[Diari Jonru #14] Mulai Berwirausaha Tanpa Modal, dan Sempat Kehabisan Uang


jonru_resign

Inilah momen ulang tahun ke-2 Fia, anak pertama kami, tanggal 13 Maret 2007. Empat hari kemudian, saya berhenti bekerja, memulai hidup sebagai entrepreneur, tanpa modal apapun. Benar-benar modal nekad.

Sejak lama saya ingin resign dari kantor, meninggalkan status sebagai pekerja kantoran yang sangat membosankan. Saya sudah berulangkali membicarakannya dengan istri, namun dia selalu berkata, “Nanti aja, deh. Tunggu. Kita belum siap.”

Sepertinya istri tercinta merasa berat jika saya harus meninggalkan gaji besar, fasilitas serba wah, serta berbagai kemewahan dan kenyamanan hidup yang didapatkan dari kantor tempat saya bekerja. Apalagi, kami memang tak punya tabungan apapun. Belum ada sumber penghasilan lain sebagai pengganti.

Namun awal tahun 2007 merupakan puncak dari penantian panjang tersebut. Seperti yang saya ceritakan pada bagian sebelumnya, saat itu saya sudah mendapat SP 2 dan hampir pasti kena PHK pada bulan September 2007. Jika tak ingin dipecat, hanya ada satu jalan keluar, yakni mengundurkan diri.

Maka, dengan penuh kemantapan, saya pun mengambil keputusan itu. Jika dulu saya sudah sering membicarakannya bersama istri, kali ini saya kembali mengajaknya bicara, namun dengan gaya dan bahasa yang jauh lebih tegas. Saya katakan bahwa ini bukan lagi semacam wacana atau rencana. Ini adalah keputusan yang sudah bulat, dan saya meminta pendapatnya.

Terus terang, saya merasa terenyuh dan bersalah ketika melihat istri saya menangis. Ia mungkin merasa berat jika melihat saya harus melepaskan status sebagai karyawan swasta, meninggalkan semua kenyamanan dan kemapanan yang kami nikmati selama ini.

Tapi saya tidak terlalu tertarik pada semua “kemewahan” itu. Saya punya dua pilihan:

  1. Sebagai pekerja kantoran, saya akan mendapat gaji yang jumlahnya pasti, tidak peduli apakah saya bekerja keras atau tidak melakukan apapun.
  2. Sebagai seorang wirausahawan, saya bebas menentukan apakah hari ini saya bekerja keras atau menghabiskan waktu seharian dengan menonton televisi dan tidur pulas di ranjang yang empuk. Apapun keputusan saya, itu akan berpengaruh besar terhadap besarnya penghasilan yang saya dapatkan.

Dan pilihan saya adalah yang nomor dua. Sebab gaji bulanan adalah sistem yang kurang efektif untuk memotivasi saya rajin bekerja. Mau rajin atau malas, saya tetap akan mendapatkan hasil yang sama di akhir bulan.

Berbeda halnya jika saya menjadi entrepreneur. Penghasilan akan sangat dipengaruhi oleh seberapa rajin saya bekerja. Dan setiap saat saya akan selalu dibayang-bayangi oleh kemungkinan mati kepalaran karena tak punya penghasilan. Situasi seperti ini insya Allah akan membuat saya termotivasi dengan sangat kuat untuk bekerja segiat mungkin.

Maka, tanggal 16 Januari 2007, saya menulis surat pengunduran diri. Dan esoknya, status saya sebagai pekerja kantoran sudah resmi berakhir. Alhamdulillah… rasanya bahagia banget, tak terlukiskan dengan kata-kata.

Apakah ketika itu saya sudah punya penghasilan pengganti? Apakah sudah punya tabungan untuk modal membuka usaha? Jawabannya: BELUM SAMA SEKALI. Saya mulai merintis hidup sebagia entrepreneur dengan modal yang benar-benar NOL.

Memang sih, ketika itu saya sedang ada proyek pelatihan pembuatan website bersama Departemen Agama. Namun kepastiannya baru sekitar 80 persen, dan penghasilan dari sana pun tidak seberapa. Namun demikian, proyek inilah yang menjadi salah satu penyebab utama keberanian saya berhenti bekerja.

Saya ketika itu seperti membakar kapal tempat saya mencari makan, tapi saya sama sekali belum punya kapal pengganti. Benar-benar modal nekad. Mungkin hanya orang “gila” yang berani berbuat seperti itu.

Satu-satunya modal saya di tahun 2007 tersebut adalah KEYAKINAN. Saya yakin rezeki sudah diatur dan dicukupkan oleh Allah. DIA tak mungkin membiarkan hidup saya terlantar.

