Sebuah Cerita tentang Toleransi di Masyarakat Suku Karo


toleransi

Daniel Ginting, salah seorang keponakan saya yang meninggal dunia tanggal 15 November 2014 lalu.

Saya akan mengawali tulisan ini dengan sebuah berita kematian, yakni berpulangnya salah seorang kerabat saya bernama Daniel Ginting.

Siapakah Daniel Ginting? Dia hanya seorang manusia biasa, yang kebetulan ditakdirkan menjadi keponakan saya. Nenek saya dan nenek buyutnya masih saudara kandung. Jadi dalam budaya suku Karo, hubungan kekerabatan kami masih sangat dekat.

NB: Karo merupakan salah satu dari lima suku pada klan Batak. Info selengkapnya (termasuk 7 salah kaprah mengenai orang Batak) bisa dibaca di sini.

Dani (begitu nama panggilannya) lahir dari keluarga Katholik yang taat. Ayahnya dulu bekerja di Departemen Keuangan dengan jabatan yang cukup baik. Saat itu, mereka tinggal di sebuah rumah mewah di Puri Kembangan, Jakarta. Namun setelah ayahnya pensiun, mereka sekeluarga pindah ke daerah Ciledug, Tangerang.

Sekitar 10 tahun lalu, Dani memutuskan untuk memeluk agama Islam, dan menikahi seorrang gadis Betawi yang masih tetangga dekat rumahnya. Saya tidak tahu persis, apa alasan utama Dani masuk Islam, karena kami memang jarang ketemu. Namun satu hal yang masih saya ingat adalah nasehat ayahnya yang sangat indah, “Aku restui kau masuk Islam, Nak. Pesan Bapak, kau harus jadi seorang muslim yang baik, jangan hanya status kau saja yang Islam.”

Jika nasehat itu diucapkan oleh seorang muslim, tentu tak ada yang istimewa. Namun subhanallah… nasehat itu keluar dari mulut seorang pria beragama Katholik!

Hm… bagi Anda, ucapan itu mungkin sangat aneh. Tapi bila memahami bagaimana budaya dan pola pikir orang Karo, juga suku Batak pada umumnya, pasti Anda dengan sangat mudah memaklumi isi nasehat tersebut.

Bagi masyarakat Batak yang masih tradisional, kesukuan atau premordialisme merupakan hal yang paling penting di dunia ini. Bagi mereka, “Tak penting apapun agamamu, yang penting kita sama-sama orang Batak.”

Masyarakat Batak (khususnya yang masih tradisional) umumnya punya jiwa toleransi yang sangat tinggi dalam hal beragama. Sebab bagi mereka, agama bukan yang paling penting. Yang paling penting kita masih satu suku.

Dulu sebelum saya menikah, seorang kerabat pernah ingin menjodohkan saya dengan seorang gadis. Tapi saya menolak karena gadis tersebut bukan seorang muslimah.

“Tak masalah,” ujar si kerabat. “Nanti kamu bisa ngajak dia masuk Islam. Pasti dia mau.”

Dia mengucapkan kalimat itu dengan sangat enteng dan santai, seolah-olah baginya pindah agama itu seperti pindah kamar di sebuah hotel saja.

Ya, seperti itulah masyarakat Batak, khususnya yang masih tradisional. Bagi mereka, agama itu urusan sepele. Kalau kamu jatuh cinta dan ingin menikahi seseorang, tapi agama kalian beda, ya gampang saja. Suruh saja salah seorang pindah agama, maka bereslah urusan.

* * *

klik >> Halaman 2

Iklan

43 responses to “Sebuah Cerita tentang Toleransi di Masyarakat Suku Karo

  1. Sungguh cerita yang menginspirasi. Thx bang jonru atas tulisannya.

    Suka

  2. Bagus, Bang. Tujuh tahun di Sumatera Utara, saya lihat masalah agama adalah hal yang ‘sepele’.

    Suka

  3. Sudharmawan Mochammad

    Assalamu’alaikum Wr Wb,

    Bro Jonru, Apa kabar, semoga masih ingat dengan saya? Kalaupun nggk ya GPP juga :). Bersama dengan email ini dan lampirannya jika berkenan harap di add to become friend in your facebook 🙂 agar kita lebih enak dan juga selaras mengikuti perkembangan dan menyuarakan kebenaran… Amiin. Terima kasih.

