[Diari Jonru #05] “Mati Suri” Selama DELAPAN Tahun, Bagian II


Walau berhenti menulis selama delapan tahun, namun sejak tahun 2000, saya aktif berdiskusi, bahkan menjadi admin di sebuah forum diskusi bernama Ekilat. Kini Ekilat sudah tiada. Ini adalah salah satu foto kenangan bersama teman-teman Ekilat.

Walau berhenti menulis selama delapan tahun, namun sejak tahun 2000, saya aktif berdiskusi, bahkan menjadi admin di sebuah forum diskusi bernama Ekilat. Kini Ekilat sudah tiada. Ini adalah salah satu foto kenangan bersama teman-teman Ekilat.

Ketika puluhan naskah masih ditolak di sana-sini, saya sangat semangat dan produktif menulis. Ketika belum punya mesin tik (saat itu komputer belum ada), saya pun tetap semangat dan produktif menulis.

Anehnya, ketika saya sudah jadi juara lomba menulis, ketika naskah saya dengan gampangnya dimuat di berbagai media, ketika saya sudah punya komputer untuk menulis naskah, justru saya berhenti menulis selama DELAPAN TAHUN.

“Lho, kok bisa?”

Agar masalahnya lebih jelas, saya akan ceritakan beberapa kejadian pada hidup saya setelah tahun 1994 dalam bentuk poin-poin di bawah ini.

TIGA:

Sebagai seorang penulis, saya tentu ingin sekali menerbitkan buku. Sejak lulus SMA tahun 1990, saya rajin mendatangi toko buku, dan langsung “panas” setiap kali melihat novel-novel remaja yang terpajang rapi di rak-raknya. Saat itu, kelompok Penulis Remaja Gramedia – seperti Hilman, Gola Gong, Arini Suryokusumo, Adra P Daniel, Gust TF Sakai, dan beberapa nama lain – memang sedang ngetop-ngetopnya. Saya ingin seperti mereka, ingin juga buku saya dipajang di toko buku.

Di awal masa kuliah, saya menulis sebuah novel yang berjudul Sketsa Yogi (sempat diubah juga menjadi Nasib Anak Bandel). Boleh dibilang, ini adalah novel – bahkan buku – pertama yang saya tulis. Namun tragisnya, hingga naskah ini ditulis, novel tersebut belum terbit juga. Dulu saya pernah menawar­kannya ke majalah HAI untuk dimuat sebagai cerita bersambung. Namun hingga setahun lebih menunggu, belum ada kabar juga. Saya juga pernah menawarkannya ke penerbit Gramedia, tapi tetap ditolak. Saat itu jumlah penerbit masih sangat sedikit, dan Gramedia merupakan satu-satunya harapan untuk naskah novel remaja.

Setiap kali ditolak, naskah Sketsa Yogi saya revisi agar menjadi lebih bagus. Hingga tahun 2007, setidaknya sudah ada enam versi novel tersebut. Versi pertama, jumlah halamannya kurang dari 100, diketik dengan mesin tik manual. Versi kedua sekitar 120 halaman, diketik dengan Word Star di era komputer DOS. Versi ketiga diketik dengan mesin tik elektronik Brother, yang saya beli dari hadiah LCCR 1994. Versi keempat hingga yang terakhir, saya ketik dengan Microsoft Word di komputer pribadi.

Sambil terus merevisi novel dan buku pertama tersebut, saya juga mulai berkonsentrasi pada sebuah novelet berjudul Seputih Tirai Cinta yang pernah dimuat sebagai cerita bersambung di Anita Cemerlang tahun 1996. Saya merevisinya, sehingga jumlah halaman berkembang dari 60 menjadi 100. Setelah selesai, saya sengaja berangkat ke Jakarta hanya untuk menawarkan naskah ini secara langsung ke penerbit Gramedia. Karena naskah ini sudah pernah dimuat di media cetak, saya cukup yakin bahwa Gramedia akan bersedia menerbitkannya.

Saya sangat berdebar-debar ketika itu. Saya pikir, itu adalah perjalanan yang amat bersejarah bagi karir saya sebagai penulis. Saya berharap, semoga setelah itu nasib saya berubah. Dalam waktu dekat, sebuah buku saya akan terbit, berjejer di antara buku-buku Gola Gong, Adra P Daniel, Hilman, Gust TF Sakai, Arini Suryokusumo, Zara Zettira Zr, dan penulis-penulis top lainnya yang saya kagumi.