Maka, setelah berhenti bekerja tersebut, hidup saya sekeluarga benar-benar prihatin. Jika boleh bercerita, berikut adalah sumber penghasilan saya saat itu untuk menghidupi istri dan seorang anak:

  1. Gaji bulan terakhir dari kantor, yang ternyata jumlahnya lebih kecil dari perkiraan saya.
  2. Honor sebagai pembicara “pelatihan pembuatan website” yang diselenggarakan oleh Departemen Agama.
  3. Pencairan dana Jamsostek, yang baru keluar sekitar 6 bulan setelah saya resign.
  4. Penghasilan dari proyek pembuatan website yang saya terima dari beberapa orang klien.

Hasil dari keempat sumber di atas, terus terang, hanya cukup untuk bertahan hidup. Tak lebih dan tak kurang. Saat itu, hidup kami benar-benar prihatin, pengeluaran harus ekstra hemat. Bahkan uang seribu rupiah pun terasa sangat berharga, karena kami belum punya sumber penghasilan yang pasti.

* * *

Di tahun 2007 itu pulalah, saya menerbitkan buku ketiga, berjudul “Menerbitkan Buku Itu Gampang!” (MBIG). Buku ini saya terbitkan dengan cara yang mungkin belum pernah terpikirkan oleh Anda:

Naskahnya saya tulis sendiri, edit sendiri, layout sendiri, covernya pun saya buat sendiri dengan keahlian desain grafis yang apa adanya. Lalu saya cetak satu eksemplar saja sebagai master, pakai printer biasa.

cover_mbig

Inilah cover buku MBIG yang saya buat sendiri dengan keahlian desain grafis yang apa adanya. Bukunya saya jual dalam bentuk yang mirip diktat kuliah. Difotokopi lalu dijilid.

Lalu cover buku itu saya pajang di sebuah website, bukunya saya promosikan dengan bahasa iklan yang sebagus mungkin.

Jika ada yang memesan bukunya, barulah masternya saya bawa ke tukang fotokopi untuk diperbanyak. Lalu hasil fotokopi itu dijilid, bentuknya seperti makalah atau proposal buatan mahasiswa, ukuran A4 yang tentunya sangat panjang. Lalu buku dengan format yang “aneh” itu pun saya kirim ke si pemesan.

Alhamdulillah, walau hanya sederhana dan bentuknya seperti diktat kuliah, buku MBIG laku sekitar 200 eksemplar hanya lewat penjualan online, dalam waktu sekitar dua bulan. Keuntungannya tidak seberapa, namun itulah salah satu sumber penghasilan utama keluarga kami ketika itu. Walau hanya dapat Rp 8.000 sehari misalnya, itu kami syukuri karena masih punya rezeki untuk menyambung hidup hari ini.

Sekitar bulan Juni 2007, kondisi keuangan keluarga saya benar-benar berada di titik terendah. Boleh dibilang, saat itu saya nyaris tak punya uang, terancam mati kelaparan karena sumber penghasilan makin tak jelas.

Saya hampir putus asa, nyaris tergoda untuk meminta bantuan sedekah pada seorang teman, tapi akhirnya tak jadi karena gengsi.

Saat itu saya benar-benar sudah merasa buntu, tak tahu lagi harus mencari yang dengan cara apa.

Bersambung >>

Iklan

9 responses to “[Diari Jonru #14] Mulai Berwirausaha Tanpa Modal, dan Sempat Kehabisan Uang

  1. ditunggu lanjutan ceritanya bang

    Suka

  2. Bnr2 keputusan yg sgt berani dan nekat.

    Suka

  3. aku inget abang pernah cerita ini padaku waktu chat ym…. dulu…

    Suka

  4. Benar-benar nekat… Patut diapresiasikan, bang!
    Ditunggu chapter selanjutnya

    Suka

  5. mantap jonru,gwe jg v gwe mha nganggur, minta solusi dund gmn cra jd penulis yg baik jg cra fanspage fb byk jempol dan rame

    Suka

  6. benar-benar gila,, ditunggu selanjutnya seperti apa,,

    Suka

  7. Inspiratif sekali kisahnya Bung Jonru…..

    Suka

  8. Ping-balik: Inilah Diari Jonru Selengkapnya! | Jonru Ginting

  9. wah mas jonru memang modal nekat, tapi saya acungin jempol buat Anda, karena masih yakin kepada Allah, yang memberi rejeki kpd kita,.perjalanan hidup Anda menjadi inspirasi bagi kami, kebebasan finansial dan waktu adalah impian kita semua.. thanks

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s