    Salam JMP.

    Wasalam,

    Muhammad Sudharmawan (Wawan)

    Suka

  4. Artikel yang sangat bagus bang, patut di contoh tingkat toleransi orang batak antar umat beragama, dan memang benar agama adalah kunci kehidupan di akhirat kelak, semangat bang semoga berkah dan rahmat الله selalu di limpahkan kepada abang dan keluarga, امين

    Suka

  5. mantap memang blog bang jonru, baru buka sudah jadi toplist, ikut nebeng ya bang, lowongan kerja migas dan tambang, update tiap hari, http://kaltimlowongan.com/

    Suka

  6. Bagus artikelnya, bang Jonru.
    Tapi ya saya masih bingungnya pada kata ‘toleransi’.
    Andai toleransi itu punya batasan yang tegas dalam kehidupan bernegara.
    (Dalam Islam sudah jelas batasan toleransi antarumat beragama itu sejauh mana)

    Suka

  7. di tempat saya, pemburu rusa , jika mendapat buruan masih hidup dan masih bisa dipotong, maka meskipun si pemburu beragama non muslim, dia akan mencari pak kiay/muslim untuk memotongkan rusa tsb. alasannya sederhana, daging rusa akan jauh lebih laris dijual jika pemotongnya pak kiay/muslim, meskipun daging tsb dijual di kampung non muslim…

    Suka

  8. betul sekali bang kita harus menempatkan agama sebagai nomor 1 diatas segalanya. dan toleransi pun adalah bagian dari ajaran agama

    Suka

  9. kurang lebih di Kalimantan Bang. Di kalteng khususnya, apabila ada sanak keluarga yg beragama Islam, kalo lagi liburan/kumpul2 di kampung, maka si tuan rumah akan menyediakan tempat ataupun peralatan memasak yg “khusus” untuk keluarga/tamu yg muslim.

    Suka

  10. resa eddy biring

    bagus kali artikelny bang…kebetulan suami saya orang karo jg…marga sembiring.saya dan kelg suami saya sngat bertoleransi walaupun kita beda agama.saya dan suami alhmdllh kami seorang muslim,klo mertua nasrani.

    Suka

  11. Waw… Masuk Number 2 Nech Pak 😀

    Suka

  12. waahhhh…..semakin membuka wawasan saya. memang suku batak sangat toleran terhadap sesama. hal tersebut pernah saya rasakan dilingkungan saya ketika sekolah di mandailing, sumut. tenggang rasa adalah hal yang sangat melekat bagi suku batak. thanks atas info2 nya Om Jonru 🙂

    Suka

  13. waow begitu ternyata eh ternyata,,,!

    Suka

  14. Wow.. keren.. ane salut dah… Mejuah-juah Bang Jonru….

    Suka

  15. Sungguh indah toleransi itu pak 😀

    Suka

  16. suka

    Suka

  17. Toleransi yang sangat indah memang, namun maaf bang jonru, kalau saya perhatikan saudara kita orang batak yang nashrani yang hidup di perantauan cenderung tidak memperlihatkan toleransinya kepada penduduk setempat, paling tidak seperti yang terjadi di kampung halaman saya. Mereka tak segan2 melakukan kebiasaan hidup yang sangat bertentangan dengan masayarakat setempat, seperti misalnya
    “menyembelih” anjing yang bagi kami itu sangat menjijikkan sekali, membuka toko2 minuman keras (saya dan kawan pemuda masjid pernah beberapa kali memberantas miras yang kebanyakan pedagangnya “kebetulan” orang batak kristen), dan yang paling menjengkelkan adalah upaya menyebarkan agama kristen kepada warga kami yang muslim.
    Yang jadi pertanyaan adalah apakah sikap tolerannya itu hanya berlaku di lungkungan internal sesama suku atau juga kepada suku yang lain….???
    Ini tentu saja dengan tidak mengurangi rasa hormat kami kepada saudara2 kita yang beragama kristen dari suku manapun, Terima kasih.

    Suka

  18. memang benar toleransi itu ada di suku karo.kebetulan bpk mertua saya mualaf marga bukit.tapi tdk semuanya bisa dan mau bertoleransi antar umat beragama.masih ada segelintir orang/ manusia yg tidak mengerti arti dari toleransi antar umat beragama.

