[Diari Jonru #02] Saat Kuliah adalah Masa-masa “Balas Dendam”


jonru_hari1_opspek

Foto saya di hari pertama OPSPEK, Universitas Diponegoro tahun 1991.

Saya adalah anak bungsu dari tujuh bersaudara. Semua kakak saya perempuan, alias saya satu-satunya anak laki-laki. Ayah kami seorang guru, pernah menjadi kepala sekolah, dan jabatan terakhirnya sebelum pensiun adalah penilik SD. Sementara Mamak – demikian kami biasa memanggil ibu – dulunya seorang guru, tapi belakangan memilih jadi ibu rumah tangga saja. Keluarga kami awalnya tinggal di Kabanjahe, Kabupaten Karo, tapi belakangan pindah beberapa kali. Kini, kedua orang tua saya menetap di Binjai (22 km dari Medan).

Apakah saya berasal dari keluarga kaya? Tidak! Justru, latar belakang keluarga kami sangat miskin. Demikian miskinnya hingga kami pernah terpaksa makan bubur selama beberapa minggu demi menghemat pemakaian beras. Demikian miskinnya hingga saya – ketika masih SD – merasa amat bangga ketika suatu hari untuk pertama kalinya Bapa – demikian kami biasa memanggil Ayah – membelikan saya majalah Bobo! Saya pamerkan majalah anak-anak tersebut kepada para tetangga, untuk memberitahukan bahwa saya baru saja memiliki sebuah benda yang sangat mahal plus bergengsi.

Keluarga kami tak sanggup membeli majalah-majalah dari ibukota yang harganya serba mahal. Tapi alhamdulillah, Bapa sering membeli koran secara eceran. Dan favorit saya adalah semua koran edisi Minggu, karena di sana ada cerpennya. Saya bermimpi, “Coba tulisan saya yang dimuat di sini, ya. Tentu sangat menyenangkan.”

Saya pun mulai rajin menulis puisi dan cerpen, padahal saat itu saya baru kelas 4 SD. Sebuah cerpen saya pernah dikomentari Bapa. Dia bilang, “Untuk ukuran anak kecil seperti kamu, cerpen ini bolehlah.” Dia mungkin tidak tega mengatakan bahwa tulisan saya masih perlu diperbaiki di sana-sini. Atas bantuan Bapa, suatu hari saya berhasil mengirim dua cerpen ke harian Waspada (Medan) edisi Minggu. Satu di antaranya adalah karya saya sendiri, satunya lagi berupa legenda rakyat Batak Karo yang saya tulis ulang. Alhamdulillah, keduanya dimuat. Saya amat gembira, walau tak ada honornya.

Selain cerpen, saya juga hobi menulis puisi. Bahkan koleksi puisi saya sejak SD sampai remaja masih tersimpan rapi hingga hari ini, dalam lembar-lembar sejumlah buku tulis. Pernah saya mengirim beberapa puisi ke media, dan alhamdulillah satu di antaranya dimuat di koran Sinar Indonesia Pagi (Jakarta) edisi Minggu.

Membaca cerita di atas, Anda mungkin mengira bahwa perjalanan karir saya sebagai penulis sangat lancar dan indah. Sebenarnya tidaklah begitu, Kawan. Sebagai manusia biasa, saya merasa bahwa pencapaian seperti itu masih biasa-biasa saja. Saya belum puas. Saya ingin meraih prestasi yang lebih besar! Tapi sayangnya, saya tak tahu bagaimana caranya. Saya sering bermimpi, “Seandainya ada orang – semacam pemandu bakat – yang bersedia membimbing saya dalam menyalurkan bakat menulis, wah betapa indahnya!” Sebuah mimpi yang – saat itu – tak pernah terwujud!

Ketika SMA, guru Bahasa Indonesia saya pernah memberikan tugas menulis puisi. Saya mencoba menulis sebagus mungkin, dengan harapan semoga beliau bisa menjadi perantara untuk mewujudkan cita-cita saya sebagai penulis sukses. Tapi Sang Guru hanya berkomentar pendek, sepertinya dia tak begitu peduli pada tulisan saya.

Kejadian paling mendebarkan adalah ketika seorang teman SMA saya menyampaikan informasi yang sangat berharga, “Jon, hari Minggu nanti ada pertemuan penulis di Binjai, yang diadakan oleh harian Sinar Indonesia Baru (SIB). Datanglah kau ke sana, ya.”

Saya sudah lupa siapa nama teman ini, yang jelas dia seorang perempuan. Saya sangat berterima kasih padanya, karena informasi yang dia berikan bagi saya seperti setetes air yang sangat segar di tengah padang pasir yang sangat tandus. Dengan penuh semangat, saya menghadiri pertemuan yang dimaksud. Sebuah puisi berjudul Reuni pun saya bawa.

Sungguh di luar dugaan, Redaktur SIB yang membaca puisi tersebut mengaku begitu terpesona. “Sangat bagus, membuat saya tersentuh luar biasa,” ujarnya. Dia berjanji untuk segera memuat puisi saya di SIB edisi Minggu. Saya tentu saja amat gembira, terlebih ketika puisi itu akhirnya benar-benar dimuat.

