[Diari Jonru #11] Asma Nadia & Ali Muakhir Membantu Menerbitkan Buku Pertama Saya


asma_nadia_alimuakhir

Ali Muakhir – saat itu menjadi editor di Mizan – dan Asma Nadia – merupakan dua penulis beken yang tahun 2004 lalu berperan paling besar dalam membantu saya menerbitkan buku untuk pertama kalinya.

Sejak tahun 1990, saya sudah punya keinginan kuat untuk menerbitkan buku. Tapi hingga tahun 2004, keinginan tersebut belum terwujud juga. Di bagian-bagian sebelumnya, tentu Anda sudah membaca penyebab-penyebabnya, bukan?

Saya bersyukur, karena di awal tahun 2005, buku pertama saya pun akhirnya terbit! Alhamdulillah.

Walau baru tercapai setelah 15 tahun, tak apalah. Tidak ada kata terlambat. Yang penting tetap semangat.

Proses menuju penerbitan buku tersebut pun termasuk panjang dan berliku-liku. Di bagian-bagian sebelumnya, Anda sudah membaca bahwa saya sempat “mati suri” dari dunia penulisan selama delapan tahun.

Sejak sekitar tahun 2003, saya mulai “tergoda” untuk serius lagi meniti karir sebagai penulis. Ada beberapa penyebabnya, antara lain:

  1. Seorang junior saya di EDENTS bernama Luthfi Hamidi merupakan salah satu motivator utama saya. Sebab dia tiba-tiba sudah menerbitkan buku, sementara saya belum berhasil juga. Saya berpikir, “Junior saya saja sudah bisa, kenapa saya belum?”
  2. Saya mulai gamang ketika makin banyak orang yang mengira saya ahli IT, padahal saya hanya orang biasa. Kegamangan tersebut mendorong saya untuk meninggalkan komunitas IT, dan kembali serius menekuni dunia penulisan.
  3. Tahun 1999, ketika masih jadi pengangguran di Bandung, saya sempat mengikuti workshop “Kiat Menerbitkan Buku” bersama Pak Bambang Trim. Saya pun berkenalan dengan beliau, dan mendapat banyak ilmu seputar penerbitan buku. Sebelumnya, ketika masih kuliah, saya juga pernah mengikuti workshop serupa di kampus. Pengetahuan dan wawasan baru ini menjadi salah satu motivasi utama saya untuk segera menerbitkan buku.
  4. Saya iri pada sejumlah penulis baru dari Forum Lingkar Pena (FLP) yang saat itu makin eksis di dunia perbukuan. Ada Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, Sakti Wibowo, Izzatul Jannah, Novia Syahidah, dan masih banyak lagi. Ketika dulu saya merintis karir sebagai penulis, nama mereka sama sekali belum muncul. Tapi tiba-tiba, mereka semua hadir MENDAHULUI SAYA, membuat iri luar biasa. Sebab saya merasa lebih dahulu ambil start ketimbang mereka. Saya merasa kalah, dan tidak ingin jika “kekalahan” tersebut terus berlanjut.
  5. Konon pernikahan bisa membuka banyak pintu rezeki, dan itulah yang terjadi. Saya menikah pada tanggal 3 Agustus 2003. Sejak saat itu, entah kenapa tiba-tiba saya sangat termotivasi sangat tinggi untuk segera menerbitkan buku.

Maka, seperti yang saya ceritakan pada bagian sebelumnya, saya pun mencoba kembali aktif di milis-milis penulisan, yang sebelumnya sempat saya tinggalkan. Dua milis yang paling ramai ketika itu adalah Forum Lingkar Pena (FLP), dan Bengkel Cerpen Nida (BCN) yang dikelola oleh majalah Annida. Saya aktif di kedua milis tersebut.

Masih segar dalam ingatan, saat itu saya menulis di milis FLP yang isinya kira-kira sebagai berikut:

“Perkenalkan, saya Jonru. Dulu tulisan saya sering dimuat di majalah Anita Cemerlang, pakai nama pena Jon Riyadi. Belakangan saya berhenti menulis selama delapan tahun, tapi sekarang ingin aktif lagi. Sejak tahun 1990 saya ingin menerbitkan buku. Sekarang sudah tahun 2004, tapi saya belum berhasil juga mewujudkan keinginan tersebut. Sekaranglah saatnya, saya ingin benar-benar serius berusaha, agar secepatnya bisa menerbitkan buku. Mohon doa dan dukungan teman-teman sekalian.”

buku_jonru_01

Inilah dua buku saya yang pertama kali terbit. Novel Cinta Tak Terlerai, terbit Maret 2005, penerbit DAR Mizan. Lalu Mei 2005 terbit kumpulan cerpen Cowok di Seberang Jendela, penerbit Lingkar Pena Publishing House.

Di luar dugaan, sambutan teman-teman di milis FLP terhadap email ini sangat luar biasa. Ali Muakhir – saat itu dia masih menjadi editor di penerbit Mizan – berkata bahwa dulu dia rajin membaca cerpen-cerpen saya di Anita Cemerlang. Saya juga berkenalan dengan seorang penulis bernama Arul Khan. Ternyata dia pun termasuk penggemar cerpen-cerpen saya di Anita Cemerlang. Saya jadi sadar, ternyata sudah banyak orang yang mengenal saya, padahal saya hilang selama delapan tahun! Kesadaran ini membuat semangat saya untuk bangkit lagi di dunia penulisan pun semakin tinggi.

