[Diari Jonru #13] Makin Bosan Jadi Karyawan, dan Terancam PHK Tanpa Pesangon


jonru_bosan_jadi_karyawan

Seperti inilah tampang saya ketika masih jadi karyawan. Kusut dan tak terawat, karena bosan dan sering stress.

Sejak awal, saya tak pernah bermimpi jadi karyawan yang harus ngantor secara rutin dari jam 8 pagi hingga 5 sore. Ketika kuliah, cita-cita saya adalah menjadi wartawan, tapi ternyata tak kesampaian.

Saya lulus kuliah pada tahun 1998, ketika negeri kita justru sedang dilanda krisis moneter. Mencari pekerjaan sangat sulit. Justru banyak perusahaan yang melakukan PHK besar-besaran. Sementara saya sendiri belum punya modal untuk berwirausaha. Maka, kondisi yang serba sulit “memaksa” saya untuk mencari pekerjaan sebagai karyawan.

Tentang bagaimana pekerjaaan saya, juga bagaimana kebosanan yang dialami, telah saya ceritakan pada bagian sebelumnya. Namun agar lebih jelas, berikut saya rinci sejumlah faktor yang membuat saya mulai dan makin bosan jadi karyawan.

  1. Pekerjaan yang saya lakoni bersifat rutinitas, sebuah jenis pekerjaan yang paling tidak saya sukai.
  2. Sebagian besar tugas saya sangat sepele, yakni melakukan copy paste artikel atau berita dari media lain (yang telah bekerja sama dengan Portal CBN) ke website milik kantor kami. Sungguh tragis, karena saya yang lulusan S1 dan mantan wartawan kampus, akhirnya bekerja sebagai seorang “copy paster” selama tujuh tahun!
  3. Tak ada jenjang karir, alias karir saya sudah mentok. Sebab divisi saya ketika itu adalah “divisi bonus” belaka, alias divisi yang paling tidak penting. Singkat cerita, hanya KEAJAIBAN yang bisa membuat saya bisa naik jabatan atau pindah ke divisi lain dengan job description yang lebih menarik dan menantang.
  4. Masih berhubungan dengan nomor 3: secara struktural saya adalah staf level terendah alias tidak punya bawahan seorang pun. Dan pekerjaan yang saya lakoni lebih bersifat “pekerjaan kuli”, bukan pekerjaan jenis manajerial. Ini menyebabkan saya tidak bisa menjadi SOMEBODY di lingkungan kantor. Saya memang punya wewenang tertentu, tapi itu hanya sebatas hal-hal yang bersifat teknis.
  5. Kondisi pada nomor 4 di atas terkadang menjadi dilema tersendiri bagi saya. Di satu sisi saya merasa wajib bersyukur atas apa yang telah saya dapatkan selama ini, khususnya yang menyangkut penghasilan dan pekerjaan di kantor. Tapi di sisi lain, saya juga iri melihat teman-teman kuliah saya yang rata-rata sudah menjadi SOMEBODY di lingkungan kerja mereka. Kapan saya bisa seperti itu?
  6. Fakta nomor 4 dan 5 di atas sangat kontradiktif dengan yang saya alami di luar kantor. Saya pernah diundang menjadi pembicara pelatihan penulisan di Bank Indonesia, disejajarkan dengan penulis ternama Hernowo. Saya juga pernah wira-wiri ke Surabaya dan Yogya untuk menjadi pembicara pelatihan pengelolaan website. Jangan dikira kehadiran saya adalah mewakili kantor, tapi benar-benar mewakili diri saya sendiri. Intinya, di luar kantor saya telah menjadi SOMEBODY, sementara di dalam kantor saya masih NOBODY.

Dengan kata lain, saya merasa bahwa dunia di luar kantor jauh lebih menyenangkan dan dinamis.

Seorang teman saya pernah berkata, “Kamu memang lebih cocok jadi pengusaha atau pekerja freelance, bukan pekerja kantoran.”

Ya, saya ketika itu sangat setuju. Dan inilah sebenarnya inti dari kebosanan saya tersebut. Inilah inti dari keinginan saya untuk membebaskan diri dari sebuah “belenggu” bernama “status sebagai pekerja kantoran”.

