[Diari Jonru #01] Sosok Siswa Teladan yang Merasa Hidupnya Hampa


Catatan: Mulai hari ini, saya berencana rutin menulis di blog ini, tentang perjalanan hidup saya dalam menemukan jati diri, dan perjuangan meraih sukses. Selamat mengikuti, semoga bermanfaat 🙂

* * *

masa kecil jonru

Foto ketika saya masih SD kelas 2 (kalau tak salah) di Binjai, Sumatera Utara.

Suatu hari di tahun 1979:

Seluruh siswa berbaris di halaman sekolah, berjejer mulai dari kelas satu hingga enam. Saya pun tentu ikut hadir, namun belum tahu itu acara apa. Yang saya tahu hanya satu; kami disuruh berbaris dan mendengarkan pidato kepala sekolah.

Lantas, ada pengumuman nama-nama juara kelas. Untuk kelas satu, yang pertama kali disebut adalah juara tiga. Lantas juara dua. Lantas juara satu, yang ternyata adalah SAYA.

Dengan linglung saya maju ke podium untuk menerima ucapan selamat. Seluruh hadirin tertawa karena melihat sikap saya yang canggung dan masih bingung. Saat itu saya mengira bahwa juara tiga jauh lebih hebat ketimbang juara satu, karena angkanya lebih banyak.

Setelah pulang ke rumah dan orang tua saya menjelaskan, barulah saya sadar bahwa diri ini ternyata meraih peringkat terbaik untuk kelas satu.

Ya, sejak kelas satu SD hingga lulus SMA, saya memang langganan juara kelas, bahkan sering jadi juara sekolah. Ketika penerimaan siswa baru di SMA Negeri 2 Binjai, nama saya tercantum di urutan teratas, karena indeks prestasi (IP) saya paling tinggi. Bahkan ketika lulus SMA, IP saya tertinggi sekotamadya. Saya dikenal sebagai siswa teladan, rajin belajar, tak pernah nakal, patuh pada aturan sekolah, pokoknya idaman semua guru dan dikagumi oleh teman-teman.

Hingga lulus SMA, saya juga terkenal sebagai anak yang sangat disiplin. Setiap malam, saya menyiapkan buku, alat tulis, dan semua peralatan yang harus dibawa esok hari ke sekolah. Jadi ketika berangkat, tak perlu lagi cari ini cari itu. Tinggal ambil tas dan langsung berangkat.

Saya juga paling anti terhadap budaya “sistem kebut semalam”. Setiap hari saya belajar, rajin mengerjakan PR, mencicil satu demi satu pelajaran sekolah, agar tak pernah tertinggal. Jadi ketika besok ada ujian, saya sudah siap, tak perlu lagi ngebut atau begadang untuk belajar.

Begitulah sosok Jonru sejak SD hingga lulus SMA. Sosok seorang pelajar teladan yang langganan rangking satu, dan dikagumi oleh banyak orang.

Namun di balik prestasi gemilang tersebut, ada sisi lain pada diri saya yang memberontak, menangis galau, gelisah mencari jati diri. Saya merasa hidup ini hampa, timpang tak berimbang.

Saya unggul dari segi IQ, tapi sangat miskin dari segi SQ dan EQ. Hidup saya jauh dari agama, tak pintar bergaul, bahkan tak pernah mendapat kesempatan untuk aktif di kegiatan ekstrakurikuler seperti OSIS dan sebagainya.

Saya suka menulis sejak SD, ingin mengembangkan bakat yang satu ini, ingin jadi penulis terkenal, tapi tak pernah ketemu cara dan kesempatan untuk mewujudkannya. Saya kuper, tak pintar bergaul, tak tahu harus ke mana dan harus minta tolong siapa untuk mewujudkan impian sebagai seorang penulis.

Bersambung >>

Iklan

13 responses to “[Diari Jonru #01] Sosok Siswa Teladan yang Merasa Hidupnya Hampa

  1. Penasaran menunggu lanjutanya.. ::))

    Suka

  2. LanjoOot… ( ⌒_⌒) ​​​:) ˚•‧::‧•˚

    Suka

  3. kami tunggu kelanjutannya pak jonru (y)

    Suka

  4. Diantos lanjutannya

    Suka

  5. Permisi om, judulnya mohon diubah sedikit, karena terkesan agak gimana gitu 😀

    ditunggu kelanjutannya :v

    Suka

  6. penasaran kelanjutannya
    saya pengen tau lebih banyak ttg masa2 sebelum bang jonru masuk islam
    btw, saya paling gak bisa nyicil pelajaran tiap hari, soalnya kalo belajar sedikit2 itu maleeees banget, terus ortu pun gak pernah peduli saya blajar atau nggak. gimana caranya supaya semangat kayak bang jonru??

    Suka

  7. Ping-balik: [Hater, Lover Masuk Sini] Heboh Foto Jonru Semasa Muda | ArDa

  8. Penasaran kelanjutannya!

    Suka

  9. oh pak jonru dr binjai ternyata. saya baru tau. bangga rasanya ada warga kota binjai yg berprestasi spt pak jonru.

    Suka

  10. Sepertinya mencicil menulis autobiografi ya? Hehehe.

    Suka

  11. Ping-balik: Inilah Diari Jonru Selengkapnya! | Jonru Ginting

  12. Ronald Tarigan

    Saya kenal jon riah ukur ketika masih anak anak sekitar tahun 1983, orangnya pendiam, ia punya banyak saudara perempuan, ladang kami bersebelahan di desa sampe cita, sei bingai, kabupaten langkat, sumut,

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s