“Ternyata Jonru Tak ‘Sehebat’ yang Saya Duga!”


jonru_03

Sumber foto: Merdeka.com

Tulisan ini bertujuan membahas berita di Merdeka.com, tentang seminar saya yang pesertanya hanya 10 orang. Setelah dipertimbangkan dengan matang, saya memutuskan untuk bercerita dengan gaya TANYA JAWAB.

Selamat menyimak 🙂

1. “Apa benar jumlah peserta seminar Anda tanggal 30 November di Jakarta, hanya 10 orang?”

Ya, benar. Jadi kalau ada teman yang mengira berita di Merdeka.com itu fitnah atau bohong, maka perlu saya jelaskan bahwa berita itu BENAR.

2. “Anda yang jumlah follower sangat banyak, kok bisa sih… peserta workshop Anda hanya 10 orang?”

Maaf, saya bukan tipe orang yang suka ngeles, memberikan berbagai macam alasan atau pembenaran untuk membela diri. Jadi saya tak akan mengarang-ngarang argumen hanya untuk membantah fakta tersebut.

Saya hanya ingin menjelaskan bahwa saya seorang pebisnis yang rajin mengadakan pelatihan penulisan sejak tahun 2008. Ada pelatihan saya yang sepi, ada yang ramai. Bulan september 2014 lalu, tim kami mengadakan acara serupa, dan alhamdulillah pesertanya hampir 100 orang. Namun dulu pernah juga jumlah pendaftar hanya tiga orang, sehingga acara terpaksa dibatalkan.

Jadi acara kali ini yang sepi, sebenarnya biasa-biasa saja.

Jika ini disebut kegagalan, maka kegagalan bagi seorang pebisnis adalah sarana untuk intropeksi diri. Kami mempelajari faktor-faktor kegagalannya, lalu belajar dari situ, lalu membuat strategi yang lebih baik untuk acara-acara berikutnya.

3. “Jika peserta seminar Anda hanya 10 orang, berarti jumlah follower Anda yang sangat banyak itu tak ada gunanya, dong?”

Haters memang berpandangan seperti itu, karena mereka hobinya memang mencela dan mencari-cari celah untuk membully orang lain. Ya, maklumi saja.

Perlu saya jelaskan bahwa:

A. Workshop yang diadakan oleh tim saya bulan September 2014 lalu, alhamdulillah pesertanya hampir 10o orang.

B. Saat saya jualan buku di Fan Page Jonru, alhamdulillah jumlah pembeli mencapai 400 orang dalam sebulan.

Ini adalah contoh bukti bahwa jumlah follower yang banyak tersebut alhamdulillah ada manfaat dan relevansinya. Adapun mengenai kejadian tanggal 30 November, di atas telah saya bahas.

4. “Emangnya apa penyebab seminar kali ini sepi peminat?”

Mungkin karena persiapan panitia yang kurang maksimal.

Anda mungkin sudah tahu, beberapa waktu lalu saya memposting info bahwa saya ada agenda jalan-jalan sambil mengisi pelatihan penulisan di Turki, tanggal 27 November hingga 6 Desember 2014. Namun panitia dari Aurora Travel memutuskan untuk mengundur pelaksanaan acara ini, karena alasan tertentu.

Karena acara tersebut diundur, maka tim saya pun segera menyiapkan acara di Jakarta untuk tanggal 30 November 2014. Keputusan diambil hanya 3 minggu sebelum hari H. Biasanya berdasarkan pengalaman, persiapan terbaik adalah 1 hingga 2 bulan sebelum pelaksanaan acara.

Persiapan kami sangat mepet, dan ada beberapa faktor lain. Itulah hasil evaluasi kami terhadap acara ini yang sepi peminat.

Namun “kegagalan” seperti ini tidak akan pernah mematahkan semangat seorang entrepreneur sejati. Jika terjadi kegagalan, maka kita evaluasi, pelajari situasi, lalu menyusun strategi-strategi yang lebih baik.

5. “Dari mana Merdeka.com tahu mengenai jumlah peserta seminar Anda yang hanya 10 orang tersebut?”