    Suka

  19. Mantap Jonru…..walau saya bukan orang batak karo, tapi pengalaman tersebut pernah saya rasakan, karena mantan bos saya juga orang karo tarigan…dari tujuh saudara empat muslim, tiga krister…tapi orang tu sangat akur..sampai ke anak2nya.

    Suka

  20. Rudianto Harianja

    Lae Jonru, Bagaimana anda menyikapi toleransi di DKI, terkhusus menyangkut Gubernur. Mule…

    Suka

  21. Makasih tulisannya bang.

    Suka

  22. Mhd Fudail Sembiring

    Assalamualaikum WrWb,

    Payo si I tuliskendu ena mpal.
    Aku pe campur campur denga kelurga I bas agamana.

    Salam,
    MFS,
    Salemba-JakPus

    Suka

  23. Mangboru, kenapa ngg di kasih tau sebab kematian bang Dani tuh ?

    Suka

  24. setiap mau lebaran..impal saya yg beragama nasrani,selalu datang dan bantu masak ortu..kadang mereka 3 hari sebelum lebaran sudah nginap…tapi snina dani e na kena kai bang jon ?

    Suka

  25. Luar biasa…….Jempol buat Jonru…

    Suka

  26. muhammad syaiful

    membaca tulisan bung jonru, wawasan saya semakin bertambah pada hal2 baru.. Mksh bung.. Lanjutkan..

    Suka

  27. salam Bpk Jonru: saya suku Batak, sepertinya masalah agama bukan hal sepele bagi suku batak, mungkin hanya penilaian anda saja. Trimakasih

    Suka

    • Sebenarnya relatif juga sifatnya. Saya orang Minang yang pernah dekat dengan dua orang Batak. Satu saya panggil lae Siahaan. Orangnya asik untuk yang umum-umum, tapi untuk masalah keyakinan, maaf.. dia terlihat anti sekali dengan saya yang Muslim. Saya garis bawahi, Hanya untuk masalah keyakinan,

      Ada satu lagi, tetangga kontrakan. Saya panggil dia bro Silitonga. Orangnya asik, simpel, lucu, pokoknya sosok yang pas buat dijadiin teman. Dalam masalah keyakinan dia itu santai sekali, yang penting asal cocok dan mau saling mengerti, tidak ada paksaan, dan tidak ada diskriminasi dan intimidasi. Keluargaanya adalah HKBP yang taat, malah abangnya seorang Sintua yang boleh di bilang cukup keras terhadap keyakinan. Dia cerita kalau kakek dari pihak bapak beserta salah seorang adik perempuan dari kakeknya itu adalah seorang muslim yang taat. Namun bapaknya beralih ke HKBP saat menikah dengan ibunya. Tapi secara umum tidak pernah terjadi permasalahan besar.. Menurut ceritanya dia, itu biasa saja di keluarga besarnya di keduabelah pihak.

      Kesimpulannya, itu tergantung kepada pribadi masing-masing juga.. 😀

      Suka

  28. Baru tahu Bang Jonru berasal dari Karo, pantas terkesan galak padahal itu tegas. lebih senang dipanggil Batak atau Karo Bang?

    Suka

  29. Mejuahjuah assalamualaikum Senina Jonru Ginting. Tulisan nya bagus menceritakan tentang toleransi bagi suku kita suku Karo dari Sumatera Utara. Saya mengenal orang tua Daniel Ginting itu yang bernama Tomas Ginting kami satu perkumpulan satu kampung Persadan asal Kuta Kidupen se Jabodetabek dan sama sama pernah bekerja di Dep. Kuangan Kenapa Suku Karo itu demikian toleransinya ?. itu bisa dijawab karena; nenek moyang kita menganut kepercayaan asli orang Karo yang disebut Agama Pemena/ Perbegu, kita juga masyarakat Karo masih memegang teguh adat istiadat apapun agamanya berkumpul bersama sama di Jambur ( Balai Pertemuan orang Karo). Sampai tahun 1965 /G 30S PKI orang Karo masih mayoritas beragama asli orang Karo( agama Pemena). Karena nenek moyang kita beragama Pemena ,anak anaknya memilih agama sesuai keyakinan masing masing memilih Islam ,Protestan , Katolik dan Hindu. Maka tidak heran pada masyarakat Karo ada bermacam agama pada hal ia satu Bapak dan Ibu termasuk saya sendiri demikian Tomas Ginting itu ada saudara kandung dia yang Islam.Kepada para pembaca perlu diketahui mayoritas suku Karo beragama Nasrani mungkin ada sekitar 80% namun demikian dari suku Karo ini lahir dan pernah jadi Pimpinan Partai yang berdasarkan Islam seperti H. Malem Sambat Kaban ( PBB) dan H. Tifatul Sembiring ( PKS) insya Allah menyusul Jonru Ginting. Orang Karo sangat hormat prinsipnya dimana tanah dipijak disitu langit dijungjung makanya seperti tulisan diatas ada orang Batak tidak menghormat warga setempat dengan membakar anjing /babi,minum minum an memabukkan itu jelas bukan dari suku Karo.

