[Diari Jonru #03] Sosok “Wartawan Kampus” yang Kuliahnya Terbengkalai


masa kuliah jonru

Saya (paling kanan) bersama teman-teman di pers kampus EDENTS Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro Semarang

Di kelas tiga SMA, saya mendapat mata pelajaran baru yang sangat menarik: Akuntansi. Entah kenapa, saya sangat jatuh cinta padanya. Demikian cintanya, sampai-sampai saya segera bertekad dengan amat bulat, “Pokoknya kalau kuliah nanti, saya hanya mau mengambil jurusan Akuntansi. Titik!”

Maka, ketika UMPTN tiba, saya memilih Akuntansi Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Akuntansi Universitas Padjajaran (Unpad), tapi gagal karena mungkin pilihan saya terlalu tinggi. Tahun berikutnya, pilihan saya berubah menjadi Akuntansi Unpad dan Akuntansi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Alhamdulillah, saya diterima di Undip.

Ada teman yang menyarankan, “Kenapa kamu tidak kuliah di fakultas sastra saja?” Saya menggelengkan kepala, karena rasa cinta saya pada Akuntansi saat itu sangat tinggi. Saya bermimpi, suatu saat nanti saya akan menjadi seorang ahli Akuntansi yang hobi menulis, seperti Mira W yang dokter dan rajin menulis novel.

Di awal masa-masa kuliah, saya sangat menikmati aktivitas perkuliahan. Saya rajin belajar sehingga mendapat Indeks Prestasi (IP) 3,05 pada semester satu. Tapi di semester dua, Tuhan sepertinya mulai menunjukkan “jalan yang benar” pada saya. Ini bermula ketika saya terkena sakit tipus persis sehari sebelum jadwal ujian akhir semester. Dokter yang memeriksa saya hendak memberikan surat istirahat, tapi saya tolak dengan alasan, “Besok saya mulai ujian, Dok. Percuma.”

Maka IP saya langsung jeblok menjadi 2,5, karena penyakit tipus menyebabkan saya tak bisa belajar selama ujian berlangsung. Sejak saat itu, IP saya tak pernah lagi mencapai angka di atas 2,5. Bukan karena saya sakit setiap kali menjelang ujian semester, melainkan karena saya mulai bosan dengan materi kuliah Akuntansi. Saya merasa bahwa dunia penulisan jauh lebih menyenangkan dan penuh warna.

Saya bahkan sempat kepikiran untuk pindah jurusan ke Komunikasi (terutama karena saya mulai aktif di pers kampus dan punya banyak teman dari jurusan Komunikasi), tapi keburu gentar karena – katanya – urusan administasinya sangat ribet. Sempat terlintas niat di pikiran saya untuk berhenti kuliah dan total menjadi penulis, tapi tak terlaksana karena dua hal.

Satu: Sebagai penulis, bekal saya masih sangat minim. Saya masih sangat pemula. Dua: Saya adalah satu-satunya anak pada keluarga kami yang disekolahkan hingga S1. Bukan karena saya yang paling dimanja, tapi ini masih berkaitan dengan kondisi keluarga kami yang sangat miskin. Bila saya berhenti kuliah, harapan orang tua saya untuk menyekolahkan anak laki-laki mereka satu-satunya hingga sarjana pun harus kandas. Saya tak ingin membuat mereka kecewa.

Saya pun meneruskan kuliah hanya dengan niat untuk membahagiakan kedua orang tua.

Mimpi besar untuk menjadi penulis sukses mendorong saya untuk bergabung dengan dua pers kampus sekaligus di Undip; Edents (majalah mahasiswa Fakultas Ekonomi), dan Manunggal (Koran Kampus tingkat universitas). Dari kedua lembaga inilah saya belajar banyak tentang dunia penulisan, penerbitan, organisasi, percetakan, juga politik. Sejujurnya, banyak sekali perubahan mendasar pada diri saya setelah bergabung dengan kedua pers mahasiwa tersebut. Bahkan setelah bergabung di Edents-lah kehidupan saya mulai dekat dengan nilai-nilai Islam. Edents dan Manunggal adalah sekolah kehidupan bagi saya, sekolah yang sangat berharga dan sangat besar pengaruhnya pada kehidupan saya di masa-masa berikutnya.

