[Diari Jonru #04] Setelah Jadi Juara Lomba Menulis, Justru Berhenti Menulis


jonru_penulis

Ini salah satu foto saya ketika dulu mulai merintis karir sebagai penulis, rajin mengirim tulisan ke majalah remaja. Makanya di foto ini saya mejeng bersama sebuah majalah remaja 🙂

Walau naskah saya masih ditolak di mana-mana, alhamdulillah… sebuah majalah mini (ukurannya memang kecil tapi memanjang) bernama Ceria Remaja menjadi penghibur yang cukup ampuh. Di saat semua media besar masih asyik menolak semua naskah saya, cerpen pertama yang saya kirim ke Ceria Remaja – berjudul Modal Kumis – justru dimuat dengan sukses. Bahkan setelah itu, hampir semua naskah saya yang dikirim ke media ini selalu dimuat. Mungkin karena persaingan di tempat mereka belum terlalu ketat, atau mereka menerapkan standar yang tidak terlalu tinggi. Entahlah!

* * *

Sebagaimana penulis pemula pada umumnya, saya sangat antusias dalam mengikuti berbagai lomba penulisan. Sebab bila menjadi pemenang, ini merupakan batu loncatan yang sangat besar.

Hingga tahun 1992, saya belum berhasil memenangkan satu lomba pun. Bahkan masuk nominasi pun tidak. Berita baiknya, prestasi pertama berhasil saya ukir pada tahun 1993. Cerpen saya yang berjudul Telepon tidak menjadi pemenang pada Lomba Cipta Cerpen Remaja (LCCR) yang diselenggarakan oleh majalah Anita Cemerlang. Namun naskah ini berhasil tampil sebagai salah satu karya yang layak muat. Maka, ini adalah cerpen pertama saya yang dimuat di majalah yang sudah saya incar selama bertahun-tahun! Alhamdulillah, saya sangat bahagia!

Di awal tahun 1994, secara mengejutkan saya mendapat sebuah kiriman surat dari Anita Cemerlang. Isinya sangat manis dan membahagiakan; pemberitahun bahwa mereka kembali mengadakan lomba cerpen, dan saya dihimbau untuk ikut serta. Terus terang, di balik kebahagiaan saya ketika itu muncul sebuah pertanyaan yang didorong oleh rasa heran, “Kenapa Anita Cemerlang begitu menaruh perhatian pada saya? Kenapa mereka menyurati saya seperti itu? Bukankah saat itu saya masih sangat pemula, nama saya belum dikenal?”

Hingga naskah ini ditulis, saya belum tahu jawabannya. Tapi dugaan saya, mungkin itu adalah salah satu hasil dari seringnya saya mengirim naskah ke Anita Cemerlang. Mungkin mereka melihat kegigihan saya dalam berjuang. Mungkin mereka salut pada semangat saya yang tak pernah padam walau puluhan naskah saya sudah mereka tolak. Wallahualam.

Saya pun mengirim sebuah cerpen ke LCCR 1994 tersebut. Dan salah satu kejutan terbesar dalam hidup saya tergelar ketika saya jalan-jalan di Bandung Indah Plasa, di suatu pagi yang cerah. Di dekat lobby, saya melihat ada kios majalah, maka segera saya membeli Anita Cemerlang terbaru. Tangan saya dengan gemetar membolak-balik majalah itu, mencari halaman yang berisi pengumuman pemenang LCCR.

Senyum kecut dan nafas kekecewaan hadir, karena judul cerpen saya – Takut Kehilangan Kamu – tidak tercantum di sana.

“Hm, lagi-lagi gagal,” sebuah bisikan yang amat berat bergema dari hati saya. Namun untuk menghibur diri, saya baca lagi pengumuman itu, sekadar ingin tahu penulis mana saja yang beruntung.

Saat itulah mata saya terbelalak, seolah tak percaya ketika membaca nama pemenang pertama: Jonriah Ukur.

Masya Allah! Itu kan nama asli saya!

Judul cerpen yang tercantum di sana adalah Bicara Pada Cermin. Dan cerpen Takut Kehilangan Kamu memang bercerita tentang seorang cowok yang suka berbicara pada cermin. Saya berpikir bahwa panitia lomba telah mengubah judul naskah saya.

Alhamdulillah, saya langsung bersorak kegirangan dan mentraktir diri sendiri di McDonald. Saat itu saya memang sedang jalan-jalan sendirian. Sesampai di rumah, saya segera shalat dua rakaat, entah shalat apa namanya, sebab saat itu masih sekitar jam sebelas pagi. Saya tak peduli, karena perasaan gembira dan bersyukur telah mengalahkan segalanya. Duh, itu adalah kejadian yang paling mengharukan dalam perjalanan karir saya sebagai penulis!

Hadiah dari LCCR 1994 adalah uang tunai sejumlah Rp 750.000. Sebuah jumlah yang – ketika itu – sangat besar bagi saya, sebab saya belum pernah memegang uang sebesar itu. Saya ingin membeli komputer, tapi saat itu komputer yang cukup bagus harganya sekitar satu setengah juta rupiah. Maka daripada membeli komputer murah tapi kualitasnya payah, saya mencoba alternatif lain.

Ketika berjalan-jalan di sebuah plasa di Semarang, saya melihat mesin tik elektronik merk Brother yang punya layar LCD hitam putih sepanjang tujuh baris. Di badan mesin tik terdapat disk drive yang memungkinkan kita menyimpan naskah-naskah yang diketik dalam bentuk file. Format file Brother memang tidak sama dengan file komputer. Tapi berita baiknya, ia bisa ditransfer menjadi file text, Ms Word atau Excel. Harganya ketika itu Rp 800.000. Uang saya kurang, tapi saya sangat tertarik untuk membeli mesin tik elektronik yang sangat canggih tersebut. Untungnya, orang tua saya bersedia mengirim dana tambahan. Mesin tik itu pun akhirnya berhasil saya miliki.

Dengan mesin tik canggih itulah saya berhasil merampungkan dua novel, sebuah naskah skenario sinetron 16 episode (sampai sekarang belum disinetronkan juga), sebuah skripsi, sejumlah cerpen, banyak tugas kuliah, dan tulisan-tulisan lainnya.

Tahun 1998, setamat kuliah, dukungan dana dari orang tua – alhamdulillah – berhasil membuat saya membeli satu unit personal computer. Tidak terlalu canggih, tapi lumayanlah sebab perangkat kerja saya dalam menulis semakin canggih. Saya berharap, semoga ini bisa meningkatkan produktivitas menulis. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Justru setelah itu, saya “mati suri” dalam menulis selama bertahun-tahun!

“Lho, kok bisa?”

Tunggu jawabannya pada episode berikutnya 🙂

Bersambung >>

Iklan

4 responses to “[Diari Jonru #04] Setelah Jadi Juara Lomba Menulis, Justru Berhenti Menulis

  1. Dr awal mengikuti diary Jonru. Jujur, sy trharu bgt pas bc bagian yg ini.

    Suka

  2. Wah, hebat! Juara pertama itu adalah prestasi yang luar biasa.

    Suka

  3. Bang jonru,meskipun kita beda pandangan dalam hal politik,tapi saya respect dengan alur hidup anda di dunia tulis menulis, yah sekedar saran aja ya,mending abang concern aja di bidang ini

    Suka

  4. Ping-balik: Inilah Diari Jonru Selengkapnya! | Jonru Ginting

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s