Jadi Diri Sendiri Ternyata Lebih Baik Ketimbang Membangun Personal Branding


quantum leap jonru

Mungkin saya termasuk orang yang lamban atau terlalu lama dalam menemukan diri sendiri. Hingga usia sekitar 40 tahun, saya masih sering gelisah, “Apakah yang saya lakoni ini benar-benar sesuai dengan jati diri saya yang sebenarnya?”

Kegelisahan seperti itu, sejujurnya, muncul karena saya merasa hidup belum sukses juga. Masih begitu-begitu saja. Padahal banyak teman yang dulunya sama-sama hidup susah dengan saya, kini mereka sudah sukses, kaya, bisnis makin berkembang, dan seterusnya.

Saya mulai jadi entrepreneur sejak awal tahun 2007. Saat itu, bisnis yang saya tekuni adalah Sekolah Menulis Online (SMO). Jauh sebelum SMO berdiri, saya rajin berbagi memgenai kiat-kiat menulis dan motivasi kepada teman-teman di internet. Saya melakukannya secara alamiah saja, naluriah saja, belum paham soal personal branding. Dan ternyata, banyak teman yang suka.

Setelah SMO berdiri, kebiasaan itu saya lanjutkan. Bahkan, saya tekuni lebih serius. Saya menerapkan kiat-kiat marketing, strategi personal branding, dan sebagainya, yang saya pelajari dari para pakar marketing dan social media.

Hasilnya? Alhamdulillah, berhasil memopulerkan nama Jonru. Saya dikenal oleh banyak orang sebagai guru menulis, penulis hebat, dan entah julukan apa lagi yang serba keren di bidang penulisan.

Namun tragisnya, popularitas tersebut tidak berbanding lurus dengan penghasilan. Saya masih termasuk kategori orang miskin, yang hidup pas-pasan, bahkan sering kehabisan uang.

Terlebih karena SMO makin loyo, makin redup, makin sedikit yang mendaftar jadi siswa. Hingga akhirnya saya berhenti mengelola SMO (kini dikelola oleh seorang teman).

jonru_kader_pks

Saya dan Hanna (anak ketiga kami) saat kampanye PKS di Gelora Bung Karno beberapa bulan lalu

Awal tahun 2012, saya mulai menekuni bisnis baru sebagai pengganti SMO, yakni Dapur Buku. Pada saat itulah, saya merasa tidak terlalu penting lagi mempertahankan personal branding sebagai seorang penulis, guru penulis, dan sebagainya. Saya merasa bahwa diri saya bukan lagi guru menulis, tapi seorang pemilik layanan penerbitan buku self publishing. Seorang pebisnis, bukan penulis.

Saya pun mulai lebih cair dalam bergaul dan berbagi cerita di dunia maya.

Bahkan, saya mulai “mengganti perilaku” di social media. Dulu, saya menulis di Twitter dan Facebook sebagaimana halnya seorang tokoh atau motivator. Tapi sejak Dapur Buku berdiri, saya mulai menulis dengan gaya orang-orang kebanyakan. Saya yang dulu menjaga jarak, kini turun langsung menyapa teman-teman semua, bergaul akrab, seperti kerumunan yang tanpa sekat.

Terus terang, pada saat itu saya sudah tidak peduli lagi terhadap personal branding, strategi marketing di social media, dan sebagainya. Saya ngetweet atau menulis status dengan gaya asli saya yang spontan, blak-blakan, bahkan dengan bahasa-bahasa khas orang Medan yang bagi sebagian orang mungkin terkesan keras atau kasar.

* * *

Perubahan drastis “perilaku” saya di dunia maya mulai BERUBAH TOTAL sejak muncul kasus (mantan) Presiden PKS, ustadz Luthfi Hasan Ishaaq (LHI).

Ya, saya sebenarnya sudah terjun ke dunia politik sejak tahun 1998. Waktu itu saya bergabung dengan sebuah parpol baru, bahkan sempat menjadi pengurus pusat di Jakarta. Lantas sejak April 2003 saya pindah haluan ke PKS.