Saya pun aktif berorganisasi, khususnya mengelola pers kampus. Saking aktifnya, saya jarang mengikuti kegiatan kuliah. Saya betah nongkrong di sekretariat Edents dan Manunggal, bahkan sering menginap. Adanya komputer di sana membuat saya sangat senang. Tanpa membuang-buang kesempatan, komputer itu saya gunakan – antara lain – untuk mengetik cerpen dan naskah-naskah lain.

Aktivitas saya yang luar biasa di pers kampus membuat banyak teman yang akhirnya menjuluki saya “wartawan kampus”. Bila banyak teman yang ikut berbagai macam organisasi di kampus, saya fokus di satu jenis organisasi saja dan menggelutinya secara serius. Saking seriusnya, saya sering “lupa” kuliah. Bahkan suatu hari ada kejadian lucu. Saya masuk ke kampus Fakultas Ekonomi, dan kaget karena sedang ada aktivitas kampanye Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM). “Lho, sedang ada pemilu kampus, tho? Kok saya baru tahu?” ujar saya di dalam hati.

Dapat Anda bayangkan, prestasi akademik saya sangat buruk ketika kuliah. Saat reuni dengan teman-teman SMA dan saya bercerita bahwa IP saya sangat rendah, mereka tertawa geli sambil berkata, “Tak mungkin. Pasti kamu sedang merendah.” Mereka tidak tahu bahwa saya bukan Jonru yang dulu lagi. Sudah demikian banyak hal yang berubah pada diri saya, termasuk perubahan sikap dan pandangan hidup saya mengenai sistem pendidikan.

Saya “terlalu cinta” pada kampus, sehingga masa kuliah saya pun mencapai 6 tahun 7 bulan. Saya masuk di tahun 1991 dan baru keluar di tahun 1998, bertepatan dengan awal krisis moneter di Indonesia. Indeks prestasi saya ketika lulus adalah 2,4.

* * *

Bila prestasi akademik saya sangat buruk, produktivitas menulis saya justru sangat tinggi. Naskah demi naskah lahir tak terbendung, lalu saya kirim ke sejumlah media cetak. Apakah langsung dimuat? Tentu tidak! Hingga tahun 1993, saya sudah mengirim puluhan cerpen ke Anita Cemerlang15, tapi belum ada satu pun yang dimuat. Bahkan banyak di antaranya yang tak jelas nasibnya. Saat itu, target utama pengiriman naskah-naskah cerpen saya memang Anita Cemerlang.

Berita baiknya, Anita Cemerlang selalu mengembalikan naskah yang tidak dimuat, dan memberikan catatan singkat mengenai alasan penolakan. Boleh dikatakan, dari catatan-catatan penolakan itulah saya banyak belajar untuk memperbaiki kualitas karya-karya saya. Jadi walau naskah saya masih terus ditolak, saya tidak putus asa. Saya tetap bersemangat, karena saya tahu banyak hikmah di balik penolakan tersebut. Saya yakin bahwa suatu saat saya akan sukses!

Bersambung >>

Iklan

8 responses to “[Diari Jonru #03] Sosok “Wartawan Kampus” yang Kuliahnya Terbengkalai

  1. super inspiratif sekali Bang,,
    salam kenal..
    saya salah satu Silent Rider FP JONRU yg selalu menantikan status2 Abang..
    mudah2an tetap Istiqomah dan Lebih Baik MenJONRO daripada Membiarkan Kemungkaran n KeMunafikan

    Suka

  2. Cerita bg Jonru hampir sama dengan kisah yang kami alami sekarang sebagai aktivis pers mahasiswa.
    Salam kenal bang dari Susanto, Pemimpin Redaksi Lembaga Pers Mahasiswa Dinamika UIN Sumatera Utara.

    Suka

  3. Kalau sempat singgah ke Web kami bang,http://www.lpmdinamika.co/.
    Klo bisa tinggalkan komentar biar buat kru-kru kami semangat 🙂

    Suka

  4. wah ternyata bang jonru 1 almamater dgn saya juga nih di UNDIP hehe tapi saya gak ikut LPM Manunggal bang, hanya hobi buat karya tulis ilmiah hihi sukses terus bang 😀

    Suka

  5. Inspiratif… Lanjutkan bang Jonru!

    Suka

  6. Wah, ternyata beda sekali dengan saat sekolah di SD-SMA ya? Jadi pemberontak begitu… Hehehe.

    Suka

  7. Ping-balik: Inilah Diari Jonru Selengkapnya! | Jonru Ginting

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s