Ciri-ciri Haters


ciri_ciri_hatersSaat ini, istilah haters menjadi ngetop di dunia maya. Tapi karena belum ada definisi yang jelas, orang sering dengan gampangnya memberikan gelar haters kepada orang lain.

Misalnya ketika kita rajin mengkritik seorang tokoh, atau sebuah parpol, maka kita langsung disebut haters. Padahal bisa saja kita mengkritik itu karena peduli pada si tokoh, peduli pada si parpol. Kita ingin mereka menjadi lebih baik di hari-hari mendatang. Kalau niatnya seperti ini, apakah masih layak disebut haters?

Kebanyakan masyarakat kita menganggap kritik sebagai pertanda kebencian. Padahal coba pikirkan deh:
Orang yang mengkritik kita adalah orang yang menyediakan banyak waktunya untuk memikirkan dan mengurus kita. Itu artinya, dia sebenarnya cinta pada kita. Dia ingin melihat kita menjadi orang yang lebih baik. Hanya saja, cara dia menyatakan cinta mungkin tidak romantis, hehehe 🙂

Tidak semua kritik itu pertanda benci atau permusuhan. Tidak semua pengkritik itu haters. Bisa saja, mereka adalah pencinta.

Lantas siapa yang layak disebut haters?

Berdasarkan pengalaman saya, haters adalah orang-orang yang punya ciri-ciri sebagai berikut:

1. Mengkritik dengan kata-kata kasar, celaan, caci-maki, memfitnah, dan sebagainya. Hm.. sebenarnya istulah yang paling tepat untuk hal seperti ini bukan kritik, tapi bully.

2. Hobi berburuk sangka, seolah-olah mereka tahu isi hati semua orang.
“Kamu berkata seperti itu pasti karena kamu iri sama dia, kan?”
“Parpol kamu melakukan itu pasti karena karena kampanye terselubung, kan?”

3. Suka menyebarluaskan info-info buruk mengenai kita. Tidak peduli apakah info itu benar atau tidak, valid atau tidak, masuk akal atau tidak, bagi mereka tidak penting. Yang penting info itu sifatnya buruk dan membuat hati serta nafsu kebencian mereka terpuaskan.

4. Ketika kita membantah tuduhannya, mereka akan terus mengeluarkan caci maki baru. Ketika kita melakukan klarifikasi atau pembelaan yang sebagus atau sejujur apapun, mereka tak akan percaya (atau pura tak percaya). Mereka akan membantah semua klarifikasi dan pembelaan tersebut dengan argumen-argumen baru yang tidak masuk akal, yang isinya caci maki dan sebagainya.

Dan ketika kita mendebat pendapat mereka, maka mereka akan melakukan debatan baru yang disertai caci maki dan kata-kata kasar lainnya.

Pokoknya tak akan ada habisnya jika kita meladeni para haters.

5. Jika terbukti bersalah, mereka tak pernah minta maaf. Ada yang diam dan melarikan diri. Ada yang mengalihkan pembicaraan, ada yang terus ngotot melakukan pembenaran atas kesalahannya.

6. Tentu saja, para haters tak pernah mau mengakui kebaikan apapun yang kita miliki. Pokoknya apapun yang ada pada kita selalu dianggap salah.

7. Hobi memutarbalikkan fakta. Contohnya nih:
Ada seorang haters di Twitter yang menyebut saya sebagai orang yang mengaku-ngaku juara internet sehat. Padahal, tanpa perlu ngaku-ngaku pun, saya memang pernah jadi juara internet sehat tahun 2009 lalu. Kenapa harus disebut ngaku-ngaku?

Nah, itulah contoh pemutarbalikan dan pemelintiran fakta.

Ketika saya membela diri dengan mengatakan, “Faktanya saya memang pernah jadi juara internet sehat. Kenapa kok disebut ngaku-ngaku?” Mereka pun menjawab, “Buat apa internetnya sehat tapi otaknya kotor?”

Coba lihat:
Saya kan hanya menjelaskan bahwa juara internet sehat itu fakta, bukan ngaku-ngaku. Tapi mereka langsung mengeluarkan celaan baru yang tak ada kaitan dengan “fakta vs ngaku-ngaku” tersebut. Jika celaan baru itu saya debat, maka celaan berikutnya akan muncul lagi, celaan yang tak ada hubungannya dengan tema sebelumnya. Pokoknya tak akan pernah habis, deh.

Contoh lain:
Dulu ada orang yang memuji saya, “Jonru ini ahli IT, lho. Pintar internet.” Lalu si haters berkata, “Hei Jonru, sombong banget kamu ngaku-ngaku ahli IT!” Padahal saya tak pernah ngaku ahli IT. Itu kan hanya pujian dari orang lain, hehehe…

8. Mereka tak pernah percaya (atau pura-pura tak percaya) pada klarifikasi, pembelaan atau penjelasan sebaik apapun yang kita berikan. Jadi ketika kita dituduh, tak ada gunanya membela diri, tak ada gunanya memberikan penjelasan, tak ada gunanya klarifikasi. Ketika mereka meminta kita memberikan penjelasan, tak ada gunanya dituruti. Sebab apapun yang kita lakukan atau ucapkan, mereka tetap tak akan percaya dan tetap akan mengeluarkan celaan-celaan baru.

Intinya: Cara terbaik menghadapi para haters adalah DIAM. NO COMMENT 🙂

* * *

Nah, seperti itulah ciri-ciri haters. Setidaknya menurut pengalaman saya.

Jadi tidak semua orang yang mengkritik layak disebut haters. Jangan terlalu gampang memberikan cap haters kepada orang lain. Sebab bisa saja mereka hanya mengkritik karena cinta, karena mereka ingin melihat kita menjadi orang yang lebih baik di masa depan.

Iklan

2 responses to “Ciri-ciri Haters

  1. terimakasih artikelnya, tidak semua orang yang mengkritik haters tapi kadang mereka bisa membantu kita menjadi lebih baik

    Suka

  2. Wow so much truth!!! Saya sering banget ketemu haters begituan di dunia online, maklum aja soalnya kalo online itu kan orang bisa sembunyi di balik avatar, username, dan nama samaran. Jadi sebenernya haters itu cuman kumpulan orang2 pengecut, beraninya maen belakang aja :D. coba kalo disuruh ketemu buat ngomong langsung face to face, palingan keder duluan hehehehe

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s