[Diari Jonru #15] Nama Lumayan Dikenal, Tapi Taraf Hidup Belum Meningkat


jonru_pelatihan_menulis

Sejak mendirikan SMO, saya sering diundang menjadi pembicara pelatihan penulisan di berbagai kota di Indonesia. Gambar ini adalah salah satu contohnya, ketika saya mengisi pelatihan di Yogyakarta.

Sejak awal saya sangat percaya, bahwa Allah Maha Pemberi Rezeki. Pasti DIA telah mencukupkan rezeki untuk setiap hambaNya, termasuk saya. Dan saya berulang kali membuktikan hal tersebut.

Di masa-masa awal merintis hidup sebagai entrepreneur, saya sering mengalami kesulitan keuangan, alias uang benar-benar habis tak bersisa. Namun saya selalu percaya bahwa Allah Maha Pemberi Rezeki.

Pernah suatu hari, saya kembali berada dalam situasi seperti itu. Seperti biasa, saya mencoba tawakkal saja, berdoa, dan yakin atas pertolonganNya. Dan secara tak terduga, tiba-tiba ada teman yang menelepon, “Jonru, ada yang mau bikin website. Kamu bisa mengerjakan?”

Subhanallah! Hidup ini benar-benar ajaib!

Dan salah satu “keajaiban” yang saya alami ketika itu adalah:
Sejak awal saya fokus mempromosikan jasa penulisan. Namun entah kenapa, order-order yang masuk justru seputar pembuatan website. Ya, saya memang bisa membuat website, walau dengan keahlian yang sangat standar. Jika ada order yang tingkat kesulitannya tinggi, saya minta bantuan teman lain untuk mengerjakannya.

Sebenarnya, banyak order yang saya terima ketika itu. Namun keanehan karakter saya menjadi kendala utama.

Saya orangnya paling tidak bisa mengerjakan proyek milik orang lain. Sebesar apapun bayarannya, saya akan malas mengerjakan jika saya tidak suka. Namun sebaliknya, saya akan dengan senang hati mengerjakan proyek apapun yang milik saya sendiri, walau tak ada bayaran apapun, walau saya justru harus keluar uang banyak untuk mengerjakannya.

Itulah salah satu keanehan sifat atau karakter saya. Itu pulalah sebab utama kenapa saya bosan dan stress luar biasa ketika jadi karyawan. Itu pula sebabnya, banyak proyek pesanan yang akhirnya terlantar, tidak saya kerjakan sama sekali. Padahal bayarannya lumayan besar. Padahal ketika itu saya sedang butuh uang.

Itu pula sebabnya, kenapa sejak Mei 2007 (dua bulan setelah resign dari kantor) saya mengalami kesulitan keuangan yang sangat kritis. Bukan karena tak ada order yang mampir. Tapi karena saya malas mengerjakannya.

Pertemuan dengan seorang sahabat bernama Ikhwan Sopa akhirnya menjadi salah satu titik balik hidup saya ketika itu. Saya mengutarakan niat padanya untuk mendirikan lembaga kursus menulis secara online. Tapi saya merasa belum mampu dan belum layak karena, “Sebagai penulis, saya belum ada apa-apanya dibanding Asma Nadia dan penulis-penulis beken lainnya. Apa ada orang yang mau belajar menulis bersama saya?”

Saat itu Ikhwan Sopa memberi masukan, “Pak Jonru jangan pesimis, dong. Setiap orang punya ciri khas. Memang Pak Jonru belum seterkenal Asma Nadia. Tapi setiap kali orang mencari di Google dengan kata kunci ‘menulis’ dan sebagainya, nama dan website milik Pak Jonru yang tampil di urutan teratas. Ini adalah keunggulan yang hanya dimiliki oleh Pak Jonru.”

Saya tertegun, merenung, dan menyadari bahwa ucapan Pak Ikhwan Sopa sangat benar. Dan perbincangan kami itu membuat saya menjadi percaya diri untuk mendirikan Sekolah-Menulis Online (SMO) pada bulan Juli 2007.

Di luar dugaan, sambutan khalayak terhadap SMO sungguh meriah. Saat saya membuka pendaftaran angkatan pertama, jumlah peminat lebih dari 40 orang. Saya benar-benar tak menduga. Ternyata banyak orang yang percaya untuk belajar menulis bersama saya!

Sekadar info, SMO adalah lembaga pelatihan penulisan pertama di Indonesia yang berlangsung lewat internet. Dengan kata lain, saya adalah pelopor pelatihan penulisan secara online di Tanah Air.

Saya merasa bersyukur dan bahagia, karena hadirnya SMO akhirnya berhasil mengatasi kesulitan keuangan yang dialami keluarga kami. Dapur kembali ngebul, setelah sebelumnya nyaris terancam tak berasap.

* * *

smo_wa

Sekolah Menulis Online – yang sempat ganti nama jadi Writers Academy – merupakan bisnis yang saya kelola sejak tahun 2007. Saya merasa inilah bisnis yang paling sesuai dengan diri saya. Namun karena makin sepi alias makin tak laku, bisnis ini pun akhirnya saya tinggalkan. Sejak 2012 saya serahkan pengelolaannya kepada seorang teman. Dan karena si teman pun muncur, maka bulan Desember 2014 SMO secara resmi ditutup.

