Merasa Paling Benar?


“Kamu jangan merasa paling benar!” Begitulah ucapan yang sering kita dengar dalam debat atau diskusi.

Ada EMPAT HAL yang perlu kita cermati dari “tuduhan” seperti ini.

PERTAMA:
Sudah menjadi fitrah setiap manusia untuk merasa paling benar. Setiap orang pasti merasa dirinya paling benar. Bahkan orang minderan pun pasti merasa paling benar dengan keminderannya itu 🙂

Jadi, melarang orang lain merasa paling benar itu sebenarnya sangat lucu. Itu sama saja artinya dengan menyuruh orang lain melawan fitrah dirinya.

KEDUA:
Ketika kita berkata, “Kamu jangan merasa paling benar!” sebenarnya pada saat itu kita justru sedang merasa paling benar. Karena saat kita mengucapkan kalimat itu, artinya kita sedang menyalahkan pendapat orang lain, kan? Dengan menyalahkan pendapat orang lain, artinya kita merasa diri kitalah yang benar.

Jangan berkata, “Saya tidak merasa paling benar, kok.” Kalimat seperti ini hanyalah pembelaan untuk menutupi sikap kita yang merasa paling benar, hehehe… 😀

KETIGA:
Agama hadir – antara lain – untuk menunjukkan kebenaran yang sesungguhnya. Manusia boleh merasa dirinya paling benar. Namun agama mengajarkan bahwa kebenaran sejati bersumber dari kitab suci. Pada Islam misalnya, kebenaran sejati berasal dari Al Quran dan Sunnah Rasulullah.

Karena itu, sebagai orang beriman, sikap merasa paling benar tentu diperbolehkan selama kebenaran tersebut BERSUMBER dari Al Quran dan Sunnah. Dengan kata lain, yang benar adalah SUMBER acuan kita, bukan diri kita. Kalau diri kita sih, pasti penuh oleh khilaf, kesalahan, dan kebodohan.

KEEMPAT:
Dari tiga poin di atas, maka sebenarnya tak ada yang salah dengan sikap merasa paling benar. Apalagi jika kebenaran yang kita sampaikan bersumber dari Al Quran dan Hadits.

Yang salah adalah ketika kita mengekspresikan sikap “merasa paling benar” tersebut secara arogan, tidak menghargai/menghormati kebenaran yang diyakini oleh orang lain. Yang salah adalah ketika kita memusuhi bahkan menzalimi orang-orang yang menurut kita memiliki nilai-nilai kebenaran yang berbeda dengan kita.

Selama kita mengekspresikan kebenaran tersebut dengan cara yang baik, tetap saling menghormati walau kita yakin orang lain tidak benar dan hanya pendapat kita yang benar, maka menurut saya tak ada yang perlu dipermasalahkan dengan sikap merasa paling benar.

Selama ini, kita terlanjur memberi kesan negatif terhadap sikap “merasa paling benar”. Padahal itu adalah salah satu fitrah manusia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s