Ada wartawan mereka yang hadir. Orangnya sangat baik. Bahkan dia memanggil saya Pak Ustadz. Sebuah sapaan yang sebenarnya kurang saya sukai, karena saya memang bukan ustadz. Tapi tak apalah. Bagi saya, panggilan itu adalah caranya untuk berbuat baik kepada orang lain, dan saya sangat menghargai itu.

6. “Kalau wartawannya baik, kenapa dia kok menulis berita yang judulnya negatif?”

Dia itu reporter, Bos. Keputusan untuk memuat berita dan menentukan angle penulisan adalah redaktur, bukan si reporter. Seperti itulah cara kerja media. Ada tim yang bekerja.

Sekadar info: Isi berita di Merdeka.com tersebut sebenarnya positif (saya sudah baca). Namun judulnya bernuansa negatif. Mungkin redakturnya punya pertimbangan bahwa judul negatif akan lebih menarik bagi pembaca.

Namun saya berterima kasih kepada Merdeka.com yang telah berinisiatif sendiri untuk meliput acara tersebut, dan menulis berita yang isinya positif (walau ada yang judulnya negatif, hehehe…)

7. “Oke, kita kembali ke pembahasan awal. Ini ada titipan pertanyaan dari seorang peserta seminar Anda. Namanya Pak Rofi. Dia bertanya begini:

“Saat datang ke acara seminar Pak Jonru, saya membayangkan acaranya dikawal oleh banyak petugas keamanan. Saya akan sulit menemuinya. Pesertanya pasti sangat banyak. Tapi ketika sampai di lokasi acara, saya kaget. Pak Jonru terlihat biasa-saja. Tak ada satu pun petugas keamanan. Saya bahkan dengan sangat mudah bersalaman dengannya. Sosok Pak Jonru yang asli ternyata tidak “seheboh” yang saya bayangkan selama ini. Orangnya biasa-biasa saja. Ini membuat saya penasaran. Seperti apa sih, kehidupan sehari-hari Pak Jonru?”

(NB: Pertanyaan di atas benar-benar ditanyakan oleh Pak Rofi kepada saya. Namun saya tulis ulang dengan kalimat sendiri, tanpa mengubah maknanya).

Ya, ternyata memang seperti itulah faktanya.

Banyak orang yang memandang saya TERLALU TINGGI. Bukan hanya lovers (seperti Pak Rofi). Para haters pun sama saja.

Para haters memang membenci dan sering membully saya. Tapi mereka pun sebenarnya selama ini memandang saya terlalu tinggi. Banyak di antara mereka yang mengira saya seorang caleg, bahkan calon presiden.

Ada yang mengira saya adalah admin Trio Macan (padahal level Trio Macan sangat jauh di atas saya), bahkan saya sering dianggap sehebat mereka. Bahkan di sejumlah akun haters, mereka memajang foto yang memperlihatkan posisi saya disejajarkan dengan sejumlah tokoh papan atas. Berikut contohnya:

jonru_01

jonru_02

Baca halaman ke 2 klik >> disini

Iklan

106 responses to ““Ternyata Jonru Tak ‘Sehebat’ yang Saya Duga!”

  1. Pernyataan peserta seminar yang nomor 3 cukup menarik. “Jika peserta seminar Anda hanya 10 orang, berarti jumlah follower Anda yang sangat banyak itu tak ada gunanya, dong..???
    Peserta seminar dan follower Jelas berbeda, secara fungsional kedua-duanya juga berbeda,
    Menjadi peserta seminar sudah pasti rela di kader menjadi seorang penulis yang profesional, butuh niat yang kuat, dan visi yang jauh ke depan. dan rata-rata jumlah peserta seminar jurnalistik cendrung sedikit di banding dengan jumlah folower. hal itu lumrah terjadi.
    Follower secara fungsional tetap ada gunanya, dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan jumlah peserta seminar.
    Selamat pada bapak Jon ru, berapapun murid yang hadir untuk menerima pelajaran yang bermanfaat tetap harus kita suguhkan materi dengan senyuman, tidak perlu peduli media mau memberitakan apa.
    jujur saja baru di artikel ini saya melihat foto pemilik blog Jonru.com.

    Suka

  2. wkwkwkwkkwk nice

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s