Namun sebuah tragedi terjadi. Ketika saya duduk di depan sekretaris redaksi Gramedia, ketika saya menyodorkan naskah itu dan belum sempat disentuh olehnya, secara spontan ia berkata, “Maaf Mas. Novel remaja sekarang sudah tidak tren. Kami tidak bisa menerimanya.”

Duhai Teman, lemaslah saya seketika! Coba bayangkan: Naskah saya ditolak justru ketika ia BELUM DISENTUH SAMA SEKALI. Maksudnya disentuh secara fisik, bukan disentuh dalam arti “diutak-atik”.

Saat itu adalah awal era televisi swasta di Indonesia. Masyarakat kita yang dulunya hanya bisa menikmati siaran TVRI, kini punya banyak alternatif tontonan. Ini tentu berdampak buruk terhadap minat baca masyarakat. Singkat cerita, penjualan buku-buku fiksi menukik tajam seperti burung elang yang memangsa ikan di permukaan laut. Saya masih ingat, satu-satunya penulis fiksi Indonesia yang karyanya masih laku ketika itu hanyalah Mira W. Bahkan kejayaan Penulis Remaja Gramedia pun berakhir. Hilman, Zara Zettira, Gola Gong dan teman-temannya hilang entah ke mana. Belakangan, saya melihat banyak di antara mereka yang beralih profesi sebagai penulis skenario sinetron atau script acara televisi.

Beberapa tahun kemudian, era baru di dunia fiksi Indonesia pun hadir. Forum Lingkar Pena (FLP) berdiri, didukung sepenuhnya oleh majalah Annida. Genre Cerita Remaja Islami pun menyerbu dunia perbukuan Tanah Air. Sebuah serial berjudul Pingkan karya Muthmainnah menjadi buku fiksi pertama di Indonesia yang berani memajang gambar perempuan berjilbab di covernya. Buku ini bisa disebut sebagai pelopor tren “cerita fiksi remaja islami” di Indonesia di era 1990-an16.

Sebagi seorang Muslim, saya tentu sangat bahagia oleh fenomena ini. Tapi ketika itu, saya belum mengenal FLP. Karena itulah saya heran dan bertanya-tanya, “Dari mana asal-usulnya, kok tiba-tiba banyak sekali nama penulis remaja yang bermunculan?” Ada Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, Sakti Wibowo, Muthmainnah, Izzatul Zannah, dan entah siapa lagi. Nama-nama mereka – yang jumlahnya sangat banyak – tiba-tiba saja “menenggelamkan” nama-nama Pengarang Remaja Gramedia yang dulu sangat saya kagumi17. Saya tidak tahu dari mana mereka datang, tapi faktanya mereka sudah eksis, karya-karya mereka berjejer rapi di hampir semua toko buku.

Terus terang saya sangat iri ketika itu. Saya masih menjadi penulis gagal, tapi tiba-tiba muncul puluhan nama baru di dunia yang sangat saya cintai tersebut. Saya berpikir bahwa seharusnya sayalah yang tampil, bukan mereka!
Seorang teman pernah memberi saran, “Coba deh kamu menulis novel Islami. Sekarang kan lagi tren.” Saya langsung menggelengkan kepala karena dua alasan. Pertama, saya merasa belum layak menulis novel Islami, karena saya sendiri belum Islami. Kedua, saya khawatir bila “trauma masa lalu” terulang lagi. Coba bayangkan seandainya saya sudah penuh semangat menulis novel Islami. Lalu setelah selesai dan ditawarkan ke penerbit, kejadian masa lalu itu terulang, “Maaf, cerita remaja Islami sudah tidak tren. Kami tidak bisa menerima naskah Anda!” Terus terang, saya belum siap menghadapi kemungkinan seperti itu.

Bersambung >>

Iklan

7 responses to “[Diari Jonru #05] “Mati Suri” Selama DELAPAN Tahun, Bagian II

  1. Hehehe… sangat menyentuh ceritanya. Sepertinya kisah sampeyan kalau jadi novel juga menarik. Hehehe.

    Suka

  2. Keren bang, lanjutin lagi bagian 3 nya. Penasaran 😀 (y)

    Suka

  3. lanjut bang, saya tunggu bagian 3nya. seru 🙂

    Suka

  4. Halal mengkritik haram di kritik.

    Saya ragu dengan kebenaran cerita ini….
    Bisa di buktikan dg bukti2 foto gak???? Atau scan piagamnya ada pa gak ya???

    #cerita ini adalah sebuah pencitraan semata,

    komen sy ini di tampilkan ya…. Anda kalo mau jadi orang sukses anda harus terbuka,

    Suka

  5. Ping-balik: Inilah Diari Jonru Selengkapnya! | Jonru Ginting

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s