Di PKS, saya hanya kader biasa tingkat kelurahan, tak punya jabatan apapun, dan tidak tertarik sama sekali untuk punya jabatan. Saya di PKS hanya ingin berdakwah. Juga belajar agama lebih mendalam, karena di PKS pun terdapat kegiatan tarbiyah yang sangat bermanfaat untuk memperkaya ruhani dan wawasan keagamaan kita.

Walau sudah berpolitik sejak lama, namun dulu saya masih berusaha terlihat netral dan tidak partisan di depan publik. Namun sejak muncul kasus LHI, emosi saya menggelegak, hati saya merasa gemes, geretegan. Saya melihat banyak sekali kejanggalan dan rekayasa di balik kasus ini. Saya merasa terpanggil untuk bersuara, menyampaikan kebenaran.

Pada saat itulah, saya mulai terang-terangan menunjukkan jati diri di depan publik, sebagai seorang kader PKS. Gaya menulis saya di social media tidak lagi seperti seorang penulis, tokoh atau motivator. Kini gaya saya tak ubahnya seperti seorang politikus, walau sebenarnya saya hanya seorang kader biasa tingkat kelurahan.

menerbitkan_buku

Salah satu foto profil saya di social media, yang menggabungkan antara bisnis Dapur Buku yang saya kelola, dengan pilihan politik saya pada Pilpres 2014.

Saya yang dulu hanya menulis tentang kiat menulis, motivasi, atau hal-hal yang terkait, kini mulai berubah haluan. Saya lebih banyak membahas tema-tema aktual. Bisa tema apa saja, tidak hanya politik. Pokoknya apa yang sedang ramai diperbincangkan, itu yang saya tulis.

Jadi ketika belakangan ini teman-teman melihat saya lebih banyak bicara politik, itu semata-mata karena sedang musimnya saja.

* * *

Banyak orang yang kaget, , menyayangkan, bahkan kecewa terhadap perubahan saya tersebut.

“Saya merindukan sosok Jonru yang dulu, yang rajin berbagi mengenai kiat menulis dan motivasi,” ujar sebagian teman.

Ya, Teman,
Saya memahami kekecewaan Anda. Namun mohon maaf jika saya harus berterus terang. Apa yang saya lakukan saat ini, ternyata itulah diri saya yang sebenarnya. Jonru yang dulu Anda kenal, ternyata itu bukan Jonru yang sebenarnya.

Ketika saya belum menjadi diri sendiri, ternyata hidup saya pun begitu-begitu saja. Indikator paling gampang untuk mengukurnya adalah pertambahan jumlah follower Twitter dan likers Fan Page saya. Pertumbuhannya sangat lambat.

Namun ketika saya kembali jadi diri sendiri, alhamdulillah jumlah follower dan likers Facebook saya meningkat dengan drastis.

Untuk Twitter @jonru, pertumbuhannya masih tergolong sedang. Hingga tulisan ini dibuat, jumlah follower saya masih di angka 28.000 (saya mulai ngetweet sejak Oktober 2008).

Namun untuk Fan Page Jonru, saya sendiri sering merasa takjub, bahkan bingung dan tak habis pikir, kok pertumbuhannya secepat itu?

Pada saat tulisan ini dibuat, pertambahan jumlah likers Fan Page Jonru sudah mencapai minimal 5.000 perhari! Tanggal 11 Juli 2014 lalu, angka 100.000 likers tercapai. Dan saat saya menulis artikel ini, 8 hari kemudian, jumlahnya sudah di atas angka 142.000.

ASLI, saya sendiri juga benar-benar tak menduga, kok bisa sebanyak itu?