Yang paling menyenangkan, lewat milis FLP saya akhirnya berkesempatan mengenal penulis-penulis ngetop yang selama ini hanya saya kenal lewat nama-nama mereka yang terpajang di toko buku. Ada Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, Boim Lebon, Fahri Asiza, Pipiet Senja, Gola Gong, dan masih banyak lagi. Bergaul dengan mereka akhirnya membuat saya menemukan jawaban atas sebuah “teka-teki lama”. Dulu saya bertanya, “Dari mana datangnya penulis-penulis baru ini, yang hadir, menyerbu dan ‘menumbangkan’ para Penulis Remaja Gramedia?” Ternyata jawabannya, “Dari FLP.”

Semula, saya minder ketika bergaul di milis FLP. Banyak penulis top yang aktif di sana. Namun suatu hari, Asma Nadia menyapa saya dengan ucapan, “Mas Jonru, boleh dong novelnya dikirim ke LPPH, kalau belum ada yang nge-tek.”

Membaca sapaan itu, seketika saya terpana, lalu terharu. Saya benar-benar tidak menduga, seorang penulis ternama seperti Asma Nadia menyapa seorang penulis yang baru bangun dari “mati suri”. Dia bahkan meminta saya untuk mengirim naskah ke penerbitnya, padahal saya bukan siapa-siapa. Saya merasa amat dihargai. Terus terang, itu adalah salah satu awal kebangkitan rasa percaya diri saya sebagai penulis, setelah terpuruk selama delapan tahun!

Setelah beberapa bulan aktif di milis FLP, saya pun bergabung secara resmi sebagai anggota FLP DKI Jakarta. Secara perlahan, semangat untuk menjadi penulis produktif tumbuh lagi.

Sebuah novel saya yang ditulis sejak 1995 tapi belum kelar juga, akhirnya saya garap lagi. Saya lanjutkan penulisannya yang terbengkalai selama bertahun-tahun. Saat itu saya sudah menikah dan masih menjadi karyawan. Saya menyempatkan diri menulis sekitar 30 menit sebelum berangkat ke kantor, dan sepulang kerja bila belum capek. Saya cicil halaman demi halaman, walau ketika itu kesibukan pekerjaan sebagai karyawan menjadi penghalang utama.

Alhamdulillah, naskah ini akhirnya rampung pada bulan Oktober 2004, diberi judul Cinta Tak Terlerai, dan saya tawarkan ke penerbit DAR! Mizan. Lantas atas masukan dari Asma Nadia, cerpen-cerpen masa lalu saya dikumpulkan dan dibuat menjadi sebuah buku kumpulan cerpen, diberi judul Cowok di Seberang Jendela.

Maret 2005, novel Cinta Tak Terlerai terbit. Itulah buku pertama saya yang berhasil diterbitkan! Alhamdulillah, saya sangat bersyukur, karena impian lama untuk menerbitkan buku akhirnya terwujud. Tiga bulan kemudian, kumpulan cerpen Cowok di Seberang Jendala juga terbit, membuat kebahagiaan saya makin berlipat-lipat!

Saya merasa bersyukur, karena akhirnya berhasil menerbitkan buku, walau harus “menunggu” selama 15 tahun, dan di sela-sela itu sempat “mati suri” selama delapan tahun.

Terima kasih khusus untuk Asma Nadia dan Ali Muakhir. Kedua penulis beken inilah yang menjadi orang paling berperan dalam menerbitkan buku pertama saya.

Bersambung >>

Iklan

4 responses to “[Diari Jonru #11] Asma Nadia & Ali Muakhir Membantu Menerbitkan Buku Pertama Saya

  1. Kalau ada kemauan pasti ada jalan. Meski jalannya harus naik turun, berkelok-kelok, berlubang, bahkan putus. Selamat masih punya semangat untuk selalu bercita-cita memiliki buku sendiri.

    Suka

  2. Subhanalloh…..meski perlu muter2 kemana2 klo emang udah jalannya, tetep aja bisa sampai. Dan atas pertolongan Allah, ada aja jalannya.
    #Mengikuti Diari JonRu, sekarang tiap hari ngecek website ini menunggu up date terbaru layaknya menunggu up date’an episode terbaru sebuah film atau drama. Namun yang ini lebih berkelas, nyata, dan insyaAllah sya menemukan banyak hikmahnya. ^_^
    Terima kasih Bang JonRu sudah mau berbagi perjalanan lika liku kisah hidup njenengan tuk tetap mengikuti passion
    Bagi saya diari ini, menjadi salah satu referensi saya untuk melanjutkan perjalanan hidup sya yang kurang lebih belum lama ini baru keluar dari “kandang dunia pendidikan formal”
    Lanjutkan terus Bang JonRu 🙂

    Suka

  3. Ping-balik: Inilah Diari Jonru Selengkapnya! | Jonru Ginting

  4. Ping-balik: Benarkah Asma Nadia Syiah? | Jonru Ginting

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s