan untuk pemimpin yang kebetulan non Kristen sudah kami sesuaikan, jadi jika ibadah dan perayaan dimulai jam 18.00 maka undangan untuk beliau kami jadwalkan di jam 19.00 atau jam 19.30, agar beliau hadir dapa segment kedua. Ada beberapa acara perayaan Natal yang tidak disertai dengan Kebaktian / Misa, sehinga hanya terdiri dari perayaan saja.
    Untuk bagian “Tentang Toleransi” saya mungkin tertarik untuk membagikan pandangan pribadi yang juga mulai terganggu dengan komersialiasi Natal, Natal bukan hanya menjadi event religius tetapi juga menjadi event komersial yang sepertinya menarik untuk dijadikan tema pemasaran di akhir tahun (diasosiasikan dengan liburan, selebrasi keberhasilan serta diterimanya bonus tahunan yang meningkatkan spendng keluarga) untuk itulah beberapa retail mengharuskan pada petugas front officenya memakai aksesoris Natal, hanya untuk kepetingan bisnis, bukan masalah religius yang diterapkan disini, saya sih lihatnya balik lagi ke hati masing-masing untuk hal ini. Saya sendiri kurang suka dengan komersialisasi Natal sepert ini.
    Soal komik yang anda include kan di tulisan anda, secara konsep saya sangat setuju dan sepemikiran dengan komik ini, tetapi membandingkan ucapan Natal dengan dua kalimat syahadat rasanya agak kurang pas. Umat Kristiani sendiri juga punya kalimat syahadat yang terdiri dari 12 kalimat, yang ini juga sangat tidak etis jika dipaksakan untuk dikatakan oleh mereka yang non Kristen, saya sendiri belum pernah mendengar pemaksaan untuk mengucapkan kalimat ini. Tapi sekali lagi konsep yang bicara toleransi lebih terlihat pada tingkah laku sehari-hari daripada sekedar mengucapkan selamat saya sangat setuju.
    Saya sendiri selalu menjawab jika ada yang mengucapkan Assalamualaikum, karena secara content sangat bagus, hanya saja diucapkan dalam bahasa Arab, dan buat saya itu tidak berarti mengingkari Agama saya, Di sisi lain orang Krsiten juga punya Shaloom, yang artinya kurang lebih sama dengan Assalamualaikum.
    Semoga sharing saya ini bisa jadi berkat keguyuban untuk bangsa ini, marilah kita melihat fenomena-fenomena yang terjadi di sektiar kita seperti menelaah sebuah penyakit, yang kita lihat bukan hanya gejala (suhu tubuh naik misalnya) tetapi juga kita lihat lebih dalam, apa penyebabnya (bisa infeksi, radang, dll) dengan hati terbuka dan jujur melihat dengan kerangka kebersamaan karena terlepas apapun agama kita, satu hal yang tidak bisa dipungkiri adalah kita berbagi udara, cahaya matahari, bintang, dan terlebih lagi Tanah dan Air yang sama.
    Salam,
    Gogo Nugroho

    Suka

  13. Bung Jonru, tentang pejabat yang diundang tersebut bisa jadi catatan bagi umat Kristen umumnya dan panitia pengadaan acara keagamaan khususnya. Silahkan dihimbau secara terbuka kepada mereka untuk tidak mengundang, dan menghimbau para pejabat untuk tidak menghadiri. Saya sendiri bertanya2 mengapa para pejabat tersebut bisa berada di sana. Tentang polisi2 yang bertugas dengan atribut Natal, dicari tahu dulu siapa yang memerintahkan, lalu buat himbauan buat mereka. Kemudian, tentang ucapan selamat datang, bisa diterima ada himbauan untuk tidak mengucapkan selamat Natal bagi umat Kristen. Tapi sungguh, saya dalam kehidupan nyata tidak pernah menemukan hal-hal yang tersebut sebagai sikap intoleran. Buat saya wajar saja kalau Muslim tidak mengucapkan selamat Natal. Yang saya temukan adalah sesama muslim saling mendebatkan hal-hal ucap-mengucapkan ini. Dan juga keluarga-keluarga yang anggotanya ada mualaf. Padahal antara Muslim dan non-Muslim malahan tidak pernah ribut-ribut hanya karena tidak diucapi selamat Natal. Bahkan kami masih bisa tertawa bersama sebagai sesama manusia.