Sejak “bangkit dari mati suri” sebagai penulis tahun 2004 lalu, saya rajin berbagi mengenai kiat-kiat menulis di mailing list dan blog. Niat saya hanya ingin berbagi, tak lebih dan tak kurang.

Dan setelah SMO berdiri, saya melanjutan aktivitas tersebut dengan niat untuk membangun personal branding. Saya benar-benar “jaga image” ketika itu.

Saya menulis di blog dan social media dengan gaya tokoh atau motivator. Walau sudah gabung dengan PKS sejak tahun 2003, saya berusaha tampil netral di depan publik dan menghindari bicara politik. Kalaupun bicara politik, saya bahas dengan bahasa yang netral saja. Saya tidak ingin image atau personal branding saya sebagai “guru menulis” rusak gara-gara gegabah dalam berbicara di depan umum.

Saya juga secara serius belajar marketing, promosi dan penjualan. Buku Marketing Revolution karya Tung Desem Waringin saya baca sampai tuntas lalu dipraktekkan. Saya juga mendaftar sebagai siswa di Asian Brain, dan belajar internet marketing bersama Anne Ahira.  Tak lupa, saya juga bergabung dengan komunitas entrepreneur Tangan Di Atas, dan belajar banyak mengenai kiat-kiat berbisnis dari sana.

Saya ketika itu pun sering diundang sebagai pembicara di berbagai kota. Mulai dari Jakarta, Bekasi, Pekanbaru, Pontianak, Malang, Surabaya, Yogyakarta, Purwokerto, dan berbagai kota lainnya.

* * *

Di tahun-tahun pertama, SMO bisa dikatakan sukses, peminatnya sangat banyak. Saya pun jadi percaya diri, merasa sangat yakin bahwa SMO adalah bisnis yang paling sesuai dengan karakter saya yang khas.

Suksesnya SMO pun diikuti oleh sejumlah teman penulis dan pengusaha untuk mendirikan bisnis serupa. Bahkan hingga hari ini, masih ada teman penulis yang menyelenggarakan pelatihan penulisan lewat internet.

Namun kesuksesan SMO ternyata tidak bertahan lama. Beberapa tahun kemudian, saya mulai merasakan bahwa bisnis ini makin stagnan, jalan di tempat, bahkan mundur dan makin sepi. Ini mengakibatkan saya kembali mengalami kesulitan keuangan. Terlebih karena saya belum punya bisnis lain sebagai pengganti atau cadangan.

Saya benar-benar bingung. Sebab sebagai orang “aneh” yang punya karakter unik, saya orangnya hanya bisa berbisnis di bidang penulisan, dan hanya bisa menggarap proyek milik sendiri. Keanehan dan keunikan ini membuat saya sulit menemukan bisnis-bisnis baru untuk ditekuni.

Maka selama bertahun-tahun, hidup saya begitu-begitu saja, serba pas-pasan, dan sering kehabisan uang.

Saat itulah saya merasa berada di tingkat galau yang sangat mendalam. Di satu sisi nama saya sudah cukup terkenal karena saya aktif menulis di dunia maya. Namun popularitas nama tersebut belum berpengaruh apapun terhadap peningkatan taraf hidup keluarga kami.

Nama saya lumayan terkenal, namun hidup masih sangat kere alias miskin. Tragisnya, banyak orang yang mengira saya sudah kaya raya. Terus terang, kondisi seperti inilah yang menjadi sumber kegaualan terbesar saya ketika itu.

* * *

Awal tahun 2011, saya bertemu dengan seorang teman dari Oxford Course Indonesia. Kami ngobrol, merasa cocok satu sama lain, dan terjalinlah kerjasama antara SMO dengan mereka. Sebuah nama baru, Writers Academy (WA), pun hadir untuk menggantikan SMO.

pesta_penulis_2011

Pesta Penulis, inilah acara monumental yang diselenggarakan oleh Writers Academy tahun 2011 lalu. Fantastis karena jumlah peserta ketika itu mencapai 200an orang.

Bagi saya, kerjasama WA tersebut sungguh terasa seperti “pahlawan” yang menyelamatkan hidup saya yang sedang dilanda krisis keuangan. Saya berharap, WA akan tumbuh menjadi lembaga pelatihan penulisan terbesar dan bergengsi di Indonesia, sehingga derajat kehidupan keluarga kami pun bisa terangkat.

Namun ternyata, kerjasama tersebut tidak berpengaruh apapun terhadap bisnis pelatihan penulisan yang saya kelola. Penghasilan masih segitu-segitu saja, bahkan tetap sering kesulitan keuangan.

Maka, dengan penuh keberanian, pada Januari 2012 saya memutuskan untuk mengakhiri kerjasama dengan Oxford Course Indonesia.

Lalu bulan Februari 2012 Dapur Buku pun berdiri.

Bersambung >>

Iklan

2 responses to “[Diari Jonru #15] Nama Lumayan Dikenal, Tapi Taraf Hidup Belum Meningkat

  1. wew la da la. kita sama yi

    Suka

  2. Ping-balik: Inilah Diari Jonru Selengkapnya! | Jonru Ginting

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s