[Diari Jonru #05] “Mati Suri” Selama DELAPAN Tahun, Bagian III


jonru_pidato_wisuda

Saya lulus kuliah pada Mei 1998, bertepatan dengan jatuhnya Soeharto dan mulainya era reformasi. Mencari pekerjaan sangat sulit ketika itu, sehingga saya sempat nganggur selama dua tahun. Foto ini adalah momen saat acara wisuda tingkat fakultas, di mana saya tampil berpidato mewakili wisudawan.

Ketika puluhan naskah masih ditolak di sana-sini, saya sangat semangat dan produktif menulis. Ketika belum punya mesin tik (saat itu komputer belum ada), saya pun tetap semangat dan produktif menulis.

Anehnya, ketika saya sudah jadi juara lomba menulis, ketika naskah saya dengan gampangnya dimuat di berbagai media, ketika saya sudah punya komputer untuk menulis naskah, justru saya berhenti menulis selama DELAPAN TAHUN.

“Lho, kok bisa?”

Agar masalahnya lebih jelas, saya akan ceritakan beberapa kejadian pada hidup saya setelah tahun 1994 dalam bentuk poin-poin di bawah ini.

EMPAT:

Seperti yang saya tulis di atas, hadirnya era televisi swasta di Indonesia sejak tahun 1995 menyebabkan banyak anggota Penulis Remaja Gramedia yang beralih profesi menjadi penulis skenario atau script acara televisi. Saya mendapat info, honor untuk jenis tulisan seperti ini jauh lebih besar. Benar-benar menggiurkan dari segi materi!

Saya pun membeli buku Menulis Skenario Itu Gampang! karya Gola Gong dan mulai serius belajar menulis skenario. Saya rajin menonton sinetron hanya dengan niat agar saya bisa membayangkan, “Kalau adegannya seperti ini, naskah skenarionya seperti apa, ya?”

Namun singkat cerita, saya gagal total di dunia penulisan skenario. Ternyata, yang paling penting pada dunia yang satu ini bukan soal kepintaran kita dalam menulis. Yang paling penting justru bagaimana caranya agar kita selalu dapat order menulis. Dengan kata lain, kemampuan kita dalam membangun jaringan dengan para pemilik production house, sutradara dan sebagainya, merupakan modal yang terpenting. Padahal, justru di bidang inilah letak kelemahan utama saya.

Maka tiba-tiba, saya merasa gagal dalam segala hal yang berhubungan dengan dunia penulisan. Menulis cerpen sudah malas karena trauma. Menulis novel juga malas karena saya trauma oleh kalimat, “Maaf sudah tidak tren.” Menulis skenario pun gagal. Hm, apa lagi yang bisa saya harapkan?

LIMA:

Hadirnya komputer pertama dalam hidup saya di tahun 1998 lalu, bukannya membuat saya makin produktif menulis. Saya justru lebih senang mengutak-atik komputer, belajar desain web, bahkan main game. Di komputer itu banyak naskah yang belum jadi, tapi belum selesai saya garap, bahkan hingga belasan tahun kemudian!

KESIMPULAN:

Ya, itulah alasan-alasan utama kenapa saya “mati suri” di dunia penulisan sejak tahun 1996 hingga 2004. Poin nomor dua adalah kejadian yang paling menyakitkan, membuat saya emosi luar biasa, kecewa luar biasa, trauma luar biasa, dan – selama beberapa tahun – kehilangan semangat untuk menulis cerpen. Poin nomor tiga membuat saya kapok menulis naskah hanya karena tren.
Bahkan hingga hari ini, saya termasuk penulis yang sangat anti menulis apapun hanya karena tren! Saya menulis karena saya suka dan saya tahu bahwa pembaca membutuhkannya. Inilah prinsip utama saya dalam menulis, hingga hari ini.

* * *

Setelah lulus kuliah, saya sudah bertekad untuk say goodbye pada Akuntansi, dan fokus dalam mengejar cita-cita sebagai penulis sukses. Saya ingin menjadi wartawan atau penulis terkenal seperti Goenawan Muhammad. Saya bahkan punya mimpi, ingin memiliki sebuah media besar seperti Tempo atau Gatra, dan saya menjadi pemimpin redaksinya.

Tapi Tuhan ternyata punya rencana tersendiri. Bertepatan dengan kelulusan saya di bulan Mei 1998, tragedi krisis moneter terjadi di Indonesia. Fakta ini membuat saya pesimis. Bagaimana tidak! Lowongan pekerjaan sangat sulit didapat. Bahkan banyak perusahaan yang terpaksa melakukan PHK besar-besaran. Saya merasa lulus kuliah pada saat yang tidak tepat.

Hingga tahun 1999, saya masih menjadi pengangguran di Semarang. Karena kesulitan ekonomi, saya memutuskan untuk pindah ke Bandung, tinggal lagi bersama kakak seperti sebelum kuliah dulu. Di kota kembang ini, saya melanjutkan ikhtiar mencari pekerjaan apa saja, asalkan halal dan masih di dunia penulisan.

Bersambung >>

Iklan

4 responses to “[Diari Jonru #05] “Mati Suri” Selama DELAPAN Tahun, Bagian III

  1. Om Jon bnr2 merintis dan tlh jatuh bangun, tp tak pnh brhenti.

    Salut atas keyakinanx untuk tdk melakukan sesuatu hny krn sdg tren. Krn hny sdkt org yg bnr2 berada d jalur dan carax sndiri. Slbhx trenlah yg plg byk membentuk org atau keadaan.

    Teruskan om Jon!!

    Suka

  2. Betul… gemerasi kita pasti mengalami krisis moneter. Untungnya saya sempat lulus duluan sebelum krisis, meski kemudian kena dampak dari krsis moneter.

    Suka

  3. Lanjutkan bang serialnya… keren salut and termotivasi

    Suka

  4. Ping-balik: Inilah Diari Jonru Selengkapnya! | Jonru Ginting

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s