    Suka

  30. subhanallah.. semoga pak Jonru selalu dikuatkan KeIslamammya dan menjadi seorang Muslim yang senantiasa Menolong Agama Allah… dan semoga banyak org Non Muslim yg seperti Pak Jonru dan sodara bpk di atas yg Mendapat Hidayah. aamiin
    Seperti Mu’alaf Belgia Yang Berhasil Islamkan Ribuan Orang >> http://bit.ly/1yje47m

    Suka

  31. Ada pertanyaan dari Pa Ahmed Tsar, pertanyaanya kepada Jonru Ginting lebih senang dipanggil Batak atau Karo Bang. Karena belum di jawab saudara Jonru baiklah akan saya jawab. Saya juga sama dengan Jonru dengan merga Ginting dari suku Karo secara pribadi saya lebih senang dipanggil suku Karo saja dari pada suku Batak. Kenapa ?. Karena mengatakan dari suku Karo sudah pasti benar, orang Karo juga tidak senang dipanggil sebagai orang Tapanuli. Saat ini umumnya yang dikatakan Batak adalah dari Tapanuli, antara Bahasa Karo dengan bahasa Tapanuli sangat berbeda tidak saling mengerti,sapaan ucapan kalau ketemu dengan orang Karo dengan sebutan Mejuahjuah sedangkan bahasa Batak adalah Horas , adat istiadat juga berbeda jika ada perkawinan antara orang Karo dengan orang Batak maka pesta ada diadakan dua kali sekali dengan adat Karo dan sekali dengan adat Batak bahasa pengantar yang dipakai dengan bahasa Indonesia.

    Suka

  32. Pertamax lah… Om, bisa ga sya nerima pembaharuan nya langsung lewat email…? Maklum, masih kagok om… 🙂

    Suka

  33. Bisa jadi orang Batak itu toleran untuk sesama mereka bang. Tapi kalau beda suku, relatif juga sifatnya. Di kantor lama saya punya teman yg saya panggil lae Siahaan. Orang sih asik untuk bergaul secara yang umum-umum, namun kl udah nyinggung keyakinan, saya merasa beliau itu anti dengan yang namanya Islam, walaupun beliau itu berusaha menyembunyikan ketidaksukaannya.

    Beda lagi dengan tetangga kontrakan saya dua tahun lewat. Belau yang biasa saya panggil Silitonga tu sepertinya enteng dan simple banget orangnya. Bulan puasa saya sering kasih dia perbukaan berupa minuman dan makanan kecil, trus sama kurma.. Eh habis dia makan tanpa sungkan-sungkan. Dia ga risih sama sekali, malah anggap itu biasa saja, padahal saya tau keluarganya adalah HKBP yang taat. Malah abangnya seorang calon yang akan dijadiin Sintua di daerahnya. Sayapun jadi senang, ternyata rekan Batak yang satu ini bukan termasuk nasrani yang saya bayangkan sebelumnya. Hebatnya lagi, dia itu peduli sekali kalau ada apa-apanya dengan saya. Seperti beresin lokasi kontrakan saat lebaran karena saya pulang kampung, atau kl bulan puasa, dia sengaja merem dikamar . Ga pernah sekalipun saya liat dia makan, minum, ngerokok diluaran, apalagi di depan saya kl pas lagi bulan puasa 😀

    Suka

  34. Pada masyarakat Karo khususnya yang tinggal di Tanah Karo sekitarnya masih terjadi perdebatan besar apakah mereka adalah sebuah suku tersendiri atau masih bagian dari suku Batak. Terjadi kecenderungan yg beragama Islam tdk ingin dikaitkan dengan Batak. Mengenai Tifatul Sembiring boleh dikatakan hanya marganya saja dari Karo bahwa darah yang mengalir ditubuhnya didominasi darah Minang dan ybs sdh tidak paham dengan Karo. Begitu juga dengan MS Kaban beliau adalah Melayu Karo.