Keinginan tersebut sebenarnya hadir sejak lama. Tapi saya tidak berani “berbuat nekad” karena belum punya cadangan sumber penghasilan lain. Apalagi ketika itu saya sudah menikah dan punya satu anak.

Maka selama waktu yang cukup panjang, saya harus berjuang memerangi rasa bosan dan segala masalah yang ditimbulkannya. Saya mencoba mencari alternatif sumber penghasilan lain, tapi ternyata tidak mudah. Sementara itu, kebosanan yang saya alami telah menimbulkan hal-hal yang tidak menyenangkan di kantor. Intinya, kinerja saya sangat buruk!

Tahun 2006 saya bahkan mendapat Surat Peringatan I (SP I) dari kantor. Namun itu sama sekali tidak berpengaruh terhadap saya. Rasa bosan makin menjadi, dan kinerja saya semakin buruk.

Enam bulan kemudian, SP ke-2 pun saya terima. Namun itu pun tidak berpengaruh apapun.

Akhirnya, saya dipanggil oleh manajer dan supervisor saya, disidang seperti seorang terdakwa. Ketika itu, mereka memberikan ultimatum yang sangat keras, “Jika kamu tidak berubah juga, mohon maaf karena bulan September 2007 kamu akan mendapat SP 3, alias kamu di-PHK tanpa pesangon apapun.”

Ketika itu saya langsung berpikir, “Rasanya saya tak mungkin lagi memperbaiki kinerja, karena kebosanan sudah mencapai puncak tertinggi. Hampir dapat dipastikan, bulan September nanti saya akan di-PHK, tanpa pesangon pula. Daripada di-PHK secara tidak terhormat, lebih baik saya mengundurkan diri saja.”

Namun upaya untuk resign dari kantor pun tidak mudah. Salah satu kendalanya adalah karena istri saya keberatan.

Bersambung >>

Iklan

8 responses to “[Diari Jonru #13] Makin Bosan Jadi Karyawan, dan Terancam PHK Tanpa Pesangon

  1. Saya mengalami kegalauan yang sama, akhirnya melangkah keluar dari Kantor dengan bekal says ingin melanjutkan kuliah sambil ya memikirkan bagaimana ke depannya. Yang says tahu, says punya satu passion yang ingin saya lakukan Dan kembangkan. YNWA

    Suka

  2. Bnr2 kebosanan yg mengerikan.

    Suka

  3. Sama seperti yg sedang sy alami skr, rsany ingin keluar tp msiih bgung nnti pnghasilnny gmn, anak msh kcil, klo d kntor serasa dh gdianggap, gbetah
    Butuh saran

    Suka

  4. Ping-balik: Inilah Diari Jonru Selengkapnya! | Jonru Ginting

  5. Saya juga pernah mengalami hal seperti ini, bosan yang amat sangat, kinerja amburadul, yang jelas saya juga bukan nobody, bos saya malah pernah bilang saya kalau saya sontoloyo, malah dikira jobless karna gak kelihatan kerja, akhirnya saya resign bulan juli tahun lalu, dari perusahaan PMA alat berat dari jepang, akhirnya panggilan Joni ( jongos nipon ) resmi saya tanggalkan kegiatan sekarang ngulek sambel dan goreng bebek. Alhamdulillah, sekarang saya menghadapi beberapa anak buah yang agak mirip dengan sifat saya dulu ketika jadi karyawan hehehe dibales

    Suka

  6. Saya juga pernah mengalami hal seperti ini, bosan yang amat sangat, kinerja amburadul, yang jelas saya juga bukan nobody, bos saya malah pernah bilang saya kalau saya sontoloyo, malah dikira jobless karna gak kelihatan kerja, akhirnya saya resign bulan juli tahun lalu, dari perusahaan PMA alat berat dari jepang, akhirnya panggilan Joni ( jongos nipon ) resmi saya tanggalkan kegiatan sekarang ngulek sambel dan goreng bebek. Alhamdulillah, sekarang saya menghadapi beberapa anak buah yang agak mirip dengan sifat saya dulu ketika jadi karyawan hehehe dibales

    Suka

  7. salut pada Jonru Ginting…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s