(Ya, mungkin pertumbuhan sedahsyat ini masih berkaitan dengan “musim pilpres 2014”. Jadi barangkali ini hanya LEDAKAN SESAAT. Wallahualam)

* * *

Sebagai gambaran, berikut adalah tiga diagram yang menjelaskan pertumbuhan jumlah likers Fan Page Jonru ketika saya masih sibuk membangun personal branding, dibandingkan dengan saat-saat saya tak peduli lagi soal itu dan memilih jadi diri sendiri saja.

Diagram I:

Di sini terlihat bahwa sejak 3 Agustus 2011(*) hingga 7 Januari 2014, jumlah likers relatif stabil dan pertumbuhannya sangat lambat. Hanya bertambah 7.480 dalam waktu 30 bulan. Atau sekitar 7 hingga 10 likes perhari.

(*) Fan Page Jonru sebenarnya sudah hadir sejak awal tahun 2009. Namun untuk statistik likers, hanya tersedia di halaman admin mulai Januari 2011.

quantum leap jonru

Klik gambar untuk melihat ukuran sebenarnya.

Diagram II:

Rentang waktunya saya persempit menjadi 1 Mei 2014 hingga 19 Juli 2014 (saat tulisan ini dibuat), dengan tujuan agar terlihat lebih jelas. Di sini terlihat bahwa lonjakan jumlah likers mulai terlihat sejak pertengahan Juni 2014, atau menjelang Pilpres 2014.

Tanggal 1 Juli 2014 misalnya, jumlah likers sudah mencapai 53.582. Dan hanya 18 hari kemudian, jumlahnya sudah meningkat drastis menjadi 142.407.

Jika dulu penambahan jumlah likers hanya 7.480 dalam waktu 30 bulan, kini jumlah ini bisa tercapai hanya dalam waktu satu hari!

Ya, inilah quantum leap dalam hidup saya! Sebuah pencapaian besar yang selama ini tak pernah terbayangkan sama sekali!

Klik gambar untuk melihat ukuran sebenarnya.

Klik gambar untuk melihat ukuran sebenarnya.

Diagram III:

Di sini terlihat pertumbuhan jumlah likers Fan Page Jonru yang dikaitkan dengan perubahan “gaya” saya dalam bergaul di dunia maya.

Yang warna merah adalah ketika saya masih mengelola SMO dan sangat serius dalam membangun personal branding.

Yang warna kuning adalah ketika saya mulai mengelola Dapur Buku, sudah tidak peduli lagi pada personal branding, namun masih berusaha bersikap netral dan tidak partisan di depan publik.

Yang warna hijau adalah ketika saya mulai bergaul di dunia maya dengan gaya politikus, dan SEMAKIN jadi diri sendiri.

Yang warna biru adalah ketika saya semaki aktif menulis mengenai politik di internet, khususnya dalam suasana pileg dan pilpres 2014.

Alhamdulillah, quantum leap saya justru tercapai pada bagian yang berwarna biru. Ini membuat saya yakin bahwa inilah diri saya yang sebenarnya! Gaya seperti inilah yang insya Allah membuat saya sukses! Insya Allah.

quantum leap jonru

Klik gambar untuk melihat ukuran sebenarnya.

* * *

Ternyata menjadi diri sendiri merupakan keputusan terbaik. Menjadi diri sendiri merupakan salah satu kunci utama menuju sukses.

Memang, membangun personal branding dalam berbisnis sangatlah penting. Namun seharusnya, personal branding yang kita bangun adalah yang sesuai dengan karakter diri kita yang khas. Tidaklah bijak dan sangat tidak tepat jika kita membangun personal branding yang tidak sesuai dengan karakter khas kita yang asli.

NB: Pada judul artikel ini, saya “mempertentangkan” PERSONAL BRANDING dengan MENJADI DIRI SENDIRI. Hm, itu sebenarnya hanya strategi untuk membuat judul tulisan yang menarik.

Aslinya, saya percaya kok, bahwa personal branding dan menjadi diri sendiri itu masih satu bagian yang utuh, tak terpisahkan. Membangun personal branding yang terbaik adalah menjadi diri sendiri. Atau seperti kata Mario Teguh, “Jangan be yourself, namun be your growing selff”.