    Toleransi beragama di Tanah Batak yang dihuni mayoritas Kristen sama seklli tidak pernah ada masalah. Khususnya di kehidupan sehari hari termasuk gangguan pelaksanaan ibadah.

    Salah satu yang cukup terkenal dari suku Karo yang mungkin sedikit mengimbangi suku Minang dalam kuliner. Maaf, kuliner yang satu ini haram bagi rekan yang beragama Muslim. BPK atau Babi Panggang Karo dan sayuran irisan daun Ubi Jalar dengan Jantung Pisang Muda .

    Suka

  35. Mengenai penganut Muslim di Sumatera Utara didominasi suku Jawa yang didatangkan Belanda pada jaman emasnya tembakau sebagai yang disebut Koeli Kontrak yang menjadi penduduk permanen. Termasuk perantau Minang, Aceh, Banjar dan Melayu Riau. SUMUT adalah yang tidak bisa terlepas dalam hal awal mula agama Samawi di Nusantara. Situs Islam dan Kristen Nestorian sudah ada sejak abad awal Masehi di Barus dengan ditemukannya benda sejarah di desa Parsaoran Barus dan catatan sejarah pengembara Arab Muslim yang menyatakan bahwa sudah terdapat satu komunitas Kristen Arab yang bermukin di Barus sebelum pedagang Islam masuk wilayah Barus.

    Suka

  36. Untuk Jandel Marbun.. Aku tambah sedikit penjelasan tentang suku Karo. Suku Karo terdiri dari 5 merga induk sering disebut Silima merga. antara bahasa Karo dengan bahasa Batak ( Toba,Silindung,Humbang dan Samosir) sangat berbeda tidak saling mengerti. Adatnya juga beda, Jika ada perkawinan antara suku Karo dengan Batak maka selalu diadakan dengan dua kali sekali dengan acara adat Karo sekali lagi dengan adat Batak. Jika Karo termasuk bagian Batak maka sebenarnya tidak perlu diadakan pesta adat dua kali. Tifatul Sembiring ibunya berasal dari Minang dan ia besar di Sumbar tetapi Malem Sambat Kaban asli orang Karo ibunya beru Tarigan dan Bapa nya merga Karo karo Kaban. MS. Kaban lancar berbahasa Karo.

    Suka

  37. Tapi ada sebagian orang batak fanatik terhadp agamanya (nasrani) entah dimana.. Dan mereka menjadi misionaris

    Suka

  38. tetangga depan rumah saya di Padang, biasa dipanggil Pak Ginting,. Tapi baik dan suka menolong.. Tiap ada “mando’a”/ hajatan atau syukuran, bahkan takziyah dari tetangganya yang semua muslim, pasti ia selalu hadir.. Dan terkadang, ada acara buka bersama di tempatnya untuk kerabat karo nya yang muslim. Sesekali ada kebaktian kristen di rumahnya.. Alhamdulillah keharmonisan di kompleks kami masih terjaga..

    Suka

  39. Bagi orang batak lebih marah disebut tak beradat dari pada tak beragama.

    Suka

  40. Lain lubuk lain ikannyo. Kami asli minang sangat susah untuk bertoleransi. Bukan apa-apa itu dikarenakan masyarakat minangkabau adalah muslim secara keseluruhan. Tidak ada agama selain islam di keturunan kami. Maka dari itu pindah agama adalah aib bagi kami, hal yg sangat sensitif bagi kami yang asli keturunan minang. Tapi bukan berarti pendatang yg beragaa non muslim tidak aman di daerah kami. Mereka bebas melakukan ibadah. Apapun itu asal tidak mengganggu umat lainnya. Salut untuk org batak, tetap junjung budaya toleransi yg mahal harganya ini.

    Suka

  41. Dilema. 🤐

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s