    Suka

    • @Ester Wika: Tentu menghimbau itu perlu. Tapi jika kita bukan orang penting, maka yang bisa kita lakukan hanya menulis seperti ini hehehe..
      Saya orang Karo dan keluarga saya banyak yang Kristen atau Katholik. Selama ini kami rukun2 saja. Thanks atas komentarnya ya 🙂

      Suka

  14. Saya jadi bingung :
    “Apakah di negara-negara di mana umat Islam menjadi minoritas, ada acara Idul Fitri bersama dan dihadiri oleh para pejabat negara yang beragama selain Islam? TAK PERNAH ADA!”
    tapi berkata:
    “Kami umat Islam juga tak pernah mengundang umat agama lain untuk menghadiri upacara ibadah agama Islam”
    Jadi??
    kalimat 1 dengan kalimat 2 maksudnya apaa???

    Suka

    • @Yo: Itu artinya umat Islam itu konsisten, soal agama itu urusan masing2, tak perlu ada undangan, perayaan bersama, ucapan selamat, dst. Soal toleransi, toh masih banyak cara yang bisa dilakukan.

      Suka

  15. Assalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu

    Salam kenal, sudara Jonru. Tulisan yang bagus. Mohon izin memuat ulang di blog saya.

    Wassalamu’alaikum

    Muhammad Dafiq Saib

    Suka

  16. Bang Jonru, assalamu’alaikum. Salam kenal, saya ambar, salah satu folower penulis hebatnya Bang Jonru. Saya sangat setuju dengan toleransi umat beragama, karena teman-teman saya bukan hanya non-muslim, bahkan saya sedang mengadakan penelitian dengan seorang non-muslim…masalahkan? Tidak…karena toleransi antara kami, sangat tinggi. Dalam artian, kami berteman, hanya sebatas hal-hal duniawi, selebihnya tidak. Dia sembahyang dengan caranya, dan saya juga. Ketika kami makan bersama, dia membaca doanya dan saya membaca bismillah. Tapi masalahnya ketika saya merayakan idul fitri dan dia mengucapkannya, saya hanya mengucapkan terimakasih. Ketika natal tiba, tidak ada satupun kata selamat keluar dari mulut saya. Pun di facebook, saya tidak me-like atau komen foto momen natalnya. Tahun-tahun pertama, terlihat kekecewaan disikapnya terhadap saya. Saya hanya diam, tidak bicara…selain meyakini bahwa suatu hari dia tahu, ada batas jelas diantara kami…agama. setelah beberapa waktu, dia menyadari. Kami tahu batasan masing2…itulah toleransi beragama menurut saya. Bahkan saya sedang beragumen dengan adik dan siswa saya tentang ucapan natal…mudah-mudahan secepatnya mereka tahu artinucapan itu..aamiin

    Semuanya memang butuh proses…

    Saya yakin, selendang kata-kata natal yaitu “mari menjaga toleransi” salah satunya berarti bahwa..kami sudah toleransi loh..mengucap selamat idul fitri, mana ucapan natalmu?
    Saya juga hanya tersenyum ketika beberapa teman nashoro saya lainnya melihat berbeda ke saya karena saya tidak mengucap natal…bahkan bertanya seputar natal mereka. Biarlah, saya yakin semuanya…seperti yang saya bilang tadi butuh proses. Toh diluar hal itu, pertemanan kami baik kembali. Saya lebih takut Allah membenci saya ketimbang benci yang keluar dari hati dan fikiran mereka.
    Ohya Bang Jonru, boleh saya beri saran, untuk hal-hal yang berbuat sara, saya mohon Bang Jonru menulis label di atas atau di bawah tulisan dengan tulisan “untuk kalangan sendiri”, yang berarti, kita tidak megundang non-muslim untuk komen, seperti halnya yang kita lakukan ketika kita merayakan IED dengan tidak mengundang mereka serta…karena kita termasuk dengan golongan agama suci yang sangat menjunjung ‘toleransi’.
    Wassalam

    Suka

  17. Toleransi tidak harus mengikuti apa yang mereka lakukan seperti gambar diatas namun toleranasi adalah menjaga sikap dan perbuatan kita, tidak menyinggung, membatasi dan menyakiti non-muslim apalagi di hari besar mereka …
    Sepertinya mereka2 tu sudah terlalu berlebihan dengan mengatasnamakan toleransi beragama atau mereka tidak mengerti batasan2nya ???!