Jadilah dirimu sendiri yang terus bertumbuh menjadi manusia yang lebih baik, yang tetap sesuai dengan karakter asli kamu.

Catatan:

1. Insya Allah saya tetap terbuka untuk diskusi dan berbagi mengenai dunia kepenulisan. Teman-teman bisa bergabung dengan group Belajar Menulis Gratis di Facebook.

2. Gaya penulisan saya setelah kembali jadi diri sendiri memang menimbulkan banyak kontroversi. Tiba-tiba banyak orang yang menjauhi saya, mencaci-maki saya, menuduh saya tukang fitnah, dan sebagainya.

Ya, saya sadar, itu memang salah satu resiko dalam berdakwah.

Saya juga sadar, bahwa sebaik apapun perbuatan kita, pasti akan selalu muncul reaksi-reaksi negatif. Kita akan capek sendiri bila meladeni semua reaksi orang lain. Karena itu, saya berpendapat bahwa selama saya yakin berada di pihak yang benar, maka GO AHEAD saja. Semua reaksi negatif lebih baik dicuekin saja.

Terima kasih, salam sukses selalu!

Jonru

Iklan

10 responses to “Jadi Diri Sendiri Ternyata Lebih Baik Ketimbang Membangun Personal Branding

  1. Bung, saya adalah termasuk korban dari perubahan anda, dulu gak kenal sama sekali, tapi sekarang Bung Jonru , statusAnda sering jadi bahan referensi saya.. Terimakasih Bung.. Sukses buat Anda..

    Suka

  2. Kalimat2 trakhir… “Karena itu, saya berpendapat bahwa selama saya yakin berada di pihak yang benar, maka GO AHEAD saja. Semua reaksi negatif lebih baik dicuekin saja.”

    Bung Jonru.. apa parameter anda bahwa anda yakin berada di pihak yang benar.. dan walaupun anda di pihak yang benar.. apa yakin anda berada di jalur yang benar dengan cara yang benar?

    Suka

  3. Secara tidak langsung mas Jonru memberikan keterbukaan berpikir bagi banyak orang. Saya jadi salah satu orang yang setuju dengan sikap mas Jonru yang ingin menjadi diri sendiri.

    Suka

  4. Dengan menjadi diri sendiri kita bisa lebih mudah menjalani hidup begitu juga dengan orang lain, mereka lebih mudah menerima kita
    Saya dapat sesuatu dari sharing anda, terima kasih

    Suka

  5. Mas Junru.
    Dalam menerapkan managemen bisnis, terkadang dapat mengambil jalan drastis, dimana dalam theori managemen ada yang sebut revolusi managemen. Disini penerapan managemen mengingkari pakem2 managemen umum, dengan mengambil hal-hal praktis yang dapat dilaksanakan dan lebih flexible.

    Kelihatan mas Junru terbawa dengan kiat yang begini, tapi ini adalah pendapat pribadi saya lho.

    Salam dari Sobat lama
    Darul Makmur

    Suka

    • @Darul Makmur: Saya tak pakai kiat atau teori apapun Pak. Justru saya melupakan semua teori dan strategi marketing. Saya hanya tawakkal pada Allah. Itu saja.

      Suka

  6. assalamualaikum pa Jonru, saya senang dengan tulisan bapak, saya terinspirasi sekali. saya ingin berkonsultasi lebih lanjut dengan bapak dalam menekukan jati diri sendiri. salam hormat didik madani

    Suka

  7. maju terus bang, saya seneng banget dengan gaya penulisan dan sikap bang jonru, lepas dan apa adanya tanpa ingin pencitraan sama sekali lagi.

    Suka

  8. Saya setuju ama tulisan ini Mas Jonru. dalam berbisnis ato dagang, melakukan branding itu penting, tapi kalo brandingnya gak sesuai ama jati diri gak bagus deh. gak enak juga jalaninnya, mending be your self

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s