Beberapa minggu kemudian, saya mengirim satu puisi lainnya ke Redaksi SIB, dan alhamdulillah dimuat. Tapi setelah itu, tak ada follow up apapun. Si Redaktur SIB mungkin sudah lupa pada saya. Saya pun sangat kuper plus tak pintar bergaul dan minderan sehingga tidak berani datang ke kantornya.

Maka hanya sebatas cerita di ataslah perjalanan kepenulisan saya sejak kanak-kanak hingga lulus SMA. Kalaupun ada yang lain, itu hanya kejadian-kejadian kecil. Contohnya ketika SMP saya menjadi juara ke-3 lomba menulis tingkat sekolah.

Saya ingin lebih serius dalam mengembangkan bakat menulis. Saya ingin menjadi seorang penulis sukses, karya-karya saya dimuat di berbagai majalah ibukota. Tapi selain kuper dan tak pintar bergaul, saya juga sangat jauh dari akses informasi karena keluarga kami belum punya televisi dan tidak berlangganan media cetak apapun. Sistem pendidikan di tempat saya hanya mementingkan prestasi akademik, sama sekali tak ada ruang atau sarana untuk mengembangkan bakat menulis. Komunitas penulis pun belum ada yang saya kenal. Dan tentu saja belum ada internet, apalagi blog. Tak ada teman untuk diajak berdiskusi soal kepenulisan, tak ada pemandu bakat yang membimbing saya. Saya benar-benar sendirian, memendam bakat menulis yang meledak-ledak ingin disalurkan.

Saya juga telat menemukan teori psikogi yang bernama Emotional Quotient (EQ) dan Spiritual Quotient (SQ). Sejak SD hingga SMA, aspek intelegensi saya yang dikembangkan dan terus diasah hingga runcing hanyalah Inteligent Quotient (IQ). Saya menjadi langganan juara kelas bahkan juara umum, sejak kelas satu SD hingga tamat SMA. Ketika masuk SMA, saya adalah siswa baru dengan Nilai Ebtanas Murni (NEM) tertinggi. Kejadian serupa terulang ketika lulus SMA. Bahkan NEM saya ketika itu tertinggi untuk seluruh lulusan SMA se-kotamadya Binjai!

Dulu saya bangga oleh prestasi akademik seperti itu. Tapi perjalanan waktu membuktikan bahwa yang saya rasakan hanya kehampaan. Saya menjadi juara di sekolah, tapi jiwa saya kering. Saya sulit bergaul, minderan, dan jauh dari agama.

Banyak teman saya yang aktif di kegiatan ekstra kurikuler. Saya ingin sekali bergabung. Tapi entah kenapa, kesempatan bagi saya tak pernah datang. Teman-teman sepertinya tak pernah kepikiran untuk mengajak saya. Sepertinya ada semacam pemikiran seragam di kepala mereka bahwa, “Jonru berada di ‘divisi’ belajar, sedangkan kita di ‘divisi’ eksrakurikuler. Mengajak Jonru ke divisi kita adalah sebuah kekeliruan, maka jangan coba-coba menyeret dia ke tempat ini. Bila nanti nilai rapor dia jeblok, apa kita siap menanggung resiko karena disalahkan olehnya?”

Sejujurnya, sejak SD hingga SMA saya dikenal sebagai siswa teladan dan langganan juara sekolah. Banyak orang yang mengagumi prestasi akademik saya ketika itu. Mereka tidak tahu bahwa yang paling saya inginkan sebenarnya adalah menjadi penulis sukses.

Maka, setelah tamat SMA merupakan masa-masa balas dendam. Saya tidak peduli lagi pada kuliah dan lebih aktif berorganisasi. Saya mulai serius menekuni profesi penulis. Saya mulai rajin mengirim cerpen ke berbagai majalah. Sebuah tekad bulat tertanam, “Mulai hari ini, saya akan menjadi seorang Jonru yang berbeda. Saya akan rajin mengikuti organisasi agar tidak kuper. Dan yang paling penting, saya akan mulai serius merintis karir sebagai penulis.”

Bersambung >>

Iklan

11 responses to “[Diari Jonru #02] Saat Kuliah adalah Masa-masa “Balas Dendam”

  1. masa muda emang ga ade matinye…hwehehehhh (bersambung) 😀

    Suka

  2. Sebaik-baik manusia adalah manusia yg banyak menularkan kemaslahatan untuk manusia.

    Suka

  3. Hampir sama dg sy, tapi sejak masuk kuliah sy ‘balas dendam’ dg travelling, mencatat setiap karya tuhan yg luar biasa, bertemu banyak org dg latar belakang yg berbeda, dan menyulap pengalaman2 itu menjadi tulisan.

    Suka

  4. Bagus gan Blog-nya….:)

    Suka

  5. COBA TANYA DI DIKNAS BINJAI dan KEPALA SEKOLAH, APA BETUL LANGGANAN JUARA 1 DAN EBTANAS TERTINGGI DI KOTA BINJAI…kejujuran yang bisa menjawab…

    Suka

  6. Berarti belum pernah pacaran ya saat sekolah? Tapi masih pernah naksir kan? Hehehe.

    Suka

  7. menjadi motivasi yang benar2 patut untuk di contoh

    Suka

  8. contoh tauladan yang Baik untuk di Tiru,…Ceritanya Mantap…

    Suka

  9. Ping-balik: Inilah Diari Jonru Selengkapnya! | Jonru Ginting

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s