    Suka

  18. Bung Jonru, mungkin link ini bisa jadi referensi lain berkaitan dengan beberapa fenomena yang tersebut dalam tulisan Bung Jonru : http://budhiana.salmanitb.com/catatan/betulkah-hamka-larang-muslim-ucapkan-selamat-natal/

    no offence … cuma sebagai summer berita yang lain ….

    Suka

  19. secara khusus saya mngapresiasi diskusi dalam web ini, daripada yang terjadi di tempat lain (yang pernah saya kunjungi), yang banyk hujatan dan tendensinya negatif. salute. 😉

    semoga semakin lama semakin berkurang gesekan2 seperti ini dengan keterbukaan dan saling memahami. (y)

    Suka

  20. Artikel yang benar benar Autentik sesuai Fakta di lapangan, bahwa umat islam seharusnya mengerti ajaran yang telah di ajarkan di dalam quran dan sunah, dalam toleransi keagamaan, saling menghormati tapi tidak ikut merayakan hari besar agama lain sama juga dengan mengakui selain Islam dan DOSA Besar. tapi relita nya sungguh beda sekali, Makanya banyak sekali Islam KTP di Indonesia ini, hanya ikut ikutan saja dan tidak menjalankan ajaran Kewajibannya, thanks bang Jonru

    Suka

  21. Bangsa Indonesia

    Mengingat bentuk negara kita (Indonesia) yang merupakan negara kesatuan yang terdiri dari berbagai macam suku, budaya, agama, dan bahasa, kita diikat dalam sebuah prinsip yang amat sangat unik, yaitu Bhineka Tunggal Ika. Maka dari itu, wajar-wajar saja memberikan ucapan selamat pada hari-hari besar agama-agama di Indonesia, karena kebhinekaan yang kita pegang teguh dan junjung tinggi. Hal ini menjadikan kita, bangsa Indonesia, sebuah bangsa yang unik di dunia dan internasional. Dan saya kira, dengan tindakan sederhana kita tersebut, kita bisa memberikan inspirasi pada dunia internasional mengenai pentingnya hidup rukun dalam segala jenis pluralitas (dalam konteks ini agama) yang pada akhirnya menuju pada perdamian yang lebih nyata, walaupun tidak akan terjadi dalam sekejap mata.
    Dengan bentuk negara kita yang demikian, jika salah satu agama, contoh : Islam, Kristen, atau Buddha menjadi agama yang dipeluk mayoritas bangsa Indonesia, saya pikir mengundang pejabat pemerintah pada hari besar agama akan tetap ada, karena keunikan bangsa kita.
    Bila kita bandingkan dengan negara lain, yang sebagai contoh Arab Saudi dan Vatikan, kita bisa melihat bahwa fondasi dasar kedua agama tersebut adalah agama. Maka saya kira wajar saja apabila di Arab Saudi, pejabat pemerintahnya tidak hadir dalam perayaan natal. Atau contoh lain Amerika. Negara Amerika Serikat tidak memiliki prinsip sesakti bhineka tunggal ika. Maka wajar saja, tidak ada pejabat pemerintah yang hadir dalam perayaan Idul Fitri misalnya.
    Kesimpulannya, bangsa Indonesia mengenal Bhineka Tunggal Ika, dan sudah sepatutnya kita mengamalkan perilaku Bhineka Tunggal Ika dalam perbuatan kita dalam berbangsa dan bernegara.
    Terima kasih. Mejuah-juah, Horas bang Jonru

    Suka

  22. sy se7 dengan bang jonru, itu aja

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s